
Dokter itu mulai meninggalkan ruangan ini, sementara Kagami Jiro mulai mendekati brankar itu kembali. Rasanya begitu berdebar, antara terharu karena melihat Yuna yang sudah sadar kembali, namun juga sedih karena melihat kondisi Yuna yang masih sangat rentan dan lemah.
Perlahan Kagami Jiro mulai duduk kembali di kursi samping brankar itu. Lalu diraihnya dengan pelan dan hati-hati jemari lentik nan lembut itu. Jemari itu diusapnya pelan lalu dikecupnya.
"Yuna sayang ..." ucapnya begitu lirih.
Kini Yuna mulai menatap Kagami Jiro dan matanya sudah menjadi begitu berkaca-kaca. Jemari kirinya diangkatnya dan mulai mengusap sisi wajah Kagami Jiro bagian kanan.
Tak ada kata-kata dari dua anak manusia ini. Hanya tangis haru yang terjadi dan pecah begitu saja selama beberapa saat. Yeap, tangis haru tak bisa mereka bendung saat ini.
"Bagian mana yang sakit?" akhirnya ucap Kagami Jiro memecah keheningan diantara keduanya. "Katakan padaku, Yuna ..." ucapannya terdengar begitu parau dan menyesakkan.
Yuna hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Mana dirasakan lagi sakit itu saat menyadari dirinya sudah tersadar kembali dan melihat suami tercintanya di depan mata saat ini.
Sebuah kerinduan yang cukup besar juga dirasakan oleh Yuna saat ini, padahal selama ini dia selalu saja bersama dengan Kagami Jiro, meskipun hanya dengan raganya saja. Dan mungkin saja hatinya bisa menyadari semua ini, dan ketika bertemu dengan jiwa dan raga dari suaminya seutuhnya, kini meledak sudah kerinduannya itu.
Perlahan Kagami Jiro mulai mengusap pipi Yuna untuk menyeka air matanya yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"Ada sesuatu yang sedang kamu inginkan saat ini, Sayang? Makanan? Parfum? Tas keluaran terbaru? Pakaian keluaran terbaru? Perhiasan keluaran terbaru? Mobil terbaru? Apapun itu ... apapun yang kamu mau saat ini aku akan belikan semua untukmu." ucapan yang terdengar dari pria dewasa itu begitu parau dan menyesakkan dada.
Lagi-lagi Yuna hanya menggeleng pelan dan menahan isak tangisnya kembali.
"Aku mohon, jangan menangis lagi, Sayang ..." pinta Kagami Jiro mengecup kembali jemari Yuna yang masih tak bosan-bosannya dia genggam terus.
Karena melihat Yuna menangis akan membuat hatinya semakin sesak, ditambah lagi jika melihat Yuna menangis dalam kondisi yang sedang rentan dan lemah seperti ini. Pastinya semakin membuatnya begitu sesak.
__ADS_1
"Setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit nanti, apapun kemauanmu, semua akan aku turuti. Aku akan memberikan semuanya yang kamu inginkan. Dan aku akan lebih melindungimu. Aku tak akan membiarkan mereka untuk mencelakai keluargaku lagi!! Aku akan lebih menjagamu dan seluruh anggota keluargaku! Aku berjanji pada diriku sendiri!!"
Yuna mengangguk pelan dan tersenyum, dan jemari kirinya kembali mengusap pelan sisi wajah Kagami Jiro sebelah kanan.
"Aku tak butuh apa-apa. Aku hanya mau kamu ... untuk selalu berada bersamaku ..." terdengar ucapan pertama dari Yuna setelah dia sadar kembali yang terdengar begitu lirih.
Bibir pucat itu kini terlihat mulai menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu hangat dan tentunya membuat Kagami Jiro merasa lebih baik dan lega.
"Hhm. Aku akan selalu ada bersamamu! Aku tak akan pernah pergi lagi dan meninggalkanmu." Kagami Jiro yang masih menggenggam jemari Yuna kini mulai mengecup punggung jemari itu lagi.
Setelah beberapa saat pintu ruangan ICU mulai terbuka kembali setelah terdengar suara ketukan teratur, terlihat 2 orang perawat mulai memasuki ruangan itu.
"Nyonya Yuna akan kami pindahkan ke ruangan rawat, Tuan Kagami Jiro." ucap salah satu perawat itu dengan ramah.
"Berikan kamar rawat yang terbaik! Aku ingin istriku bisa beristirahat dengan baik dan menjalani masa pemulihan yang baik di tempat yang nyaman dan tenang!" ucap Kagami Jiro menandaskan.
"Hhm. Okay!"
Setelah melepaskan beberapa alat bantu kesehatan, kini kedua perawat itu mulai mendorong brankar itu dan mulai meninggalkan ruangan ICU itu. Mereka menyusuri sebuah lorong rumah sakit dan mulai menuju ke sebuah ruangan yang cukup besar dan luas.
Ruangan itu dipenuhi dengan beberapa fasilitas mewah seperti AC , sebuah tempat tidur, sebuah kamar mandi dengan air panas dan dingin, bedside cabinet , kulkas, kursi tunggu, overbed table, meja TV, almari pakaian, dispenser, meja, sofabed, smart TV berukuran 72 inchi, tempat tidur untuk penunggu, telepon, ruang keluarga, satu set meja makan. Wow! Tak seperti sedang berada di dalam sebuah rumah sakit!
Bahkan tempat ini lebih menyerupai sebuah hotel berbintang yang cukup mewah. Jika kamar rumah sakit seperti ini, mungkin semua orang akan merasa sangat betah untuk tetap tinggal disini. Hehe ...
__ADS_1
Disaat Yuna harus berpindah pada tempat tidurnya di dalam ruangan itu, Kagami Jiro sendirilah yang mengangkat tubuh Yuna dengan begitu hangat dan penuh kasih. Yuna juga mengalungkan kedua tangannya yang masih terlilit dengan selang infus melingkar pada leher kuat Kagami Jiro.
Sementara perawat itu membantu mengangkat tiang infus beserta infus itu. Jika melihat pasangan Yuna dan Kagami Jiro dalam keadaan seperti ini, akan membuat siapa saja yang melihatnya akan begitu tersentuh. Antara rasa haru, bahagia, dan juga sedih.
Karena disaat kondisi seorang istri yang sedang begitu lemah, terlihat sosok seorang suami yang selalu menemaninya dan rela mengorbankan segala kesibukannya hanya untuk menemani sang istri.
Jika beberapa hari yang lalu Yuna yang mengurus Kagami Jiro dan menyuapi setiap makan. Maka kali ini Kagami Jiro yang menyuapi Yuna. Meskipun Kagami Jiro adalah seorang pemimpin utama dari Doragonshadou dan tergolong pria yang dingin, namun Kagami Jiro melakukannya dengan sangat baik dan sangat hangat.
"Jiro, kamu juga makanlah sedikit. Kamu bahkan belum memakan apapun dari kemarin." kini Yukimura hadir diantara mereka berdua dengan membawakan sebuah bingkisan yang sudah dibelinya dari kantin rumah sakit tadi.
Yuna yang mendengarkan ucapan Yukimura kini terlihat begitu sedih dan murung, "Aku tidak mau makan lagi kalau kamu tetap tidak mau memakan apapun ..." ucap Yuna begitu lirih.
Kagami Jiro menghentikkan tangan kanannya yang sudah bersiap untuk menyuapi Yuna, bahkan sudah berada di hadapan Yuna.
"Aku akan makan setelah selesai menyuapimu." ucap Kagami Jiro begitu hangat dan berusaha untuk menyuapi Yuna kembali.
"Tidak mau ... sebelum kamu makan, aku juga tidak mau makan kembali." Yuna semakin menghindari tangan Kagami Jiro yang sedang berusaha untuk menyuapinya.
Kagami Jiro terlihat sedikit menghela nafas, lalu mulai meletakkan sendok itu di atas mangkok.
"Baiklah ... aku juga akan makan sekarang." ucapnya mengusap lembut kepala Yuna dan tersenyum begitu hangat. "Yukimura, mana makananku?"
Yukimura mulai membuka bingkisan yang baru saja dia bawa lalu memberikannya untuk Kagami Jiro. Kini Kagami Jiro mulai membuka bingkisan itu dan mulai memakan sepotong takoyaki yang sudah dingin itu.
Yuna yang kini sedang duduk bersandar dengan bantal di belakangnya, sedikit melirik Kagami Jiro yang mulai menikmati takoyaki itu. Setelah memakan dua suapan, kini Kagami Jiro mulai meletakkan kembali bingkisan itu dan mulai mengambil semangkok bubur hangat untuk menyuapi Yuna kembali.
__ADS_1
Manis sekali!