
Reynal menyelesaikan latihannya setelah 2 hari, ia merasakan
energi yang ia miliki telah banyak bertambah walau belum cukup untuk membuatnya
maju ke lapisan 4 namun ia yakin jika ia bersungguh- sungguh maka tidak ada
yang tidak mungkin.
Reynal menoleh kesisi sampingnya dan menemukan Riana yang
juga tengah serius berlatih. Reynal menatap Riana sebentar, lalu kemudian
menyungging senyum lebar dan keluar dari ruangan itu.
“Siapa yang berani mengganggu ruangan ini maka saya akan
menantangnya!” ucap Reynal ketika ia menjumpai banyak pendekar yang menatap
ruangannya begitu serakah.
“Hei, apa maksudmu itu? Kau bermaksud untuk menetapkan
ruangan itu sebagai ruangan pribadimu? Cuih!” Seorang pendekar dengan wajah
yang garang dan tubuh besar meludah tepat dihadapan Reynal. Orang- orang disana
bahkan Reynal dapat melihat jika pendekar itu berasal dari bangsa Orc terbukti
dengan kondisi fisiknya.
Reynal mengerutkan keningnya, jelas sangat tidak menyukai
prilaku pendekar tersebut. “Kau berani?” Reynal mengaktifkan Magic Aura Art
miliknya untuk menekan pendekar yang ada didepannya itu.
Karena tiba- tiba ditekan dengan kekuatan yang sangat kuat,
sang pendekar jatuh tersungkur. Reynal bahkan tidak menggunakan banyak energi
__ADS_1
untuk mengaktifkannya. “Lemah! Seorang pendekar dewa lapisan 3 bahkan dapat
bertindak sombong di depanku?”
Reynal tanpa aba- aba menendang pendekar tersebut hingga
terlempar dan menyentuh dinding menara yang kini menjadi sedikit retak. Reynal
kemudian pergi dari sana dan siap menantang pendekar nomor 145 dan 140.
Ia tidak peduli dengan pandangan takut dan takjub dengan
pendekar disekitarnya. Jelas selain tidak terbiasa, Reynal juga tidak melihat
sesuatu yang perlu untuk meladeni mereka.
Tidak perlu waktu lama, Reynal kembali menantang pendekar
nomor 145. Namun belum sempat Reynal mengatakan tantangannya, pendekar itu
dengan cepat menyerah dan menyerahkan kediamanya untuk ditempati oleh Reynal.
dimenara Latihan dan membuat puluhan pendekar yang berada disana menjadi tertekan
bahkan tidak dapat menggerakkan tubuhnya hanya dengan menggunakan aura. Sebab
itu ia merasa mau bagaimanapun ia berusaha tetap saja ia tidak akan menang.
Namun Reynal tidak memasuki kediamannya, ia melanjutkan
tantangannya dan menantang nomor 140. Berbeda dengan pendekar nomor 145, kali
ini ia menerima tantangan Reynal karena waktu itu tidak berada di menara Latihan.
“Astaga, apakah ia buta atau tidak tahu? Ia menerima
tantangan dari monster itu”
“Saya harap monster itu tidak membuatnya cedera parah.”
__ADS_1
Karena Reynal datang untuk menantang, beberapa orang datang
untuk bergabung dalam kesenangan. Mereka semua ingin melihat Reynal bertarung. Tapi
mereka harus pulang dengan kekecewaan sebab bukan hanya Reynal tidak bergerak
dari tempatnya juga lawannya tidak dapat bergerak akibat cedera yang ia derita.
Bukan karena Reynal terlihat tidak bergerak dan mengatakan
Reynal tidak menyerang. Tapi karena serangan Reynal yang begitu cepat dan tidak
dapat dilihat oleh mata para penonton. Bahkan lawannya tidak berkutik dan hanya
terkejut juga takut ketika mendapati tubuhnya kini telah merasakan sakit yang
amat sangat.
“Makan ini dan kau akan sembuh dalam 3 hari!” ucap Reynal
melemparkan sebuah pil pada pendekar itu. Ia sungguh merasa serangannya begitu
kejam dan tidak bermaksud untuk melukai pendekar itu dengan kejam. Sebab itu ia
memberikan obat penyembuh tingkat tinggi untuk pendekar tersebut.
Pendekar itu dengan cepat meminum obat yang diberikan oleh
Reynal. Seketika tubuhnya menjadi lebih sehat daripada sebelumnya. Ia sudah
mulai mengerakkan tubuhnya walau terkesan kaku.
“Pendekar terimakasih!” Ia membungkuk dan merasa hormat pada
Reynal. Setelah semua ia dapat melihat bahwa Reynal adalah pendekar yang hebat
dan masa depannya tidak terbatas. Pendekar itu kemudian pergi dari sana setelah
menyerahkan kediamannya pada Reynal.
__ADS_1