Dark Game

Dark Game
168


__ADS_3

*3 Episode Terakhir*


“Apakah keputusanku ini sudah benar?” Ia kemudian melirik ketua Remi, para legenda, para tetua utama, petinggi Akademi Beladiri, Eliza, Embert, Putri Rose, dan terakhir Sindo. Semenjak ia menginjakkan kaki di dunia Soun, mereka semua telah menjadi kerabat, saudara dan keluarganya. Bersama mereka tidak sedikitpun ia merindukan rumahnya dibumi.


Tapi disisi lain, ia tidak dapat menahan rasa ingin pulangnya, bagaimanapun bumi adalah tempat asal dan kelahirannya. Ia tidak bisa begitu saja melupakan hal ini. Di bumi ia belajar bagaimana menjadi sabar, mandiri dan berani menghadapi semuanya sendiri. Di bumi ia mendapatkan sikapnya yang sekarang ini.


Ingin rasanya ia ingin kembali melihat bumi, sang tanah kelahirannya. Bertemu dengan Nino, adiknya yang mungkin sekarang telah tumbuh dewasa. Bertemu dengan ayah dan ibunya yang tidak peduli dengannya atau bertemu dengan ibu dan saudara tirinya. Ia ingin sekali melihat mereka.


Tiba sebuah tepukan menyadarkan lamunannya. Tepukan itu tidak lain berasal dari Sindo yang kini menatapnya dengan air mata yang telah meleleh dan membasahi pipi dan dagunya.


“Nak, ibu sangat bahagia melihat kau telah berhasil menggapai tujuanmu. Ibu tau bahwa kau sangat memberatkan perasaan kepada kami, tapi tempatmu bukanlah disini. Kalian semua seharusnya tidak pernah kemari.”


“Ibu sangat beruntung menolongmu hari itu, menjadi ibu asuhmu untuk waktu yang singkat. Tanpa dirimu mungkin ibu telah lama mati dibawah siksaan sang kepala desa yang kejam. Tanpa dirimu, mungkin ibu tidak pernah merasakan perasaan memiliki keluarga dan seorang anak yang hebat...” Sindo tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika tangis pecah bagai hujan lebat turun dari kedua matanya yang kini telah dipenuhi dengan keriput.

__ADS_1


“Ibu..” Reynal memeluk Sindo dengan begitu erat, tubuhnya bergetar karena sedih sampai jubah keduanya basah dibagian punggung karena air mata.


“Terimakasih telah memberiku rasa yang selalu ingin saya rasakan, ibu bahkan jika saya telah kembali ke bumi. Kau tidak akan pernah hilang di dalam hatiku”                Reynal berkata dengan lirih.


Keduanya kemudian saling memandang dengan lekat, lalu saling melepaskan. Kemudian Legenda Draco menghampiri Reynal. Ia memandang Reynal dengan sangat lekat.


“Nak, kau telah menjadi faktor utama yang membuat kami para legenda bangkit kembali. Kau yang telah memberiku rasa berjuang untuk orang yang dicintai. Terimakasih atas semua usahamu pada kami, sepuluh legenda tidak akan pernah melupakan niat budinya padamu”  Draco tidak ingin terlihat cengeng.


Ia sudah sangat tua dan memiliki harga diri, sebab itu ia hanya merangkul sejenak Reynal dan menepuk- nepuk pelan pundaknya. “Jaga baik – baik dirimu disana! Yakinlah, Akademi Beladiri tidak akan pernah runtuh dibawah penjagaan kami”


“Lumos dan Lomos, kalian berdua telah sangat berkembang. Saya awalnya hanya ingin membuat kalian berdua mencarikan pusat energi. Maafkan saya, mulai hari ini saya melepaskan racun Five Magical di dalam tubuhmu”


“Terimakasih master!” Lomos dan Lumos seketika menagis bahagia, ada perasaan legah di dalam hati mereka ketika merasakan racun yang selama ini membebani tubuh mereka telah di angkat.

__ADS_1


“Master, kami berdua sangat menghargai kebaikanmu. Itu sebabnya mulai hari ini kami bersumpah setia untuk menjadi keluarga Akademi Beladiri” ucap keduanya dengan penuh tekad.


Reynal tersenyum bahagia, ia merangkul keduanya sejenak sebelum dua orang wanita datang menghampirinya. Kedua wanita itu secantik peri dan sekuat para pendekar. Keduanya tidak lain adalah Eliza dan Putri Rose.


“Bajingan, kau sudah ingin pergi dari tanggung jawabmu bukan? Sialan. Seharusnya kita tidak pernah menaruh perasaan padamu” Eliza berbicara dengan lantang.


Reynal dan semua orang yang mendengarnya terkejut dengan pengakuan mereka berdua. “Maafkan saya!” Reynal tersenyum kecut. Ia tidak tau ingin mengatakan apa- apa lagi setelah pengakuan Eliza tentang perasaannya.


“Reynal, apakah kau juga memiliki perasaan pada kami berdua seperti kami kepadamu?” Kali ini putri Rose dengan elegan dan penuh kelembutan bertanya.


Reynal terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa.


Melihat Reynal yang tidak menjawab pertanyaan mereka, keduanya mengangguk. Mereka mengerti bahwa Reynal benar- benar tidak memiliki perasaan pada keduanya.

__ADS_1


Reynal dapat melihat beberapa bulir air mata menetes dan membasahi pipi chuby dari putri Rose, tubuhnya gemetar karena kecewa. Untunglah Eliza dengan cepat memegangi Putri Rose. Eliza berusaha terlihat kuat, ia tidak menampakkan kekecewaannya pada orang yang tidak untuknya.


Dengan cepat keduanya pergi dari pandangan Reynal, membaur diantara kerumunan dan kemudian menghilang dari pandangan. Reynal mengangkat tangannya ingin menghentikan mereka namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


__ADS_2