
"Kenapa kamu harus mematuhi ucapan bundamu, Putri? yang jelas-jelas itu salah." Mas Bima terlihat emosi, tapi masih bisa di kendalikan.
"Karena Putri takut WhatsApp Putri di blokir, ayah." jawab Putri dengan wajah memelas menatap wajah mas Bima.
"Lucu ya..." ucapku sambil tersenyum getir.
"Tinggalnya disini, tapi mengikuti peraturan yang di sana. Ibaratnya, tinggal nya di Indonesia tapi mengikuti peraturan pemerintah Amerika. Kira-kira masuk akal nggak?," tanyaku.
Mas Bima hanya diam saja saat mendengar ucapan ku. Bukan aku ingin ikut campur, tapi aku juga punya hak untuk membuat peraturan di rumah ku sendiri.
"Sekarang apa yang kmu mau?," tanya mas Bima pada Putri.
"Sebenarnya Putri ingin sekali tinggal bersama Bunda dan ayah seperti dulu." ucap Putri yang memang seperti tak punya hati berbicara seperti itu di depan ku.
Dan Mas Bima terdiam mendengar jawaban Putri.
"Sekarang segala keputusan ada ditangan mu, mas. Kalau kamu ingin memenuhi semua keinginan Putri selaku anak mu silahkan, mas. Dengan lapang dada aku akan mundur." ucapku.
"Tidak seperti itu, Sarah. Aku sangat mencintaimu, sedangkan bundanya Putri, itu masalalu bagi ku." jawab mas Bima.
"Tapi aku juga sering lihat, kalau Putri sering mengirimkan foto mantan istri mu di wa mu, mas. Dan sama sekali kamu tak keberatan dengan itu." lanjut ku.
"Itu kulakukan karena Putri, karena Putri anak ku dan dia." ucap mas Bima.
"Kalau itu semua kamu lakukan karena Putri. Kamu juga bisa kembali bersama mantan istri mu dengan alasan yang sama." ketus ku.
Jujur kalau menurut ku, tak ada alasan demi anak untuk melakukan apa-apa berdua dengan seorang mantan.
Kalau memang alasan nya demi anak, Kenapa dulu harus berpisah?.
"Sarah... bukan begitu maksudku?!. Bukankah kamu sendiri dulu juga pernah membiarkan Kean bersama Damar selaku ayah kandung nya?,"
Sepertinya mas Bima tidak terima dengan ucapan ku, sehingga ia mencari-cari kesalahan ku.
"Ya beda lah mas!!." jawab ku.
__ADS_1
"Bedanya dimana?," tanya mas Bima.
"Kalau aku tidak pernah berhubungan langsung atau kirim-kirim foto dengan mas Damar. Dan yang membawa Kean untuk bertemu mas Damar, itu bukan mas Damar sendiri tapi ibu nya yang membawa Kean kerumahnya untuk bertemu mas Damar!,"
Kali ini aku benar-benar emosi, karena mas Bima masih tidak terima kalau dia dan Putri disalahkan.
"Biarkan Putri dan bundanya itu berhubungan, karena mereka ibu dan anak. Tapi kamu jangan, mas!! karena kamu mantan suaminya dan sekarang sudah menjadi suamiku!," Tak terasa air mata ini menetes di pipiku. Padahal sudah sekuat jiwa aku menahan nya.
Karena menurut ku, air mata ini kelemahan untuk wanita, apalagi di depan laki-laki.
Karena air mata ini harga diri wanita akan di injak-injak, dan itu yang pernah aku alami dulu sewaktu bersama mas Damar.
Dengan sangat kasar, aku usap air mata itu dengan tangan ku. Agar mas Bima tak melihat nya.
Dan aku berjalan cepat segera masuk kamar, tak ingin emosiku semakin memuncak.
Setelah semua uneg-uneg didalam hati ku keluar, di dadaku terasa lebih longgar.
Lalu mas Bima menyusul ku kedalam kamar, dan memeluk ku dari belakang.
"Kalau kamu masih ingin kembali dengan mantan istri mu, silahkan mas." ucapku berbesar hati, mengingat komentar mantan istri mas Bima dan mbak Veni di Facebook. Saat ini emosi ku sudah mulai stabil. Jadi tak ada nada tinggi saat berbicara.
"Memang seperti nya, mantan istri mu masih mengharapkan mu, mas."
"Mungkin dia lah yang cocok dengan keluarga, mu." kali ini mas Bima tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut nya. Ia terus memeluk ku dengan erat dari belakang.
"Maafkan ku Sarah, maaf." bisik nya.
Aku segera menyeka air mata yang membasahi pipi, dan bangkit dari tempat tidur. Serta melepaskan tangan mas Bima yang memelukku erat.
"Kamu mau kemana, sayang?," tanya mas Bima.
Tanpa menjawab pertanyaan nya, aku masuk kedalam kamar mandi. Ingin sekali mencuci wajah ku, agar mata ini tak terlihat sembab.
"Besok pagi, aku mau menjemput ibu dan bapak ke kampung." pamitku pada mas Bima setelah aku keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Bapak dan ibu mau kesini?," tanya mas Bima dengan posisi tidur diatas kasur.
"Iya, mereka mau tinggal disini." jawabku.
"Disini? bersama kita?," tanya mas Bima dengan wajah kaget, dan ia langsung bangkit dari tidur nya.
"Tidak, mereka tak mau tinggal bersama kita. Mereka tinggal di rumah yang sudah mereka beli dulu." ucapku berbohong. Karena mas Bima tak pernah tau kalau itu adalah rumah ku.
"Huuuufft...," terdengar mas Bima membuat nafas besar dengan wajah lega.
"Melihat ekspresi mas Bima, mungkinkah dia takut kalau bapak dan ibu akan tinggal bersama disini?," gumam ku dalam hati.
"Kalau begitu biar aku yang mengantar mu." ucap mas Bima.
"Terserah kamu, mas." jawabku dengan cuek.
Aku mulai merebahkan tubuh diatas kasur, karena tubuh ini sangat capek. Setelah seharian mempersiapkan kedatangan bapak dan ibu. Serta perdebatan yang membuang banyak tenaga.
Mas Bima pun mengikuti ku, ia kembali memelukku dari belakang. Jujur kali ini aku sangat risih dengan sikap mas Bima ini.
Namun mau menolak pelukannya, aku sudah sangat capek untuk berdebat lagi.
Walau badan terasa sangat capek, tapi mata ini enggan sekali di pejamkan. Tulisan komentar mbak Veni dan mantan istri mas Bima, masih menari-nari di otak ku.
Dan dari belakang ku, terdengar suara dengkuran halus. Saat ku balikkan badan, ternyata mas Bima sudah terlelap dengan mimpinya.
Sedangkan aku, mata ini sangat sulit sekali terpejam. Dengan sangat pelan, aku mengurai tangan mas Bima yang merekat erat di perut ku.
Kini aku bangun dari tidurku, ku ambil handphone ku. Dan ternyata ada handphone mas Bima juga disamping handphone ku. Sekalian aku bawa semua dua handphone itu.
Aku buka lagi, pesan WhatsApp mas Bima. Dan betapa kagetnya aku, ternyata mantan istri mas Bima beberapa kali mengirimkan foto nya ke ke kontak mas Bima.
Walaupun disitu tak ada tanggapan apapun dari mas Bima. Tapi tetap aku sangat kecewa dengan sikap mas Bima, yang membiarkan seperti itu. Tak ada ketegasan dari mas Bima.
Ku tutup handphone mas Bima. Dan kini pikiran dan mata ku ku alihkan pada novel online ku. Mata yang sangat sulit untuk dipejamkan ini, ku ajak bekerja untuk mendapatkan uang.
__ADS_1
Beberapa bab sudah aku dapat dan mata ini sudah tak bisa ditahan rasa kantuk nya.