Dark Game

Dark Game
277. Bertemu Dengan Eliza


__ADS_3

Reynal terpaku menatap wajah gadis dihadapannya, belum pernah seumur hidupnya melihat gadis secantik itu. Bola matanya yang berwarna biru menambah kesan cantik pada dirinya, hanya saja tatapan itu dengan cepat berubah setelah menyadari Reynal.


Reynal akhirnya tesadar dari lamunannya ketika mendapati gadis dihadapannya dengan mudah memunculkan dua mahkluk batu yang berukuran besar yang lebih pantas disebut monster batu.


“Siapa kamu?” gadis itu terlihat sedikit panik menandakan dirinya juga terkejut dengan keberadaan Reynal disana.


“Itu tidak penting, sepertinya kau sedang dalam masalah.” Reynal menarik gadis itu cepat setelah mendengar puluhan ketukan pada pintu kamarnya serta teriakan meminta gadis itu keluar.


“Summon : Virgo” Reynal memanggil salah satu dari 12 rasi bintang summoningnya yang berbentuk semacam elang putih yang cukup untuk menampung keduanya.


Rasi bintang Virgo sering ditampilkan dengan sesosok wanita dengan paras yang cantik dengan sayap seperti burung. Namun wujud Virgo dihadapan Reynal itu berbentuk seperti elang yang siap menerkam mangsanya.


“Eh? Apa yang kau lakukan?” gadis itu sedikit meronta ketika ditarik oleh Reynal, namun karena kekuatan Reynal lebih besar membuat usahanya sia- sia. Ia hanya berharap Reynal tidak melakukan sesuatu yang tidak baik padanya.


Kedua monster batu yang telah dibuatnya ia arahkan untuk menahan pintu sampai keduanya dapat pergi dari sana.

__ADS_1


Elang putih itu terbang dengan kecepatan penuh setelah Reynal dan gadis itu duduk pada punggungnya. Kecepatannya cukup mengejutkan Reynal sebab mampu menandingi kecepatan dirinya dalam mode penuh. Kekuatan dari summon legendaris memang tidak dapat dipandang remeh.


“Kenapa kau menolongku?” ditengah perjalanan, gadis itu mulai kembali bertanya pada Reynal.


“Kau tahu saya sangat percaya dengan insting, sejauh ini kau juga tidak mengeluarkan aura negatif atau aura jahat” ucap Reynal santai.


“Apa kau tipe Sihir? Kau dapat memunculkan hewan seperti ini dalam waktu yang singkat!”


“Ah itu bisa dikatakan benar tapi kau juga sepertinya dapat memunculkan monster yang lebih hebat” Reynal yakin bahwa gadis ini setidaknya adalah seorang pendekar yang hebat, tidak mudah untuk menciptakan monster batu seperti itu dalam waktu yang singkat.


“Hallo” Eliza mengibaskan tangannya berulang kali di depan wajah Reynal, memastikan pemuda itu sadar.


“Maaf.. namaku Reynal.” malu, itulah yang dirasakan oleh Reynal. ia menjabat tangan Eliza lalu memulai pembicaraan ringan sekedar untuk saling kenal.


Dari percakapan tersebut Reynal mengetahui bahwa Eliza adalah salah satu keturunan penting dari keluarga Crow yang terkenal akan kemampuan mengendalikan elemen tanah bahkan dapat membuat pasukan dari tanah yang memiliki daya tahan yang tinggi serta daya rusak yang hebat.

__ADS_1


Namun yang membuat Reynal tidak nyaman sebab keluarga Crow merupakan salah satu keluarga bangsawan Night Kingdom. Juga salah satu mantan pemimpin Agung Hell Memoth yang bernama Zimba berasal dari keluarga Crow.


“Kau sepertinya tidak menyukai ketika saya menceritakan keluarga Crow ataupun Night Kingdom, itu wajar sebab saya juga tidak menyukai mereka. Apa kau tahu persekutuan antara mereka dan Hell Memoth? Jika kau mengetahuinya maka aku salah satu yang tidak setuju dengan persekutuan itu.”


“Kenapa?”


“Apa aku harus menyebutkannya?” dahi Reynal mengerut mendengar jawaban Eliza, jelas- jelas ia yang pertama membahas masalah itu namun ketika ditanya ia memilih untuk tidak menjawab.


“Eh namamu Reynal? apa kau dari Akademi Beladiri?” Eliza seakan teringat oleh sesuatu, ia segera mengambil jarak dari Reynal.


“Sayang sekali kau cantik tapi kau juga telah mengetahui identitas saya disini, biarkan saya memastikan dirimu tutup mulut untuk selamanya.” Reynal tersenyum dingin.


Tidak menunggu Elang Putih untuk mendarat, Eliza memilih untuk melompat turun ketika telah melihat kawasan pegunungan. Reynal ingin menahan Eliza tetapi ia bimbang dengan keputusannya.


“Argh sial”

__ADS_1


Reynal mengumpat dalam hati, ia akhirnya memilih untuk ikut melompat setelah membatalkan mantra summonnya. Mereka berdua turun dari ketinggian lebih dari 300 meter membuat tubuh mereka sedikit mendapat terpaan angin.


__ADS_2