Dark Game

Dark Game
334


__ADS_3

Akademi butuh seharian penuh untuk membereskan semuanya, ketua


Remi juga bersama dengan tetua Fengtian belum dapat menuju kerajaan Horsox


Multie untuk bertemu dengan yang lainnya karena ditakutkan akan ada serangan


gelombang kedua.


Reynal tentu mengusulkan untuk memperketat pertahanan kota


Air Biru, selain itu ia juga mengusulkan agar diberlakukannya sistem bergiliran


agar semua dapat giliran dengan adil. Ditambah lagi rampasan dari guild Mata


Angin yang cukup banyak juga dapat membuat Akademi Beladiri memperbaiki pondasi


kekuatan mereka yang melemah.


Setelah memastikan semuanya beres dan terkendali Reynal


meminta izin untuk kembali untuk mengecek keadaan perbatasan. Saat ini kawasan


tersebut hanya dijaga oleh beberapa puluh pendekar Semesta membuat kawasan


tersebut cenderung rawan.


“Saya akan tinggal beberapa minggu atau mungkin beberapa


bulan di sekitar perbatasan. Kalian tidak perlu khawatir untuk saat ini, selain


itu percepatlah untuk mengangkut semua sumber daya yang kalian dapat dari guild


Mata Angin, saya rasa ini akan berbahaya jika beberapa guild besar mengetahuinya.”


Reynal tentu memberitahukan pada ketua Remi dan tetua


Fengtian bahwa sumber daya dan harta yang Akademi Beladiri dapatkan dari


jarahan guild Mata Angin termasuk banyak dan sangat berharga. Setidaknya


beberapa guild dan Akademi perguruan bintang 3 akan berusaha untuk


mendapatkannya.


“Tenang saja, saya secara pribadi akan mengantarnya ke sana


sementara tetua Fengtian akan menjaga disini” ucap ketua Remi sambil mengelus


salah satu senjata ditangannya.

__ADS_1


Reynal memgangguk sebelum menghilang di udara, secara ia


tidak menghilang namun kecepatannya yang sangat cepat membuat tidak satupun


yang mampu melihatnya. Ini karena selain Reynal mengaktifkan sihir kecepatan,


ia juga telah berhasil menerobos tingkat Semesta lapisan awal membuat


kecepatannya sangat cepat.


Ketua Remi dan tetua Fengtian hanya bisa saling pandang dan


tersenyum masam melihat kepergian Reynal.


~~


Disisi lain dekat ibu kota kekaisaran, tepatanya pada markas


guild Mata Angin telah terjadi keributan besar. Keributan ini tidak lain


disebabkan oleh banyaknya koneksi jiwa yang terputus anggota guild Mata Angin. Koneksi


jiwa yang terputus merupakan tanda bahwa jiwa mereka telah disegel ataupun jiwa


mereka tidak lagi berada di dunia ini atau dengan kata lain telah tewas.


adalah milik pasukan guild Mata Angin yang diutus untuk merebut wilayah kota


Air Biru dari Akademi Beladiri. Banyak diantaranya adalah tetua guild yang


memiliki kekuatan yang kuat.


Lebih dari itu 7 dari 9 tetua dewa juga ikut dalam pasukan


tersebut dan seluruh koneksi jiwa mereka telah terputus. Kerugian ini juga


diperbesar karena tiga tetua dewa yang tewas merupakan pendekar dewa hebat yang


dimiliki oleh Guild, salah satunya adalah tetua Siu.


Kerugian ini membuat pemimpin guild Mata Angin melakukan


pertemuan kembali dengan para tetua yang tersisa. Antara marah dan sedih yang


mereka rasakan saat ini membuat beberapa tetua juga kehilangan kesabaran dan


ingin segera menyerbu kota Air Biru.


“Pemimpin guild, sebaiknya kita melakukan serangan balas

__ADS_1


dendam terhadap anggota guild kita yang telah tewas. Selain kehilangan anggota


hebat kita juga akan kehilangan reputasi baik diantara para guild besar dibawah


kekaisaran.” Salah satu tetua Dewa yang tersisa disana memandang pemimpin


guild.


Adapun pemimpin guild sepenuhnya tidak setuju dengan


pemikiran tetua, “tetua, kondisi kita saat ini tidak memungkinkan untuk memberi


serangan balas. Bagaimanapun juga kekuatan dari Akademi Beladiri yang mampu


membunuh tetua Siu tidak mampu kita hadapi saat ini kecuali dengan bantuan


kekaisaran Humanie.


Selain itu, jika kita menyerang mereka dengan terburu- buru


maka yang ada nantinya kita akan menerima kerugian yang besar. Saat ini


kekuatan kita telah jauh menurun dan saya tidak ingin mengalami kerugian yang


sama.” Pemimpin guild mengambil tindakan tegas dengan melarang melakukan


serangan balasan.


Para tetua yang tersisa terlihat sedikit kecewa namun apa


daya yang dapat mereka lakukan karena pemimpin guildlah yang memiliki wewenang


untuk memutuskan.


“Saya tahu kita semua ingin melakukan serangan balasan namun


saya harus menghubungi pihak kekaisaran terlebih dahulu, jika kita bisa


mendapatkan bantuan mereka maka saya akan secara pribadi memimpin barisan depan


untuk membalas dendam pada Akademi Beladiri.


Menurutnya Akademi Beladiri pembuat masalah, ia dan guild


yang telah susah payah berkembang kini mengalami penurunan akibat Akademi


Beladiri. Ia sangat menyalahkan Akademi Beladiri yang tetap bersikukuh


mempertahankan kota Air Biru.

__ADS_1


__ADS_2