Dark Game

Dark Game
80. Bantuan Datang


__ADS_3

Reynal tersenyum senang, sebelumnya ia telah mencoba memanggil keempat legenda untuk menolongnya. Namun setelah lama menunggu Reynal akhirnya mengetahui bahwa Ulat Penahan Sukma membuat seluruh kekuatannya terikat dan tidak dapat digunakan.


Reynal hanya dapat menutup matanya ketika merasa hembusan pedang hampir mengenai lehernya, membayangkan kematiannya yang begitu cepat.


Ada sedikit rasa penyesalan dan juga kepuasan yang ia rasakan. Ia puas telah membuat desa Air Biru sekarang dapat menjadi sebuah kota dan berhasil membentuk Akademi Beladiri.


Ia juga merasa menyesal sebab belum bisa mengalahkan Hell Memoth yang telah menyengsarakan dan membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa. Dengan datangnya keempat legenda membuatnya bernafas lega dan kembali bersyukur.


Keberuntungan Reynal sangat besar, sedikit saja mereka datang terlambat maka Reynal tidak tertolong lagi.


“Siapa kalian? bagaimana kalian bisa masuk disini” Aldi cukup merasa percaya diri dengan kekuatannya saat ini, ia berpikir bala bantuan dari Reynal tidak cukup kuat.


“Serang Mereka” Cecil memerintahkan seluruh prajurit tingkat Galaksi yang berada dalam ruangan tersebut untuk menyerang keempatnya. Para legenda yang datang menyelamatkan Reynal antara lain Draco, Dinda, Luci, dan Mo Fan


“Panah Dewa Archer : Seribu Mata Panah” Dinda melepaskan sebuah anak panahnya lalu seketika sebuah anak panah itu berubah menjadi ribuan anak panah.

__ADS_1


Dinda melihat kekuatan prajurit yang akan menyerang mereka berempat berada pada tingkat Galaksi, untuk itu ia mengeluarkan serangan tingkat Galaksi Titan untuk melukai mereka semua.


Melihat seluruh prajuritnya terluka dengan sebuah serangan kecil membuat Aldi dan yang lainnya gemetar. Mereka tidak menduga akan menghadapi musuh tingkat Semesta sehari setelah mereka mendapatkan kekuatan besar.


“Jangan takut, kita berempat telah berada di tingkat Semesta lapisan kedua, mereka tidak akan mungkin mengalahkan kita”


Aldi dan yang lainnya segera menyerang keempat legenda. Jini berhadapan dengan Dinda, mereka berdua memiliki kekuatan yang berbeda jauh. Dengan mudah Dinda mampu membuat Jini terpojok dengan serangan panah yang mematikan milikinya.


Berbeda dengan Mo Fan Sang Legenda Asasin berhadapan dengan Joni. Joni mengeluarkan serangan jarak jauhnya membuat sang legenda sedikit terdesak, sebuah perasaan kini kembali menyeruak dalam hati Mo Fan.


Jelas ia memiliki masalah di masa lalu dengan seorang Archer. Itu membuatnya sedikit lengah dan berhasil membuat Joni mampu mengimbangi serangannya.


“Gost Killer” Mo Fan memberikan serangan terakhir yang membuat Joni harus kehilangan kehilangan kepalanya. Draco sang ahli sihir juga telah menyelesaikan Aldi dengan sangat cepat.


Berbeda dengan ketiga legenda lainnya, Lucy sang Penyihir Hitam saat ini sedang menikmati penyiksaan yang ia lakukan terhadap Cecil.

__ADS_1


Terlihat Cecil sedang meraung kesakitan akibat seluruh jarinya telah dipotong menggunakan sebuah tombak sihir. Bola mata Cecil nampak memerah dan mengeluarkan banyak darah akibat racun Serangga Sihir yang digunakan oleh Lucy.


Pihak penyelamat Reynal dengan mudah menghabisi Aldi dan yang lainnya, Draco segera memeriksa keadaan Reynal setelah menghabisi seluruh pasukan Aldi yang tersisa. Draco berusaha mengeluarkan tiga ulat dari dalam tubuh Reynal dengan energi sihirnya.


Reynal memuntahkan cairan kental berwarna merah bersama dengan tiga ekor ulat yang masih bergerak gerak. Setelah memastikan seluruh ulat keluar, Draco membaringkan Reynal untuk diobati dan memulihkan tenaganya.


Sementara itu Lucy masih sangat asik menyiksa Cecil. Ketika Cecil tidak lagi meraung kesakitan akibat telah kehilangan seluruh tenaganya untuk berteriak membuat Lucy menancapkan tombaknya dengan kasar tepat dijantungnya.


“Dasar membosankan, bagaimana manusia masa depan memiliki kekuatan yang sangat rendah seperti ini?” ucap Lucy melirik Draco bermaksud untuk menyinggungnya.


“Hahaha, dari dulu kau memang belum berubah. Membunuh dengan kejam adalah ciri khasmu, aku tidak dapat membayangkan jika waktu itu kau berhasil membunuhku” timpal Draco membuat Lucy mengeluarkan aura pembunuh miliknya.


“Sudahlah, aku tahu kalian memiiki masalah dimasa lalu namun itu tidak penting lagi sekarang” ucap Dinda menengahi keduanya yang bersiap untuk saling menyerang.


“Diam kau, urus saja urusanmu dengan si Mo Fan itu” Lucy mendengus kesal

__ADS_1


“Selalu saja aku yang kena jika kalian bertengkar” ucap Mo Fan dengan sedikit malas


~~


__ADS_2