
“Lalu jika Raja Zein
membuatmu menikah dengan seseorang? Apa yang kau perbuat?!” tanya Reynal lagi.
“Raja tidak akan
pernah memaksa kehendaku, kecuali itu berhubungan dengan kerajaan Zein. Jika
suatu saat kerajaan Zein diujung tanduk, maka saat itu perjodohanku mungkin
akan ditentukan dan baru saat itulah aku menyetujuinya dengan rakyat dan
kerajaan” jawab Putri Rose.
Jawaban dari putri
Rose sedikit membuat Reynal terkejut, ia tidak pernah menyangka jika perempuan
di depannya ini akan relah melepaskan keinginan dan pilihannya demi rakyat dan
tanggung jawabnya.
“Putri, anda tenang
saja. Selama Akademi Beladiri tetap berdiri dan Aku masih hidup, tidak akan ku
biarkan kau menerima pengorbanan seperti itu!” ucap Reynal.
“Benarkah? Kau yakin?”
“Saya yakin!”
Keduanya kemudian
tertawa begitu lebar sampai akhirnya Putri Rose hampir terjatuh karena
tersandung batu akibat tidak memperhatikan jalan karena tertawa.
Lama adegan itu
berlangsung, Reynal membiarkan putri Rose menangis dan menumpahkan semua curah
tangis dan air matanya pada dadanya yang bidang. Putri itu menangis dengan
begitu kuat hingga tidak sadar ia lelah dan tertidur di dada Reynal.
Reynal mendesah pelan,
ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apakah ia akan menolong putri Rose
atau tetap diam dan melihat wanita itu berkorban demi kesalahan rajanya.
“Andaikan saja raja
Zein menerima tawaran Akademi Beladiri hari itu maka mungkin kerajaan Zein
masih tetap berada dibawah lindungan Akademi Beladiri. Dan putri Rose tidak
akan mengorbankan kebebasannya untuk hal ini” Jujur, Reynal cukup kecewa dengan
keputusan raja Zein. Namun ia tidak dapat berbuat apa- apa untuk mengubah
keputusan itu. Waktu telah berlalu dan semuanya telah terjadi.
“Apa boleh buat, saya
harus membuat pangeran Mahkota tidak menerima perjodohan itu! Dengan begitu
putri Rose tidak akan berkorban!” Reynal
kemudian melihat putri Rose tertidur lelap, ia menoleh pada jendela kaca disana
dan mendapati hari telah sore.
__ADS_1
Reynal ingin memanggil
seorang atau mungkin ketua Remi untuk memberikan putri Rose tempat istirahat
untuk malam ini. Namun ia tidak mendapati orang yang berlalu lalang disana
sampai ketika Eliza lewat disana, Reynal segera memanggilnya.
“Eliza!” panggil
Reynal ketika dalam posisi tengah memeluk putri Rose yang tertidur.
Eliza yang baru saja
ingin kekamar Reynal membawakan makan malamnya mendengar suara yang tidak asing
memanggilnya. Karena posisi kamar Reynal dan juga ruangan pertemuan khusus
berada berdekatan membuat Eliza yang datang kesana akan melewati ruang pertemuan
lebih dulu sebelum ke kamar Reynal.
Sebab itu Reynal dapat
melihat Eliza lewat dari luar. Pemuda itu segera memanggil Eliza. Terlihat
Eliza sedikit bingung, ia menoleh ke beberapa tempat disana tapi tidak
menemukan apapun.
“Eliza, dibelakang!” panggil
Reynal.
Eliza pun berbalik, ia
menyadari itu adalah suara dari Reynal. Namun ketika Eliza berbalik, ia
mendapati Reynal tengah memeluk erat seorang perempuan berambut putih.
dada bidang Reynal membuat wajahnya tertutup dan hanya menampilkan belakangnya
dan rambut putih panjangnya yang tergerai lebat. Wajah dari Eliza segera
membeku melihatnya, ia seketika merasakan rasa sakit yang kuat di hatinya
seperti seorang tengah menusuk hatinya menggunakan serratus jarum.
Cat: (Penulis
terlalu lebai menggambarkan bagian ini, mungkin karena ia tidak pernah
mengalaminya. Jadi pembaca yang telah mengalami rasa sakit hati seperti diatas
tolong tulis rasanya di komentar dibawah!)
Reynal tidak terlalu
memperhatikan perubahan wajah Eliza, mungkin karena ia tidak peka atau karena
suasana telah petang dan sedikit redup sehingga ia tidak begitu jelas melihat
raut wajah Eliza. Yang pasti adalah Reynal saat ini telah melakukan kesalahan!
Eliza walau hatinya
terasa sakit namun ia tidak tega mengabaikan Reynal yang memanggilnya. Ia
kemudian berjalan mendekat walau ia dapat merasa hatinya menjadi lebih sakit
ketika melihat Reynal berpelukan dengan perempuan lain.
“Ada apa Reynal?”
__ADS_1
tanya Eliza dengan sedikit tergagap, ia berusaha menormalkan suaranya yang
sempat gemetar.
Reynal sedikit heran
dengan Eliza namun ia tidak bertanya lebih lanjut, ia segera menjelaskan bahwa
putri Rose butuh tempat istirahat malam itu dan Reynal minta tolong untuk Eliza
memanggil seorang pelayan atau yang lainnya untuk menyiapkannya.
“Apa ia tertidur?”
tanya Eliza, entah mengapa ia tidak dapat menahan mulutnya untuk bertanya
seperti itu.
“Um! Ia menangis
begitu lama hingga akhirnya tertidur lelap!” jawab Reynal santai.
Eliza terkejut,
hatinya menjadi lebih sakit ketika mengetahui hal itu. Ia merasakan bulir air
matanya akan jatuh sebentar lagi sehingga ia buru- buru mangangguk. “Saya akan
mencari pelayan. Oh, iya saya membawakan makanan di kamarmu nanti. Tolong
dimakan yah!”
Reynal sedikit
tersenyum, “Baiklah terimakasih Eliza!”
Tanpa membalas, Eliza
segera berbalik dan berlari menjauhi Reynal. Ia ingin membalas ucapan Reynal
sebelumnya namun air matanya telah jatuh sehingga ia tidak ingin melihat Reynal
melihatnya menangis. Ia kemudian memanggil seorang tetua yang kebetulan lewat lalu mengatakan pesan Reynal
pada tetua tersebut. Sementara Eliza memilih untuk keluar dan berjalan di
Lorong panjang Akademi.
Lorong panjang Akademi
Beladiri dibangun begitu indah sampai terlihat seperti bagunan yang memiliki banyak
pilar besar yang menyangganya. Salah satu tempat yang memiliki banyak pilar
adalah Lorong tersebut. Eliza memilih untuk menangis disana sebab Lorong
tersebut cukup sepi dan jarang ada yang melewatinya. Namun pilihannya waktu itu
sungguh tidak tepat membuatnya mendapat sebuah teguran.
“Eliza! Kau kenapa?”
Tepat ketika Eliza
menangis di sebuah pilar besar, Ketua Remi melihatnya. Ketua Remi lah yang
bertanya sebelumnya pada Eliza membuat perempuan cantik itu menghentikan
tangisnya dan segera mengelap aira matanya yang tersisa di wajahnya.
“Ketua, ada apa?
Apakah ada masalah?” tanya Eliza. Ia berusaha untuk bertindak seakan tidak ada
__ADS_1
yang terjadi.