Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Mengunjungi Rui


__ADS_3

Hari demi berlalu, dan kini Yuna sudah pulih kembali. Bahkan Yuna sudah bisa berjalan dan tidak merasakan pusing di kepalanya lagi.


Pagi ini mereka berdua mendatangi sebuah kediaman di Tokyo, Seijo Chome Estate di Tokyo dengan ditemani beberapa mobil yang berisi beberapa pengawalnya. Karena tak menutup kemungkinan, Death eyes akan menyerang kembali. Terutama kini mereka sedang berada kediaman dari kedua orang tua pemimpin utama Death eyes.


Seijo Chome Estate, salah satu tempat tinggal yang cukup mewah dan luas. Bahkan halaman rumah itu juga cukup luas. Properti unik seluas 343 kaki persegi ini dimiliki oleh keluarga besar Kin.



Sebuah mobil berhenti di depan gerbang utama dan mulai membuka kaca mobil itu. Terlihat Kagami Jiro di dalamnya bersama Yuna, dan salah satu pengawalnya yang kini merangkap menjadi seorang sopir.


"Selamat datang. Apakah tuan sudah membuat janji sebelumnya dengan tuan besar Kin Makoto?" ucap seorang penjaga gerbang rumah besar itu.


"Katakan saja jika Kagami Jiro yang datang!" sahut Kagami Jiro menegaskan.


"Baik. Tunggu sebentar, Tuan." pria penjaga gerbang itu mulai menghubungi seseorang, hingga akhirnya dia mulai mengakhiri panggilan itu.


"Baiklah, Tuan Kagami Jiro. Silakan masuk." pengawal rumah besar itu mulai membuka gerbang utama itu dengan memakai sebuah remot kontrol.


Mobil itu kembali melaju dan memasuki halaman rumah itu dan diikutu dengan 3 buah mobil lainnya yang berisi dengan pengawal Kagami.


Setelah melakukan parkir, kini mereka mulai melenggang bersama untuk menuju pintu utama dari rumah besar keluarga Kin Makoto itu. Halaman luar yang menakjubkan yang dipenuhi dengan tanaman.


Kagami Jiro selalu menggandeng jemari Yuna di sepanjang mereka berjalan di halaman rumah besar itu. Tak pernah melepaskannya walau hanya sedetik saja. Sesekali mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum samar.


Mungkin rasanya sedikit gugup untuk keduanya saat akan menemui Rui, putri pertama dari Kagami Jiro bersama Amane. Terutama Yuna, jemarinya menjadi sedikit dingin saat ini. Entah karena gugup atau entah karena cuaca saat ini yang begitu dingin dan masih bersalju.

__ADS_1


Sebelum menekan tombol bel rumah itu, Kagami Jiro kembali menatap Yuna yang hanya menatap lurus kedepan dan terlihat sedikit menjadi lebih pendiam pagi ini.


"Sayang ... apa kau baik-baik saja?" ucap Kagami Jiro yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan perasaan Yuna saat ini.


Tentu saja hal seperti ini tidaklah mudah dialami seorang wanita. Menerima dan menemui seorang putri dari suaminya bersama dengan wanita lain, pasti rasanya juga begitu berat dan cukup membuatnya merasa sesak.


Yuna mulai memiringkan wajahnya dan mendongak menatap Kagami Jiro. Lalu Yuna mulai tersenyum diiringi dengan anggukan pelan, "Aku baik-baik saja. Ayo ... Rui sudah menunggu kita." ujarnya begitu hangat.


Kagami Jiro mengangguk pelan lalu mulai menatap lurus ke depan dan memencet bel rumah itu. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu rumah itu mulai terbuka begitu saja.


Seorang pria paruh baya terlihat di balik pintu itu dan menyambut kedatangan Kagami Jiro dan Yuna dengan baik dan ramah.


"Silakan masuk, Tuan Kagami Jiro dan nyonya Yuna. Tuan Kin Makoto sudah menunggu di dalam." ucap pria paruh baya itu mempersilakan masuk dan memberikan jalan dengan mengulurkan tangan kanannya menunjuk ke sisi dalam rumah.


Kagami Jiro mulai melenggang ke dalam rumah itu dan masih menggandeng Yuna. Semua pengawal keluarga Kagami juga ikut masuk bersama dengan mereka. Karena khawatir akan ada sesuatu yang buruk lagi yang diperbuat oleh Death Eyes.


"Duduklah dulu, Sayang." ucap Kagami Jiro karena daritadi Yuna masih berdiri dan melihat sekelilingnya.


"Oh, iya ..." ucap Yuna lalu mulai duduk di atas sebuah sofa panjang berwarna cream.


Semenjak kepergian Amane dan Kin Izumi yang sedang menjalani masa hukumannya di jeruji sel, rumah yang dipenuhi dengan nuansa cream ini telihat cukup sunyi. Karena hanya dihuni oleh Kin Makoto bersama kedua cucunya dan beberapa asisten rumah tangga serta beberapa pengawal rumahnya saja.


Sebuah figura yang berukuran raksasa juga terpasang di sisi samping ruangan ini. Sebuah foto pernikahan Kin Izumi dan Amane di sebuah altar putih yang begitu kokoh. Senyum hangat dan bahagia menghiasi wajah pasangan itu.


Dan menatap figura itu lagi-lagi membuat hati Yuna menjadi sedih. Entah karena teringat Amane yang pernah menjalin sebuah hubungan dengan Kagami Jiro hingga lahirlah Rui, entah mengingat jika Amane kini sudah tiada ... perasaan seorang wanita yang cukup sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya seorang pria paruh baya mulai datang menghampiri mereka. Pria paruh baya yang memiliki perawakan badan yang besar dan berisi dengan sebuah kacamata minus yang sudah bertengger pada tulang hidungnya. Kacamata itu memiliki rantai penghubung pada masing-masing sisinya.


"Selamat pagi, Tuan Kagami Jiro!" sapa pria paruh baya itu yang sebenarnya adalah rekan kerja dari Kagami Gumi, dan keduanya sudah begitu dekat.


"Selamat pagi, Tuan besar Kin Makoto. Panggil saja namaku, Tuan." ucap Kagami Jiro dengan penuh hormat.


Kin Makoto tersenyum hangat lalu duduk di seberang Kagami Jiro, "Bagaimana kabar kalian? Apa Yuna sudah pulih sepenuhnya?" kali ini pria tua itu mulai menatap Yuna.


"Aku baik-baik saja, Tuan Kin Makoto." jawab Yuna tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun, padahal penyebab kecelakaan itu adalah anak buah dari Kin Izumi.


"Aku meminta maaf atas nama Kin Izumi. Sebenarnya aku benar-benar tidak mengetahui jika selama ini putraku-lah yang memimpin Death eyes ... aku sungguh tidak menyangka semua itu. Aku sungguh meminta maaf atas semua hal buruk yang pernah dilakukan oleh putraku Kin Izumi." ucap pria tua itu dengan begitu tulus dan jujur. Karena selama ini memang tak pernah ada yang mengetahui identitas rahasianya itu.


"Tidak masalah, Tuan Kin Makoto." jawab Kagami Jiro dengan santai. "Maksud kedatangan kami adalah, kami ingin menjemput Rui dan membawanya bersama kami." imbuh Kagami Jiro lagi.


"Tuan Kin Makoto tentu sudah tau bukan, jika akulah ayah biologis dari Rui ..." ucap Kagami Jiro lagi dengan pelan dan menatap lekat pria tua itu.


Beberapa saat pria tua itu terdiam dan mungkin saja dia juga terlalu berat melepaskan cucu pertamanya. Namun belum sempat Kin Makoto menjawab ucapan dari Kagami Jiro, kini terlihat seorang gadis kecil yang mulai datang dengan membawa sebuah mainan puzzlenya.


Gadis itu begitu manis dan menggemaskan. Rambutnya hitam pekat, lurus dan tipis. Benar-benar seperti versi Kagami Jiro versi seorang gadis kecil. Kagami Jiro tak henti-hentinya menatap Rui dari kejauhan.


Rasa sesak, haru bahagia dan rindu menyelimuti relung hatinya saat ini bercampur menjadi satu. 6 tahun Kagami Jiro tak pernah mengetahui jika selama ini dia memiliki seorang putri. 6 tahun Kagami Jiro tak pernah bertemu, tak pernah bercakap, dan tak perna memeluk gadis kecil itu. Rasanya sesak sekali ...


Begitu juga dengan Yuna. Perasaannya kini berkecamuk menjadi satu. Antara bahagia, haru, namun tak bisa dipungkiri, ada juga sedikit rasa sakit dan sesak di dalam dadanya.


"Kakek ..." gadis kecil itu berlari ke arah Kin Makoto begitu saja.

__ADS_1


Namun tiba-tiba Rui yang melihat sosok Kagami Jiro langsung berlari ke arahnya dan tersenyum begitu lebar. Tak bisa dibayangkan, betapa bahagianya Kagami Jiro menyaksikan ini semua. Padahal ini adalah pertama kalinya Rui bertemu dengan dirinya ( setelah jiwanya kembali ke raganya).


"Paman tumben main kesini?" ucap gadis kecil itu dengan wajahnya yang terlihat begitu ceria.


__ADS_2