
"Ibumu kan sudah aku jaga! Tenang saja! Dia akan aku rawat dengan baik dan sepenuh hati. Ibumu adalah kakak bibi satu-satunya. Dia adalah satu-satunya saudari yang bibi miliki. Sudah sepatutnya saling menjaga bukan?" ucap bibi Rong yang membuat kak Kai membeku seketika hingga beberapa saat dia hanya terdiam saja dalam lamunannya.
"Tentu saja. Bibi Rong sangat benar. Sudah sepantasnya saling menyayangi antar saudara. Siapa lagi yang akan selalu ada untuk kita setelah semuanya pergi? Bukan begitu, Bibi Rong?" ucap Zen dengan senyum lebar dan sebenarnya ucapan itu begitu tulus dari dalam hatinya.
"Benar sekali, Zen! Kau anak yang baik!" ujar bibi Rong memuji Zen.
"Wah ... masih asyik berbincang saja." tiba-tiba ibu kak Kai sudah datang dan mulai duduk bersama mereka semua. "Kalian sedang membicarakan apa?" imbuhnya dengan senyum begitu hangat.
"Anak kesayanganmu membuat masalah, Yixue!" ucap bibi Rong menyudutkan kak Kai.
"Bibi ..." sela kak Kai sedikit keberatan. "Sudah kubilang jangan memanggil nama ibuku seperti itu ..."
"Memang kenapa? Bibi lebih suka memanggilnya seperti itu! Dan sudah dari dulu bibi memanggil ibumu seperti itu. Bahkan sebelum kau lahir ..." celutuk bibi Rong kembali menyudutkan kak Kai.
"Sudahlah, Kai. Tidak apa-apa kok. Jangan seperti itu lagi ya ..." ucap Yixue dengan hangat dan lembut menatap kak Kai. "Ibu baik-baik saja kok."
Sedangkan kak Kai terlihat sedikit murung lalu mengambil sumpit dan sendoknya.
Aku sangat tidak menyukai saat seseorang memanggil ibuku dengan nama itu ... karena aku sangat ingat dengan jelas saat pria itu memanggil ibuku dengan nama itu. Yah ... saat itu adalah saat pertama dan terakhir kali aku melihat pria yang sangat jahat terhadap ibuku. Dan aku sangat membenci dia!!
Batin kak Kai yang tanpa sadar dia sudah melamun saja.
"Kai ... sayang ..." panggil Yixue memanggil anak semata wayangnya dengan begitu hangat.
"Ehm. Maaf ibu ... aku hanya sedikit lelah. Mari makan ... pasti enak sekalk masakan bibi Rong!" kini kak Kai berusaha untuk ceria kembali dan mulai mengambil mapo daofu dengan sumpitnya.
"Tentu saja enak! Ayo ... ayo makan yang banyak!" ucap bibi Rong bersemangat.
"Dimana Yunxi, Vann, Nokto, dan Jin Heng?" tanya Yixue sambil menoleh menebarkan pandangannya untuk mencari keberadaan mereka berempat.
"Paling mereka masih di kamar, Ibu." jawab kak Kai sambil memasukkan sesuap mapo daofu ke dalam mulutnya.
"Panggil mereka kesini ... ajak mereka makan bersama." perintah Yuxie dengan lembut.
"Biar aku yang panggil. Kebetulan aku juga mau mengambil sesuatu di kamar." ucap Zen tiba-tiba.
"Oh. Baiklah ... terima kasih Zen."
__ADS_1
"Sama-sama, Bibi Yi." sahut Zen lalu mulai bangkit dari duduknya dan mulai melenggang meninggalkan ruang makan.
Zen mulai menyusuri koridor kecil yang sedikit memanjang, lalu menaiki tangga. Tangga demi tangga mulai ditapakinya hingga akhirnya dia sampai di lantai dua.
Zen mulai mengetuk pintu sebuah kamar yang terletak di paling ujung. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu terbuka. Terlihat Jin Heng membukakan pintu hanya dengan memakai sebuah T-Shirt dan celana santai selutut bermotif bunga.
Jin Heng membelalakkan mata melihat Zen yang sudah berdiri di balik pintu menyandarkan badan dan kepalanya pada dinding dan kedua tangannya saling disilangkan di depan dada.
"Maaf, Tuan Zen. Apakah kita akan segera pergi? Saya akan berganti pakaian dulu." ucap Jin Heng sedikit tidak enak.
"Santai saja. Tidak usah berpakaian formal. Kita sedang berlibur saat ini. Mari turun dan makan bersama. Ajak yang lainnya juga!" ucap Zen dengan begitu santai.
"Baik, Tuan."
"Hhm. Aku tunggu di bawah." ucap Zen lalu mulai melenggang kembali menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.
Yeap. Sebuah hadiah untuk bibi Rong dan bibi Yixue. Sebelum meninggalkan Beijing, Zen sengaja membeli dua buah tas kecil dan chrystal candle. Zen berencana akan memberikan souvenir itu untuk bibi Rong dan bibi Yixue.
Zen menenteng dua buah totebag berwarna hitam yang berisikan masing-masing slingbag dan chrystal candle itu dan segera kembali ke ruang makan.
Saat kembali ke ruang makan, ternyata keempat pengawalnya juga sudah duduk bergabung bersama yang lainnya.
"Apapun itu kami akan menyukainya. Kamu pasti begitu berhati-hati saat memilihnya untuk kami ..." ucap bibi Yi dengan senyum hangat saat menerima totebag itu.
"Benar. Seharusnya tidak usah repot-repot, Zen. Kalian datang saja kita sudah merasa senang." ujar bibi Rong dengan senyum lebar.
"Sudah sepantasnya kita memberikan sesuatu jika sedang mengunjungi seseorang yang lebih tua. Bukan begitu, Bibi?" ucap Zen dengan senyum lebar lalu duduk kembali di kursinya.
"Anak yang baik ..." ucap bibi Rong terkesima.
"Baiklah. Ayo makan dulu!" ujar bibi Yixue dengan bersemangat.
Kak Kai hanya terdiam dan segera menikmati makanannya. Sesekali dia memperhatikan Zen yang terlihat begitu akrab dengan ibu dan bibinya.
Bahkan setelah makan bersama mereka bertiga menonton film klasik bersama. Dan Mereka bertiga terlihat begitu menikmati film jaman dulu itu. Sesekali mereka bertiga tertawa bersama. Bahkan saat adegan sedih, ketika bibi Rong dan Yixue sampai menangis, Zen terlihat memberikan sapu tangannya untuk mereka.
Mengapa mereka bisa begitu dekat sekali? Padahal mereka baru saling mengenal?
__ADS_1
Batin kak Kai saat melintas di belakang mereka bertiga dan melihat mereka bertiga sedang asyik menonton film klasik itu.
"Huft ..." kak Kai membuang nafas kasarnya ke udara dan terlihat begitu murung. Namun setelah beberapa saat, akhirnya dia tersenyum samar.
Andai ibu dan bibi tau yang sebenarnya ... apakah ibu dan bibi masih akan menyayangi Zen seperti saat ini? Zen adalah putra dari Li Zhi dan Hwang Qiao. Orang yang sangat kalian benci dan tidak ingin kalian kenali. Zen adalah putra dari pria yang membuang ibu dan membuangku saat itu ...
Batin kak Kai yang masih menatap mereka bertiga dari kejauhan dengan tatapan nanar serta mengeraskan rahangnya.
"Yixue, selagi banyak pria di rumah bagaimana jika sebaiknya kita meminta tolong kepada mereka? Para pengawal juga pasti akan mau membantu kita." ucap bibi Rong tiba-tiba.
"Ehm ... kau benar sekali, Luo Rong." jawab Yixue dengan wajah yang berbinar.
Kak Kai yang mendengar percakapan dari mereka mengkerutkan keningnya karena sedikit penasaran tentang apa yang akan dilakukan oleh bibi dan ibunya.
...⚜⚜⚜...
Bersambung ...
...Hallo sahabat Never Say Good Bye. Bertemu lagi dengan author yang begitu konyol ini....
...Oh, Iya Author ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan bagi yang menjalankannya ya. Semoga diberikan kelancaran dan bisa lebih kyusu saat menunaikannya....
...Jangan lupa untuk selalu dukung Zen dan Jiro ya dengan Like, Comment, Rate, Gift, dan Vote....
...By the way ada yang sudah kangen dengan dady Jiro ngak nih? Lama nggak nongol si dady Jiro soalnya. Hehe ......
...Well, di part-part selanjutnya Jiro Zen akan segera mengungkap penyerangan terhadap Kagami Jiro. Dan dia sudah memiliki bukti yang berada di dalam kotak keemasan itu....
Reader : Udah deh thor nggak usah panjang kali lebar. Lanjut aja! Kita maunya lihat mereka! Bukan lihat author yang bicara kesana kesini. Hehe ...
Jiro-Zen : Benar! Kapan giliranku tiba, Thor? Beberapa bab aku ditiadakan begitu saja? Sadis ...
Author : Tenang Jiro-Zen. Akan ada giliranmu tiba ... yang penting kamu jaga jarak dulu dengan Yuna.
Jiro-Zen : Aku selalu menjaganya. Tapi aku tidak bisa menjamin aku bisa selalu menahannya jika kak Yuna selalu saja menggodaku. Aku laki-laki normal, Thor. Makanya cepetan tukar lagi jiwa kami ... Hiks ...
"Zen-Jiro : Aku setuju! Cepat kembalikan jiwa kami ke dalam raga kami masing-masing! Kalau tidak, lama-lama kamu yang akan aku patahkan, Thor!
__ADS_1
Author : Lagi-lagi dikeroyok sama mereka. Kabur ... 🏃♀️🏃♀️