Dark Game

Dark Game
146


__ADS_3

“Aaakkhh! Tolong!” Sebuah jeritan kemudian terdengar, ketika mereka melihat saudara mereka telah terluka di bagian leher, walau ia belum tewas namun tidak diragukan lagi ia tidak akan hidup lama.


Bruno tersenyum dingin, ia mengangkat jari tengahnya kepada mereka lalu seolah memancing mereka, Bruno mulai membantai jalannya menuju ke sembilan orang yang tersisa.


“Terima kasih tetua” pendekar itu berkata dengan penuh terima kasih, ia tahu seandainya Bruno tidak datang menolongnya maka hari ini akan telah menjadi mayat. Bruno pada dasarnya seorang yang pendiam dan dingin sebab itu ia hanya melirik pendekar itu sebentar lalu kembali menyerang pendekar Hell Memoth yang berada di dekatnya.


Tidak lama, setengah dari pasukan Hell Memoth telah menjadi mayat, dan Anggota Akademi Beladiri hanya menderita belasan korban. Tepat pada saat itu, belasan sinar melesat di langit dan kemudian belasan pendekar turun di tengah – tengah pertempuran.


Wajah dari Bruno dan Dicki berubah melihat belasan dari mereka yang datang. Mereka tidak lain adalah para petinggi Black Undied yang telah dibebaskan oleh tuan- tuan mereka. Ada 2 dari mereka merupakan tetua tinggi Black Undied.


Dicki dan Bruno segera memerintahkan para pendekar dewa yang berada disisinya untuk mengepung musuh yang belum siap. Segera keduanya bagaikan anak panah yang terbang meninggalkan busurnya, mereka sangat cepat tiba di depan tetua tinggi Black Undied.

__ADS_1


Kedua tetua tinggi itu mendengus dingin, mereka kemudian mengambil senjata masing- masing dan memulai pertarungan. Dicki dan Bruno tidak menyangka keduanya akan sangat kuat. Walau mereka tidak kuat dalam kekuatan tempur namun mereka mampu memabangkitkan banyak undied dewa yang menggangu dan menghalangi serangan Bruno dan Dicki.


“Kalian hanya bisa mengandalkan kekuatan untuk melawan yang lemah! Pengecut” Bruno mengutuk keras, di wajahnya terpampang rasa kesal. Dari awal setiap serangannya begitu mematikan, namun tidak satupun dari mereka mampu melukai tetua tinggi itu karena halangan dari para undied di sekelilingnya.


Adapun tetua Dicki ia nampak memiliki kekuatan yang sama dengan tetua tinggi dari Black Undied, Ia memiliki kemampuan untuk menciptakan pasukan golem dalam jumlah yang cukup banyak. Itu membuatnya dapat mengatasi gangguan dari para pasukan Undied dan fokus dalam menyerang lawannya.


Hal ini sugguh membuat Bruno sedikit frustasi. Sampai ia membunuh lebih dari 30 pendekar yang ada di dekatnya karena serangannya yang brutal, Bruno mulai menggunakan kekuatannya dengan serius.


“Karena kau telah membuatku bermain dalam mode serius maka jangan salahkan saya untuk melakukan pembantaian disini” Aura Pedang yang sangat kuat sedikit demi sedikit terpancar keluar dari tubuh Bruno.


“Semuanya cepat mundur! kalian jaga jarak dari tetua Bruno!” tetua Dicki tidak lupa berteriak memperingatkan pendekar Akademi Beladiri yang lain. Bahkan ia juga sedikit membawa pertarungannya menjauhi Bruno.

__ADS_1


Adapun tetua tinggi yang menghadapi Bruno, ia memiliki wajah yang serius. Segera ia memanggil 5 undied dewa lapisan empat untuk menemaninya bertarung. Ia dapat merasakan perasaan bahaya datang dari Bruno.


“Bersiaplah untuk Pembantaian!” Bruno berkata dengan dingin, kilatan pedang dapat terlihat dari bola matanya. Bruno segera melancarkan serangan pedangnya ke arah tetua tersebut.


Tetua itu tidak lengah, ia juga memberikan perintah pada ke lima undied dewanya untuk menyerang Bruno dan menghentikan serangannya. Ia cukup percaya diri dengan kelima undied dewanya itu yang selama ini menjadi kartu truff dan membuatnya menjadi salah satu tetua tinggi Black Undied.


Bang! Bang! Bang! tiga ledakan terjadi ketika Bruno menghancurkan ketiga undied dewa itu dengan mudah. Wajah dari tetua itu memucat, ia dapat merasakan energinya berkurang banyak akibat hal tersebut.


“Gawat!” Tetua itu sadar jika dua undied yang tersisa tidak akan cukup untuk melawan Bruno dan segera menariknya kembali di sisinya tapi sayang, aura pedang Bruno sekali lagi memancar keluar dan segera membuat kecepatannya tiga kali lipat dari sebelumnya.


Bruno dengan cepat memotong salah satu undied lainnya membuat tetua itu batuk darah. Ia mungkin dapat membangkitkan keempatnya kembali namun energi yang ia butuhkan untuk itu akan membuatnya kehabisan energi dan jatuh lemas.

__ADS_1


Ia tidak lagi dapat mengatasi Bruno kemudian melirik para tetua Black Undied lainnya kini bertarung dengan Akademi Beladiri. Beberapa memang berhasil mengambil keuntungan karena mampu mengendalikan Undied.


Namun itu tidak berjalan lama sebelum para pasukan dari devisi monster datang dan membantu mereka. Tetua itu melihat Bruno semakin dekat dengannya tidak dapat menahan diri untuk tidak gemetar ketakutan.


__ADS_2