Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Menjadi Sebuah Kenangan


__ADS_3

Seorang gadis kecil mulai mendatangi Zen kembali dengan senyum lebarnya dan memperlihatkan susunan gigi susunya yang masih begitu putih dan rapi.


"Kak Zen ... apa kakak Christal itu kekasih kak Zen?" tiba-tiba gadis kecil yang paling dekat dengan Zen itu mulai menayakan hal itu dan sesekali menatap Christal yang berada tak jauh dari Zen.


Sebenarnya pertanyaan itu sungguh membuat Zen merasa bingung harus menjawabnya. Bukan karena Zen tak mengakui Christal sebagai kekasihnya. Namun karena anak yang bernama Liu Yifei itu saat ini masih berusiah 6 tahun. Dan umurnya itu masih belum cukup tepat untuk memahami sebuah ikatan seperti kekasih.


"Liu Yifei ..." Zen tersenyum hangat dan mengusap kepala gadis kecil itu. "Kakak Christal adalah teman dekat kakak. Dan kak Christal juga selalu baik kepada kakak. Jadi kakak mengajaknya untuk datang kesini dan mengenalkannya dengan kalian."


Christal tak terlalu merasa tersinggung dengan ucapan Zen yang tidak mengakui dirinya sebagai kekasih Zen di hadapan anak-anak itu, karena tentu saja Christal mengetahui jika Zen melakukan sesuatu pasti memiliki sebuah alasan.


"Zen. Sejak kapan datang?" tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik dari panti asuhan ini mulai datang dan menghampiri Zen.


"Bibi Zhao. Aku baru saja datang kok. Dan aku juga membawakan sedikit oleh-oleh untuk anak-anak dan juga bibi Zhao." kini Zen juga mulai merogoh kantongnya dan mengambil sebuah amplop kecil berwarna kecoklatan lalu diberikannya untuk bibi Zhao. "Ini ada sedikit uang dariku, Bibi Zhao. Bisa untuk sedikit membeli beberapa peralatan sekolah untuk mereka dan untuk yang lainnya." imbuh Zen dengan tulus.


"Terima kasih banyak, Zen. Kamu memang pemuda yang sangat baik dan murah hati. Semoga Tuhan selalu melindungi dan menyayangimu, Nak."


"Hhm. Sama-sama, Bibi Zhao." sahut Zen dengan senyum tipis. "Oh iya, kenalkan ini Christal." imbuh Zen mulai memperkenalkan Christal kepada bibi Zhao.


"Hallo, salam kenal, Bibi Zhao." sapa Christal dengan senyum manisnya.


"Cantik sekali." puji bibi Zhao menatap Christal begitu kagum. "Kalian sangat serasi ..." imbuhnya yang semakin membuat Christal tersipu malu.

__ADS_1


"Terima kasih, Bibi Zhao." sahut Christal sedikit tersipu malu dan wajahnya yang begitu putih kini menjadi memerah.


"Sama-sama." sahut bibi Zhao dengan ramah. "Zen, bagaimana kabarmu? Bibi sempat merasa sangat khawatir padamu karena mendengar berita yang akhir-akhir ini tersebar di media. Kamu baik-baik saja kan?" kali ini bibi Zhao beralih menatap Zen dan terlihat begitu mengkhawatirkan Zen.


"Aku baik-baik saja ko, Bibi Zhou. Aku juga minta maaf karena akhir-akhir ini aku sangat jarang untuk datang berkunjung. Namun mungkin untuk ke depannya, aku akan lebih sering untuk datang kesini."


"Hhm. Iya. Tidak masalah kok. Bibi tau kamu sangat sibuk. Dan hanya dengan melihatmu di televisi, anak-anak juga sudah merasa sangat senang kok." sahut bibi Zhaao dengan senyum lebar.


Perbincangan ringan itu terus saja berlanjut dan mereka saling melepas rindu. Karena anak-anak sangat menyukai sosok Zen yang begitu ramah dan murah hati. Terlebih Zen adalah salah satu idola mereka, dan semua anak-anak itu tak akan pernah untuk melewatkan 1 pun konser dari Zen, meskipun mereka hanya melihatnya di televisi saja.


Setelah beberapa saat akhirnya Zen dan Christal mulai berpamitan karena mereka juga harus segera pergi ke kediaman Li Kai dan Amee. Sebuah lagu yang berjudul My Girl, My Velvet Sun yang merupakan lagu terakhir karya Zen sekaligus karya terakhir saat Zen saat menjadi seorang bintang, kini mulai terdengar dan mengiringi perjalanan mereka saat ini di dalam Ferrary merah menyala itu.


Sesekali Zen terdengar ikut menyanyikannya dengan wajahnya yang terlihat begitu bersinar dan tak memiliki beban lagi. Christal juga terlihat begitu berbinar mendengarkan lantunan lagi yang begitu manis dan menenangkan itu. Terlebih lagu itu adalah lagu spesial diciptakan oleh Zen untuknya.


Sebuah lagu legendaris dari seorang Li Zeyan yang sudah menjadi sebuh icon untuk sosok Li Zeyan. Lagu yang lembut namun juga selalu membuat siapapun yang mendengarkan menjadi lebih bersemangat untuk menjalani kehidupannya.


Lagu-lagu itu dan beberapa lagu-lagu Zen lainnya akan selamanya menjadi kenangan indah untuk Zen maupun untuk para penggemarnya. Mereka akan selalu mengenang semua karya Zen yang sungguh luar biasa.


Tawa bahagia menghiasi wajah Zen dan Christal, dan mereka terus bernyanyi bersama di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya kini mereka mulai memasuki sebuah kawasan perumahan elit dan mulai memasuki sebuah pekarangan rumah yang dipenuhi dengan warna putih.


Zen dan Christal mulai turun dari mobil merah menyala itu dan mulai melenggang bersama ke arah pintu utama rumah yang cukup besar dan megah itu. Sementara para pengawal hanya menunggu di luar saja.

__ADS_1


Halam rumah Li Kai dan Amee terlihat begitu menyejukkan dan indah, dipenuhi dengan beberapa tanaman hias yang begitu indah dan berwarna-warni.


Sebuah bel mulai ditekan oleh Zen, lalu mereka berdua mulai menunggu bersama dan sesekali mereka berdua saling menatap dan tersenyum bersama. Rasanya kedua insan ini benar-benar merasakan seakan dunia milik berdua, kebersamaan yang meski hanya beberapa saat ini sudah cukup membuat mereka berdua begitu bahagia tak terkira.


Setelah beberapa saat kini pintu itu mulai terbuka. Terlihat sosok Amee sudah berdiri dibalik pintu itu berwarna putih itu. Wajah ayu dan selalu terlihat tenang dan kalem itu mulai tersenyum setelah menyadari jika tamu itu adalah Zen dan Christal.


"Ayo masuk. Kak Kai sudah menunggu kalian di dalam." sahut Amee dengan sangat bersemangat dan sedikit minggir untuk memberikan jalan untuk Zen dan Christal.


"Kak Kai? Kamu masih saja memanggil suamimu dengan kakak, Amee?!" ucap Zen mulai menggoda Amee dengan tawa kecil sambil memasuki rumah itu.


"Apaan sih?! Kamu saja masih belum memanggilku dengan benar." celutuk Amee sedikit cemberut.


Zen dan Christal yang sudah mulai memasuki rumah itu tertawa kecil mendengar ucapan Amee.


"Siapa bilang aku tidak bisa memanggilmu dengan benar, Kakak ipar Amee?" sahut Zen dengan sengaja semakin menggoda Amee dan semakin membuat Amee sedikit cemberut karena merasa kalah dari Zen, dan hingga saat ini Amee masih begitu malu untuk memanggil Li Kai dengan panggilan lainnya. Jadi Amee masih saja memanggil Li Kai dengan panggilan kakak.


"Kak Amee. Jangan dengarkan Zen! Terkadang dia memang sangat usil dan iseng!" kali ini Christal mulai menggandeng Amee dan berjalan di depan Zen dengan tawa kecilnya.


"Ya. Kau benar sekali, Christal. Jadi kamu harus sabar ya jika bersama dia. Terkadang dia juga menjadi sangat sensitif." sahut Amee setengah berbisik.


"Hei, Christal! Secepat itukah kamu berkhianat padaku dan malah bersekongkol dengan Amee?!" sungut Zen tak terima dengan tingkah kedua gadis yang saat ini masih melenggang di depannya.

__ADS_1


Amee dan Christal hanya tertawa renyah saat mendengar Zen yang mulai kesal.


__ADS_2