Dark Game

Dark Game
123


__ADS_3

Jendral Kambing menatap Jendral Macan dengan tidak sabar, “Berapa lama kita harus menunggu? Jika pasukanmu tidak dapat menembus formasi itu maka biarkan pasukan ku membantu!”


Jendral Macan mendengus dengan kesal, “Kau pikir formasi ini setipis kertas? Jika bukan karena Yang mulai raja menyuruh kita berdua maka saya tidak akan sudi untuk berperang bersamamu”


“Apa kau bilang? Apa kau pikir aku sangat senang berperang bersamamu? Kau tahu kekuatanku dan pasukan yang kumiliki lebih kuat dibandingkan dirimu, seharusnya kau yang beruntung!” Jendral Kambing tidak mau kalah.


Keduanya terus saja berdebat hingga setengah jam kemudian seorang pendekar dewa yang menjadi bawahan jendral Macan mendatangi keduanya dan mengatakan jika formasi telah dapat ditembus.


“Hahaha... Ini bagus, saya sudah tidak sabar untuk membunuh ratusan orang hari ini” Jendral Kambing berteriak girang. Ia mendahului gerakan Jendral Macan dan melesat dengan kecepatan penuh.


Jendral Macan sangat kesal namun ia juga tidak membuang waktunya segera menyusul jendral Kambing. Keduanya hanya butuh sekitar seperempat menit untuk sampai di depan formasi pertahanan yang telah bocor.


“Sekarang kita akan menyerangnya dengan kekuatan penuh, setelah itu seluruh pertahanan itu akan hancur bagaikan kertas.” Jendral Macan mulai mengaktifkan kekuatan Anial miliknya. Ia segera berubah menjadi sosok siluman dengan wajah penuh bulu berwarna coklat.

__ADS_1


Selain itu ditangannya terdapat kuku berwarna hitam yang sangat tajam dan kuat. Tidak lupa ia memiliki taring yang tajam serta telinga mirip kucing.


“Tiger Claw!” Jendral Macan menerjang formasi menggunakan 4 kakinya dengan cakar yang mengacung tajam keatas. Segera cakar itu menancap pada dinding formasi dengan begitu mudah bagaikan itu menancap pada sebuah kapas.


Jendral Macan memiliki ekspresi tidak begitu baik ketika melihat serangan penuhnya belum dapat membuat formasi ini hancur walau telah mengalami kebocoran yang parah.


“Hahaha... Lemah! Pantas saja kau menjadi jendral paling lemah di kerajaan Night!” Jendral Kambing tidak dapat menahan untuk tidak mengutuk dan menertawakan jendrela Macan. Jendral Macan terdiam, ia hampir saja pingsan mendengar hinaan rekannya itu.


“Bisakah kau untuk membantuku menghancurkan formasi ini? kau sungguh banyak bicara” Jendral Macan mendengus kesal.


Setelah itu ia segera menerjang menggunakan salah satu jurus terkuatnya dan mulai menanduk formasi pertahanan. Barulah setelah mendapatkan tambahan kekuatan, formasi itu bergetar sebelum hancur berkeping- keping.


“Hahaha! Lihatlah hanya dengan menggunakan satu serangan, formasi Akademi Beladiri yang terkenal itu hancur berkeping- keping!” Jendral Kambing berkata dengan narsis.

__ADS_1


Jendral Macan yang berdiri disampingnya tidak dapat menahan rasa jijik. “Jika kau sekuat itu maka kau tidak perlu membutuhkan bantuan pasukan ku untuk membocorkan formasi terlebih dahulu”


Ucapan Jendral Macan sebenarnya berhasil menyinggung jendral Kambing. Jendral Kambing ingin sekali memukul Jendral Macan dan merobeknya menggunakan tanduknya yang tajam. Tapi itu terhenti ketika mereka melihat pasukan yang bersiap menyerang berada dibalik formasi.


Karena formasi pertahanan diaktifkan membuat orang- orang diluar formasi tidak dapat melihat kedalam, namun itu tidak sama dengan orang yang di dalam, mereka bisa mendengar dan melihat orang- orang diluar formasi.


“Serang!!” Bersamaan dengan itu kelima belas pendekar dewa dan 3 ribu pendekar Semesta Akademi Beladiri menyerbu dengan kekuatan penuh mereka.


Momentum  yang dibuat dari 3 ribu pendekar semesta telah membuat para pendekar Semesta dan galaksi dipihak kerajaan Night menjadi gentar. Mereka hanya memiliki 5 pendekar dewa selain 2 jendral utama dan seratus pendekar Semesta. Sisanya hanyalah pendekar Galaksi.


Sementara itu 4 orang pendekar dewa yang merupakan penjaga Suci maju menyerang jendral Macan dan Jendral Kambing, menghalangi keduanya untuk menyentuh dan menyerang pasukan Akademi yang membantai tentara kerajaan.


“Kurang ajar!” Jendral Kambing marah ketika serangannya dihentikan oleh seorang pendekar paruh baya dengan pedang besar ditangannya. Pria itu memiliki wajah tegas dengan tubuh yang berotot. Disebelahnya terdapat seorang wanita yang memiliki ikat rambut yang sangat panjang. Itu bahkan mungkin untuk melilit pendekar bertubuh besar disebelahnya.

__ADS_1


Jendral Kambing kembali menyerang, kali ini ia menggunakan tanduknya untuk menyundul wanita yang nampak lemah itu. Namun tidak diduga, wanita itu hanya tersenyum tipis lalu seolah memainkan rambutnya, pita- pita ikat rambut yang sangat panjang itu segera berubah menjadi puluhan sulur tanaman dan mengikat keempat kaki jendral Kambing.


__ADS_2