
Reynal dengan ganas menyerap energi yang terkandung di dalam pusat energi. Umumnya orang- orang hanya akan menyerap sejumlah sangat kecil energi yang ada disana dan membuat mereka dapat menjadi pendekar Dewa Puncak ataupun dari pendekar Dewa Puncak menjadi pendekar Dewa Bumi.
Namun itu tidak berlaku bagi Reynal yang memiliki 10 sumber kekuatan yang mana menyebabkan dirinya harus menyerap 10 kali lebih banyak energi. Ini akan menyebabkan bukan hanya ia menjadi pendekar dewa puncak, mungkin itu akan sedikit memudahkan Reynal untuk menjadi pendekar Dewa Bumi.
“Setelah pertarungan 100 pendekar terkuat, saya akan mengurus beberapa masalah pada guild Raja Nirwana setelah itu saya akan mengurus Hell Memoth!” Reynal kali ini dipenuhi dengan tekad yang kuat, ia merasa tujuannya selama ini akan semakin dekat.
Pusat Energi bukanlah harta kelas rendah, itu telah membuat Reynal yang hanya menyerap sangat sedikit energi yang terkandung didalamya telah berhasil menerobos pada lapisan 4 dengan kekuatannya saat ini ia tidak akan kalah dengan pendekar dewa puncak.
Sebab itu ia segera keluar untuk menantang, kali ini karena Menara Latihan telah kehilangan kegunaannya, pertarungan dan tantangan dalam wilayah subur maupun wilayah kering telah semakin keras.
Dulunya hanya ada belasan tantangan namun kini hampir setiap saat para pendekar saling menatang satu dan yang lainnya. Jumlah tantangan juga tidak terbatas sebab itu bahkan jika seorang telah dikalahkan, ia masih akan memiliki kesempatan untuk kembali menantang di masa depan.
Reynal menantang nomor 125 yang mana merupakan seorang dari bangsa Elf. Ia memiliki kekuatan lapisan 4 dengan jenis kekuatan pedang. Ia bernama Lu Cian.
__ADS_1
“Beranikah kau menantangku menggunakan kekuatan pedang?” Lu Cian menantang Reynal.
“Hahaha, baiklah kalau itu yang kau inginkan!” Dihadapkan dengan tantangan, Reynal tentu saja tidak menolak.
Walau penguasaan Reynal dalam pedang tidak setinggi Sihir dan Elemen, namun ia masih dapat mengatakan jika hanya sedikit orang yang mampu bertarung dengannya menggunakan pedang.
“Keberanian macam apa! Hari ini saya akan menunjukkan teknik berpedang yang seharusnya.” Lu Cian menyerang dengan cepat. Ia dalam sekejap mata telah menggerakkan pedangnya menjadi gerakan tebasan yang kuat, itu memposisikan dirinya tepat pada bahu Reynal.
Tapi Reynal hanya menggeleng pelan, ia mengangkat pedangnya lalu meneriakkan salah satu jurus pedang yang ia kuasai, “Sword Of Sun!”
Lu Cian melihat jurus pedang Reynal sangat perkasa, itu sejujurnya mampu mengeluarkan cahaya bagaikan matahari ketika bertarung. Hal ini membuat lawan menjadi kehilangan titik pandang serta Reynal akan mendapat posisi yang menguntungkan untuk dapat menyerang mereka dengan tiba- tiba.
Lu Cian bukan orang bodoh, ia tidak dapat bertarung jarak dekat sehingga ia memilih untuk bertarung jarak jauh. Ketika Lu Cian mundur beberapa langkah, Reynal tidak menghentikannya malam sebaliknya ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang Lu Cian.
__ADS_1
“Slash!”
“Slash!”
Dua serangan Reynal melesat dengan cepat mendekati Lu Cian. Lu Cian mendapati hal itu tertangkap basah dan tidak dapat membuat penghindaran. Ia terpaksa mendapat 2 luka tebasan cukup dalam pada dada kiri dan bahu kanannya.
“Sial!” Lu Cian mengutuk kesal ketika melihat tubuhnya berlumuran darah. Namun meski telah melihat lawannya berdarah, Reynal tidak berniat untuk berhenti. Ia sebagai gantianya bergerak maju sambil terus menerus membuat serangan pada Lu Cian.
“Hei, kenapa kau terus menyerangku?” Lu Cian mendapati posisinya terpojok saat ini. Ia sangat kesal dengan Reynal yang tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki posisinya.
“Saat pedang mulai beradu, hanya pengakuan kekalahan yang akan menghentikannya” Reynal tersenyum tipis, setelah itu ia menggunakan sebagian energinya dan menggunakan serangan itu untuk membuat pedang Lu Cian terlempar.
“Ah!” Lu Cian kesakitan ketika tangannya diiri oleh pedang Reynal. Ia buru- buru menjatuhkan pedangnya.
__ADS_1
“Sudah, saya mengakui kekalahan!” Lu Cian bertariak panik ketika melihat Reynal tidak berhenti untuk menyerang walau pedangnya telah terlepas. Lu Cian sadar jika ia tidak menyerah maka mungkin nyawanya akan selamat tapi ia akan menderita cedera yang berat.