Dark Game

Dark Game
483


__ADS_3

“Lalu jika Raja Zein


membuatmu menikah dengan seseorang? Apa yang kau perbuat?!” tanya Reynal lagi.


“Raja tidak akan


pernah memaksa kehendaku, kecuali itu berhubungan dengan kerajaan Zein. Jika


suatu saat kerajaan Zein diujung tanduk, maka saat itu perjodohanku mungkin


akan ditentukan dan baru saat itulah aku menyetujuinya dengan rakyat dan


kerajaan” jawab Putri Rose.


Jawaban dari putri


Rose sedikit membuat Reynal terkejut, ia tidak pernah menyangka jika perempuan


di depannya ini akan relah melepaskan keinginan dan pilihannya demi rakyat dan


tanggung jawabnya.


“Putri, anda tenang


saja. Selama Akademi Beladiri tetap berdiri dan Aku masih hidup, tidak akan ku


biarkan kau menerima pengorbanan seperti itu!” ucap Reynal.


“Benarkah? Kau yakin?”


“Saya yakin!”


Keduanya kemudian


tertawa begitu lebar sampai akhirnya Putri Rose hampir terjatuh karena


tersandung batu akibat tidak memperhatikan jalan karena tertawa.


Lama adegan itu


berlangsung, Reynal membiarkan putri Rose menangis dan menumpahkan semua curah


tangis dan air matanya pada dadanya yang bidang. Putri itu menangis dengan


begitu kuat hingga tidak sadar ia lelah dan tertidur di dada Reynal.


Reynal mendesah pelan,


ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apakah ia akan menolong putri Rose


atau tetap diam dan melihat wanita itu berkorban demi kesalahan rajanya.


“Andaikan saja raja


Zein menerima tawaran Akademi Beladiri hari itu maka mungkin kerajaan Zein


masih tetap berada dibawah lindungan Akademi Beladiri. Dan putri Rose tidak


akan mengorbankan kebebasannya untuk hal ini” Jujur, Reynal cukup kecewa dengan


keputusan raja Zein. Namun ia tidak dapat berbuat apa- apa untuk mengubah


keputusan itu. Waktu telah berlalu dan semuanya telah terjadi.


“Apa boleh buat, saya


harus membuat pangeran Mahkota tidak menerima perjodohan itu! Dengan begitu


putri Rose tidak akan berkorban!”  Reynal


kemudian melihat putri Rose tertidur lelap, ia menoleh pada jendela kaca disana


dan mendapati hari telah sore.

__ADS_1


Reynal ingin memanggil


seorang atau mungkin ketua Remi untuk memberikan putri Rose tempat istirahat


untuk malam ini. Namun ia tidak mendapati orang yang berlalu lalang disana


sampai ketika Eliza lewat disana, Reynal segera memanggilnya.


“Eliza!” panggil


Reynal ketika dalam posisi tengah memeluk putri Rose yang tertidur.


Eliza yang baru saja


ingin kekamar Reynal membawakan makan malamnya mendengar suara yang tidak asing


memanggilnya. Karena posisi kamar Reynal dan juga ruangan pertemuan khusus


berada berdekatan membuat Eliza yang datang kesana akan melewati ruang pertemuan


lebih dulu sebelum ke kamar Reynal.


Sebab itu Reynal dapat


melihat Eliza lewat dari luar. Pemuda itu segera memanggil Eliza. Terlihat


Eliza sedikit bingung, ia menoleh ke beberapa tempat disana tapi tidak


menemukan apapun.


“Eliza, dibelakang!” panggil


Reynal.


Eliza pun berbalik, ia


menyadari itu adalah suara dari Reynal. Namun ketika Eliza berbalik, ia


mendapati Reynal tengah memeluk erat seorang perempuan berambut putih.


dada bidang Reynal membuat wajahnya tertutup dan hanya menampilkan belakangnya


dan rambut putih panjangnya yang tergerai lebat. Wajah dari Eliza segera


membeku melihatnya, ia seketika merasakan rasa sakit yang kuat di hatinya


seperti seorang tengah menusuk hatinya menggunakan serratus jarum.


Cat: (Penulis


terlalu lebai menggambarkan bagian ini, mungkin karena ia tidak pernah


mengalaminya. Jadi pembaca yang telah mengalami rasa sakit hati seperti diatas


tolong tulis rasanya di komentar dibawah!)


Reynal tidak terlalu


memperhatikan perubahan wajah Eliza, mungkin karena ia tidak peka atau karena


suasana telah petang dan sedikit redup sehingga ia tidak begitu jelas melihat


raut wajah Eliza. Yang pasti adalah Reynal saat ini telah melakukan kesalahan!


Eliza walau hatinya


terasa sakit namun ia tidak tega mengabaikan Reynal yang memanggilnya. Ia


kemudian berjalan mendekat walau ia dapat merasa hatinya menjadi lebih sakit


ketika melihat Reynal berpelukan dengan perempuan lain.


“Ada apa Reynal?”

__ADS_1


tanya Eliza dengan sedikit tergagap, ia berusaha menormalkan suaranya yang


sempat gemetar.


Reynal sedikit heran


dengan Eliza namun ia tidak bertanya lebih lanjut, ia segera menjelaskan bahwa


putri Rose butuh tempat istirahat malam itu dan Reynal minta tolong untuk Eliza


memanggil seorang pelayan atau yang lainnya untuk menyiapkannya.


“Apa ia tertidur?”


tanya Eliza, entah mengapa ia tidak dapat menahan mulutnya untuk bertanya


seperti itu.


“Um! Ia menangis


begitu lama hingga akhirnya tertidur lelap!” jawab Reynal santai.


Eliza terkejut,


hatinya menjadi lebih sakit ketika mengetahui hal itu. Ia merasakan bulir air


matanya akan jatuh sebentar lagi sehingga ia buru- buru mangangguk. “Saya akan


mencari pelayan. Oh, iya saya membawakan makanan di kamarmu nanti. Tolong


dimakan yah!”


Reynal sedikit


tersenyum, “Baiklah terimakasih Eliza!”


Tanpa membalas, Eliza


segera berbalik dan berlari menjauhi Reynal. Ia ingin membalas ucapan Reynal


sebelumnya namun air matanya telah jatuh sehingga ia tidak ingin melihat Reynal


melihatnya menangis. Ia kemudian memanggil seorang tetua yang  kebetulan lewat lalu mengatakan pesan Reynal


pada tetua tersebut. Sementara Eliza memilih untuk keluar dan berjalan di


Lorong panjang Akademi.


Lorong panjang Akademi


Beladiri dibangun begitu indah sampai terlihat seperti bagunan yang memiliki banyak


pilar besar yang menyangganya. Salah satu tempat yang memiliki banyak pilar


adalah Lorong tersebut. Eliza memilih untuk menangis disana sebab Lorong


tersebut cukup sepi dan jarang ada yang melewatinya. Namun pilihannya waktu itu


sungguh tidak tepat membuatnya mendapat sebuah teguran.


“Eliza! Kau kenapa?”


Tepat ketika Eliza


menangis di sebuah pilar besar, Ketua Remi melihatnya. Ketua Remi lah yang


bertanya sebelumnya pada Eliza membuat perempuan cantik itu menghentikan


tangisnya dan segera mengelap aira matanya yang tersisa di wajahnya.


“Ketua, ada apa?


Apakah ada masalah?” tanya Eliza. Ia berusaha untuk bertindak seakan tidak ada

__ADS_1


yang terjadi.


__ADS_2