
Undied Nymph atas perintah Reynal segera melancarkan
serangan terkuatnya, seribu petir putih. Dengan ribuan petir di langit
menyambar, Ling Shi Ze melarikan diri dengan bantuan angin puyuhnya yang super
cepat.
Beberapa petir segera terblokir dan berpindah haluan
menyambar tanah maupun hewan yang tengah melarikan diri dari bencana alam
buatan tersebut. Ling Shi Ze membuat pertahanan angin tingkat tinggi pada
seluruh tubuhnya, yang juga menambah percepatannya menjadi lebih cepat.
Nymph yang merupakan pendekar dewa yang berspesialisasi pada
petir dibuat kesusahan olehnya. Beberapa kali serangannya meleset dan mengenai
tanah yang kosong, membuat kawah dan lubang yang cukup dalam di tanah.
Petir- petir bersahut- sahutan sambil berusaha mengalahkan
rangkaian angi puyuh besar tiada akhir membuat langit dan bumi berguncang hebat
disekitarnya. Tidak satupun mahkluk hidup yang dapat bertahan dalam radius lima
ratus meter dari tempat kejaidan.
Perbatasan akhirnya pecah dan rusak, khusunya wilayah Night
Kingdom yang sebagian serangan nyasar jatuh. Pertarungan tersebut kian lama
kian memanas hingga dua pendekar dewa lainnya segera memasuki pertarungan yang
buas.
Ling Shi Ze yang sebelumnya sudah tersudut kian terpuruk. Serangan
demi serangan Nymph yang sebelumnya tidak dapat menyentuhnya kini mulai
menimbulkan luka dibeberapa bagian tubuh.
Pertarungan tersebut berlanjut hingga dua hari kemudian yang
dimenangkan oleh Nymph dan dua pendekar dewa. Ling Shi Ze akhirnya tertusuk
__ADS_1
oleh puluhan petir putih Nymph tepat pada jantung dan titik vital lainnya.
Tidak lupa dengan perintah Reynal, Nymph membawa mayat Ling
Shi Ze kembali menuju sebuah danau yang sedikit luas dekat kerajaan Eternie,
kerajaan pusat Humanie Empire sekaligus kerajaan terkuat Humanie Empire.
Disana sesosok pemuda terlihat sedang duduk bersilah
memasuki keadaan meditasi yang mendalam. Ia berada dalam ambang terobosan
tingkat Semesta. Perlahan tapi pasti ia mulai mengembangkan tabung energi dan
tenaga yang ia miliki. Kekuatannya saat ia menerobos pada tingkat Semesta maka
akan akan sebanding dengan pendekar dewa lapisan awal biasa.
Namun jika ia berhasil mengembangkan tabung energi dan
tenaga yang ia miliki dua kali lipat maka mungkin ia akan mudah unuk menghadapi
serangan dari pendekar dewa lapisan dua biasa tanpa menggunakan senjata ataupun
sihir tingkat tinggi.
Akademi Beladiri. Empat hari yang lalu
ia berhasil menemukan markas guild Mata Angin yang terletak disebelah barat
daya danau. Ia telah bersiap untuk menyerang guild Mata Angin namun sebuah
peringatan tiba- tiba memasuki pikirannya.
Sejumlah undied yang ia simpan di daerah perbatasan untuk
membantu Akademi Beladiri telah terbunuh dalam waktu yang bersamaan. Merasa
musuh yang kuat, ia segera mengirimkan Nymph bersama dengan dua pendekar dewa
lainnya untuk mengatasi musuh tersebut.
Namun yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya,
tindakannya kali ini akan membuat namanya diketahui oleh Hell Memoth. Ia
menjadi buronan teratas di dalam altar utama Hell Memoth dengan harga kepala
__ADS_1
yang begitu mahal.
~~
Di salah satu tempat sakral dalam altar utama Hell Memoth
kerajaan Night. Seorang pria tua sedang duduk menatap pecahan jiwa yang
tersimpan dalam sebuah kotak kaca yang dikelilingi oleh permata merah delima.
Pria tua itu menatap pecahan jiwa yang baru saja pecah itu
dengan sedih, matanya memerah karena menahan air mata yang ingin jatuh. Aura
mendominasi berwarna merah darah keluar dengan begitu bebas dari dalam tubuhnya
membuat udara di sekitar menjadi lebih sesak seratus kali lipat.
Dengan raungan kemarahan yang sangat, ia berteriak marah
pada langit biru. “Murid bungsu! Siapa yang berani membunuh murid bungsu?!
Mulai hari ini ia tidak akan selamat, seluruh keluarganya akan musnah, kota
serta tanah kelahirannya akan tiada!!”
Teriakan sumpah dengan amarah yang hebat itu berhasil
menggetarkan altar utama Hell Memoth membuat para penghuni disana ketakutan dan
berkeringat dingin.
Tiga sosok mulia turun dari langit biru yang ditatap oleh
pria tua itu. Mereka bertiga bagaikan malaikat yang dipenuhi dengan kekuatan
yang hebat. Dua diantaranya adalah pria dan seorang wanita.
Wanita tersebut memegang sebuah batu roh berwarna hijau,
didalamnya berisi sebuah token suara milik Ling Shi Ze yang berhasil kembali
kepada Hell Memoth. Atau lebih tepatnya kembali pada malaikat Beatrix.
“Guru!” ucap ketiganya bersamaan dengan sikap sopan dan
rendah hati pada pria tua yang baru saja berteriak marah.
__ADS_1