Dark Game

Dark Game
40


__ADS_3

Reynal berjalan menuju menara Latihan, ia ingin melanjutkan


pelatihannya agar dapat menembus lapisan ke 4 dalam waktu dekat. Berbeda dari


yang lain, Reynal memiliki kesulitan untuk naik 10 kali lebih besar karena


tubuhnya mengolah 10 kekuatan besar yang mana setiap 1 dari mereka setara


dengan budidaya pendekar dewa lapisan 3.


Dalam arti sederhananya, Reynal harus menaikkan mereka


masing- masing memasuki lapisan ke 4 untuk membuat dirinya menjadi pendekar


lapis 4. Dengan pendekar lapisan 4, bukan saja ia tidak takut dengan pendekar


dalam pertarungan 100 pendekar namun juga ia tidak takut dengan bangsa Orc


selagi tidak adanya pendekar dewa bumi yang mereka miliki.


Setibanya Reynal di menara Latihan, ia kembali menjumpai


pertarungan- pertarungan kecil maupun besar yang berlangsung disana untuk


memperebutkan tempat Latihan yang hanya berjumlah 50 buah.


Reynal hanya tersenyum dingin melihat beberapa pendekar yang


terlihat menghalangi jalannya. Dari pakaian serta aura yang mereka pancarkan,


Reynal dapat menilai jika mereka adalah pendekar dari ras Malaikat.


Mereka ada 3 orang, dengan masing- masing berdiri di depan


dan samping kanan dan kiri Reynal seolah tidak memberi Reynal ruang untuk lari.


Karena melihat sikap mereka yang tidak sopan, Reynal segera berkata dengan


suaranya yang dalam.


“Apa yang kalian lakukan? Hari ini saya telah berhadapan


dengan monster Orc dan kali ini kalian mahkluk sok suci ingin menentang garis


bawah yang saya miliki?”


Cat: garis bawah disini diartikan sebagai kesabaran.


Mendengar perkataan Reynal, ketiganya mulai tertawa keras.


Saking kerasnya, itu membuat Sebagian pertarungan yang ada disana berhenti dan

__ADS_1


menoleh kearah mereka.


“Siapa itu? Kenapa ia dikepung oleh ras malaikat, orang itu


pasti mati hari ini”


“Heh, itu kan wakil Yin? Apa yang ia lakukan hari ini,


apakah ia menantang bangsa Malaikat?”


“Dari yang saya lihat, sepertinya Ras malaikat itu ingin


memberi pelajaran pada Wakil Yin.”


“Apa yang saya tahu, mereka mungkin tidak tahan dengan sikap


sombong yang ditunjukkan oleh manusia itu!”


Berbagai komentar segera keluar dari mulut para pendekar


yang kini bersiap untuk menonton pertarungan antara Reynal dan bangsa Malaikat.


Reynal sedikit bingung ketika bangsa Malaikat tiba- tiba


menghadangnya namun setelah mendengar komentar dari pendekar lainnya ia


akhirnya samar- sama mengetahui maksud dari mereka bertiga.


“Malaikat memang mahkluk yang sombong, ia tidak pernah ingin


dalam hatinya. Jelas ia tidak menyukai sifat dari hal seperti itu.


Ia ingin sekali memberikan pelajaran untuk mereka bertiga


namun jelas ia juga belum ingin memulai permusuhan dengan bangsa Malaikat. Ia


telah mendapat musuh dari bangsa Orc yang mana jika ia menambah satu lagi maka


Reynal akan sangat kerepotan.


Sebab itu ia memilih untuk mencoba cara damai pada


ketiganya. “Jika saya memiliki kesalahan pada kalian, saya meminta maaf. Bangsa


manusia kami memang selalu bertindak kasar dan melakukan kesalahan. Tidak


seperti bangsa malaikat yang penuh kesucian. Kami memang tidak pantas untuk


berbuat kesalahan pada kalian.”


Ucapan maaf sekaligus pujian yang tinggi itu keluar dari

__ADS_1


mulut Reynal. Ketiga malaikat yang mendengarnya segera berubah. Jelas mereka


sekarang merasa baik ketika Reynal memuji mereka. Sedikit banyak pikiran mereka


berubah pada Reynal.


Malaikat walau menjadi ras terkuat di dunia Soun selama ini,


namun mereka juga tetaplah mahkluk yang jika diberi pujian akan memiliki kebaikan


hati. Apalagi mereka dikenal dengan mahkluk yang sombong membuat mereka


memiliki keharusan untuk dipuji.


Reynal hari ini berhasil menyentuh titik kelemahan dari


bangsa malaikat. Ia tidak hanya meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah


ia lakukan, merendahkan dirinya dan bangsa manusia sekaligus memuji bangsa


Malaikat.


Berbeda dengan ketiga malaikat tersebut, para pendekar yang


menonton disana memiliki mulut yang menganga. Jelas mereka dapat melihat


permusuhan dan detik- detik perkelahian yang akan pecah sebentar lagi. Namun


tidak disangka Reynal akan berkata seperti itu jelas diluar ekspektasi mereka.


“Hmph! Baiklah, kalian bangsa manusia cukup tau diri. Saya


tidak akan membuka permusuhan kepada kalian hari ini!” ucap salah satu dari


ketiganya.


Reynal menangguk senang, “Bangsa Malaikat memang baik hati


seperti legendanya!” ucap Reynal kembali memuji ketiganya.


Walau tidak terlihat peduli dengan pujian terakhir Reynal


dan segera pergi dari sana, namun Reynal dapat melihat ketiganya memiliki wajah


yang penuh dan bangga ketika pergi.


Dalam hati, Reynal tertawa keras mendapati reaksi itu. Jelas


ucapannya hanya pujian kosong yang bahkan Reynal sendiri hampir tertawa ketika


menyebutkannya.

__ADS_1


“Bangsa Malaikat sangat sombong dan bangga! Lihatlah, kalian


mungkin tidak akan bisa mendapat pujian lagi setelah hari ini!”


__ADS_2