
Dengan intruksi Reynal, tetua Jai
akhirnya menuju tetua Bajra untuk bertarung. Awalnya tetua Bajra tidak mengerti
apa yang terjadi namun karena desakan Reynal dan juga hinaan dan ejekan dari
tetua Jai membuat yang terakhir juga tersulut emosi.
Tetua Jai memilih untuk bertarung
di dalam ruangan yang telah disediakan Reynal sebelumnya. Ruangan tersebut
telah disihir oleh sihir pendukung agar kedap suara. Reynal tentunya tidak
ingin pertarungan keduanya terganggu karena dapat menganggu rencananya.
Mereka berdua bertarung seimbang
layaknya api dan air yang saling mengalahkan namun saling membalas. Melihat
keduanya cocok, Reynal memutuskan untuk
membuat ruangan bergetar beberapa kali, untungnya sihir pendukung kedap suara
dapat menahannya.
“Saat ini mereka berdua akan
menghabiskan seluruh energi dan tenaga dalam bertarung satu sama lain. Hasilnya
mungkin akan imbang dengan kelelahan dan cedera parah oleh keduanya, pada saat
itulah saya dapat melancarkan serangan terakhir pada mereka berdua.” Gumam
Reynal sambil tersenyum licik melihat pertarungan hebat dihadapannya.
~~
Tiga jam akhirnya berlalu dan
keduanya telah menderita beberapa luka parah akibat tidak menahan diri satu
sama lain. Energi dan tenaga yang mereka miliki juga telah terkuras habis
sehingga pertarungan keduanya berakhir imbang.
Dapat dilihat dari kondisi
__ADS_1
keduanya yang terlihat menyedihkan. Tetua Bajra tidak lagi memiliki sikap
sedingin dulu dengan wajahnya yang putih kini telah dipenuhi oleh luka dan
darah. Disisi lain tetua Jai juga tidak kalah, wajahnya terlihat pucat dan
tidak perkasa lagi.
Melihat hal tersebut Reynal
segera membunuh mereka berdua dengan memanggil Undied semesta miliknya. Setelah
itu ia kemudian menuju tempat dari sepuluh komandan membantai setiap komandan
lainnya.
Dalam membunuh keduanya Reynal
tidak sekalipun terpengaruh oleh ucapan terakhir dari keduanya. Menurut Reynal
mereka berdua dan seluruh anggota kekaisaran yang merencanakan hal ini harus
bersedia menerima resikonya.
Mereka ingin membunuh dan merebut
Namun bagaimanapun juga Karma akan tetap terjadi, dalam kehidupan di bumi Reynal,
ia mempercayai sebuah karma dan pembalasan.
“Kerja kalian cukup baik” puji
Reynal pada mereka setelah melihat tumpukan mayat dihadapannya dengan mata
berbinar.
‘Dengan tambahan pasukan seperti
ini, maka kekuatanku akan meningkat sekali lagi. Saya rasa menyerang Hell
Memoth akan lebih mudah jika mendapat tambahan pasukan seperti ini terus
menerus.’
Dengan dibantainya para komandan
kelas 1 dan 2 pasukan guild Mata Angin serta seorang komandan tinggi dan 2
__ADS_1
jendral dewa membuat kekuatan guild semakin berkurang. Reynal yakin Akademi
Beladiri dapat memenangkan perperangan besok.
Setelah membereskan beberapa
petunjuk dan bukti, Reynal bersama dengan sepuluh pengikut barunya kembali ke
Akademi Beladiri. Ketua Remi dan tetua Fengtian dipanggil oleh Reynal untuk
membuat strategi baru.
“Strategi kita besok adalah
menyerang guild Mata Angin ketika tidak siap. Saya telah berhasil membuat
kekacauan di dalam guild sehingga besok kemungkinan mereka akan tidak siap
untuk menerima serangan kita. Setelah itu saya sarankan untuk para tetua yang
tidak memiliki keyakinan untuk menghadapi para petinggi guild yang tersisa
sebaiknya memilih untuk beratung melawan prajurit biasa.”
“Sebab saya yakin kekuatan dari
para tetua kita lebih lemah dari mereka. Selain itu untuk tetua Fengtian dan
ketua Remi dapat menghadapi masing- masing dari para tetua musuh. Serahkan para
pendekar dewa kepada saya”
“Apa kau yakin Reynal?” tanya
ketua Remi
“Yakin! Sekarang saya akan
beristirahat untuk memulihkan energi dan tenaga yang terbuang hari ini. Mungkin
saya akan terlambat bangun sehingga lebih baik untuk menyuruh seseorang untuk
membangunkan saya ketika seluruh pasukan telah siap.”
Reynal segera meninggalkan
ruangan lalu memilih untuk tidur sesuai dengan rencananya.
__ADS_1