
Setelah tiga piring nasi terhidang di meja makan, mereka bertiga pun mulai makan. Kecuali Lidya yang sangat bete melihat tingkah laku mereka bertiga.
Saat Bianca mulai menyendok nasi dan lauk ke mulutnya, ia langsung memuntahkan makanan nya.
Lidya yang melihat tingkah laku Bianca pun tersenyum puas. Karena ia tahu bahwa makanan yang ia masak jauh dari kata enak.
"Masakan apa ini?!!," ucap Bianca dengan wajah penuh emosi.
"Kamu sengaja ya masak masakan seperti ini?!," Bianca melotot pada Lidya yang masih tersenyum puas.
"Kenapa harus marah-marah kepada Lidya sih, Bi?," tanya Damar dengan menatap wajah Bianca yang sedang tersulut emosi.
"Adik kamu ini kurang ajar, dengan sengaja dia masak seperti ini!!!," Bianca menunjuk masakan Lidya yang ada di atas meja makan.
"Sekarang coba kalian makan!!," lanjut Bianca memerintah Damar Dan Linda untuk memakan masakan yang di masak oleh Lidya.
Mereka berdua pun mencoba menyuap makanan yang di sendok dari piringnya masing-masing.
Tanpa di komando, secara bersamaan mereka memuntahkan kembali makanan yang baru masuk ke mulut mereka.
" Hmmm, bagaimana menurut kalian? Aku nggak bohong kan?!," tanya Bianca sambil menatap Damar dan Linda secara bergantian.
Sedangkan Lidya hanya berekspresi biasa aja sambil berdiri disamping pintu dapur dan bersandar pada dinding. Tak ada perasaan bersalah sama sekali pada dirinya. Yang ada di perasaan nya saat ini adalah rasa puas karena berhasil memberi pelajaran pada Bianca.
"Kamu ini masak apa, Lid?," tanya Damar sambil mengusap lidahnya dengan tisu. Karena rasa yang tak. karu-karuan itu sangat melekat pada lidah nya.
",Ya kamu lihat sendiri aja mas, aku masak apa." jawab Lidya dengan entengnya.
"Kenapa rasanya tak enak seperti ini sih, Lid?," tanya Damar.
"Kan dari awal, aku sudah bilang. Kalau aku tak bisa masak. Tapi istri mas Damar yang sosialita ini terus memaksa. Ditambah lagi mama juga terus memerintah ku. Ya sudah lah, nikmati hasil jerih payah ku itu." ucap Lidya sambil berjalan meninggalkan meja makan.
"Maaf kan Lidya ya, Bi. Dia emang dari dulu tak pernah ikut masuk dapur, apa yang ia ingin makan langsung tersedia, tanpa dia harus bercapek-capek didapur." Ucap Linda membela Lidya.
"Gimana kalau kamu mencari asisten rumah tangga aja, bi? Biar mama dan Linda tak keteter untuk memasak dan membersihkan rumah," cerocos Linda dengan suara lembut pada Bianca.
Namun wajah palsu yang diberikan Linda pada nya sudah terbaca olehnya. Karena ia sangat hafal dengan karakter orang seperti Linda ini.
"Nggak usah dulu, ma. Kita berhemat dulu, jadi biar mama aja yang masak. Sedangkan Lidya yang membersihkan rumah. Seperti menyapu, dan mencuci baju." Sengaja Bianca berkata dengan suara agak di tinggikan agar Lidya yang berjalan meninggalkan Bianca, Damar dan Linda mendengar nya.
Seketika Lidya menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya kearah mereka bertiga yang masih duduk di kursi meja makan.
"Apa yang kamu bilang, mbak? kamu mau menjadikan aku babu dirumah ku sendiri?," tanya Lidya sambil berkacak pinggang. Lidya sangat emosi, saat mendengar ucapan Bianca.
"Seharusnya yang melakukan semua ini adalah kamu mbak. Karena kamu istri mas Damar dan juga menantu di rumah ini." ucap Lidya sambil menunjuk Bianca.
"Pokoknya aku nggak mau kamu jadikan pembantu mu, mbak!!," ucap Lidya sangat emosi dan segera meninggalkan mereka bertiga yang masih tak beranjak dari duduk nya. Lidya masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu dengan sangat kencang sehingga suaranya terdengar cukup keras.
Bianca yang kaget dengan suara pintu yang sangat keras itu, langsung berdiri dan berjalan menuju kamar. Ia tak melanjutkan sarapan nya, karena ia tak berselera dengan masakan yang di masak oleh Lidya.
__ADS_1
"Mar, dari pada Lidya marah seperti itu. Aku rasa kamu harus membujuk istri mu untuk mencari asisten rumah tangga untuk kita disini." Linda berbisik merengek pada Damar saat Bianca sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
Namun Damar tak menjawab nya, Damar diam memikirkan apa yang dikatakan Linda mama nya.
"Kasihanilah adik perempuan mu itu, Mar. Mulai dari ia kecil sampai sekarang dia tak pernah yang namanya masak di dapur. Bukankah kamu sendiri tau dan memanjakan nya?," Linda terus membujuk Damar, Linda sangat tau dengan kelemahan Damar.
"Sabar ya, ma. Biar nanti Damar bicarakan lagi dengan Bianca." Jawab Damar, sambil beranjak dari tempat duduknya.
Damar berjalan menuju kamarnya untuk menyusul Bianca. Bianca terlihat sangat rapi dan menenteng tas branded nya.
"Kamu mau kemana, Bi?," tanya Damar yang terlihat sangat penasaran pada Bianca yang sudah rapi dengan menenteng tas branded ya.
Sedangkan Lidya membuka aplikasi NOVELTOON untuk membaca novel online kesukaan nya.
Ini yang selalu di lakukan Lidya saat ia lagi badmood atau hanya sekedar menghabiskan waktu didalam kamar nya.
Ia sangat suka dengan novel karya mom Ke, yaitu novel online tulisan Sarah.
Namun Lidya tak mengetahui, novel siapa yang ia baca itu. Yang jelas Lidya sangat menikmati novel yang ber tentang masalah rumah tangga itu.
"Keren banget penulis ini," gumam Lidya disela-sela ia membaca hasil karya Sarah.
Setelah ia membaca beberapa bab, karena masih bersambung dan harus menunggu besok untuk bab lanjutan nya, kini Lidya membuka aplikasi Facebook untuk melihat unggahan penulis favorit nya.
Lidya juga aktif di group pembaca novel online di platform NOVELTOON. Ia suka sekali stalking akun facebook milik Sarah.
Tak jarang Lidya juga ikut nimbrung komen di postingan promo novel milik Sarah.
Namun yang membuat Lidya terkejut saat ini, ia membaca suatu postingan kalau salah satu novel yang ia sukai akan di filmkan dilayar lebar.
"Wahh,,, bakal booming ini film. Secara cerita novel ini sangat bagus. Aku yakin author ini sangat berbakat di dunia literasi." ucap Lidya dengan ikut serta komen pada postingan itu.
Bukan hanya Lidya yang sangat suka dengan novel milik Sarah. Karena dari beberapa ribu komentar, semua nya mendukung novel milik Sarah itu untuk di film kan.
"Wah, keren. Akhirnya novel idola ku akan segera di film kan," komentar akun yang bernama langit biru.
"Selamat ya, mom. Sukses selalu untuk kalian berdua. Salam untuk sekecil ya mom," komentar kali ini berasal dari Ida Kusuma.
"Karya mu memang patut untuk mendapatkan itu, kakak." di ikuti komentar dari akun pena senja temaram.
Dan masih banyak lagi, karena tak mungkin Lidya akan membaca beribu komentar yang muncul di beranda yang saat ini sedang heboh dengan berita novel-novel yang akan di filmkan. Dan salah satunya milik Sarah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan pagi ini, Sarah mendapatkan telepon dari Mayang adiknya. Ia memberi kabar kalau hari ini ia sudah pulang ke Indonesia bersama Celvin.
Dan siang ini keluarga Celvin mengundang Sarah selaku kakak nya Mayang untuk makan siang bersama di rumah Celvin.
Sarah yang mendengar kedatangan adiknya itu, terkejut dan sangat bahagia.
__ADS_1
Setelah ia mengunjungi outlet cabang yang berada di mall, Sarah berencana untuk segera untuk pergi ke undangan keluarga Celvin.
Kini jam sudah menunjukkan jam setengah sebelas, Sarah sudah siap untuk pergi kerumah milik Celvin.
Kali ini Sarah berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan ruko nya. Dia pergi sendiri tanpa mengajak Kean. Kean ditinggal dirumah bersama dengan pengasuhnya.
Sebelum berangkat Sarah menghubungi Mayang terlebih dahulu, untuk memberi tahu kalau dia sudah dalam perjalanan.
Sampai depan rumah Celvin yang sangat megah itu, satpam penjaga pintu pun segera membukakan pintu. Seakan sudah tahu dengan kedatangan Sarah.
Dan Sarah segera memasukkan mobilnya ke halaman rumah yang sangat luas. Bisa jadi halaman ini muat untuk lima unit rumah lagi, saking luasnya.
Sarah menghentikan mobilnya, dan memberikan kunci mobilnya kepada satpam yang bertugas memarkirkan mobil.
Saat turun dari mobil, Sarah sudah di sambut oleh beberapa orang. Yang di perkirakan itu adalah para pelayan rumah ini. Karena dilihat dari pakaian yang dipakai semua nya sama.
Sarah pun diajak masuk oleh salah satu perempuan setengah baya, Sarah di tunjukkan jalan menuju ruang yang dimaksud.
Kini didalam ruangan itu, sudah berkumpul Handoko, Celvin dan Mayang adiknya Sarah. Di atas meja makan sudah tersaji banyak menu yang sangat menggoda perut yang sedang bernyanyi keroncongan.
"Silahkan duduk, Sarah." ucap pak Handoko sambil menunjuk kursi yang saat ini kosong didepan nya.
"Terima kasih, pak." jawab Sarah sambil membungkuk kan badannya. Lalu ia duduk di kursi yang sudah ditunjuk oleh pak Handoko.
"Maaf, mungkin undangan ini terlalu mendadak. Sehingga membuat kmu kebingungan dengan maksud ku ini." ucap pak Handoko.
"Sebenarnya tak ada hal yang penting, karena tujuan makan siang ini untuk menjalin silaturahmi pada keluarga Mayang."
"Berhubung ibu bapak kalian saat ini berada dikampung, dan itu sangat jauh karena jarak tempuh yang di perlukan masuk kedalam kampung itu, sekitar kurang lebih tiga jam an. Jadi aku saran kan agar Celvin dan Mayang untuk mengundang mu saja. Dan itu langsung disetujui oleh mereka berdua." lanjut pak Handoko sambil menunjuk Mayang dan Celvin yang duduk bersebelahan.
Lalu sebelum acara makan dimulai, satu pelayan masuk untuk menuang minuman kedalam gelas.
"Kalau begitu lebih baik kita makan dulu, ngobrol nya dilanjutkan nanti setelah kita selesai makan." pak Handoko membuka piring yang tersedia di depan nya. Dan segera menyendokkan nasi kedalam piring nya.
Dan di ikuti oleh Celvin dan Mayang, sedangkan Sarah mengambil nasi paling akhir setelah mereka bertiga selesai mengambil nya.
Kali ini banyak pertanyaan di benak Sarah tentang Bianca. Kenapa ia tak ada di sini untuk mendampingi suaminya.
Di pertengahan makan, tiba-tiba Bianca datang dan berkacak pinggang di tengah pintu masuk yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan.
"Wow, hebat ya perempuan ****** ini. Sudah sangat leluasa keluar masuk dirumah ini," ucap Bianca sambil bertepuk tangan.
Mereka berempat pun kebingungan dengan maksud ucapan Bianca.
"Apa maksud mu?!," tanya pak Handoko dengan tatapan sinis pada Bianca.
"Kenapa kamu percaya dengan ucapan perempuan murahan ini, Pi?," tanya Bianca sambil menunjuk Sarah yang sedang duduk didepan pak Handoko.
"Kamu ini kenapa sih?, datang-datang main tuduh orang saja!! Lebih baik kamu keluar dari sini. Karena aku sudah tak Sudi melihat mu!!," ucapan pak Handoko berhasil membuat Celvin, Mayang dan Sarah terkejut.
__ADS_1