Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Mencari Kak Kai


__ADS_3

Zen mulai menapaki jalan kecil yang masih begitu sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang dan dia temui. Kali ini dia tidak mengenakan topi maupun masker. Karena kawasan desa ini termasuk sepi dan jauh dari media.


Zen melihat seorang nenek yang berdiri dengan tongkat kayunya. Dia berdiri tak jauh dari Zen berdiri. Nenek itu terdiam dan terus menatap ke atas. Karena sedikit penasaran, akhirnya Zen segera menghampiri nenek itu.


Setelah mendekati nenek itu dan berdiri di sampingnya, Zen ikut mendongak mengikuti pandangan nenek itu. Zen melihat seekor anak kucing berwarna abu-abu yang begitu lucu sedang terjebak di atas tiang listrik yang begitu tinggi.


"Apa kucing itu punya nenek?" tanya Zen dengan ramah.


Perlahan nenek itu mulai menatap Zen yang sudah berdiri di sampingnya. Nenek itu menatap Zen cukup lama karena mungkin sosok Zen sangat asing baginya. Dan tentu saja nenek itu tidak mengetahui jika pemuda yang sedang berdiri di sebelahnya adalah seorang idol besar saat ini.


"Iya. Tadi kucing itu hanya naik pohon saja, tapi dia malah berpindah ke tiang listrik dan terjebak disana. Sungguh kasihan sekali. Anak kucing yang malang ..." ucap nenek itu yang kembali mendongak menatap kucing malang itu.


"Hhm. Baiklah. Tunggu sebentar ..." kini Zen jongkok dan mulai mengencangkan ikatan tali sepatu sport-nya kemudian dia mulai berdiri dengan tegap kembali.


Kini Zen mulai melenggang mendekati tiang listrik yang berukuran cukup besar itu. Perlahan dia mulai memanjat pada sebuah tembok semen yang berada tepat di belakang tiang listrik itu. Setelah berhasil memanjat tembok itu, kini Zen mulai memanjat tiang listrik itu dengan sangat berhati-hati namun begitu lincah.


Sedikit demi sedikit Zen akhirnya sampai hingga di puncak dari tiang listrik itu. Dia mendongak dan menengadahkan tangan kirinya ke atas berharap anak kucing itu mau melompat padanya.


"Kucing manis. Kemarilah ..."


Kucing itu menatap Zen lama dan terlihat seperti sedang ketakutan saat mau melompat ke bawah. Akhirnya Zen berusaha untuk memanjat kembali agar bisa meraih anak kucing itu.


"Sedikit lagi ..." ucap Zen yang masih berusaha untuk memanjat tiang listrik itu.


Perlahan Zen mengulurkan tangan kirinya dan meraih anak kucing itu. Setelah anak kucing itu aman bersamanya, Zen mulai sedikit memerosotkan badannya lalu melompat hingga mencapai atas pagar semen dan akhirnya melompat ke dasar tanah.

__ADS_1


"Huuphh ..."


Zen mendarat dengan sempurna dengan menggendong anak kucing itu. Kemudian Zen memberikan anak kucing itu kepada nenek itu.


"Terima kasih anak muda. Kamu sungguh baik hati, suka menolong dan juga sangat tampan." ucap nenek itu tersenyum takjub sambil mengusap anak kucing yang sedang digendongnya itu. "Siapa namamu, Nak?"


Zen tersenyum lebar mendengar ucapan dari nenek itu yang baru saja memujinya, "Namaku Jiro ... ehm maksudku namaku Zen, Nenek. Dan nenek tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku sudah sering melakukan hal semacam ini."


"Benarkah? Hebat sekali." ucap nenek itu begitu takjub. "Mau aku kenalkan dengan cucuku? Dia sangat cantik dan cerdas."


"Ahhh ... tidak perlu, Nenek. Terima kasih." ucap Zen dengan cepat dan melambaikan kedua tangannya. "Aku sudah mempunyai istri dan dua orang anak." imbuh Zen lalu tiba-tiba saja dia melihat sosok kak Kai yang sedang berjalan melintas di ujung gang.


"Maaf. Tapi aku harus segera pergi. Permisi ..." ucap Zen lalu mulai melenggang meninggalkan nenek itu sendirian.


Nenek itu masih menatap kepergian Zen dengan ekspresi begitu bingung. Keningnya berkerut dan dia sedikit mengusap pelipisnya.


Sementara itu Zen mulai mengejar kak Kai kembali Namun sepertinya kak Kai sudah menghilang kembali entah pergi kemana. Zen meraih ponsel dari dalam saku coatnya dan berusaha untuk menghubungi kak Kai, namun panggilan itu tak diangkatnya.


Akhirnya Zen kembali menyisiri kembali setiap gang-gang kecil di kompleks perumahan itu.


"Haishhh ... kemana perginya bocah itu?!" Zen berhenti dan berkacak pinggang serta menebarkan pandangannya untuk mencari sosok kak Kai.


Kemudian pandangannya tiba-tiba berhenti pada suatu titik. Yeap, kini sepasang mata bak okavango blue diamond itu menatap seorang pria yang sedang terduduk di pinggiran sebuah danau kecil. Pria berkacamata itu duduk termenung sendirian disana. Tatapannya begitu sendu dan penuh sekali dengan kesedihan.


Zen mulai melenggang dan berniat menghampiri kak Kai hingga akhirnya kini Zen sudah berdiri tepat beberapa meter dari kak Kai yang sedang terduduk. Meskipun sudah menyadari kehadiran Zen, namun kak Kai masih saja terdiam dan menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Bibi Yixue sudah menunggu kita untuk sarapan bersama. Mari kita kembali!" ucap Zen yang menyipitkan sepasang matanya menatap danau kecil di hadapannya itu.


"Jangan memanggilnya seperti itu!!" kak Kai berkata dengan setengah berteriak tanpa sadar. Sepasang matanya juga tanpa sadar menjadi sangat tajam menatap ke depan.


Zen merasa sangat kebingungan dan menatap kak Kai dengan kening berkerut. Namun akhirnya dia teringat oleh pesan Vann yang pernah dikatakan sebelum mereka sampai di desa ini.


"Tuan Kai paling tidak menyukai jika ada orang yang memanggil ibunya dengan nama Yixue. Oleh sebab itu, orang-orang hanya memanggilnya dengan nama Yi."


Itulah pesan Vann yang pernah dikatakan kepada Zen tempo lalu. Zen yang baru saja mengingatnya kini menepuk keningnya sendiri.


Astaga ... mengapa aku bisa melupakan hal sepenting itu? Mungkinkah ada sebuah kenangan yang buruk dengan nama Yixue? Dan mengapa Kai terlihat begitu marah saat aku menyebut nama ibunya dengan nama itu?


Batin Zen sambil mengusap dagu indahnya yang sangat tirus bagaikan karakter-karakter dalam sebuah film anime.


"Maaf Zen ... kakak sedang dalam keadaan hati yang tidak baik." ucap kak Kai kembali memecah keheningan. Kini nada bicaranya sudah kembali seperti biasanya. Lembut dan hangat.


"Maaf juga karena telah lancang menyebut nama itu." ucap Zen dengan datar.


Kak Kai terlihat masih menatap lurus ke depan. Semilir angin pagi yang berhembus dengan teratur membuat beberapa helai rambut keduanya menari-nari. Cahaya hangat dari sang mentari mulai menyinari alam semesta. Cahaya itu menyinari wajah kedua pria ini dan menjadikannya begitu menawan. Yeap, kedua pria ini sangat tampan luar biasa. Jika diperhatikan lebih teliti, sebenarnya mereka berdua memiliki sedikit kemiripan.


"Zen ..." ucap kak Kai pelan dan sedikit bergetar.


"Hhm?"


"Kakak akan mengundurkan diri sebagai managermu." ucap kak Kai tiba-tiba dan tanpa sadar matanya kini sudah sedikit berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mengundurkan diri?" tanya Zen begitu terperanjat dan menatap pria berkacamata itu dengan bingung.


__ADS_2