Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Takdir Yang Terus Berjalan


__ADS_3

"Sekarang katakan padaku! Ceritakan padaku dengan detail, bagaimana kau saat kau terbangun dari koma dengan memakai ragaku?" titah Kagami Jiro menatap tajam Zen yang masih duduk di sofa, sementara Kagami Jiro yang masih berdiri kini mulai duduk di sebelah Zen.


"Hhm. Saat itu sebelum aku tersadar sepenuhnya ... aku seperti mendengar lantunan dari laguku sendiri yang sedang dinyanyikan oleh seorang gadis. Aku mendengarnya seperti sayup-sayup yang begitu samar dan pelan namun membuatku memiliki sebuah tekad kuat untuk segera terbangun dan kembali untuk melihat dunia. Dan gadis yang sedang menyanyikan lagu itu adalah Christal, Tuan Kagami Jiro." ucap Zen dengan jujur.


Kagami Jiro memicingkan sepasang matanya menatap tajam pemuda yang memiliki sepasang mata biru nan indah dan menawan itu.


"Hhm ... menarik!" sahut Kagami Jiro tersenyum misterius. "Awas saja jika kau berani bermain-main dengan adik bungsuku!" tandas Kagami Jiro mulai memberikan ancaman.


"Tid-tidak, Tuan ..." sahut Zen mulai gelagapan dan ketakutan mendengar ancaman dari Kagami Jiro.


"Sayang, ayo!" tiba-tiba Yuna sudah datang dan terlihat sudah begitu rapi dan harum.


"Baiklah! Aku akan pergi dulu, Bocah! Panggil saja Christal lagi jika kalian mau bermain console game lagi." sahut Kagami Jiro lalu mulai bangkit dari tempat duduknya dan segera melenggang pergi bersama Yuna.


"Baik, Tuan." balas Zen terdengar begitu ramah dan patuh.


Dan tentu saja tingkah, perilaku serta gaya berbicara Zen sangat membuat Yuna sedikit merasa aneh dan berbeda dari biasanya. Jika selama ini Li Zeyan yang dia kenal adalah bocah menyebalkan, tidak sopan, aneh dan mesum. Maka kali Li Zeyan kali ini terlihat begitu ramah, baik dan sangat sopan.


Aneh! Mengapa bocah ini sekarang menjadi begitu berbeda? Tidak seperti Li Zeyan yang selama ini aku kenal.


Batin Yuna kebingungan sendiri. Bahkan sebelum pergi, Yuna dan Zen sempat berpandangan secara tidak sengaja. Dan disaat itulah Zen hanya tersenyum dengan ramah dan sedikit menganggukkan kepalanya untuk melepas kepergian mereka.


Setelah beberapa saat akhirnya Christal mulai datang kembali dan terlihat sedang mengendap-endap sambil celingukan seakan sedang mencari seseorang.

__ADS_1


Zen hanya memperhatikan Christal dan sedikit kebingungan dan sesekali juga melihat sekelilingnya.


"Kau sedang mencari siapa, Christal?" tanya Zen akhirnya.


"Dimana kak Jiro? Apa dia sudah pergi?"


"Ya, tuan Kagami Jiro baru saja pergi bersama nyonya Yuna." sahut Zen seadanya.


"Huft ... syukurlah!" Christal mulai menghempaskan tubuhnya di atas sofa tepat di sebelah Zen duduk.


"Ada apa?"


"Akhir-akhir ini kak Jiro mulai menyebalkan kembali! Kembali seperti sedia kala, kolot dan mendadak tidak memiliki hobi yang sama denganku. Aneh sekali bukan? Bagaimana menurutmu?" kini Christal mulai beralih menatap Zen untuk meminta pendapatnya.


"Yah ... mungkin saja itu semua karena efek dari amnesia yang diderita oleh tuan Kagami Jiro setelah penyerangan itu." jawab Zen dengan asal.


"Uhm ... Christal ..."


"Ya ..." gadis manis dan berwajah begitu mungil itu mulai beralih menatap Zen. "Ada apa?"


"Lusa aku akan kembali ke Beijing." ucap Zen begitu pelan dan hati-hati. Dan entah mengapa rasanya sedikit membuatnya sesak saat akan meninggalkan Jepang dan seluruh kenangannya saat di berada di keluarga besar Kagami.


Semua kenangan itu begitu hangat dan tak akan pernah Zen lupakan seumur hidupnya. Terlebih kenangan saat berada di dalam tubuh seorang petinggi utama dari Yakuza terbesar seperti Doragonshadou. Tentu saja ini adalah sebuah kenangan yang sangat luar biasa di dalam hidupnya.

__ADS_1


"Ka-kamu akan kembali ke Beijing lusa, Li Zeyan?" ucap Christal sedikit terkejut dan hampir tak percaya setelah mendengarkan ucapan dari Zen. "Tapi ... bukankah seharusnya masih pekan depan?" imbuh Christal yang terlihat cukup berat untuk menerima semua ini.


"Dokter sudah menyatakan jika aku sudah pulih sepenuhnya. Beberapa pekerjaan juga sudah menumpuk karena aku yang mengalami cedera ketika aku berada di Jepang. Jadi kak Kai memutuskan untuk kita segera kembali ke Beijing." jelas Zen yang masih menatap seisi rumah besar yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 4 bulan ini.


Sesak, sedih, dan sangat berat. Begitulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Zen. Begitu juga Christal, gadis itu sebenarnya cukup sedih ketika menyadari semua itu. Keduanya memang tak memiliki ikatan apapun selama ini, namun hati mereka tak bisa untuk berbohong.


Karena selama ini ... selama 4 bulan terakhir ini mereka berdua selalu bersama. Meskipun saat itu Zen sedang menempati raga Kagami Jiro, namun keduanya saling merasa nyaman karena jiwa mereka berada di satu server yang sama.


"Li Zeyan ... maafkan aku ..." ucap Christal yang tiba-tiba nada suaranya begitu berubah.


Christal yang biasanya periang dan ceria kini menjadi begitu murung.


"Mengapa minta maaf padaku?" Zen yang sedari tadi hanya memperhatikan seisi rumah ini, kini beralih menatap Christal yang sudah menghadapnya namun sedikit menunduk.


"Maaf ... gara-gara aku ... kamu juga menderita dan terkena sasaran oleh Death eyes juga. Jika saja kamu tak memperdulikanku saat itu ... mungkin kamu tak akan mengalami kecelakaan malam itu. Karena tujuan mereka hanyalah keluarga besar Kagami. Maaf ..." ucap Christal dengan tulus.


Zen yang mendengar ucapan Christal tersenyum begitu hangat melihat gadis itu masih menunduk dan tak memandangnya saat ini.


Christal, andai saja kamu tau. Sebenarnya sebuah kecelakaan yang terjadi saat malam itu malah menjadi berkah untukku dan tuan Kagami Jiro. Karena jika kecelakaan itu tak terjadi, mungkin saja aku dan tuan Kagami Jiro tidak akan bertukar tubuh kembali. Dan selamanya aku akan menjadi kakakmu dengan raga tuan Kagami Jiro. Kini ... dengan ragaku ini, aku akan mulai melakukannya dengan benar. Aku akan mengatakannya dengan benar. Kita tak pernah tau takdir di masa depan, namun tak ada salahnya kita mencobanya.


Batin Zen masih tersenyum hangat menatap Christal yang masih menunduk. Perlahan Zen memberanikan untuk mulai meraih jemari Christal. Dan sungguh ini membuat Christal merasa bingung dan tak mengerti. Namun sebenarnya Christal juga merasa bahagia, hingga gadis itu mulai mendongak menatap Zen.


"Christal, ini bukan salahmu." ucap Zen dengan hangat dan lembut. "Semua ini terjadi karena takdir yang sudah digariskan. Aku yang sedang duduk di hadapanmu saat ini adalah juga memang sudah ditakdirkan dan pasti akan terjadi. Jangan salahkan dirimu."

__ADS_1


Christal seakan membeku saat melihat wajah tampan Zen yang sedang tersenyum hangat menatap dirinya saat ini. Seseorang yang selama ini sangat diidolakannya sedang berada di hadapannya dan melakukan semua itu dengan begitu hangat. Tentu saja itu semua membuat Christal melayang tinggi.


"Christal ... bolehkan aku selalu menghubungimu ketika aku sedang berada di Beijing nanti?" ucap Zen tiba-tiba dan kali ini sungguh membuat Christal semakin terbang tinggi.


__ADS_2