
"Kalian apa kabar, Sayang?" ucap Zen penuh haru dan mengusap kembali kepala Kenzi dan Kenzou bersamaan.
"Baik, Kakak ganteng." jawab Kenzi dan Kenzou bersamaan dengan nada bicaranya yang masih terdengar begitu lucu dan menggemaskan.
Zen tersenyum hangat menatap keduanya. Sebuah kebahagiaan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata, sebuah kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya bisa diraih dan di dekap penuh dengan kehangatan.
"Kakak kangen sekali dengan kalian berdua!" lagi-lagi Zen memeluk erat kedua anak kembar itu dengan penuh kasih sayang. "Oh iya kali ini kakak bawakan mainan keluaran terbaru lo!"
Zen mulai melepas pelukannya dan mulai memberikan 2 buah bingkisan yang berukuran cukup besar untuk Kenzi dan Kenzou.
"Apa ini, Kak?" ucap Kenzi yang terlihat begitu bersemangat dan menerima bingkisan itu.
Sedangkan Kenzou terlihat berusaha untuk membuka bingkisan itu, namun dia sedikit kesulitan hingga akhirnya Zen membantu Kenzou untuk membuka bingkisan dengan desain lucu yang berwarna abu-abu dengan sebuah pita yang menghiasi penutupnya.
"Ini adalah mainan robot yang bisa bertransformasi menjadi mobil. Kalian bisa menggerakkannya dengan remot kontrol juga. Dan ini keren sekali." sahut Zen masih dengan senyum bahagia menatap kedua putranya.
"Wah! Asyik! Ini keren sekali!" ujar Kenzi yang juga mulai membuka bingkisan miliknya.
Setelah mengeluarkan mainan itu, kini kedua bocah kembar itu mulai memainkannya bersama. Zen hanya mengawasinya dengan begitu bahagia.
"Dimana keluarga besar Kagami yang lainnya?" kini Zen mulai beralih menatap kedua baby sitter yang masih berada di dalam ruangan bermain ini.
"Tuan besar Kagami Gumi masih belum kembali dari Nagoya, Tuan Kagami Jiro sedang bersiap, Tuan Yosuke masih berada di luar kota, nona Christal juga masih di dalam kamarnya, sedangkan nyonya Yuna juga sedang bersiap, Tuan Zen." ucap baby sitter itu menjelaskan begitu detail.
"Hhm. Baiklah ..." sahut Zen dengan seulas senyum dan wajahnya terlihat begitu damai dan tenang.
__ADS_1
Sementara itu ...
Seorang wanita dewasa kini terlihat sudah begitu rapi dengan balutan pakaian hangatnya yang begitu lembut dengan warna pastel. Sesekali dia menatap dirinya melalui sebuah cermin rias di hadapannya, dan mulai memoleskan sebuah liptint berwarna soft pink, begitu natural dan juga lembut. Aroma buah juga begitu tercium dari liptint itu.
Sementara tak jauh dari gadis berwajah cantik nan tegas itu, terlihat seorang pria dewasa yang sudah mengenakan sebuah kemeja berwarna biru navy sedang mengancingkan beberapa kancing kemejanya.
Gadis yang tak lain adalah Yuna itu kini mulai bangkit dari depan meja rias lalu mulai mengambil sebuah jaz hitam yang sudah dia siapkan sebelumnya untuk suaminya.
"Tumben sekali kau mendadak mengajak kita untuk berjalan-jalan, Sayang?" ucap Yuna sambil membantu Kagami Jiro memakai jaz-nya.
"Hhm. Sudah lama sekali kita tidak berjalan-jalan, bukan?" Kagami Jiro tersenyum hangat menatap Yuna yang kini membantunya membenarkan dasi Kagami Jiro.
"Hhm. Iya sih. Christal dan juga si kembar pasti akan begitu bersemangat dan akan senang sekali!" Yuna tersenyum lebar dan juga terlihat begitu bahagia.
"Hhm. Iya!" Yuna segera meraih salah satu sling bag kesayangannya lalu melingkarkan tangannya untuk memeluk lengan kuat Kagami Jiro. "Ayo, Sayang!"
Mereka berdua mulai melenggang bersama meninggalkan kamar besar itu dan mulai mendatangi ruangan bermain untuk menjemput si kembar Kenzi dan Kenzou.
Namun betapa terkejutnya Yuna saat melihat ada sosok Zen di dalam rumah besarnya saat ini. Terlebih Yuna melihat si kembar Kenzi dan Kenzou yang sedang asyik bermain bersama Zen. Bahkan kedua anak kembar itu terlihat begitu akrab dan lengket kepada Zen. Dan hal itu sungguh membuat Yuna merasa begitu kesal hingga berniat segera memisahkan mereka berdua.
"Kenzi, Kenzou!" ucap Yuna memanggil kedua anak kembar itu. "Ayo kemari, Sayang!" imbuh Yuna lalu melepas lengan Kagami Jiro dan menyambut kedua putra kembarnya yang sedang berlari ke arahnya.
"Mama! Ayo bermain bersama kakak ganteng!" Kenzi dan Kenzou mulai menarik tangan Yuna untuk mendekati Zen yang masih duduk di atas sebuah karpet lucu.
"Sayang, bukan waktunya untuk bermain. Hari ini kita akan pergi ke taman bermain. Bukankah kalian sangat ingin pergi ke taman bermain?" kini Yuna duduk bersimpuh dan menatap kedua putranya secara bergantian dengan mengusap lembut kepala mereka berdua.
__ADS_1
"Horee!! Kita ke taman bermain hari ini, Mama?" celutuk Kenzou begitu bersemangat.
"Hhm. Kita akan pergi ke Tokyo Disney Resort hari ini." Yuna sedikit mengangguk dan tersenyum hangat menatap kedua putra kembarnya.
"Kakak ganteng juga ikut ya, Ma!" rengek Kenzi tiba-tiba.
"Apa?" ucap Yuna sangat terkejut mendengar permintaan dari Kenzi.
"Iya, Ma. Biarkan kakak ganteng juga ikut." ucap Kenzou juga ikut merengek dan menarik-narik tangan Yuna.
Bagaimana mungkin Kenzi dan Kenzou begitu lengket dan menyukai Li Zeyan?! Apa yang sudah bocah itu lakukan kepada mereka berdua hingga kedua jagoanku menjadi begitu lengket padanya?! Awas saja jika sampai aku mengetahui kau sudah melakukan sesuatu yang buruk kepada kedua putraku! Aku tak akan memaafkanmu, Li Zeyan!
Batin Yuna yang kini mulai menatap Zen dengan tajam.
"Mengapa kau ada disini?!" akhirnya Yuna melontarkan kalimat tanya itu untuk Zen. Dan pertanyaan itu dilontarkannya dengan begitu dingin dan tegas.
"Hhm? Aku sedang berada di Jepang. Dan tentu saja aku hanya sedang ingin berkunjung." sahut Zen dengan begitu santai.
"Memang sejak kapan kau merasa memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi seperti ini?! Dan sejak kapan kau merasa begitu dekat dengan keluarga besar Kagami?! Dan mengapa kau selalu saja ingin mendekati keluarga kami?! Sebelumnya, bahkan tidak ada hubungan apapun yang terjalin diantara kau dan keluarga kami! Lalu mengapa kini kau selalu saja berusaha untuk dekat dengan kami?!" ujar Yuna yang terlihat masih cukup kesal, marah dan tidak menyukai Zen sedikitpun.
Untaian kata dari Yuna ini sebenarnya terdengar sedikit menyakitkan untuk jiwa seorang Kagami Jiro. Yeap, cukup menyakitkan!
Semenjak jiwaku tertukar dengan bocah Li Zeyan, Yuna. Semenjak itulah aku melakukan semua ini karena aku begitu merindukan kalian, Istriku. Aku sangat merindukanmu, merindukan si kembar Kenzi dan Kenzou. Dan aku juga merindukan adikku Christal dan juga Yosuke. Aku juga begitu merindukan papaku, Yuna. Maka dari itu aku melakukan semua hal ini. Andai kamu tau ... betapa beratnya 4 bulan ini aku lalui di China dan jauh dari kalian ... orang-orang yang aku sayangi. Andai saja kamu tau, Yuna ... betapa aku merindukan dirimu. Apakah aku harus mengatakan semuanya kepadamu agar kau tak lagi membenciku?
Batin Zen yang terlihat sedikit murung dan bersedih karena ucapan dari Yuna.
__ADS_1