
Besok harinya, Reynal dengan cepat menantang seorang
pendekar yang bernomor pintu 150. Tantangannya itu kemudian disetujui oleh
pihak lawan dan mereka resmi bertarung.
Lawan Reynal tidak lain adalah seorang penyihir lapisan 4,
ia berasal dari kekaisaran Sihir Utama dengan keahlian sihir cahaya. Reynal
diawal pertarungan cukup kerepotan dengan sihir cahaya dari pendekar tersebut. Ini
tidak lain karena Reynal belum pernah bertarung dengan seorang penyihir
sungguhan.
Seorang dari bangsa penyihir dilahirkan untuk menguasai
sihir lebih baik dari bangsa lainnya. Juga gaya bertarungnya juga cukup berbeda
membuat Reynal kesulitan dalam menemukan celah ataupun membalas serangan dari
sang penyihir.
Namun bagi Reynal ini hanyalah masalah waktu. Ia perlahan
menganalisis dan mulai mengenal jenis serangan dan gaya bertarung dari seorang
penyihir. Tidak lama untuk Reynal sampai dia menghapal dan mengetahui gaya
serangannya.
Kadang ia juga berhasil memberikan serangan kecil maupun
sedang pada penyihir dan kadang juga ia sudah bisa membalas serangan yang
awalnya tidak mampu ia tahan.
“Kau sungguh berbakat! Saya tahu jika anda cukup untuk
menjadi 120 besar dengan kemampuan anda.” Ucap penyihir itu terkejut mendapati
Reynal yang mulai menekannya.
“Tidak! Tujuan saya bukanlah 120 besar tapi 30 besar. Alasan
__ADS_1
anda dapat menekan saya di awal pertarungan karena pengalaman saya bertarung
dengan bangsa penyihir untuk pertama kalinya. Sebab itu saya belum bisa
menyesuaikan dengan gaya bertarung para penyihir. Tapi sekarang karena saya
telah mengetahuinya maka pertarungan ini sudah selesai.”
“Hm? Apa maksudmu?” tanya penyihir itu bingung.
Namun kemudian, Reynal mengeluarkan sebuah tongkat sihir
sederhana yang tidak lain adalah senjata ajaib. Tongkat Sihir itu rencananya
akan menggantikan tongkat Sihir Saint dalam pertarungan 100 pendekar terkuat.
Reynal sadar jika kualitas dari senjata ajaibnya mungkin
tidak akan dapat sebanding dengan senjata Suci seperti tongkat Sihir saint
namun itu tidak akan jauh dibawahnya.
“Kau menguasai sihir?” penyihir itu terkejut. Ia awalnya
memastikan Reynal adalah seorang pejuang yang ahli dengan pertempuran. Namun ia
“Serang!” Reynal berteriak keras dan mengarahkan tongkat
sihirnya tepat pada sang penyihir. Ia memasukkan Sebagian besar energinya dan
seketika tongkat ajaibnya mulai bergetar.
Cahaya berwarna putih mengkilat memancar dengan kuat dari
tongkat Ajaib menuju penyihir tersebut. Merasa serangan Reynal sangat kuat,
penyihir itu mengeluarkan sihir pertahanan paling tinggi yang ia miliki.
Namun sayang, kekuatan Reynal sebanding dengan dewa lapisan
5 membuat penyihir itu tidak dapat menahannya. Sihir pertahanannya dengan mudah
dihancurkan oleh Reynal dan kemudian cahaya putih itu melesat dengan cepat
menuju Sang penyihir.
__ADS_1
Merasa dirinya tidak akan selamat jika tidak menyerah,
penyihir itu dengan cepat mengakui kekalahannya. Reynal tersenyum tipis melihat
kecerdasan sang penyihir. Jika saja ia terlambat untuk mengakuinya maka
nyawanya hari ini mungkin akan melayang.
Memang dalam pertarungan 100 pendekar, pembunuhan maupun
cedera tidak dilarang. Ini bertujuan untuk para pendekar agar mengeluarkan
seluruh jenis kemampuannya dan menghadapi lawan tanpa menahan sedikitpun.
“Saya menang! Terimakasih karena telah memberiku tempat ini”
ucap Reynal sambil memberikan senyum lebar pada lawannya itu. Penyihir itu
tidak berkata apa- apa. Ia melangkah pergi dengan pasrah.
Reynal kemudian resmi menempati nomor 150 yang mana pendekar
yang berada diatasnya mungkin adalah pendekar yang kuat dan hebat. Ia pasti
akan mendapat pertarungan yang sengit di masa depan untuk memperebutkan nomor
yang lebih kecil lagi.
Setelah merapikan bajunya yang sempat rusak karena terkena
beberapa serangan sihir dari lawannya, Reynal melangkah menuju menara Latihan. Ia
berniat berlatih disana selama 2 hari sebelum menantang nomor 145 dan 140
berturut- turut.
Sampainya ditempat itu, Reynal dikejutkan dengan berbagai
pertarungan yang ada disana. Hampir seluruh pendekar yang ada disana sedang
bertarung memperebutkan tempat di menara Latihan.
“Saya tidak punya waktu untuk meladeni mereka semua. Saya
akan membuat momentum yang kuat yang membuat mereka berpikir 2 kali untuk
__ADS_1
menantang saya!” pikir Reynal.