
Wang Jun menatap Li Feng penuh haru seakan masih tak percaya jika pria tua yang sedang duduk di samping brankarnya adalah ayahnya, Li Feng, "Ayah?" gumam Wang Jun bergetar.
Li Feng mengangguk pelan dengan haru. Wajahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan nyata itu terlihat mulai basah kembali karena air mata hangat itu.
"Putraku Li Zhi ..." Li Feng yang masih menggenggam jemari Li Zhi kini menempelkannya pada pipinya.
Sementara jemari kanannya mengusap lembut sisi samping kiri wajah Li Zhi atau Wang Jun itu.
"Maafkan ayah, Li Zhi. Ayah seharusnya berusaha lebih keras untuk mencarimu saat itu. Maka kamu tak akan menderita selama 15 tahun. Maafkan ayahmu ini, Li Zhi. Maafkan ayahmu ini ..." Li Feng tak bisa menahan lagi isak tangis itu.
Dadanya terasa begitu sesak jikan mengingat dan membayangkan kesulitan yang dialami oleh Li Zhi selama 15 tahun ini. Bahkan untuk bisa tetap makan sehari-hari saja, Li Zhi harus benar-benar bekerja keras.
"Tidak, Ayah. Itu bukan salah ayah. Ini semua sudah takdir yang harus aku jalani, Ayah." Ucap Li Zhi berusaha untuk menghibur Li Feng. "Mungkin aku memiliki dosa di masa lalu, dan itulah pembalasan kontan yang aku dapatkan. Ayah jangan besedih lagi."
DEGH ...
Ucapan dari Li Zhi seakan membuat jantung Li Kai yang masih berdiri dengan tegap di belakang Li Feng, seketika berdebar lebih hebat lagi. Dan perkataan itu spontan saja membuat Li Kai mengingat sosok Luo Yixue, ibunya.
"Tidak, Li Zhi. Kamu adalah putraku yang baik dan sangat patuh. Kamu tidak pernah memiliki salah apapun. Bahkan hatimu begitu mulia dan sangat lembut. Ayahlah yang salah kepadamu. Ayah telah banyak membuat hidupmu begitu tidak bebas dan selalu terkekang. Ayah sungguh minta maaf padamu." ucap Li Feng kembali dan mulai menyentuh jemari Li Kai yang masih berada di atas bahunya dan sedikit menoleh ke arah samping.
"Li Kai ... kemarilah ..." ucap Li Feng mulai memanggil salah satu cucunya.
Li Kai mulai maju beberapa langkah dan masih menatap nanar Li Zhi yang saat ini sudah terduduk di atas brankar. Sepasang mata Li Kai juga terlihat sudah memerah dan berkaca-kaca di balik lensa beningnya itu.
__ADS_1
Li Zhi yang mulai menatap Li Kai kini sedikit mengkerutkan keningnya, karena Li Zhi mulai mengingat pertemuannya yang tidak sengaja bersama Li Kai saat berada di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Kamu ..." ucap Li Zhi yang masih tidak mengerti akan siapa sosok Li Kai sebenarnya.
"Li Zhi ... dia adalah putramu. Putra pertamamu bersama Luo Yixue." ucap Li Feng menjelaskan.
Selama beberapa saat Li Zhi terdiam dan berusaha untuk mengingat-ingat gadis bernama Luo Yixue. Hingga akhirnya Li Zhi mulai mengingatnya dan menatap haru Li Kai.
"Kamu benar-benar putra di Luo Yixue. Kamu sangat mirip dengannya." ucap Li Zhi penuh haru karena tak pernah menyangka kini tiba-tiba saja takdir mempertemukan mereka kembali seperti ini.
"Ayah ..." ucap Li Kai penuh haru hingga suaranya bergetar.
Li Kai juga tak kuasa untuk menahan air mata harunya hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipinya begitu saja. Li Zhi mulai merentangkan kedua tangannya lebar. Li Kai mulai memeluknya.
Ini adalah pertama kalinya di dalam kehidupannya, Li Kai merasakan pelukan dari seorang ayah yang begitu hangat. Hangat sekali dan begitu menenangkan hatinya.
"Jangan lanjutkan, Ayah. Kini kita semua sudah berkumpul kembali. Jangan bahas masa lalu yang membuat hari kita menjadi sesak kembali. Aku sudah memaafkan ayah ... begitu juga dengan ibu. Ibu juga pasti akan bahagia di surga saat melihat aku bisa bertemu dan bersama dengan ayah lagi." ucap Li Kai yang sebenarnya terdengar begitu memilukan.
"Luo Yixue ..."
"Ibu sudah pergi, Ayah ... dan ibu sudah tenang disana dan tidak akan merasakan sakit lagi." air mata hangat itu kini mulai membasaki pipi Li Kai lagi.
Bukan hanya Li Kai, namun Li Zhi dan juga Li Feng juga tak kuasa menahan tangis haru itu. Kenyataan itu terdengar begitu pahit untuk Li Zhi. Namun seketika keberadaan Li Kai di hadapannya seakan menghapus sesak dan sakit itu.
__ADS_1
Li Zhi menatap lekat Li Kai setelah melepas pelukannya. Perlahan Li Zhi juga tersenyum begitu hangat menatap Li Kai.
"Kamu sudah begitu besar ya. Dan sangat tampan." puji Li Zhi dengan tulus. "Ayah minta maaf atas segala kesalahan ayah di masa lalu, yang tak sempat menimang dan menggendongmu disaat kamu kecil. Ayah sungguh minta maaf ..." ucap Li Zhi penuh penyesalan.
Li Kai mengangguk pelan dan tersenyum hangat menatap Li Zhi. Namun tiba-tiba Li Zhi mulai teringat dengan Zen dan istrinya, Huang Qiao. Dan Li Zhi mulai beralih menatap Li Feng dan berniat ingin menanyakan akan hal itu.
"Ayah ... lalu dimana Huang Qiao dan Zen?" tanya Li Zhi kepada Li Feng. "Aku tidak melihat keberadaan mereka disini. Apakah mereka sedang sibuk?" imbuh Li Zhi lagi.
Sebenarnya kalimat tanya itu sedikit membuat Li Kai merasa sedikit sedih, namun lagi-lagi Li Kai berusaha untuk menepis segala rasa itu.
Dan pertanyaan itu sempat membuat Li Feng sedikit menghela nafasnya, sebelum Li Feng menjelaskan sesuatu yang mengkin juga akan membuat Li Zhi terpukul.
"Li Zhi putraku. Kecelakaan 15 tahun yang lalu sudah menewaskan Hwang Qiao." ucap Li Feng begitu berat.
Seperti tersambar sebuah petir, ucapan dari Li Feng terdengar begitu mengejutkan dan tak pernah disangka oleh Li Zhi sebelumnya. Selama ini Li Zhi menyangka jika Hwang Qiao dan Zen masih hidup bersama tanpa dirinya. Namun rupanya takdir berkata lain.
Seketika tubuh Li Zhi menjadi begitu lemas hingga menjadi tidak bertenaga karena mendengar sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan itu.
"Lalu dimana, Zen?" ucap Li Zhi kembali dan mulai menatap Li Feng kembali.
"Zen ..." ucap Li Feng belum sempat menyelesaikan ucapannya dengan sempurna karena tiba-tiba saja pintu ruangan rawat ini terbuka begitu saja tanpa ada ketukan dan kata permisi sebelumnya.
CEKLEEKK ...
__ADS_1
Terlihat seorang pemuda yang cukup tinggi dengan pakaian kasualnya mulai melenggang memasuki ruangan kamar rawat ini. Auranya terlihat begitu ceria, bercahaya dan bersinar. Sepasang mata bak okavango blue diamond itu masih menatap sang kakek penuh binar dan belum menatap sekitarnya.
"Kakek ..." sapanya hangat dan segera mendatangi Li Feng begitu saja.