
Riana terkekeh mendengar Reynal mengakui kemampuanya, “Memang
di puji oleh seorang ahli berbeda dengan orang biasa!”
Reynal tidak dapat menahan tawanya mendengar candaan Riana. “Kau
mau mengubah topik atau bagaimana huh?”
“Baiklah” kata Riana menghentikan tawanya. Ia kemudian
menceritakan bahwa dirinya hanyalah seorang pemain biasa ketika mereka
dipindahkan ke dunia Soun.
“Awalnya saya sangat ketakutan dan memilih bersembunyi di
sebuah hutan di kekaisaran Elver. Namun saya tidak akan mengira jika tindakan
saya hari itu justru mengubah hidup saya yang biasa- biasa menjadi cukup kuat.”
Riana tidak menyangka jika hutan yang ia tinggali
bersembunyi itu adalah tempat tinggal dari seorang pendekar yang sangat kuat. Pendekar
itu merupakan salah satu guru mulia dari elver Empire. Kekuatannya saat itu
adalah terkuat kedua setelah kaisar.
Tentu dengan kekuatan seperti itu, ia memiliki jabatan
seimbang dengan tuan Benjamin di kekaisaran Humanie sekarang. Namun karena
beberapa hal, ia diusir oleh kaisar dan dihukum mengasingkan diri di hutan
kramat kekaisaran peri.
“Hari itu saya sedang mencari kelinci dihutan tapi kemudian
saya tidak sengaja melewati sebuah gubuk kecil. Karena merasa tidak ada yang
tinggal disana, saya kemudian menggunakan gubuk itu sebagai tempat tinggal
namun kemudian guru itu datang dan memarahi saya karena telah tinggal di
tempatnya tanpa izin.” Riana terus bercerita panjang lebar.
Reynal mendengarkan cerita Riana merasa sedikit tertarik. Ia
awalnya akan menyuruh Riana berhenti ketika ia telah bosan mendengarkan cerita
__ADS_1
Riana namun ia tidak percaya jika semakin lama, Reynal semakin hanyut dalam
cerita Riana.
Riana tentu memiliki kemampuan bercerita yang baik, ia mampu
membuat Reynal hanyut dalam ceritanya menandakan bahwa wanita itu memiliki
bakat dalam bercerita.
Singkat cerita, guru itu melihat kasihan pada Riana dan
hanya menghukum wanita itu dengan membersihkan tempatnya selama puluhan tahun. Awalnya
Riana menolak namun mengingat situasinya saat ini, ia segera menyetujuinya.
Dan mulai hari itu Riana bekerja di gubuk guru hebat itu. Setiap
pagi ia menyapu, lalu menyiram tanaman dan bahkan menyiapkan sarapan dan
makanan untuk guru besar. Kadang sang guru juga memberikannya beberapa petunjuk
untuk menaikkan kekuatannya.
Dan tak terasa 2 tahun sudah Riana bersama dengan guru itu. Hubungan
Riana menjadi murid karena mendapati bakat wanita itu tidak kalah dengan jenius
rata- rata.
Namun kemudian sang guru dipanggil oleh kaisar Elver. Kali
ini Riana menunggu gurunya namun kemudian ia menemukan gurunya tidak kembali
setelah 6 bulan lamanya membuat Riana menjadi cemas.
Walau tahu gurunya sangat kuat namun tetap saja sebagai
murid dan juga Riana sudah menganggap guru itu sebagai ayah angkatnya di dunia
ini memiliki rasa cemas dan khawatir.
“Satu tahun guru tidak kembali, saya berniat untuk keluar
dari hutan dan mencarinya. Namun setelah sampai di kota kekaisaran Elver, saya
menerima berita jika guru besar telah tewas dibunuh oleh seorang pendekar demi
mempertahankan kekaisaran.” Riana terlihat sedih ketika menceritakan bagian
__ADS_1
tersebut. Matanya sudah sedikit berkaca- kaca menandakan sebentar lagi air matanya
akan menetes jatuh.
“Dan saat itu kau sangat terpukul dan mendapati kekuatanmu
bangkit karena kesedihan itu kan?” sambung Reynal.
“Kau tahu kelanjutannya jadi saya tidak akan bercerita
lagi!” Riana kembali memasang senyumnya. Walau wajahnya masih terlihat begitu
sedih namun tangannya dengan sigap mengusap kedua matanya untuk mengeringkan
air mata yang hampir jatuh.
“Apa kau pernah mencoba untuk mencari tahu siapa pendekar
yang membunuh gurumu itu?... Mungkin kau bisa mengetahui maksud dan tujuannya
membunuh gurumu atau mungkin kau bisa membalas dendam padanya!” Reynal memberi
saran. Ia tahu jika Riana pasti selalu terbebani dengan pikiran itu karena
sejujurnya ia juga merasakan hal membebani pikirannya selama ini.
Pikirannya untuk mengalahkan Hell Memoth dan merebut batu
Waktu yang dapat membawanya kembali ke dunia aslinya. Walau ia tahu ketika ia
kembali, ia tidak akan bisa merasakan kehangatan keluarga disana seperti di
Akademi Beladiri.
“Saya sudah beberapa kali mencoba mencari tahu informasinya
namun seakan kekaisaran menutup mata. Itu sebabnya saya nekat mengikuti
pertarungan 100 pendekar terkuat hanya untuk mencari informasi tentang pembunuh
guruku!” jawab Riana.
Reynal tidak lagi berkata apa- apa setelah mendengar jawaban
Riana. Ia melanjutkan pelatihannya dan tidak sadar memasuki kondisi sempurna.
Ia tentu tidak menyadari Riana yang saat ini sedang menatapnya sambil tersenyum
kecil. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh Riana saat itu.
__ADS_1