Dark Game

Dark Game
326


__ADS_3

Dengan intruksi Reynal, tetua Jai


akhirnya menuju tetua Bajra untuk bertarung. Awalnya tetua Bajra tidak mengerti


apa yang terjadi namun karena desakan Reynal dan juga hinaan dan ejekan dari


tetua Jai membuat yang terakhir juga tersulut emosi.


Tetua Jai memilih untuk bertarung


di dalam ruangan yang telah disediakan Reynal sebelumnya. Ruangan tersebut


telah disihir oleh sihir pendukung agar kedap suara. Reynal tentunya tidak


ingin pertarungan keduanya terganggu karena dapat menganggu rencananya.


Mereka berdua bertarung seimbang


layaknya api dan air yang saling mengalahkan namun saling membalas. Melihat


keduanya cocok, Reynal memutuskan  untuk


membuat ruangan bergetar beberapa kali, untungnya sihir pendukung kedap suara


dapat menahannya.


“Saat ini mereka berdua akan


menghabiskan seluruh energi dan tenaga dalam bertarung satu sama lain. Hasilnya


mungkin akan imbang dengan kelelahan dan cedera parah oleh keduanya, pada saat


itulah saya dapat melancarkan serangan terakhir pada mereka berdua.” Gumam


Reynal sambil tersenyum licik melihat pertarungan hebat dihadapannya.


~~


Tiga jam akhirnya berlalu dan


keduanya telah menderita beberapa luka parah akibat tidak menahan diri satu


sama lain. Energi dan tenaga yang mereka miliki juga telah terkuras habis


sehingga pertarungan keduanya berakhir imbang.


Dapat dilihat dari kondisi

__ADS_1


keduanya yang terlihat menyedihkan. Tetua Bajra tidak lagi memiliki sikap


sedingin dulu dengan wajahnya yang putih kini telah dipenuhi oleh luka dan


darah. Disisi lain tetua Jai juga tidak kalah, wajahnya terlihat pucat dan


tidak perkasa lagi.


Melihat hal tersebut Reynal


segera membunuh mereka berdua dengan memanggil Undied semesta miliknya. Setelah


itu ia kemudian menuju tempat dari sepuluh komandan membantai setiap komandan


lainnya.


Dalam membunuh keduanya Reynal


tidak sekalipun terpengaruh oleh ucapan terakhir dari keduanya. Menurut Reynal


mereka berdua dan seluruh anggota kekaisaran yang merencanakan hal ini harus


bersedia menerima resikonya.


Mereka ingin membunuh dan merebut


Namun bagaimanapun juga Karma akan tetap terjadi, dalam kehidupan di bumi Reynal,


ia mempercayai sebuah karma dan pembalasan.


“Kerja kalian cukup baik” puji


Reynal pada mereka setelah melihat tumpukan mayat dihadapannya dengan mata


berbinar.


‘Dengan tambahan pasukan seperti


ini, maka kekuatanku akan meningkat sekali lagi. Saya rasa menyerang Hell


Memoth akan lebih mudah jika mendapat tambahan pasukan seperti ini terus


menerus.’


Dengan dibantainya para komandan


kelas 1 dan 2 pasukan guild Mata Angin serta seorang komandan tinggi dan 2

__ADS_1


jendral dewa membuat kekuatan guild semakin berkurang. Reynal yakin Akademi


Beladiri dapat memenangkan perperangan besok.


Setelah membereskan beberapa


petunjuk dan bukti, Reynal bersama dengan sepuluh pengikut barunya kembali ke


Akademi Beladiri. Ketua Remi dan tetua Fengtian dipanggil oleh Reynal untuk


membuat strategi baru.


“Strategi kita besok adalah


menyerang guild Mata Angin ketika tidak siap. Saya telah berhasil membuat


kekacauan di dalam guild sehingga besok kemungkinan mereka akan tidak siap


untuk menerima serangan kita. Setelah itu saya sarankan untuk para tetua yang


tidak memiliki keyakinan untuk menghadapi para petinggi guild yang tersisa


sebaiknya memilih untuk beratung melawan prajurit biasa.”


“Sebab saya yakin kekuatan dari


para tetua kita lebih lemah dari mereka. Selain itu untuk tetua Fengtian dan


ketua Remi dapat menghadapi masing- masing dari para tetua musuh. Serahkan para


pendekar dewa kepada saya”


“Apa kau yakin Reynal?” tanya


ketua Remi


“Yakin! Sekarang saya akan


beristirahat untuk memulihkan energi dan tenaga yang terbuang hari ini. Mungkin


saya akan terlambat bangun sehingga lebih baik untuk menyuruh seseorang untuk


membangunkan saya ketika seluruh pasukan telah siap.”


Reynal segera meninggalkan


ruangan lalu memilih untuk tidur sesuai dengan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2