Dark Game

Dark Game
34


__ADS_3

Reynal menyelesaikan latihannya setelah 2 hari, ia merasakan


energi yang ia miliki telah banyak bertambah walau belum cukup untuk membuatnya


maju ke lapisan 4 namun ia yakin jika ia bersungguh- sungguh maka tidak ada


yang tidak mungkin.


Reynal menoleh kesisi sampingnya dan menemukan Riana yang


juga tengah serius berlatih. Reynal menatap Riana sebentar, lalu kemudian


menyungging senyum lebar dan keluar dari ruangan itu.


“Siapa yang berani mengganggu ruangan ini maka saya akan


menantangnya!” ucap Reynal ketika ia menjumpai banyak pendekar yang menatap


ruangannya begitu serakah.


“Hei, apa maksudmu itu? Kau bermaksud untuk menetapkan


ruangan itu sebagai ruangan pribadimu? Cuih!” Seorang pendekar dengan wajah


yang garang dan tubuh besar meludah tepat dihadapan Reynal. Orang- orang disana


bahkan Reynal dapat melihat jika pendekar itu berasal dari bangsa Orc terbukti


dengan kondisi fisiknya.


Reynal mengerutkan keningnya, jelas sangat tidak menyukai


prilaku pendekar tersebut. “Kau berani?” Reynal mengaktifkan Magic Aura Art


miliknya untuk menekan pendekar yang ada didepannya itu.


Karena tiba- tiba ditekan dengan kekuatan yang sangat kuat,


sang pendekar jatuh tersungkur. Reynal bahkan tidak menggunakan banyak energi

__ADS_1


untuk mengaktifkannya. “Lemah! Seorang pendekar dewa lapisan 3 bahkan dapat


bertindak sombong di depanku?”


Reynal tanpa aba- aba menendang pendekar tersebut hingga


terlempar dan menyentuh dinding menara yang kini menjadi sedikit retak. Reynal


kemudian pergi dari sana dan siap menantang pendekar nomor 145 dan 140.


Ia tidak peduli dengan pandangan takut dan takjub dengan


pendekar disekitarnya. Jelas selain tidak terbiasa, Reynal juga tidak melihat


sesuatu yang perlu untuk meladeni mereka.


Tidak perlu waktu lama, Reynal kembali menantang pendekar


nomor 145. Namun belum sempat Reynal mengatakan tantangannya, pendekar itu


dengan cepat menyerah dan menyerahkan kediamanya untuk ditempati oleh Reynal.


dimenara Latihan dan membuat puluhan pendekar yang berada disana menjadi tertekan


bahkan tidak dapat menggerakkan tubuhnya hanya dengan menggunakan aura. Sebab


itu ia merasa mau bagaimanapun ia berusaha tetap saja ia tidak akan menang.


Namun Reynal tidak memasuki kediamannya, ia melanjutkan


tantangannya dan menantang nomor 140. Berbeda dengan pendekar nomor 145, kali


ini ia menerima tantangan Reynal karena waktu itu tidak  berada di menara Latihan.


“Astaga, apakah ia buta atau tidak tahu? Ia menerima


tantangan dari monster itu”


“Saya harap monster itu tidak membuatnya cedera parah.”

__ADS_1


Karena Reynal datang untuk menantang, beberapa orang datang


untuk bergabung dalam kesenangan. Mereka semua ingin melihat Reynal bertarung. Tapi


mereka harus pulang dengan kekecewaan sebab bukan hanya Reynal tidak bergerak


dari tempatnya juga lawannya tidak dapat bergerak akibat cedera yang ia derita.


Bukan karena Reynal terlihat tidak bergerak dan mengatakan


Reynal tidak menyerang. Tapi karena serangan Reynal yang begitu cepat dan tidak


dapat dilihat oleh mata para penonton. Bahkan lawannya tidak berkutik dan hanya


terkejut juga takut ketika mendapati tubuhnya kini telah merasakan sakit yang


amat sangat.


“Makan ini dan kau akan sembuh dalam 3 hari!” ucap Reynal


melemparkan sebuah pil pada pendekar itu. Ia sungguh merasa serangannya begitu


kejam dan tidak bermaksud untuk melukai pendekar itu dengan kejam. Sebab itu ia


memberikan obat penyembuh tingkat tinggi untuk pendekar tersebut.


Pendekar itu dengan cepat meminum obat yang diberikan oleh


Reynal. Seketika tubuhnya menjadi lebih sehat daripada sebelumnya. Ia sudah


mulai mengerakkan tubuhnya walau terkesan kaku.


“Pendekar terimakasih!” Ia membungkuk dan merasa hormat pada


Reynal. Setelah semua ia dapat melihat bahwa Reynal adalah pendekar yang hebat


dan masa depannya tidak terbatas. Pendekar itu kemudian pergi dari sana setelah


menyerahkan kediamannya pada Reynal.

__ADS_1


__ADS_2