Dark Game

Dark Game
204. Serangan Malam Hari 2


__ADS_3

Tujuh ekor Serigala Merah sedang menatap tetua Xie dan yang lainnya. Ketujuh monster itu mengeluarkan pancaran energi mendekati pendekar semesta lapisan lima, membuat monster tersebut menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.


Tatapan monster- monster itu bagaikan siap menerkam mereka semua malam itu. Tetua Xie menelan ludahnya, ia tidak menyangka akan menjumpai monster serigala pada malam hari di Lembah Neraka. Belakangan ia menyesali keputusannya untuk tetap tinggal disana.


“Tetua Gilbert, tetua Wei apa kalian memiliki ide untuk keluar dari sini?” tanya tetua Xie.


Tetua Wei menggeleng pelan, ia cukup yakin kekuatannya saat ini hanya mampu mengimbangi salah satu dari ketujuh monster tersebut. “Aku bersama dengan anggota guild Raja Nirwana akan menghadapi dua ekor serigala merah, sisanya aku serahkan pada kalian”


Tetua Xie awalnya tidak setuju sebab jika tetua Wei memilih untuk bertarung sendiri maka kini tinggal dirinya dan tetua Gilbert yang mampu mengimbangi serigala merah.


“Tetua Wei, apa kau yakin dengan rencanamu?” tetua Xie bertanya sekali lagi, mencoba untuk memastikan.


“Apa kalian memiliki ide yang lebih baik?”


Tetua Xie menggeleng pelan, jumlah pendekar semesta yang dibawa olehnya hanya terdiri dari tiga pendekar semesta lapisan satu, dua pendekar lapisan dua, satu pendekar semesta lapisan tiga dan sisanya adalah tetua Gilbert dan dirinya.


“Tetua Gilbert” kini Xie kembali menoleh pada tetua Gilbert. Orang tua itu terlihat sedang berkonsentrasi sambil memejamkan matannya.

__ADS_1


“Diamlah! Aku sedang berusaha memanggil seluruh bayanganku saat ini.” Ucap tetua Gilbert namun tidak membuat dirinya membuka mata.


Tetua Xie menjadi salah tingkah, ia kemudian melangkah mundur dengan cepat berusaha untuk menjangkau Tenggu yang tengah bersiaga pada bagian belakang. “Tenggu, aku ingin kau menahan seekor serigala merah itu bersama dengan seorang pendekar semesta lapisan satu. Apa kau bisa melakukannya?”


Tenggu terlihat sedikit ragu, tentu tidak cukup yakin dengan kemampuannya saat ini dapat menghadapi seekor monster Semesta lapisan lima. Tetapi ia juga tidak dapat menolak permintaan dari seorang tetua utama seperti Xie membuatnya dengan terpaksa menyanggupinya.


Tetua Xie juga mengatur agar para pendekar yang tersisa dapat menahan dua ekor Serigala merah lainnya. Sementara ia bersama dengan tetua Gilbert akan menghadapi dua monster yang tersisa.


Tetua Xie kembali menghampiri tetua Gilbert yang telah selesai memanggil para bayangannya. Kini terlihat tiga pendekar semesta lapisan satu, dua dan tiga yang memiliki perawakan dan wajah mirip dengan tetua Gilbert. Tetua Wei dan anggota guild Raja Nirwana yang melihatnya cukup terkejut, mereka baru pertama kali melihat jurus atau ilmu seperti itu.


Baru saja tetua Xie memerintahkan seluruhnya untuk bersiaga, tiba- tiba seekor serigala merah yang memiliki jarak paling dekat dengan mereka menerjang kearah tetua Xie dan yang lainnya. Sontak hal itu membuat tetua dari guild Raja Nirwana yang dikenal sebagai tetua Wei turut melepaskan jurusnya, menangkis terjangan serigala merah.


Keduanya terpental karena pertukaran serangan tersebut, tetua Wei cukup terkejut sebab ia merasakan kekuatan serigala merah yang dihadapinya saat ini mengimbanginya.


Tetua Gilbert menoleh pada tetua Xie dengan raut wajah yang sulit diartikan, tatapan yang diberikan oleh Gilbert membuat tetua Xie sedikit gemetar.


“Kau tahu apa kesalahanmu hari ini?! Aku tidak tahu apa yang ada diotakmu itu, ini semua salahmu. Jika kita dapat selamat malam ini maka bersiaplah untuk mendapat hukuman dariku.” Ucap Gilbert dengan nada serius dan sedikit membentak. Usai berkata seperti itu, ia bersama dengan kedua bayangan lainnya mulai maju menyerang seekor serigala yang paling besar.

__ADS_1


Tetua Xie hanya dapat menunduk malu, ia tidak berdaya saat ini. Ia menyadari kesalahannya sangat besar hari ini. Walaupun tetua Xie memiliki posisi diantara tetua utama yang lain namun itu tidak cukup kuat untuk melawan Gilbert yang memiliki posisi tertinggi diantara tetua utama lainnya.


“Sial” teriak tetua Xie kesal. Kini tetua Xie mengeluarkan jurusnya pada seekor serigala merah dihadapannya. Ia mengerahkan kekesalannya dengan menghajar serigala merah sehabis- habisnya.


“Jurus Ular Sanca : Racun Ular Sanca” cairan hijau keluar dari telapak tangan tetua Xie. Cairan itu seperti cairan asam beracun. Serigala Merah yang menyerangnya seketika meraung hebat ketika tubuhnya mengenai cairan hijauh tetua Xie.


“Racun Ular Sanca adalah salah satu racun Langit, aku tidak yakin kau dapat menahannya” tetua Xie sedikit bangga dengan racun yang dimilikinya. Namun belum sampai sepuluh detik, serigala itu kembali bangun. Kondisinya juga kembali pulih seolah racun Ular Sanca milik tetua Xie tidak pernah mengenainya.


Tetua Xie menggeram kesal, ia kembali terpental ketika serigala itu menyerangnya. Kecepatan dan kekuatan serigala merah kian bertambah, membuat tetua Xie heran.


Sebelumnya kekuatan serigala merah yang dilawannya sedikit lebih kuat darinya namun kini tetua Xie merasa tidak sanggup untuk menghadapi monster tersebut seorang diri.


“Jurus Ular Sanca : Ular Sanca Hijau” tetua Xie kembali mengeluarkan jurusnya, kali ini ia membuat segel pada sebidang tanah, tidak lama simbol yang ia buat bersinar hijau terang. Perlahan muncul seekor ular sanca berwarna hijau dengan ukuran lebih dari dua meter.


Ular itu mendesis pelan lalu mulai melilit tetua Xie.


~~

__ADS_1


__ADS_2