
Reynal bersama beberapa komandan yang memiliki koneksi dengan salah satu komandan kelas 3 yang mana merupakan komandan terkuat dalam pangkalan. Dengan begitu, ia pastinya memiliki informasi mengenai pasukan yang lengkap.
Menurut Reynal setelah ia mengetahui informasi lengkap kekuatan dari 7 pendekar dewa guild Mata Angin maka ia akan memilih satu atau dua pendekar Dewa yang menurutnya tidak terlalu merepotkan.
Tidak lama, Reynal bersama dengan dua komandan lainnya telah berada di depan pintu komandan kelas 3 yang telah menjadi target. Salah seorang komandan memimpin masuk dengan Reynal mengikuti dibelakangnya.
Tentu ia menyamar menjadi salah satu komandan yang telah ia tangkap. Segera saja mereka bertiga melihat seorang pria tua sedang berlatih di sudut ruangan. Meskipun memiliki wajah yang penuh keriput, pria tua itu memiliki badan yang tergolong cukup terlatih dan pastinya lebih hebat dari para seusianya.
“Komandan He” mereka bertiga segera memberi hormatnya takut pria tua itu tersinggung. Bagaimanapun juga seorang yang telah ditunjuk menjadi kapten tingkat 3 di pangkalan ini adalah salah seorang tetua besar pada guild Mata Angin.
__ADS_1
Reynal tentu telah mendapatkan sebagian besar informasi mengenai komandan satu ini. ia dikenal sebagai tetua He, pendekar semesta lapisan ke lima yang diperkirakan sebentar lagi akan memasuki tingkatan Dewa.
Menurut komandan yang disebelahnya, tetua He juga ditunjuk sebagai orang kedua setelah 7 pendekar dewa membuatnya memiliki otoritas sedikit absolut. Meski begitu, tetua He diketahui hanya tunduk pada leluhur tertinggi para tetua guild. Bahkan ketua guild tidak berani menentangnya. Ini dikarenakan pendekar terkuat pada guild Mata Angin, adalah kakak dari tetua He, bernama Siu, atau He Siu.
“Ada apa kalian kemari?” komandan He mengerutkan dahinya, ia tentu sedikit mengenal mereka sebagai salah satu komandan kelas 2 di pangkalan.
Namun sebelum mereka menjawab, Reynal terlebih dahulu telah menjelaskan kepada mereka berdua rencananya untuk membujuk tetua He meninggalkan pangkalan. Disana Reynal akan dengan mudah menaklukkannya dan membuat tetua He itu berbicara.
“Komandan..” ucap Reynal pelan, mulai dari sini ia akan memainkan rencana. Seolah sedikit mencari cara menjelaskan, ia lalu membuka mulutnya sekali lagi.
__ADS_1
“Komandan He, sesuatu telah terjadi!” Reynal cukup pelan namun cukup untuk di dengarkan hingga tetua He dapat dengan mudah mendengar ucapan Reynal.
Alis matanya sedikit bergerak, seolah mencari sesuatu pada Reynal yang kini mulai berakting seperti seorang pemuda yang menggigil ketakutan. Dengan nada acuh tak acuh, tetua He kembali bertanya “Sesuatu apa?”
“Komandan, sekitar 300 meter dari barat para pasukan patroli kita mendengar kemunculan sosok pendekar hebat dari Akademi Beladiri. Ia telah berhasil membunuh lebih dari 100 prajurit kita dalam semalam.”
“Hanya satu orang? Tapi kalian berani menghadapiku? Kalian sungguh tidak becus!” seketika nada dan aura komandan He menjadi lebih sinis dan tajam. Ia menatap ketiganya seakan dipenuhi dengan amarah karena memberitakan sesuatu yang tidak penting kepadanya.
“Komandan, kami kemari karena pendekar itu mengaku sebagai salah satu leluhur Akademi Beladiri. Ia memiliki kekuatan tingkat Semesta lapisan 5 dan sepertinya tidak jauh dari tingkat Dewa. Sebab itu walau kami mengirim lebih dari seribu prajurit kesana itu belum cukup.” Reynal tetap bermain tenang, ia mencoba untuk mencuri wol dari mata tetua He lalu dengan begitu ia berhasil menipunya.
__ADS_1
“Saat ini dari para tetua yang hadir hanya komandan yang memiliki kekuatan terkuat selain para dewa. Jika saja para dewa dapat melonggarkan aturan bahwa mereka hanya melangkah jika pendekar Dewa akademi muncul, barulah kami para komandan kecil akan membujuk.” Tambah pemuda itu.
Tetua He mulai terlihat goyah, ia tentu sedikit demi sedikit akan mulai mempercayai perkataan Reynal dan menganggapnya kebenaran. Namun ia masih belum dapat menjawab, ia menginginkan sesuatu alasan yang jelas untuk membuatnya bertindak. Jika Reynal mengetahui pikiran komandan He, mungkin ia akan berteriak keras bahwa alasannya adalah nyawa dari satu pangkalan.