
Profesor Loid memicingkan sepasang matanya menatap Zen yang sesang duduk di hadapannya dan hanya berbataskan sebuah meja di antara mereka berdua. Dari raut wajahnya tergambarkan jika saat ini profesor Loid sedang memikirkan sesuatu.
"Lalu apakah itu artinya kamu yang menyerang Lee malam itu, Li Zeyan?" tanya profesor Loid semakin menatap Zen lekat dengan sepasang mata beningnya di balik sebuah lensa bening.
Apa ini maksudnya? Tuan Kagami Jiro tak pernah mengatakan apapun mengenai kehidupanku selama 4 bulan itu. Apa saja yang sudah tuan Kagami Jiro lakukan dengan tubuhku aku tidak mengetahuinya. Lalu aku harus menjawab apa saat ini? Apakah benar, tuan Kagami Jiro yang menyebabkan Lee cedera seumur hidup? Bagaimana ini? Hhm ... sebaiknya aku berpura-pura tidak tau saja! Jika tak ada bukti saat itu, maka semua akan aman bukan? Bahkan mereka semua tak memiliki bukti apapun saat itu jika memang mencurigaiku. Lalu mengala baru sekarang profesor Loid mencurigaiku?
Batin Zen mulai kebingungan kembali untuk menjawab pertanyaan dari profesor Loid. Namun akhirnya Zen memutuskan untuk berpura-pura tidak mengetahui apapun, karena memang itulah yang sebenarnya. Jiwa Li Zeyan memang tidak mengetahui apapun, karena saat itu dia sedang berada di Jepang.
"Li Zeyan. Apa kamu mendengarku?" tanya profesor Loid mulai membuyarkan angan Zen kembali.
"Oh iya. Maaf profesor ... tapi aku tidak tau apa-apa mengenai hal itu. Saat itu bahkan aku sedang berada di dalam lokasi shooting. Jika profesor Loid masih sedikit meragukanku, profesor Loid bisa bertanya kepada managerku atau beberapa kru TV saat itu. Karena aku sedang berada disana malam itu." jawab Zen dengan santai dan tenang. Dan tentu saja Zen tidak berbohong sepenuhnya.
"Hhm ... begitu ya." profesor Loid mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum menatap Zen. "Mungkin ada seseorang yang sedang berusaha untuk menjebakmu saat itu. Namun aku sedikit lega setelah membicarakan hal ini denganmu. Karena aku tau, kamu adalah anak yang baik. Simpanlah kembali gantungan kunci ini." imbuh profesor Loid menyodorkan gantungan kunci itu kepada Zen.
"Hhm. Terima kasih, Profesor Loid." ucap Zen sambil menerima gantungan kunci berbentuk gitar kecil berwarna hitam itu. "Tapi kalau boleh tau, profesor Loid menemukan gantungan kunci ini dimana ya?" imbuh Zen sedikit penasaran.
"Aku menemukan gantungan kunci ini malam itu di tempat kejadian, Li Zeyan. Setelah Zhang Wei dan teman-temannya mengantarkan Lee untuk segera pergi ke rumah sakit. Dan aku sempat mengira pelaku penyerangan terhadap Lee adalah kamu." sahut profesor Loid dengan senyum lebar. "Ya sudah, kamu boleh kembali. Kamu boleh bercerita apapun padaku jika sedang mengalami kesulitan."
"Terima kasih, Profesor Loid. Kalau begitu aku akan segera kembali ke kelas.' ucap Zen dengan ramah lalu mulai meninggalkan ruangan itu.
Profesor Loid hanya menatapnya kepergian Zen dengan senyumnya yang mulai memudar, lalu mulai menyibukkan dirinya kembali dengan beberapa tugas dari para mahasiswanya yang sudah menumpuk di hadapannya.
__ADS_1
Sementara itu ...
Zen mulai berjalan munyusuri salah satu koridor kampus Wan Chai Unniversity untuk segera kembali ke dalam kelasnya saat ini. Di sepanjang perjalanan, Zen masih saja teringat dengan kecurigaan profesor Loid, hingga akhirnya Zen memberanikan diri untuk menghubungi menghubungi Kagami Jiro.
...⚜⚜⚜...
"Sayang ... aku ingin seorang anak perempuan. Ayo berikan padaku ..." seorang pria dewasa terlihat sedang menggoda istrinya di dalam sebuah kamar hotel dan memeluknya dari belakang.
"Lalu bagaimana jika yang terlahir nanti anak laki-laki lagi?" sahut sang istri kembali bertanya.
"Ya tidak masalah. Kita bisa buat lagi ..." jawab pria itu seenak jidatnya sendiri dan tertawa renyah. "Ayolah, Yuna sayang. Mumpung kita masih berada di China. Anggap saja kita sedang berbulan madu ke-4. Dan mumpung si kembar Kenzi dan Kenzou sedang asyik bermain di kamar Christal. Hehe ..." pria dewasa yang tak lain adalah Kagami Jiro itu mulai memutar tubuh Yuna dan mulai menggendongnya lalu mulai membaringkannya di atas ranjang.
Sebuah kecupan lembut mulai dilayangkan Kagami Jiro mulai mengecup leher jenjang Yuna. Gesekan beberapa rambut pada dagu Kagami Jiro membuat Yuna merasa sedikit geli hingga membuat Yuna sedikit mengangkat bahunya.
"Apa itu mengganggumu, Sayang?" tanya Kagami Jiro mulai menghentikan serangan sejenak dan menatap lekat sang istri.
"Tidak kok. Hanya merasa sedikit geli saja..." jawab Yuna tersipu malu.
"Baiklah, besok akan aku rapikan." ucap Kagami Jiro mengusap lembut sudut bibir Yuna. "Ada lipstik yang sedikit kurang rapi."
"Ahh ... benarkah itu?" ucap Yuna sedikit gelagapan dan berusaha untuk mengusap kembali sudut bibirnya yang baru saja disentuh oleh Kagami Jiro.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bersihkan ..." ucap Kagami Jiro lalu meraih jemari Yuna dan mulai menariknya ke samping.
Namun bukannya membersihkannya, kini Kagami Jiro mulai mendekati wajah Yuna dan mengecup bibir mungil itu begitu saja. Sepasang mata Yuna masih membelalak karena tak tau jika akan mendapatkan serangan tak terduga lagi. Yuna berusaha untuk mendorong tubuh Kagami Jiro untuk menghentikannya.
"Kamu membohongiku ya ..." sungut Yuna sedikit cemberut.
"Tidak kok. Tadi memang ada. Dan aku sudah merapikannya." jawab Kagami Jiro dengan santai dan tersenyum menggoda Yuna.
Jemari pengembara itu mulai diluncurkannya dengan mengusap lembut paha Yuna hingga menyibak dress pendek itu dan perlahan mulai menuju pangkal paha Yuna.
Kagami Jiro mulai mengecup kembali leher jenjang Yuna dan mulai mengisapnya hingga meninggalkan sebuah kiss mark kemerahan disana.
"Sayang ... jangan membuat tanda yang terlalu terlihat seperti ini." gerutu Yuna yang sukses membuat Kagami Jiro menghentikan serangannya lalu tertawa kecil.
"Baiklah. Aku akan membuat tanda di tempat yang tidak terlihat oleh mereka." ucap Kagami Jiro tersenyum misterius menatap Yuna dan mulai menatap bagian dada Yuna dengan nakal lalu mulai membenamkan kepalanya di atasnya.
Seluruh tubuh Yuna menggeliang dibuatnya oleh sebuah serangan yang baru saja diluncurkan oleh Kagami Jiro dengan begitu lembut.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja mulai terdengar suara melodi klasik yang terdengar begitu lembut yang berasal dari ponsel Kagami Jiro. Kagami Jiro mulai menghentikkan serangannya dan terlihat begitu kesal seakan sedang mengutuk dari dalam hati siapapun yang sedang mengganggu waktu indah saat berduaan dengan Yuna.
"**** ... siapa yang sudah berani menghubungiku dan menggangguku disaat seperti ini?!" geram Kagami Jiro mulai meraih sebuah benda pipih yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1