
Parsi bersiap berangkat menuju ibukota kekaisaran Humanie, Eternie. Ia membawa tiga murid Akademi Beladiri yang menurutnya layak untuk dijadikan contoh murid berbakat yang dimiliki Akademi.
Ketiganya memang memiliki kekuatan tingkat Bulan lapisan ketiga dengan usia bahkan hanya sepuluh tahun. Masih sangat muda serta jenius berbakat. Tidak diragukan kota Air Biru adalah emas yang terkubur dalam lumpur hitam.
Dengan menaiki senjata legendarisnya yang mampu berubah menjadi kereta kuda, Parsi bersama ketiga murid segera melaju dengan kecepatan penuh menuju Perguruan Pusaka Berat. Tidak ada yang menarik selama perjalanan, semua berjalan lancar bagaikan meluncur dalam salju dan melompat dari ketinggian tanpa halangan.
Butuh empat hari tiga malam untuk Parsi tiba, suasana dari luar perguruan nampak sangat meriah menandakan pesta yang akan dimulai. Pada pintu masuk perguruan Parsi berpapasan dengan sebuah perguruan bintang tiga lainnya, mereka membawa banyak murid dengan kemampuan yang terbilang lumayan.
Parsi tidak ingin mengalami keributan yang tidak perlu, sebab itu ia mempersilahkan mereka untuk masuk duluan. Para penjaga segera mempersilahkan mereka masuk dengan sangat sopan ketika seorang tetua dari mereka memperlihatkan undangan juga tanda pengenal Akademi mereka.
Berharap Parsi dan ketiga muridnya akan mendapat perlakuan yang sama ketika ia menunjukkan batu giok lambang Akademi Beladiri pada penjaga lengkap dengan surat undangan. Namun fakta menunjukkan hal yang lain, Parsi mendapatkan sambutan yang kurang sopan.
Walaupun penjaga itu akhirnya memppersilahkan mereka masuk namun caranya sangat tidak sopan dan cenderung kasar. Ini membuat Parsi menjadi lebih waspada dan curiga.
“Tetua sepertinya kita tidak diharapkan disini?” Salah seorang dari tiga murid bertanya pada Parsi dengan wajah bingung.
__ADS_1
Parsi menggeleng pelan lalu menyuruh ketiganya untuk tidak berbicara lebih lanjut dan melanjutkan perjalanan mereka. Sekitar tiga ratus meter berjalan melewati beberapa pondok kecil akhirnya mereka tiba pada sebuah aula besar yang telah dihias dengan sangat meriah.
Aula tersebut terlihat sangat besar dan megah, lampu- lampu kecil yang dialiri oleh energi menyalakan cahaya pendar dalam jumlah yang sangat banyak.
Parsi dapat melihat akademi yang berpapasan dengan mereka juga baru tiba di depan pintu aula. Disana mereka hanya menunjukkan identitasnya tanpa perlu undangan. Sama seperti sebelumnya mereka mendapatkan perlakuan yang sopan dan ramah namun ketika Parsi dan pihak Akademi sikap mereka berubah 180 derajat.
Parsi tidak menanggapi lebih lanjut, ia telah mengerti sebagian dari acara tersebut. Menurutnya sangat buang- buang waktu ia datang kemari, jika Akademi Beladiri tidak memperhatikan wajah mereka maka ketua Remi mungkin telah lama merobek kertas undangan tanpa membacanya lebih dahulu.
Jika saja keadaan hatinya tidak memburuk maka Parsi akan memuji keindahan aula tersebut sebab bahkan lebih indah daripada aula utama Akademi Beladiri yang menjadi tempat lelang bulan lalu.
Setelah beberapa saat menunggu para tamu undangan semakin banyak dan memenuhi para tempat yang tersedia. Akademi Beladiri berada pada tempat Akademi tingkat tiga namun paling belakang, jelas ini menunjukkan bahwa Akademi Beladiri tidak mendapat sambutan yang baik. Rumor tentang Akademi Beladiri telah menyebar luas, dengan keadaan mereka saat ini sangat memungkinkan mereka menjadi salah satu dari lima besar Akadem bintang 3.
Dari seluruh Akademi dan perguruan yang diundang oleh perguruan Pusaka Berat teranyata hanya tiga puluh yang hadir dengan tiga diantaranya adalah perguruan besar.
Masing-masing dari ketiganya dipimpin langsung oleh ketua perguruan mereka, membuat atmosfir menjadi lebih berat karena masing- masing dari ketiganya setara dengan pendekar dewa lapisan satu.
__ADS_1
“Selamat datang saudara- saudari di aula kami tercinta hari ini!” seorang pria yang terlihat agak berusia lanjut memasuki panggung utama. Parsi mengetahui bahwa ia yang dimaksud dengan Quan You, ketua perguruan Pusaka Berat.
Quan You menatap satu persatu tamunya dan berhenti ketika pandangannya jatuh pada Parsi. Ia tersenyum dingin sebentar lalu kembali melanjutkan kegiatannya dan memandu acara pada malam itu.
Parsi menyuruh ketiga muridnya untuk tetap berlatih meski dalam pesta meriah, mereka bertiga mengangguk patuh lalu mulai berlatih. Sedangkan Parsi lebih memilih untuk menikmati hidangan tanpa memperdulikan jalannya acara.
Setelah beberapa jam berlalu suasana kembali menegang, Parsi mendadak merasa tidak enak namun tidak cukup khawatir. Ia segera menepis pikiran buruk yang menyerangnya.
“Tidak Mungkin jika Perguruan Pusaka Berat berlaku kejam hari ini dihadapan tiga perguruan besar lainnya” ucap Parsi dalam hati dengan rasa optimis.
Tapi naas, Quan You segera membalikkan situasi hatinya. Quan You segera melampirkan sebuah surat pada Parsi.
“Hari ini sebagai rasa saudara kami karena Akademi Beladiri hadir disini, Pedang Berat kami ingin membeli beberapa hal sebagai penyambung hubungan” Ucap Quan dengan kata- kata manisnya.
Ekspresi Parsi memburuk setelah mendengar dan membaca surat yang berada ditangannya saat ini. disana terpampang surat persetujuan agar Akademi Beladiri menjadi bawahan dari perguruan Pusaka Berat.
__ADS_1
Tidak heran bagi perguruan besar memiliki perguruan yang mereka naungi dibawahnya. Dan benar satu- satunya cara bagi mereka menyambung hubungan adalah dengan menjadikan akademi yang lebih kecil dan lebih lemah menjadi bawahannya.
Parsi menyadari bahwa seluruh perguruan bintang 3 dan bintang 2 yang hadir merupakan bawahan dari Pusaka Berat dan ketiga perguruan besar yang hadir. ini menunjukkan bahwa undangan hari ini tidak lain adalah sebuah jebakan batman.