DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Madu


__ADS_3

"Assalamualaikum, halo Bu Sarah. Bisa kah hari ini ibu mengantarkan dua ratus potong kue." Pak Randy menelpon Sarah.


"Bisa pak. Untuk jam berapa ya, pak?," tanya Sarah melalui sambungan telepon.


"Jam sepuluh, Bu Sarah. Karena acaranya jam sebelas." jawab Randy.


"Baik, pak. Akan kami siapkan," Sarah pun menutup teleponnya setelah ia akhiri dengan salam.


Sarah dan para karyawan nya pun menyiapkan dua ratus potong kue.


"Alhamdulillah kita bisa kerjasama dengan cafe ternama di kota ini," ucap Sarah pada karyawan nya.


"Iya, Bu. Cafe pak Randy memang keren. Uda cafe nya laris, orangnya juga ganteng Bu. Body nya atletis banget ya Bu. Suami impian ku," ucap Reni tersenyum sambil menyiapkan kue yang akan di kirim ke cafe milik Randy.


"Kalau sama kamu, ya nggak pantas Ren. Pantas nya sama Bu Sarah." Sahut mbak Indah yang juga lagi mengemasi kue kue itu.


"Emang seperti apa sih mbk, orangnya?," tanya Mita yang memang masih belum pernah ketemu sama Randy.


"Emang sih, kalau sama aku jauh mbk Indah. Tapi kalau sama Bu Sarah, cocok banget." Ledek Reni sambil melihat kearah Sarah.


"Ih, apaan sih kalian ini?! ingat ya, aku ini uda punya suami dan anak. Ren ajak Mita kalau anter kue nya ke cafe nya pak Randy. Biar Mita tau sama orang yang nama nya pak Randy," ucap Sarah sambil tersenyum.


Kue-kue yang sudah selesai di packing, akhirnya jam sepulu dikirim ke cafe pak Randy.


Reni dan Mita yang mengirim nya, diantar mobil pick up milik paman nya Reni.


Seminggu di tinggal Sarah pergi dari rumah, kini di rumah Damar sudah seperti rumah kosong yang tak berpenghuni.


Debu dimana-mana, cucian piring menumpuk, baju kotor pun sudah seperti gunung Semeru saking tingginya.


Damar dan Lidya semakin bingung mau pergi ke kantor, karena semua baju di lemari sudah habis.


Pakaian kotor di belakang tak ada yang mencuci nya, sedang kan Linda hanya tidur, minta uang buat makan dan keluar jalan-jalan.


"Mama, mama.......," Damar mengetuk pintu kamar Linda yang terlihat masih tidur.


"Ada apa sih, mar? kamu ini ganggu mama tidur aja!," Linda membuka pintu sambil menguap.


"Ma, Damar mau berangkat kerja tapi tak ada baju sama sekali di lemari?," ucap Damar.


"Lah terus hubungannya sama mama itu apa? Kamu yang mau kerja kok kamu yang gangguin mama. Harusnya kalau kamu mau kerja, ya kerja aja!," ucap Linda dengan menggaruk kepalanya lalu berlalu ke meja makan.


"Maksud Damar, mama nyuci dong. Biar baju kotor di ruang Laundry itu bersih." ucap Damar.


"Kamu nyuruh mama nyuci? Kamu itu ya sukanya bercanda. Candaan mu nggak lucu, Mar." ucap Linda sedikit kesal.


"Trus siapa lagi yang mau nyuci pakaian kotor itu, ma?," Damar berbicara pelan namun dengan sedikit kesal.


"Ya itu urusan mu, Mar. Lidya aja nggak bingung kok, kamu kok seperti orang kebakaran jenggot," ketus Linda.


"Ma... mama..." Lidya keluar dari kamarnya.


"Ada apa Lid?," tanya Linda.


"Sepatu ku yang warna hitam udah di lapkan ma?, Lidya Uda kesiangan nih," ucap Lidya terburu-buru sambil melihat arloji di pergelangan tangan nya.


"Ya mama nggak tau, Lid. kok kamu nanya nya ke mama?!," ucap Linda kesal karena semua anak nya seakan-akan memojokkan dirinya.


"Tapi kan ma, harusnya mama menyiapkan semua kebutuhan Lidya," ucap Lidya yang sedikit kurang ajar pada mama nya.


"Trus kamu pikir, mama ini pembantu mu? seenak nya kamu suruh-suruh. Memang aku orang bodoh seperti Sarah yang mau di perlakukan seperti pembantu?!," ketus Linda sambil berlalu ke kamar.


Damat dan Lidya bengong saat melihat ekspresi mama nya seperti itu.


"Sekarang gini aja Lidya. Kamu yang mengurus semua keperluan rumah. Seperti nyapu, masak dan mencuci." ucap Damar.


"Loh kok jadi Lidya yang disuruh-suruh?, emang Lidya pembantu apa?!," ketus Lidya.


"Kalau bukan kamu terus siapa lagi, Lid? kamu kan anak cewek, jadi ngerti donk dengan semua urusan rumah buktinya aja Sarah bisa?," ucap Damar membandingkan Lidya dengan Sarah .


"Yee... itu kan mbak Sarah . Mbak Sarah nya aja yang bodoh, mau-maunya di jadiin babu!!!!!," Lidya berjalan keluar membawa sepatu yang masih kotor.


"Oke, gini aja biar mas Damar cari pembantu saja," Damar memutuskan untuk mencari Asisten Rumah Tangga.

__ADS_1


"Nah, itu baru ide bagus." Jawab Lidya sambil menoleh kebelakang kearah Damar yang sedang berdiri disamping meja makan.


"Kalau itu aku juga setuju," sahut Linda yang terlihat keluar dari kamarnya dengan dandanan yang cantik dan elegan.


"ma, mama mau kemana?," tanya Damar heran melihat mama nya sudah rapi sepagi ini.


"Mama mau keluar, mau refreshing. Setres di rumah, melihat rumah seperti kandang ayam aja," ucap Linda melenggang keluar rumah sambil menenteng tas nya.


"oh ya, Mar. Mama minta uang, uang yang kamu kasih kemarin sudah habis," Linda berbalik badan kearah Damar.


"Baru kemarin mama minta uang, sekarang mama minta lagi?!," ucap Damar sedikit emosi.


"Kamu itu jangan pernah pelit sama orang tua, ingat ya doa orang tua itu keramat." Andalan Linda untuk menaklukkan hati Damar.


Akhirnya Damar memberi uang pecahan seratus ribuan dua lembar.


"Hah? cuma dua ratus ribu?, kurang lah Mar." Linda mengambil dompet Damar yang masih di tangan dan diambil semua uang pecahan seratus ribu. Sekitar ada sepuluh lembar.


"Nah kalau segini cukup, ya walaupun cuma sehari," ucap Linda sambil berjalan keluar.


Lidya yang melihat tingkah laku mama nya itu hanya terbengong keheranan.


Akhirnya Damar dan Lidya berangkat ke kantor setelah mama nya keluar rumah membawa mobil baru nya itu.


Damar mulia bingung uang yang hasil menggelapkan uang kantor sudah mulai menipis.


"Uang darimana lagi ini, untuk bayar asisten rumah tangga?," gerutu Damar di dalam ruangan nya.


Terpikir untuk menggelapkan uang kantor lagi, tapi Damar takut. Karena sebulan ini ia sudah menggelapkan uang dengan jumlah yang lumayan fantastis. Namun uang itu habis untuk berfoya-foya.


Lidya datang ke ruangan Damar untuk memberitahu kalau ia sudah dapat asisten rumah tangga.


Daripada rumah seperti kapal pecah dan setiap hari tak ada makanan. Akhirnya Damar menyetujui pilihan Lidya.


Sekarang sudah waktunya pulang, Damar janji ketemu dengan Bianca. Lidya pun pulang sendiri naik taksi online dan mobilnya di bawa Damar untuk menjemput Bianca di cafe Randy.


Setelah sampai cafe, Damar melihat Bianca duduk sendirian ditemani satu gelas lemon tea.


"Sudah lama sayang menunggu nya?," tanya Damar kepada Bianca sambil berdiri disamping Bianca dan mengecup keningnya.


"Kamu mau pesan apa, Mar?," tanya Bianca.


"Iya nih lagi lapar, aku pesan ini aja biar perut kenyang." Ucap Damar sambil menunjuk salah satu menu yang tinggi karbohidrat nya.


Bianca pun memanggil waiters dan memesan menu yan dipesan oleh Damar.


"Aku kangen banget sama kamu, Bi." Ucap Damar sambil mencium punggung tangan Bianca.


"Aku juga, Mar." Jawab Bianca dengan tersenyum pada Damar.


Tak lama pesanan menu yang Damar pesan datang, dan Damar langsung menyantap nya dengan sangat lahap. Tak usah menunggu lama, makanan itu habis.


Bianca hanya tersenyum melihat tingkah laku kekasih gelapnya itu. Seperti orang tak makan selama seminggu.


"Ini tadi kamu Uda aku pesan kan bolu cokelat kesukaan mu," Bianca menyodorkan beberapa potong bolu coklat yang ada di piring yang berwarna putih berkombinasi warna emas.


Damar pun langsung mencomot satu potong kue itu dan memakan nya. Dengan waktu yang singkat Damar sudah menghabiskan beberapa potong kue.


"Kue ini enak banget aku suka," ucap Damar sambil mulutnya mengunyah kue itu.


Bianca hanya tersenyum melihat tingkah konyol Damar.


"Persis sekali dengan buatan Isti ku Sarah," secara tidak sadar Damar mengagumi Sarah istrinya didepan Bianca selingkuhan nya.


Seketika ekspresi Bianca berubah, yang awalnya ia sangat senang melihat tingkah laku Damar. Kini wajah nya terlihat badmood.


Dan itu langsung disadari oleh Damar, lalu Damar menutup mulutnya.


"Mmmmm... bukan Maksud ku.... apa-apa ya sayang. Sarah tak ada apa-apa nya dibanding kamu," Damar bingung untuk mencari alasan, karena ia takut perempuan nya marah.


Bianca hanya diam saja tanpa sepatah kata pun. Lalu Damar meraih tangan Bianca dan mencium nya.


Karena suasana sudah tak baik lagi, Damar memutuskan untuk mengantarkan Bianca pulang.

__ADS_1


Namun ditolak oleh Bianca, dan akhirnya Bianca ikut kerumah Damar.


Setelah sampai dirumah, seperti biasa Damar memarkir mobilnya. Tak ada mobil satupun di depan rumah nya.


Dan benar saja tebakan Damar, kalau di rumah sekarang sedang tak ada orang sama sekali.


Bianca duduk di sofa ruang tamu, sedang kan Damar masuk kamar untuk ganti baju.


Lalu Bianca mengikuti masuk kedalam kamar Damar. Dan ia langsung memeluk Damar dari belakang, saat Damar sedang telanjang dada .


"Aku pingin, Mar." Bisik Bianca di belakang telinga Damar.


Membuat darah Damar berdesir dan bulu halus berdiri.


Lalu Damar membalikkan badannya kearah Bianca , dan langsung memeluk nya dengan erat.


Dan bibir mereka saling menempel dan bertukar saliva.


Tangan Damar pun mulai menggerayangi sela-sela sensitif milik Bianca. Bianca mulai menggelinjang ke enakan. ******* halus dari Bianca pun terdengar sempurna.


Damar membuka kancing baju Bianca satu persatu, lalu ia copot dan hanya tertinggal penutup dua gundukan sintal yang berwarna navi itu.


Begitu dengan Bianca yang tak mau kalah dengan Damar. Ia mulai menciumi dan menjilati setiap inci kulit Damar. Mulai dar leher sampai terus kebawah dan berakhir di tongkat sakti warisan leluhur nya.


Dengan tegak tongkat itu berdiri, dan Bianca mensejajarkan kepala dengan tongkat itu. Lalu ia mulai mengulum dan menghisap tongkat sakti mandraguna itu.


Damar di buat tak berkutik oleh Bianca , Damar mulai memejamkan matanya menikmati permainan lidah Bianca. Dan suara lenguhan Damar pun terdengar, betapa nikmatnya permainan yang dimainkan oleh Bianca.


Damar tak mau enak sendiri, gini giliran Bianca yang akan ia beri kenikmatan.


Damar mulai mengangkat tubuh Bianca untuk berdiri, dan mendorong nya ke atas ranjang. Dan ia mensejajarkan kepalanya di depan kedua gundukan besar yang putih berkombinasi pink itu.


Lalu Damar melahap dengan ganasnya.Dan yang satu nya tak terlewat oleh Damar. Ia pun meremasnya dengan tangan kiri nya.


Tubuh Bianca mulai memanas, dengan sekuat tenaga Bianca membalikkan tubuh Damar. Dan sekarang posisi sudah berubah, kini Bianca udah di atas tubuh Damar. Dan Bianca memimpin pergulatan ini.


Dan terjadilah pergulatan diatas ranjang Damar. Ranjang yang biasa ia tiduri dengan Sarah istrinya.


Setelah selesai mereka berdua pun langsung terlelap di bawah selimut yang sama dengan tubuh yang tak memakai apa-apa.


Saking capeknya setelah bergulat, sampai mereka tak mendengar ada seseorang datang dan membuka pintu kamar nya.


"Astaghfirullah, mas Damar??!!!," teriak Sarah saat mendapati suaminya satu selimut dengan perempuan lain di dalam kamarnya.


Lalu Damar yang saat itu sedang tertidur sambil memeluk Bianca langsung kaget dan terbangun.


"Sarah!!!," Damar kaget dan melotot saat ia melihat Sarah sudah diambang pintu.


Lalu Bianca pun kebingungan mencari baju untuk menutupi tubuhnya yang polos itu.


Bianca mulai menarik selimut yang dipakai Damar untuk menutupi tubuhnya.


Dan Damar langsung mengambil bantal untuk menutupi pusaka yang sudah layu itu.


"Tega kamu ya, mas. Melakukan zina dikamar kita?!!!," Sarah menangis seperti ia sedang mimpi melihat pemandangan ini.


"Sarah!!!, ngapain kamu disini?!," ucap Damar dengan marah. Tak sedikitpun ada rasa bersalah pada dirinya.


Damar pun mulai mengambil baju nya dan memakai nya.


"Dasar kamu ini perempuan tak punya sopan santun!!!, masuk rumah harus nya itu ketuk pintu dulu!!!!," cerca Damar pada Sarah serta menyeret lengan Sarah dengan kasar.


"Mau apa kamu kesini? bukannya kamu sudah aku usir?!," bentak Damar yang membawa Sarah keluar dari kamarnya.


Bianca mulai memunguti baju nya dan segera ia memakai nya. Dan ia langsung keluar untuk melihat Sarah dan Damar yang sedang bertengkar.


"Aku kesini hanya mau mengambil barang-barang Kean yang masih tertinggal," ucap Sarah.


"Alaaah itu cuma alasan mu saja, aku tau kok kalau kamu masih ingin kembali dengan ku. Kalau kamu mau kembali pada ku aku akan menerima tapi ada syaratnya kamu harus mau menerima Bianca jadi madu mu," pikiran picik Damar pun keluar. Ia ingin menjadi kan Sarah seorang istri yang mau ia suruh-suruh dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sedangkan Bianca akan ia jadi kan istri untuk dibawa keluar.


"Kamu sudah gila, mas?! kamu pikir aku mau kamu madu?! mimpi kamu!!!," ucap Sarah penuh penekanan.


"Kamu jangan munafik Sarah. Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku? Bisa jadi gembel kamu hidup disini tanpa aku. Mau tidur dimana kamu? kolong jembatan? atau kamu mau pulang ke kampung mu dan mengadukan semua nya ke ibu mu? aku sumpah i kalau ibu mu tau cerita tentang mu dia bakal jantungan?!," hina Damar dengan senyuman sinis nya.

__ADS_1


"Kejam kamu, mas. Kamu sumpahi orang tua ku!!!!," Sarah lari keluar dan pergi dari rumah itu.


__ADS_2