
Reynal berjalan layaknya seorang pencuri memasuki pintu gerbang Akademi Beladiri. Ia berusaha untuk tidak bersuara sedikitpun walau hari telah mengundang bulan untuk bertengger diatas awan dengan gagahnya untuk waktu yang cukup lama.
Suasana Akademi Beladiri pada malam hari dapat dikatakan sangat sepi sebab kegiatan perguruan disana telah berhenti pada waktu senja dan dimulai kembali pada awal fajar. Meski suasananya cukup hening dan senyap, namun Reynal yakin jika para Penjaga Akademi Beladiri masih berjaga pada pos mereka masing- masing.
Reynal berjalan mengendap- endap melalui pintu gerbang Akademi lalu berjalan lurus pada bagian belakang Akademi, tempat tinggal Reynal.
“Darimana kamu?” sebuah sapaan yang berasal dari arah berlawanan dengannya cukup untuk mengejutkan Reynal. Ia hampir saja melompat karena terkejut. Walau hanya sekilas namun Reynal telah cukup mengenali asal suara yang mengagetkannya itu.
Reynal berbalik kearah sumber suara, ia mendapati dua orang berpakaian khas petinggi Akademi Beladiri menatapnya dengan cukup tajam. Reynal menelan ludahnya ketika melihat tatapan dari keduanya yang setajam pisau.
“Apa kabar Ketua Remi dan Legenda Draco, bulan cukup terang yah malam ini” Reynal memalingkan mukanya lalu menatap bulan yang tengah tertutup oleh awan.
“Kau tidak mencoba untuk mengalihkan perhatian kami bukan? Sejak kapan kau peduli dengan bulan dan lagi kamu telah keluar dari Akademi Beladiri tanpa izin.” Ucap Remi tajam.
Reynal tidak dapat mencari alasan lain, terpaksa ia harus mendengar nasehat dari keduanya sampai pagi tiba.
~~
__ADS_1
Walau sinar matahari masih samar menerangi namun sekelompok pendekar terlihat sedang menuju kearah sebuah tempat berbahaya. Kelompok itu dipimpin oleh seorang pendekar tingkat Semesta lapisan lima, kekuatannya sangat besar sebab tingkatannya tidak jauh dari pendekar tingkat Dewa.
Dalam kelompok itu selain memiliki pendekar Semesta lapisan puncak, juga terdapat lebih dari enam pendekar tingkat Semesta lapisan empat dan tiga, serta beberapa pendekar tingkat Semesta lapisan satu. Tidak diragukan lagi jika mereka berasal dari guild besar. Walau begitu, terlihat asal dari pendekar dan ksatria tersebut tidaklah berasal dari guild yang sama, sebab lima diantara mereka memiliki pakaian yang berbeda dari yang lainnya.
Tidak perlu waktu yang lama bagi mereka untuk berjalan, sekitar lima belas menit mereka telah sampai pada tempat yang disebut dengan Lembah Neraka. Kecepatan mereka cukup tinggi juga jarak antara tujuan dan tempat mereka juga cukup dekat sehingga tidak sampai setengah jam mereka telah tiba disana.
Seorang pendekar Semesta lapisan empat yang memiliki kekuatan terkuat kedua setelah pemimpin rombongan tersebut terlihat sedikit maju dari tempatnya. Ia mendekati sang pemimpin seolah ingin memberi sebuah berita atau sesuatu.
Pemimpin dalam kelompok itu memiliki pakaian berwarna merah terang dengan lambang Nirwana terpampang jelas pada bagian punggungnya. Hanya terdapat lima pendekar yang memakai pakaian yang sama dengan sang pemimpin. Berbeda dengan pendekar Semesta lapisan empat yang memakai pakaian berwarna hijau pekat dengan lambang ular pada kedua bagian lengannya.
“Ya, tempat ini cukup berbahaya tapi bagiku ini hanyalah taman bermain biasa, aku bersama dengan empat pendekar Semesta lainnya akan mencari tanaman itu. Sementara tetua Xie dapat mengurus sesuatu yang lain”
pendekar yang bernama Wei itu nampak sedikit memancarkan aura kesombongan dalam ucapannya, walau begitu sepertinya lawan bicara tetua Wei tidak terlalu menanggapi serius.
Tetua Wei yang menjadi pemimpin kelompok tersebut bersama dengan keempat pendekar Semesta yang memiliki pakaian yang sama dengannya segera melesat, berpencar kesegala arah pada Lembah Neraka. Para anggota dari kelompok yang tersisa tidak mampu menahan kekaguman mereka ketika melihat kelimanya bergerak cepat seakan bukan berada pada tempat yang berbahaya.
Tetua Xie melihat kelimanya bergerak menjauh, setelah memastikan mereka berada dalam jarak yang cukup jauh barulah ia memanggil seorang pendekar tingkat Semesta lapisan tiga.
__ADS_1
“Apa benar kalian bertemu dengannya disini?” tanya tetua Xie kepada pendekar tersebut.
“Benar tetua, kemarin kami bertarung dengannya disini” pendekar tersebut segera menjawab pertanyaan tetua Xie dengan penuh hormat.
“Lalu dimana mayat tetua Nie kau sembunyikan bersama dengan belasan mayat lainnya. Tetua Tenggu kau tidak berbohong kan? Walau kau seorang tetua namun derajatmu sangat kecil saat ini, kau tidak dapat berbuat seenaknya walau memiliki harta yang banyak.” tetua Xie kembali bertanya.
“Aku tidak mungkin berbohong tetua Xie, sungguh aku tidak tahu tetua sebab pendekar misterius itu sangat kuat sehingga mampu membunuh Tetua Nie yang kekuatannya jauh lebih kuat dariku. Aku tidak dapat mengambil mayat mereka karena langsung melarikan diri.” Tetua Tenggu terlihat sedikit gemetar ketika menjawab pertanyaan tetua Xie. Aura tetua Xie sungguh kuat hingga membuat dirinya gemetar tanpa sadar.
“Jika kau meninggalkan mayat mereka disini kemarin maka belasan mayat itu pasti ada disekitar sini. Mereka tidak mungkin dapat berpindah tempat dengan sendirinya. Kau bawalah beberapa pendekar untuk mencari keberadaan mayat tetua Nie dan lainnya” titah tetua Xie.
“Tetua, sebelumnya aku tidak yakin dengan alasan ini tapi beberapa hal membuatku yakin ini terdengar masuk akal.” Seorang pendekar yang juga berada pada tingkatan Semesta turut dalam pembicaraan antara tetua Xie dan Tenggu. Pendekar tersebut walau memiliki kekuatan lapisan empat namun aura yang dimilikinya cukup membuat beberapa ikut gemetar.
“Apa maksudmu Gilbert?” tetua Xie terpaksa menurunkan intonasi bicaranya, menunjukkan bahwa pendekar dihadapannya saat ini memiliki kedudukan dan kekuatan jauh diatasnya.
“Aku mungkin memiliki benang merah dari masalah ini namun aku tidak ingin terlalu jauh menyimpulkan sendiri. Mungkin beberapa pertanyaan cukup membat benang merah ini menebal.” Gilbert terkekeh pelan. Walau terlihat sedang bercanda namun tidak seorang pun ikut tertawa bersamanya.
“Tetua Tenggu, atau maaf sepertinya kau tidak pantas lagi menjadi tetua hari ini jika kau menyembunyikan sesuatu dariku. Apa kau mengerti maksudku?” ucapan Gilbert bagaikan tusukan pedang pada Tenggu, membuat pendekar Semesta lapisan tiga itu hanya dapat menelan ludahnya sendiri. Ia tidak berani protes ataupun keberatan dengan perkataan Gilbert.
__ADS_1