Dark Game

Dark Game
3


__ADS_3

“Kau yakin ingin membunuhku? Kau tidak akan bisa!” Black


Dangger kini telah dililit oleh akar pengikat mangsa disekujur tubuhnya. Ia


tidak lagi bisa menyerang ataupun menggerakkan badannya. Namun bukannya takut,


Black Dangger terlihat biasa saja.


Draco mengangkat alisnya bingung ketika mendengar pertanyaan


seperti itu keluar dari mulut orang yang hidupnya berada di tangan orang lain.


Barulah ketika ia melihat sesuatu keluar dan melesat dengan cepat dari Black


Dangger tentunya.


“Ternyata kau mengirimkan pesan bantuan?” Draco terkekeh


pelan, “Baiklah, saya harap bantuan yang akan datang kemari tidaklah lemah


seperti dirimu!”


Draco kemudian mengangkat Black Dangger menggunakan akar


pengikat mangsa, ia membawa kuasa mutlak Hell Memoth seperti hewan membuat


wajah dari Black Dangger menjadi suram.


Kemudian Draco kembali ke tempatnya semula, disana telah


berdiri Albert yang tengah memperhatikan tetua Qin Feng menghadapi para


pendekar lainnya.


“Anak itu sungguh berbakat-“ ucapan Albert terhenti ketika


melihat Draco membawa Black Dangger. “Apa kau tidak salah membawanya seperti


itu? Dia adalah kuasa mutlak Black Dangger yang terkenal!” lanjutnya.


Albert kemudian mendekati Black Dangger, ia mengeluarkan


sebuah pedang berukuran satu setengah meter yang hampir mirip dengan samurai. Black


Dangger mengira Albert akan melepaskannya membuat wajah dari Black Dangger

__ADS_1


kembali senang. Namun tidak pernah ia duga, Albert bukannya melepaskannya dari


akar pengikat mangsa alih- aih ia menggunakan pedangnya untuk menusuk perut


dari Black Dangger.


“Ahhhh!” Black Dangger menjerit kesakitan. Ia merasakan besi


yang dingin menyentuh daging dan juga kulit perutnya yang mulai mengalirkan


darah.


Albert tertawa melihat itu, ia kemudian memotong seluruh


jari Black Dangger dan berkata “Hukuman yang saya berikan kepadamu, sepuluh


jari tanganmu saya potong adalah karena kau menggunakan kemampuan pedangmu


untuk kejahatan. Perutmu sudah ditembus oleh pedang Matahari. Tinggal menunggu


untukmu merasakan panas dan rasanya terbakar oleh dosa.” Albert dengan mudah


membersihkan noda darah yang menyangkut di pedangnya lalu kembali menyimpannya


Draco hanya bisa menggeleng dengan sikap Albert, kadang ia


merasa peraturan pendekar pedang terlalu merepotkan untuk dirinya, “Untung saya


menyukai sihir, jika tidak maka mungkin pedang adalah senjata yang saya gunakan


untuk bangkit.” Gumam Draco.


Tak lama setelah itu, sesosok wanita cantik dengan pakaian


yang Ia kenakan berwarna serba hitam muncul secara tiba- tiba diantara Draco


dan Albert. Itu tidak lain adalah legenda Lucy Lancer ilmu hitam.


“Hei Lucy, sedang apa kau kemari? Ini bagian saya dan Draco!


Sebaiknya anda kembali mencari terget lain” keluh Albert melihat wanita


penyihir yang menyebalkan muncul.


Lucy terkekeh pelan namun tidak membalas. Ia malah

__ADS_1


menempelkan jari telunjuknya di depan bibir seraya memerintahkan Albert untuk


tidak ribut. Lucy kemudian menoleh kea rah Black Dangger. Wanita itu kemudian


mendekati Black Dangger dan sedikit mengendusnya.


“Seseorang dengan kekuatan Pendekar Dewa Bumi memiliki bau


yang sama dengannya. Sungguh keduanya adalah bau kegelapan yang busuk, membuat


hidungku mendapat alergi” dengus Lucy sambil memegangi hidungnya.


Albert tanpa diduga menjadi bersemangat, ia selama ini


sangat jarang bertarung dengan orang kuat apalagi dengan pendekar Dewa Bumi. Tentunya


ia mengetahui jika lawannya adalah pendekar dewa bumi maka ia tidak akan


memiliki kesempatan untuk menang. Tapi Albert tidak berniat untuk menang


melainkan menambah pengalamannya bertarung. Itulah arti dari pendekar pedang


yang di anut oleh Albert.


“Mana? Saya tidak sabar ingin melawannya!” ucap Albert, ia


menoleh kiri dan kanan seolah berharap lawannya berada disana.


Lucy berdecak kesal, “Kau tidak akan melawannya, ia mungkin


sangat kuat. Lebih baik serahkan ini pada Saya dan Draco sementara kau akan


mengurus yang lainnya”


“Yang lainnya? Apa maksudmu?” tanya Albert bingung.


“Kau akan tahu sendiri nanti” ucap Lucy sambil tersenyum


lebar memperlihatkan giginya yang seputih susu.


Jika saja Lucy tidak terkenal kejam dan sangat kuat maka


mungkin akan banyak tetua dari Akademi Beladiri atau guild besar lainnya untuk


pendekatan dengannya.

__ADS_1


__ADS_2