Dark Game

Dark Game
305. Gejolak Baru


__ADS_3

Ketua Remi tidak lagi memiliki kesabaran dalam menghadapi


kasim tua itu. Ia bahkan hampir memerintahkan para penjaganya untuk membunuh


sang kasim tepat saat itu juga. Untunglah jajaran tetua menghalangi niat Remi.


“Kirimkan surat saya untuk pangeran Alex, dia yang


bertanggung jawab dalam hubungan ini!” Ketua Remi segera mengambil langkah


tegas selanjutnya. Ia mengirimkan surat kepada pangeran ke sepuluh sebagai


permintaan tanggung jawab atas masalah tersebut.


“Kalian, pertahankan kota! kirimkan juga surat kepada


kerajaan Horsox Multie dan Kerajaan Zein. Biarlah mereka mengetahui hal ini.”


Ketua Remi menjadi lebih khawatir, ia tahu setelah hari ini


maka kedamaian dari Akademi Beladiri di kekaisaran Humanie tidak lagi ada. Sebab


jika kekaisaran mencabut mereka maka wilayah yang mereka kuasai sekitar 30%


dari mantan Krunch Kingdom akan diambil paksa.


Ketua Remi tentu juga mempertimbangkan mengenai Horsox


Multie yang menjadi pihak pendukung setia dan Zein Kindom yang sedikit


menyuarakan suaranya. Bagimanapun keduanya memiliki hubungan erat serta dua


pusat Akademi Beladiri cabang didirikan disana.


“Putuskan hubungan kita dengan Eternie Kingdom dan cabut


utusan kita yang sedang di ibu kota. pastikan cabang kita baik Dagang maupun


Tarung hanya berada pada 3 wilayah kerajaan saja. Dan panggilkan pula seluruh


jajaran tetua dan para legenda kemari.”


Seluruh pelayan yang ada disana segera melaksanakan


perintahnya, mereka dengan cepat mengumpulkan para tetua serta sepuluh legenda


yang telah disembunyikan dengan baik selama beberapa tahun.


“Saya dengar kekaisaran ingin memutuskan aliansi dengan


kita?” salah seorang tetua tinggi milik tetua Utama Fengtian bertanya. Ia baru


saja tiba dalam menjalankan misi untuk membantu Bruno dalam menjalankan


tugasnnya di Kerajaan Zein.


“Apa itu? mereka berani bertindak seperti itu? Sungguh

__ADS_1


diluar akal” salah seorang tetua yang lebih rendah dari jajaran tetua Tinggi


ikut bersuara.


“Persis, mereka dapat berkembang sekarang berkat bantuan


kita. Mereka sungguh tak tau malu” terakhir seorang tetua Tinggi pembantu juga


tidak ingin kalah bersuara.


Masing- masing dari mereka menyatakan kemarahan tegas mereka


dihadapan ketua Remi. Satu demi satu para tetua mulai mengumpulkan pendapatnya


dan diakhiri oleh pendapat Fengtian.


“Ketua, kita harus menunjukkan pada kekaisaran bahwa kita


mampu berdiri tanpa kehadiran dan putusan mereka. Walau nantinya resiko yang


akan kita tanggung lebih besar namun harga diri yang kita junjung tidak jatuh”


ucapnya dengan nada penuh kebijaksanaan.


Mata mereka mulai melebar, tentu para tetua dan seluruh yang


hadir pada ruangan tersebut mengetahui dengan benar resiko dalam tindakan


mereka kali ini. Namun, bagaikan batu karang yang diterpa dengan ratusan ombak,


ia tetap berdiri tegak menyuarakan harga dirinya.


mendengar seluruh pendapat para tetuanya namun hanya Parsi yang belum


menyuarakan keputusannya sama sekali dalam jajaran tetua. Ia tetap bersikap


diam dengan menutup matanya seolah- olah sedang bermeditasi dalam.


Memang benar sejak ia mendapatkan keberuntungan untuk naik


menjadi pendekar Dewa lapisan dua, sikapnya menjadi lebih pendiam dan sulit


didekati. Ia nampak seperti lebih bijaksana dan lebih sabar dalam mengambil


keputusan.


Ia tidak lagi bersemangat dalam menyuarakan perang melawan 4


perguruan besar serta aliansinya, malahan ia membuat beberapa suara agar


menghentikan aksi tersebut.


“Parsi, aku ingin mendengar pendapatmu, akhir- akhir ini kau


tumbuh menjadi lebih dewasa dan bijaksana, bukan?!” kekeh ketua Remi sambil


memandangnya dengan serius.

__ADS_1


Yang terakhir terlihat tertekan atas permintaan atasannya


namun ia berusaha untuk mengabulkan permintaan tersebut. “Resiko yang akan kita


terima akan sangat besar, saya tidak yakin kita dapat melewatinya” desahnya.


Sikap semua orang menegang akibat ucapannya, tidak


terkecuali ketua Remi. Mereka berusaha kembali memandang Parsi lebih dekat


lagi.


“Apakah kita tidak dapat melewati dan menanggung resiko


itu?” Tetua Fengtian tidak dapat membantu sehingga ia mengajukan pertanyaannya.


Parsi tidak menjawab melainkan membuka matanya yang nampak


lebih berkarisma lalu berpindah menatap ketua Remi. “Ketua!”


Ketua Remi menggeleng pelan, ia mengetahui kebenaran dari


kata- kata Parsi namun sulit untuk menerimanya. “Itu Benar”


“Dengarkan! Nantinya sejak kekaisaran resmi mencabut aliansi


dengan kita maka seluruh wilayah yang kita miliki serta kuasai akan berpindah


kepemilikan ditangan kekaisaran. Mau tidak mau kita akan mendapatkan perampasan


yang tidak adil dari berbagai pihak. Tentunya ini disebabkan atas perintah


kekaisaran.”


“Kekaisaran akan dengan mudah menggunakan otoritasnya


sebagai penguasa untuk membuat pengaturan bagi seluruh guild, aliansi,


organisasi, klan ataupun kerajaan untuk mengambil wilayah kita dengan paksa


serta beberapa perguruan juga ikut dalam hal ini.”


Ketua Remi tidak berdaya, sungguh putusan tersebut sangat


menggangunya saat ini.


“Tapi ketua, kita memiliki beberapa pendukung kuat dari


jajaran guild dan organisasi. Klan Dao juga ikut mendukung kita.” Ucap tetua


Fengtian.


“Memang benar mereka mendukung kita tapi dibawah paksaan dan


intimidasi dari kekaisaran mereka juga tidak dapat berkutik lebih jauh. Apalagi


sekarang ini Guild Secret God nampak tertutup akibat kehancuran pilar Light

__ADS_1


Hall mereka.”bantah Parsi.


__ADS_2