
Di dalam gua, Reynal telah berhasil menanyakan seluruh informasi penting yang diketahui oleh tetua He. Diantaranya adalah konflik internal antara para dewa yang memimpin pangkalan. Kedua pendekar Dewa lapisan 2 dikenal karena sifat mereka berdua yang selalu berlawanan hingga selalu menimbulkan konflik internal.
Untungnya He Siu, pemimpin pangkalan yang juga merupakan pendekar dewa lapisan 4 tidak memihak mereka berdua dan cenderung bersikap netral. Ini membuat Reynal mendapatkan kesempatan yang bagus untuk menyerang kedua pendekar dewa tersebut satu persatu.
Sehingga pada saat peperangan pecah, perhatiannya hanya untuk pendekar lapisan 4 yang sekaligus merupakan saudara kandung dari tetua He.
Selain itu pasukan dari guild Mata Angin juga diketahui akan melakukan serangan setelah dua hari dari sekarang. Sebab itu Reynal terlihat sedikit terburu- buru, ia dengan cepat menghabisi tetua He lalu membangkitkannya menjadi seorang undied.
Kedua komandan yang sedari tadi melihat situasi segera merasakan punggung mereka terasa dingin. Mereka berdua tentu tidak ingin berakhir seperti tetua He yang kini menjadi seorang mayat hidup yang tidak memiliki gairah dan kemauan.
“Kalian berdua! Berkumpullah bersama dengan ketujuh komandan lainnya dan pastikan seluruh komandan kelas 1 dan 2 telah berkumpul.”
Reynal memerintahkan mereka untuk melaksanakan rencana selanjutnya. Ia memberikan mereka tetua He dan seorang pendekar dewa lapisan awal untuk menemani sembilan komandan melaksanakan eksekusi pada para komandan kelas 1 dan 2.
__ADS_1
“Lalu setelah kalian selesai membantai mereka, letakkan tanda pada setiap mayat tanpa ada satupun yang terlewat. Setelah itu barulah kalian bisa membagi dua kelompok untuk membunuh sembilan komandan kelas 3 yang tersisa”
Keduanya mengangguk patuh dengan serangkaian perintah Reynal. Di sisi lain pemuda itu terlihat sedikit senang ketika melihat kedua pelayannya patuh dan sedikit bisa diandalkan. Keduanya segera pergi dengan kecepatan tinggi bersama dengan kedua undied Reynal, keempatnya bertujuan berkumpul dan membantai para komandan yang tersisa.
Melihat dua pelayannya pergi barulah Reynal berangkat menuju salah satu kamar dari pendekar dewa yang ia targetkan. Untuk menadapatkan identitas keluar masuk dalam pangkalan para atasan, Reynal menggunakan penampilan tetua He.
Benar saja, ia dengan cepat berjalan masuk tanpa menemui satu masalahpun. Perjalanannya lancar sampai ia tiba pada sebuah pintu berwarna merah cerah. Pintu tersebut terlihat lebih istimewa dengan pintu lainnya.
Diseberangnya terdapat pintu berwarna biru gelap dengan ornamen yang berlawanan dengan pintu diseberang. Keduanya tampak kontras dan memperlihatkan perbedaan yang mencolok. Reynal segera mengetahui kedua pintu tersebut merupakan targetnya malam ini.
Ketuk...ketuk!
Reynal mengetuk pelan pintu merah di hadapannya pelan, tidak perlu menunggu lama sampai pintu terbuka menampilkan seorang pria berbadan kekar dengan memakai baju berwarna senada dengan pintu.
__ADS_1
“Tetua He, ada apa kau kemari?” nada pria itu sedikit tidak ramah.
Dari pandangan pertama Reynal bertemu dengan pria itu, ia telah dapat melihat sifat dan tempramentalnya. Pria berbaju merah tidak lain adalah pria keras dan memiliki emosi yang meledak-ledak. Ia bagaikan api, pikirannya yang terlalu cepat panas dan tersinggung dapat terlihat dalam sekali lihat.
“Tetua Jai, ada sesuatu yang penting harus saya jelaskan!” Reynal memasang nada cemas dan tergesah- gesah. Tentu tak lupa ia memasukkan skill aktingnya yang telah mencapai tahap master hingga terlihat sangat meyakinkan.
“Penting? Kau pikir saya terlalu bodoh? Kau pastinya diutus oleh kakakmu tetua Siu kan?” bentak pria yang bernama Jai itu.
“Maksud tetua Ja? Saya tidak mengerti. Lagipula tetua Siu tidak mengirimku kemari untuk berbicara sesuatu denganmu” Reynal menyadari ada sesuatu yang salah. Ia segera ingin mencarinya dan mengumpan tetua Jai untuk menjelaskannya. Reynal berpikir jika tetua Jai mengatakan sesuatu yang diutus oleh tetua Siu maka itu akan berkaitan dengan yang paling penting.
“Hmph! Kau ingin mengelak” tetua Jai berkata sinis, Reynal tentu tidak berpikir bahwa Jai akan berpikiran seperti itu padanya.
“Tetua Jai, saya mengatakan yang sebenarnya. Saya kemari benar- benar ingin bertemu dengan tetua. Ada hal yang penting ingin saya sampaikan.”
__ADS_1
Reynal melakukan akting yang sangat hebat, ia terlihat begitu mendalami peran seakan menipu tetua Jai semudah memotong tahu baginya. Hal ini tentu tidak dapat dibandingkan dengan pendekar muda lainnya.