
Jendral yang ditemui
Reynal bernama Jendral Benjamin Connor. Ia merupakan jendral tertinggi
sekaligus orang terkuat di kekaisaran Humanie. Reynal sedikit tidak menduga
akan menjumpai sosok yang begitu penting di sebuah penginapan kecil yang cukup
sepi itu.
“Tuan Benjamin, apakah
mungkin anda sedang melakukan penjagaan terhadap salah satu anggota kekaisaran,
bukan?” tanya Reynal langsung.
Benjamin terkekeh
pelan, “Kau pemuda yang menarik! Di hadapanku kau satu- satunya yang tidak
ingin menjilat atau membangun hubungan denganku. Perkiraanmu itu benar, saya
tengah menjaga putra mahkota pangeran Karlos II. Kau jangan coba- coba untuk
menculiknya jika tidak ingin masuk penjara” canda Benjamin.
Reynal Kembali
terkejut, ia merasa itu lucu sebab sebelumnya ia berkeliling di sepanjang
istanah untuk mencari putra mahkota namun ia malah bertemu orang yang ia cari
di penginapan kecil yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
“Tuan, saya ingin
menyewa satu kamar disini. Tapi sepertinya para perajuritmu tidak membiarkanku
masuk”
Benjamn Kembali
tertawa, “Kau boleh saja menyewa kamar disini tapi khusus hari ini kami telah
menyewa seluruh penginapan ini untuk pangeran Karlos. Saya sarankan untukmu
pergi dan mencari penginapan lainnya disekitar sini. Atau kau boleh menemaniku
sekedar minum arak sebentar?”
Reynal sebenarnya
ingin memaksa masuk, sebab ia merasa satu- satunya jalan untuk bertemu dengan
pangeran Karlos adalah bertemu dengannya di penginapan ini. Namun sepertinya
bahkan Benjamin tidak dapat membiarkannya masuk membuatnya menjadi sedikit
__ADS_1
frustasi.
“Baiklah, terimakasih
tuan!” Reynal merasa menerima ajakan Benjamin tidaklah merugikan. Ia mungkin
dapat menjalin hubungan dengannya.
Benjamin kemudian
memerintahkan 10 pendekar dewa lapisan 4 dibawah perintahnya untuk selalu
melindungi pangeran Mahkota sementara ia dan Reynal akan berbicara sebentar di
restoran terdekat.
Keduanya kemudian
memilih salah satu restoran yang cukup dekat dengan penginapan. Restoran itu
sedikit kecil namun Reynal dan Benjamin dapat mencium aroma masakan yang
membuat keduanya merasa lapar.
Benjamin segera
mengajak Reynal masuk dan segera memesan 2 porsi ayam bakar dan juga beberapa
sayur. Kemudian ia juga memesan 3 guci arak berukuran sedang. Reynal tidak
“Kau sungguh berbeda
dengan yang lainnya” ucap Benjamin dengan nada terkejut ketika mendapati pemuda
didepannya tidak meminum arak. Benjamin mengetahui bahwa sangat jarang bagi
pendekar untuk tidak menyukai arak atau meniman yang memabukkan. Tapi pemuda
dihadapnnya kini tidak menyukai minuman yang dikatakan sebagai minuman nomor
satu untuk para pendekar.
“Ya, sebenarnya jika
tuan membandingkan saya dengan yang lainnya maka tuan akan dapat melihat
perbedaan yang jelas. Tapi itu tidak penting, Tuan saya tahu anda memiliki
beberapa pikiran atau sesuatu yang ingin anda sampaikan bukan?”
Benjamin mengangguk,
ia merasa jika Reynal selalu mengetahui apa yang ia inginkan, setidaknya dari
pertama mereka bertemu.
“Oh iya nak, tidak
__ADS_1
adil buat orang tua ini jika tidak mengetahui namamu!” tanya Benjamin.
“Hm… nama yah. Di
dunia ini saya memiliki banyak nama tuan, jika saya menyebutkan salah satunya
mungkin tuan akan kaget. Jika saya menyebut yang lainnya mungkin tuan akan
segera meninggalkan tempat ini dengan menangkap saya, mungkin.” Kekeh Reynal.
Benjamin tidak menduga
jika Reynal akan berkata seperti itu, terutama ketika bagian keduanya. Meski
begitu, Benjamin tidak memaksa Reynal untuk menyebutkan namanya.
Reynal tersenyum melihat
Benjamin menghargai privasinya. Pemuda itu telah sedikit banyak menilai sifat
dari Benjamin yang menurutnya dapat dipercaya sehingga ia segera menyebutkan 2
identitas besar yang ia miliki.
“Tuan, nama saya tidak
lain adalah Reynal dan yang lainnya saya dikenal sebagai Wakil Yin” ucap Reynal
tersenyum tipis menantikan reaksi Benjamin.
“Oh Reynal dan wakil
Yin yah… Eh! Apa kau adalah Reynal sang pemimpin suci Akademi Beladiri? Dan apa
maksudmu dengan menyebutkan nama Wakil Yin?.... Tidak, iini tidak mungkin! Kau
tidak mungkin mereka berdua!” ucap Benjamin dengan nada yang meninggi.
Untunglah Reynal
dengan cepat melapisi ruangan sekitar dengan sihir kedap suara membuat
percakapan keduanya tidak di dengar oleh orang lain.
“Terserah jika tuan
tidak percaya, yang paling penting saya sudah memperkenalkan diri saya pada
tuan!” ucap Reynal sopan.
Benjamin kemudian
menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan, ia sedikit bersalah lalu ia mencoba
untuk menoleh ke samping kiri dan kanan namun melihat pengunjung lainnya seolah
tidak terganggu dengan teriakannya barusan.
__ADS_1