Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Warm Memories In Sanlitun Street


__ADS_3

Musim dingin adalah salah satu waktu yang begitu mempesona sepanjang tahun. Alam yang sangat bersih, seakan terbungkus dan berselimut dengan pakaian seputih salju yang begitu lembut dan berkilauan.


Saat inilah hampir semua orang menyukai kenyataan bahwa itu adalah perwujudan dari sesuatu yang baru. Setiap orang terlihat bersukacita dan menyambut hangat pada kepingan-kepingan salju halus itu yang terjatuh di telapak tangan dan segera meleleh karena kehangatannya.


Senja hari di suatu tempat di Beijing, yaitu Sanlitun street terlihat sudah begitu ramai dan dipenuhi oleh pengunjung yang didominasi oleh anak muda dan beberapa pengunjung yang datang bersama pasangan mereka.


Kios-kios yang menjual berbagai macam makanan cepat saji, pakaian serta aksesoris maupun segala pernak-pernik sudah terbuka dan berjejer dengan rapi memenuhi di sepanjang jalan yang terasa begitu dingin ini.


Di tempat ini akan bisa melihat sisi modern dari kota Beijing. Sanlitun street merupakan salah satu tempat hangout anak muda Beijing dan wisatawan asing, dan tempat ini memilki cukup banyak cafe, resto, butik brand terkenal dunia, bar dan club berkumpul di kawasan ini. Kawasan ini akan semakin ramai pada malam hari.


Di bawah butiran-butiran salju yang sedang turun dengan ritme teratur dan terlihat begitu putih berkilauan, terlihat seorang gadis dengan balutan pakaian hangat sedang terlihat sedang menanti seseorang di depan sebuah kedai di Sanlitun Street.


Gadis dengan rambut kecoklatan yang panjang dan sedikit bergelombang dan terikat membuatnya terlihat sedikit berbeda dari biasanya yang selalu membiarkan rambut indahnya tergerai begitu saja. Gadis itu mengenakan blouse berwarna sweet caramel yang dipadankan dengan celana jeans, dan coat hitam. Sepatu boot cream lembutnya juga sudah terpakai dengan manis olehnya.


Wajah ayunya terus menatap butiran-butiran salju yang berjatuhan dengan ritme yang teratur itu dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan, seakan dia sedang menanggung beban yang cukup berat saat ini.


Musim dingin pasti akan terasa begitu dingin bagi mereka yang tidak memiliki kenangan yang manis dan hangat. Mungkin begitulah takdir yang sedang dialami oleh gadis cantik nan anggun ini.


"Amee ..." setelah beberapa saat akhirnya datang seorang pemuda tampan dengan penampilannya yang selalu terlihat rapi dan dibalut dengan coat hitamnya.


"Kakak ..." gadis itu mendongak dan terlihat sedikit terkejut melihat pemuda di hadapannya yang kini terlihat sedikit berbeda dari biasanya.


Karena tanggap dan segera menyadarinya, akhirnya pemuda itu mulai tersenyum dengan begitu manis, "Kacamata kakak tak sengaja terjatuh dan pecah. Jadi Zen menyarankan agar kakak memakai softlense untuk sementara. Apa kakak terlihat begitu aneh?" pemuda yang tak lain adalah kak Kai itu sedikit melebarkan matanya dan menunggu tanggapan dari Amee.

__ADS_1


Amee tersenyum manis dan menggeleng pelan, "Sama sekali tidak aneh. Kakak bahkan terlihat sangat cocok saat tidak memakai kacamata. Namun sebenarnya ... meski memakai kaca mata pun juga cocok sih. Hehe ..." tawa manis menghiasi wajah ayunya yang selalu terlihat kalem dan dewasa itu.


Kak Kai yang mendengar ucapan Amee juga tersenyum begitu gemas.


Namun, senyumaan Amee perlahan mulai memudar saat mengingat dan membayangkan sesuatu yang cukup menyakitkan untuknya kini akan segera terjadi dan menjadi kenangan pahitnya di musim dingin kali ini.


"Maaf jika kakak sedikit terlambat, karena ada sedikit macet dan karena jalanan yang begitu licin, kakak tidak bisa menambah laju kecepatan mobil."


"Hhm. Tidak apa-apa kok, Kak." Amee menyauti dan berusaha untuk memasang senyum manisnya lagi.


"Amee ... apa kamu sudah makan?" tanya kak Kai membuyarkan lamunan gadis cantik itu.


Amee menggeleng pelan disertai senyuman tipisnya yang begitu menenangkan hati.


"Kak ... bagaimana kalau kita makan setelah disini sebentar dulu untuk melihat salju yang turun?"


"Oh ... baiklah. Kalau begitu kita akan disini dulu." sahut kak Kai yang terdengar begitu tenang.


Keduanya berdiri berdampingan dan menatap kepingan-kepingan salju yang turun dan menjatuhi. Bahkan kepingan-kepingan salju itu ada yang menjatuhi bahu dan rambut keduanya. Meleleh dan mulai membasahi rambut keduanya.


Napas keduanya terlihat mengembun dan terlihat memutih di udara, menandakan saat ini udara sudah cukup dingin.


"Kak ..." / "Amee ..." keduanya saling memanggil satu sama lain secara bersamaan dan itu sungguh membuat mereka merasa begitu lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


Beberapa saat mereka saling terdiam karena saling menunggu satu sama lain untuk mengatakannya terlebih dulu. Namun tak ada salah satu dari mereka yang kunjung berucap, hingga kejadian lucu itu kini terulang lagi.


"Ada yang ingin aku bicarakan."


Keduanya kembali berkata dengan bersamaan dan akhirnya saling bertatapan dan tertawa kecil karena geli dan gemas.


"Baiklah. Kamu duluan saja Amee." ucap kak Kai yang akhirnya mempersilakan Amee terlebih dahulu untuk mengatakannya.


Amee mulai mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Gadis cantik itu terlihat begitu gugup dan berat untuk berkata-kata saat ini.


"Katakan saja ..." ucap kak Kai begitu lembut dan terdengar begitu hangat.


"Soal ucapan kakak yang terakhir kali kakak katakan padaku sebelum kakak meninggalkan kita semua ... aku sudah bisa menerima dan ikhlas. Aku tidak akan marah kepada kakak." ucap Amee begitu lirih dan masih menatap kepingan-kepingan salju yang berjatuhan itu.


Karena bagiku kakak sudah bangun dan sadar kembali itu sudah lebih dari cukup.


Imbuh Amee dalam hati.


"Amee ..." kini kak Kai sedikit melangkah dan berdiri di hadapan gadis cantik yang masih memperlihatkan senyuman tipisnya itu. "Kakak sungguh minta maaf jika selama ini kakak sudah sangat jahat kepadamu. Kamu berhak untuk membenci dan menjauhi kakak jika memang itu membuatmu lebih baik, Amee. Kakak akan menerima semua itu. Dan kakak pantas untuk mendapatkan semua itu." ucap pemuda itu menatap nanar gadis yang selalu bersikap dan bertutur kata dengan lembut itu.


"Marah, dendam, kecewa ... semua sangat wajar dalam diri setiap insan yang sudah dikecewakan. Namun memafkan adalah satu-satunya yang bisa membuat hati menjadi damai dan tenang. Dan aku sudah mengikhlaskan semuanya, Kak. Semoga kakak juga segera bertemu dengan seorang gadis yang baik, yang bisa selalu ada untuk kakak, dan tentunya yang benar-benar kakak sayangi dan cintai." ucapan itu terdengar begitu bergetar, bahkan Amee juga menunduk tak kuasa untuk menatap pemuda yang saat ini sudah berdiri di hadapannya dengan tegap itu.


"Lalu bagaimana jika gadis yang kakak sukai adalah kamu, Amee? Apakah kamu masih mau memberikan kesempatan untuk kakak?"

__ADS_1


Seakan membeku seketika, ucapan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya sama sekali oleh Amee kini diucapkan begitu saja oleh kak Kai.


__ADS_2