
“Darimana tuan mendapatkan tombak itu?” nada ucapan Reynal sedikit berubah, membuat Abraham menyadari arah pembicaraan dari pemuda dihadapannya ini.
“Dari seorang teman” Abraham mencoba untuk memancing Reynal lebih jauh, ia sengaja untuk membuat jawabannya terdengar asal.
“Seorang teman? Siapa dia?”
Reynal sangat mengingat bahwa tombak tersebut tidak lain adalah tombak yang dijualnya pada seorang bangsawan kekaisaran bernama Daniel. Ia membelinya dengan sangat mahal pada saat lelang tahun lalu, Reynal tidak akan percaya jika Daniel akan memberikannya pada seorang teman.
“Kenapa kau begitu ingin tahu? Apa hubunganmu dengan tombak ini?” sarkas Abraham.
“Jelas aku memiliki hubungan dengan tombak ini, seseorang pernah membelinya pada Akademi Beladiri dengan sangat mahal, wajar jika aku akan menanyakan hal tersebut kepada tuan.” Abraham mengangguk paham, ia kemudian memandang Reynal sesaat seolah mencari kebenaran dari wajahnya.
__ADS_1
“Baiklah aku akan memberitahukanmu, Temanku yang memberikan tombak ini bernama Daniel.” Ucapnya sambil tersenyum, ia melanjutkan ceritanya sambil memandang langit dengan perasaan yang sulit di ungkapkan.
Abraham mulai menceritakan awal ia mendapatkan tombak Naga Laut, delapan bulan yang lalu ketika pemberontakan pertamakali terjadi secara besar- besaran.
“Saat itu aku masih berstatus sebagai anggota elit guild White Lotus. Ketua Edgar bersama dengan wakil ketua guild, Yondai berusaha untuk membantu kekaisaran Humanie mengusir para pemberontak pada wilayah kekaisaran bagian barat. Sejumlah pasukan besar yang terdiri dari ratusan anggota elit guild White Lotus dikirim untuk membantu jalannya rencana tersebut. Aku termasuk dari ratusan pasukan elit akhirnya bertemu dengan pasukan kekaisaran Humanie yang dipimpin oleh pangeran ketiga dan beberapa bangsawan termasuk Daniel."
Awalnya keputusan dari ketua Edgar mengirim anggota elit guild sangat ditentang oleh para petinggi guild lainnya sebab saat itu guild White Lotus masih dalam tahap pengembangan besar- besaran. Namun ketua Edgar lebih memilih untuk memberikan dukungan dan bantuan yang besar kepada sahabatnya itu, pangeran ketiga.
Kembali pada situasi pertempuran, waktu itu aku ditugaskan untuk menjadi bantuan pada devisi tempat pasukan Daniel berada. Karena kekuatan yang aku miliki tertinggi diantara pasukan disana membuat Daniel mengangkatku menjadi wakilnya, sejak saat itu hubungaku dengannya mulai akrab dan dekat.
Namun dari sanalah kekompakan kami mulai terasa karena sering menggunakan serangan gabungan untuk menghabisi musuh. Sehingga serangan gabungan kami berdua saat itu menjadi sangat terkenal baik itu pada musuh dan pemberontak yang kami hadapi maupun pasukan kekaisaran dan guild White Lotus.
__ADS_1
Namun tepat pada hari ketiga belas pertempuran, sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi. Pasukan yang dipimpin oleh pangeran ketiga bersama dengan ketua Edgar mendapatkan serangan dari berbagai sisi.
Hal ini membuat formasi seluruh pasukan menjadi kacau, para pemberontak kemudian memisahkan kami menjadi beberapa kelompok kecil yang memudahkan mereka untuk membantai habis pasukan dari guild White Lotus dan kekaisaran.
Pada saat itu aku bersama dengan Daniel berada pada kelompok yang sama, awalnya kami berdua dapat mengendalikan situasinya namun jumlah musuh yang banyak membuat semangat dari Daniel melemah.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah senjata tombak yang sangat indah. Daniel memberitahukanku bahwa tombak itu akan menjadi senjata terakhirnya dalam melawan pemberontak. Sontak ucapan Daniel membuatku sedikit mengerti maksudnya. Aku berusaha untuk tetap memberikan semangat padanya namun nyatanya ucapan Daniel menjadi kenyataan.
Kami memang berhasil bertahan dan selamat dari kepungan musuh namun Daniel menderita luka-luka yang sangat banyak juga ia telah kehabisan energi dan darah selama bertarung. Tepat keesokan paginya ketika hari baru telah tiba, Daniel menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggalkan sebuah surat yag berisi agar aku menerima senjata pusaka miliknya sebagai tanda pertemanan darinya.
Sejak saat itu aku selalu memakai tombak ini dalam setiap pertarunganku. Sebab kami berdua telah berjanji agar dapat bertarung bersama seumur hidup kami.” Abraham menutup ceritanya dengan senyuman sedih dan setetes air mata yang tak sempat ia usap atau ia memang berniat untuk sengaja menjatuhkannya.
__ADS_1
Reynal tertunduk lesu, ia tidak mengetahui benar rasa kehilangan yang dirasakan oleh Abraham namun yang pasti Reynal merasakan kesedihan yang mendalam pada diri Abraham sewaktu ia menceritakan hal tersebut.
“Sepertinya kaum pendatang lainnya telah menikmati petualangan mereka di dunia Soun, tidak sepertiku yang terus berlatih agar dapat menjadi kuat agar dapat segera kembali pada dunia nyata. Aku baru menyadari bahwa beberapa dari mereka telah mendapatkan kehidupan kedua mereka disini.” gumam Reynal