
Reynal berjalan menuju menara Latihan, ia ingin melanjutkan
pelatihannya agar dapat menembus lapisan ke 4 dalam waktu dekat. Berbeda dari
yang lain, Reynal memiliki kesulitan untuk naik 10 kali lebih besar karena
tubuhnya mengolah 10 kekuatan besar yang mana setiap 1 dari mereka setara
dengan budidaya pendekar dewa lapisan 3.
Dalam arti sederhananya, Reynal harus menaikkan mereka
masing- masing memasuki lapisan ke 4 untuk membuat dirinya menjadi pendekar
lapis 4. Dengan pendekar lapisan 4, bukan saja ia tidak takut dengan pendekar
dalam pertarungan 100 pendekar namun juga ia tidak takut dengan bangsa Orc
selagi tidak adanya pendekar dewa bumi yang mereka miliki.
Setibanya Reynal di menara Latihan, ia kembali menjumpai
pertarungan- pertarungan kecil maupun besar yang berlangsung disana untuk
memperebutkan tempat Latihan yang hanya berjumlah 50 buah.
Reynal hanya tersenyum dingin melihat beberapa pendekar yang
terlihat menghalangi jalannya. Dari pakaian serta aura yang mereka pancarkan,
Reynal dapat menilai jika mereka adalah pendekar dari ras Malaikat.
Mereka ada 3 orang, dengan masing- masing berdiri di depan
dan samping kanan dan kiri Reynal seolah tidak memberi Reynal ruang untuk lari.
Karena melihat sikap mereka yang tidak sopan, Reynal segera berkata dengan
suaranya yang dalam.
“Apa yang kalian lakukan? Hari ini saya telah berhadapan
dengan monster Orc dan kali ini kalian mahkluk sok suci ingin menentang garis
bawah yang saya miliki?”
Cat: garis bawah disini diartikan sebagai kesabaran.
Mendengar perkataan Reynal, ketiganya mulai tertawa keras.
Saking kerasnya, itu membuat Sebagian pertarungan yang ada disana berhenti dan
__ADS_1
menoleh kearah mereka.
“Siapa itu? Kenapa ia dikepung oleh ras malaikat, orang itu
pasti mati hari ini”
“Heh, itu kan wakil Yin? Apa yang ia lakukan hari ini,
apakah ia menantang bangsa Malaikat?”
“Dari yang saya lihat, sepertinya Ras malaikat itu ingin
memberi pelajaran pada Wakil Yin.”
“Apa yang saya tahu, mereka mungkin tidak tahan dengan sikap
sombong yang ditunjukkan oleh manusia itu!”
Berbagai komentar segera keluar dari mulut para pendekar
yang kini bersiap untuk menonton pertarungan antara Reynal dan bangsa Malaikat.
Reynal sedikit bingung ketika bangsa Malaikat tiba- tiba
menghadangnya namun setelah mendengar komentar dari pendekar lainnya ia
akhirnya samar- sama mengetahui maksud dari mereka bertiga.
“Malaikat memang mahkluk yang sombong, ia tidak pernah ingin
dalam hatinya. Jelas ia tidak menyukai sifat dari hal seperti itu.
Ia ingin sekali memberikan pelajaran untuk mereka bertiga
namun jelas ia juga belum ingin memulai permusuhan dengan bangsa Malaikat. Ia
telah mendapat musuh dari bangsa Orc yang mana jika ia menambah satu lagi maka
Reynal akan sangat kerepotan.
Sebab itu ia memilih untuk mencoba cara damai pada
ketiganya. “Jika saya memiliki kesalahan pada kalian, saya meminta maaf. Bangsa
manusia kami memang selalu bertindak kasar dan melakukan kesalahan. Tidak
seperti bangsa malaikat yang penuh kesucian. Kami memang tidak pantas untuk
berbuat kesalahan pada kalian.”
Ucapan maaf sekaligus pujian yang tinggi itu keluar dari
__ADS_1
mulut Reynal. Ketiga malaikat yang mendengarnya segera berubah. Jelas mereka
sekarang merasa baik ketika Reynal memuji mereka. Sedikit banyak pikiran mereka
berubah pada Reynal.
Malaikat walau menjadi ras terkuat di dunia Soun selama ini,
namun mereka juga tetaplah mahkluk yang jika diberi pujian akan memiliki kebaikan
hati. Apalagi mereka dikenal dengan mahkluk yang sombong membuat mereka
memiliki keharusan untuk dipuji.
Reynal hari ini berhasil menyentuh titik kelemahan dari
bangsa malaikat. Ia tidak hanya meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah
ia lakukan, merendahkan dirinya dan bangsa manusia sekaligus memuji bangsa
Malaikat.
Berbeda dengan ketiga malaikat tersebut, para pendekar yang
menonton disana memiliki mulut yang menganga. Jelas mereka dapat melihat
permusuhan dan detik- detik perkelahian yang akan pecah sebentar lagi. Namun
tidak disangka Reynal akan berkata seperti itu jelas diluar ekspektasi mereka.
“Hmph! Baiklah, kalian bangsa manusia cukup tau diri. Saya
tidak akan membuka permusuhan kepada kalian hari ini!” ucap salah satu dari
ketiganya.
Reynal menangguk senang, “Bangsa Malaikat memang baik hati
seperti legendanya!” ucap Reynal kembali memuji ketiganya.
Walau tidak terlihat peduli dengan pujian terakhir Reynal
dan segera pergi dari sana, namun Reynal dapat melihat ketiganya memiliki wajah
yang penuh dan bangga ketika pergi.
Dalam hati, Reynal tertawa keras mendapati reaksi itu. Jelas
ucapannya hanya pujian kosong yang bahkan Reynal sendiri hampir tertawa ketika
menyebutkannya.
__ADS_1
“Bangsa Malaikat sangat sombong dan bangga! Lihatlah, kalian
mungkin tidak akan bisa mendapat pujian lagi setelah hari ini!”