
Pada bulan berikutnya, sekitar 100 ribu pendekar Semesta bersama dengan 300 pendekar dewa Akademi Beladiri menyatakan perang besar pada Hell Memoth. Dipimpin oleh ketua Remi, Akademi Beladiri memulai serangan pada setiap guild dan organisasi yang berada di bawah naungan Hell Memoth.
Black Dangger baru saja mendengar berita tersebut menjadi sangat panik, ia memanggil Black King untuk bersama- sama menyiapkan pasukan dan menahan Akademi Beladiri untuk sementara berharap sang utusan keluar dari pelatihannya.
“Tuan, bagian barat dan bagian utara telah jatuh, kini tinggal bagian timur dan selatan yang masih berusaha melakukan perlawanan” Seorang tetua Hell Memoth memberikan informasinya.
“Sial! Siapkan seluruh pendekar yang kita miliki, kita akan menahan mereka dengan hidup kita” Black Dangger berkata. Ia kemudian memanggil 3 guild yang masih berdiri yaitu guild Seribu Racun, Gunung Beracun dan Raja Nirwana.
Dalam sekejap Hell Memoth mengerahkan sekitar 300 ribu pendekar semesta gabungan dari seluruh guild besar yang setia dengannya, dibantu dengan 200 pendekar dewa yang mereka miliki. Perang besar akhirnya pecah.
Reynal diperintahkan untuk menghadapi sisi barat dan Black Dangger menghadapi sisi barat. Masing- masin gmembawa 50 ribu pasukan, kemudian dibagian timur dan selatan akan dikirimkan 100 ribu pendekar.
__ADS_1
Dihadapkan dengan serangan dari segala arah, Hell Memoth tidak memiliki pilihan untuk membagi pasukan mereka menjadi empat arah. Sedangkan Akademi Beladiri kini memfokuskan serangan mereka pada bagian barat dan timur.
Bagian timur di isi oleh para pendekar sedangkan bagian barat diisi oleh para monster dan pasukan undied.
“Serang!” Di bagian barat, pasukan Akademi Beladiri saat ini dipimpin oleh tetua Bruno dan tetua Dicki. Mereka berdua adalah para pendekar dengan sikap yang ganas dan tak kenal ampun pada musuh- musuh mereka.
Dengan lambaian tangannya. ribuan sinar pedang yang begitu indah menerjang para pasukan Hell Memoth, ia seketika membuat 100 pendekar Hell Memoth tewas dalam sekali serang. Meski begitu, Bruno nampak tidak memperhatikan mereka sama sekali.
“Hujan Batu!” Tetua Dicki merentangkan tangannya ke atas. Seketika ratusan bongkahan batu berdiameter belasan meter itu menerjang para pendekar musuh. Beberapa bongkahan batu itu segera di serang oleh puluhan serangan jarak jauh oleh para pendekar Hell Memoth membuat mereka menjadi debu dan batu- batu yang lebih kecil.
Namun bagi mereka yang tidak mampu menghancurkannya, mereka segera menjadi bongkahan daging yang hancur akibat kejatuhan bongkahan batu tersebut.
__ADS_1
Tidak berhenti sampai disana, Tetua Dicki menggerahkan kekuatannya untuk membangkitkan 10 golem berlian yang jauh lebih kuat ketika patriark keluarga Crow menggunakannya.
Kesepuluh golem berlian itu memiliki kekuatan yang setara dengan pendekar dewa, dengan pertahanan setara dengan pendekar dewa lapisan 3. Membuat mereka keberadaan yang menakutkan bagi pasukan Hell Memoth.
“Ah! Tidak!” teriakan terakhir terdengar dari seorang tetua Seribu Racun ketika ia di injak sampai mati oleh golem berlian.
Pasukan Hell Memoth menjadi korban pembantaian dari pasukan tetua Dicki dan Bruno. Dengan mereka berdua saja, hanya dengan 2 jurus dan teknik yang mereka miliki, lebih dari seribu pendekar Semesta tewas.
“Bunuh mereka semua!” Bruno berteriak marah ketika ia melihat seorang pendekar semesta Akademi Beladiri dikepung oleh sepuluh pendekar semeta yang lebih kuat darinya. Ini merupakan sebuah penindasan bagi para yang lemah, dan Bruno sangat tidak menyukainya.
“Kehidupan sang Pedang!” Bruno melemparkan pedangnya kearah sepuluh pendekar tersebut. Awalnya mereka mengira pedang itu tidak akan sampai di depan mereka karena jarak antara mereka lebih dari 500 meter. Bahkan jika ia mau ia dapat mengirimkan pedangnya dari faksi Akademi Beladiri kepada Reynal.
__ADS_1