DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Ancaman


__ADS_3

"Cepat bantu aku mengangkat tubuh Bima!!," teriak Laras sambil memangku kepala Bima yang saat ini Bima masih terkapar tak berdaya.


Bukannya langsung berlari menuju Bima dan Laras, Teguh hanya melihat nya saja.


"Teguh!!!!," panggil Laras dengan nada suara yang sangat tinggi.


"Kenapa kamu diam saja?!!," tanya Laras yang sangat kesal pada Teguh suami Ambar itu. Karena dia hanya diam saja saat tau Bima sedang terkapar tak berdaya seperti itu.


Namun tak ada pergerakan pada diri Teguh, malah dia berpura-pura tidak mendengar panggilan Laras. Dengan mata nya tak menatap pada Laras dan Bima sama sekali.


Teguh masih sakit hati dengan perlakuan Laras, mertua nya itu pada nya tadi. Bisa-bisanya Laras berkata seperti itu pada Ambar. Jadi menurut Teguh, hal yang sama untuk saat ini. Teguh tak mau menolong Bima, karena dia hanya orang lain di hidupnya.


"Teguh!!!, cepat bantu aku angkat Bima!!!," Laras terus berteriak memanggil nama Teguh dengan emosi yang sangat tinggi.


"Mas, tolonglah Bima." rengek Ambar pada Teguh.


Teguh membuang kasar nafas nya, lalu dengan berat berjalan menuju Laras dan Bima yang sedang terkapar di bahu jalan.


Lalu Teguh berjongkok di sebelah Laras. Namun bukan untuk menolong mengangkat Bima. Teguh mendekatkan wajahnya pada Laras. Sambil berbisik, " Maaf, dia bukan siapa-siapa ku."


Dan teguh pun kembali berdiri, kali ini ia berjalan menuju Sarah yang masih kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Kamu tenang saja, Sarah. Ini semua bukan salah mu, dia pantas mendapatkan itu." ucap Teguh dengan bibir yang tersenyum pada Sarah.


"Kurang ajar kamu Teguh!!!, kamu memang bukan menantu yang baik?!?," teriak Laras yang sakit hati dengan usapan Teguh. Laras tak terima dengan ucapan Teguh.


"Lihat kelakuan suami kamu, Mbar!!, Dia sangat kurang ajar padaku!!," kali ini Ambar yang menjadi pelampiasan kemarahan Laras.


Ambar pun berlari mendekati Teguh, yang kali ini masih berdiri di samping Sarah.


"Mas, ngapain kamu diam saja?, ayo bantu ibu angkat tubuh Bima." rengek Ambar.


Selain ia tak tega melihat tubuh Bima yang babak belur itu, Ambar juga takut kalau Laras nanti akan mengamuk dan memarahi nya karena hal ini.


"Aku harus ngapain, Mbar?, kamu tau sendiri kan? Kalau aku bukan siapa-siapa di keluarga mu ini?!," ucap Teguh memberi alasan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Laras sebelum nya.


"Mas, kamu kok tega gitu sih?!, dia itu adik dan ibu ku mas, dengan begitu dia juga adik ipar mu dan mertua mu juga." Ambar masih terus membujuk Teguh. Namun tetap saja, Teguh berkeras hati. Sesuai dengan namanya dia masih teguh dengan pendirian nya. Teguh masih sakit hati dengan apa yang telah di lakukan oleh Laras padanya tadi.


Sedangkan Sarah hanya jadi penonton yang berdiri di samping Bara dan paman Udin.

__ADS_1


"Paman, bantu mereka." bisik Sarah pada paman Udin.


"Baik, Bu." jawab paman udin sambil menganggukkan kepala nya.


Paman Udin pun bergegas mendekati Laras dan Bima yang terduduk di aspal jalan.


"Permisi, Bu. Biar saya bopong," ucap paman Udin pada Laras.


"Kenapa baru sekarang kamu bertindak!!!, harusnya sudah dari tadi kamu menolong ku!!," bukan kata terima kasih yang di ucapkan, namun bentakan dan cacian lah yang keluar dari mulut Laras.


Pak Udin tak menjawab dan tak menggubris apa yang telah di ucapkan oleh Laras. Karena tujuan nya hanya sekedar membantu saja.


Kini Bima tengah di bopong oleh paman Udin menuju rumahnya. Dan di ikuti oleh Laras, Ambar dan Sarah.


Ada perasaan khawatir pada diri Sarah, saat melihat Bima babak belur seperti itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti masuk kedalam rumah nya. Untuk memastikan kalau Bima baik-baik saja.


Lalu karena tubuh Bima lebih besar dari tubuh paman Udin, setelah sampai di sofa tamu. Pak Udin langsung menjatuhkan tubuh Bima diatas sofa, karena membopong tubuh Bima membuat tubuh pak Udin menjadi pegal.


"Auw....," rintih Bima sepertinya kesakitan.


"Kamu ini gimana, sih?!!, harusnya pelan-pelan dong!!!, Lihat anak ku kesakitan!!," bentak Laras pada paman Udin.


"Kalau terjadi apa-apa dengan anak ku karena ulah mu ini. Aku akan melaporkan mu ke polisi!!," ancam Laras.


Paman Udin langsung terlihat ketakutan, wajahnya pun langsung menunduk.


"Maafkan saya, Bu." ucap pak Udin dengan suara lirih.


"Tenang paman, paman Udin tak akan masuk penjara." bisik Sarah menenangkan paman Udin yang terlihat wajahnya sedang gusar karena omongan dari mantan mertua nya itu.


Paman Udin pun menganggukkan kepala nya. Hati nya kini agak lebih tenang, setelah mendengar ucapan dari Sarah.


"Yuk kita pulang, paman." ajak Sarah pada paman Udin, sambil melangkah membalikkan badan untuk meninggalkan Bima.


"Tunggu!!!, mau kemana kamu?!," tanya Laras yang seketika berdiri saat tau Sarah akan pergi meninggalkan rumah nya.


Sarah pun menghentikan langkah, saat suara Laras terdengar di telinga nya. Lalu ia menoleh ke belakang kearah Laras.


"Aku mau pulang, Bu." jawab nya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Enak saja kamu mau pulang!!, kamu mau lari dari tanggung jawab!!!," ucap Laras sambil berkacak pinggang dan mata melotot.


"Tanggung jawab?," tanya Sarah dengan menautkan kedua alis nya karena ia tak mengerti dengan apa yang telah di katakan oleh Laras.


"Kamu jangan pura-pura b*go Sarah!!!," Laras berteriak makin kencang.


"Kamu yang sudah membuat Bima seperti ini!!, jadi kamu harus bertanggung jawab membawa Bima kerumah sakit!!," bentak Laras pada Sarah.


"Tapi, itu semua karena ulah mas Bima sendiri. Dan itu juga bukan atas kemauan ku." jawab Sarah, yang tak mau di salah kan.


"Lantas, kenapa aku yang harus bertanggung jawab?!," ucap Sarah dengan tegas.


"Jadi gini caramu? Mau berlari dari tanggung jawab?," ucap Laras dengan senyum sinis sambil melirik kearah Ambar yang sedang memegang handphone dengan mata kamera tertuju pada Sarah.


"Apa maksud ibu?, apa saat ini mbak Ambar sedang merekam aku?!," tanya Sarah dengan sangat tegas, namun Sarah harus tetap hati-hati karena ini menyangkut nama baiknya. Sarah sangat tahu kemana arah tujuan mereka berdua.


"Ha ha ha, walau kamu dari kampung, ternyata kamu cukup cerdas, Sarah." ucap Laras dengan tersenyum mengejek.


"Sekarang bagaimana? Apa kamu mau video ini tersebar ke semua sosial media?, dan kamu tau kan apa yang akan terjadi kalau video ini tersebar?," tanya Laras.


"Mudah sekali membuat nama baik mu hancur, Sarah. Cukup dengan di bumbui kata-kata yang sedikit sedih, pasti semua netizen akan menyerangmu." lanjut Laras, berkata dengan pelan namun penuh ancaman.


"Jadi disini ibu mengancam ku?!," tanya Sarah dengan menatap tajam pada Laras.


"Kamu kira aku dan Ambar seperti ini untuk apa?, ya jelas aku mengancammu. Sekarang katakan kamu mau membiayai Bima dirumah sakit atau video kamu akan aku unggah ke sosial media?," tanya Laras memberi pilihan pada Sarah.


"Oke, aku akan membawa mas Bima ke rumah sakit." ucap Sarah menyetujui permintaan Laras untuk membiayai Bima untuk perawatan.


Kini, mereka semua menuju kerumah sakit. Dengan Sarah menaiki mobilnya sendiri bersama paman Udin. Sedangkan Bima berangkat dengan naik mobilnya sendiri bersama Laras, Ambar dan Teguh.


Bara yang khawatir dengan Sarah, setelah melihat kejadian di depan matanya itu pun akhirnya ikut juga kerumah sakit.


Bara takut kalau nanti Sarah akan di keroyok oleh keluarga Bima.


"Pak Bara, kamu pulang aja. Ngapain ikut?," tanya Sarah.


"Biar aku menemani mu Bu Sarah. Kasian kamu sendirian." jawab Bara yang jalan bersama dengan Sarah menuju parkiran mobilnya yang berada di sebrang jalan.


"Saya tak sendirian, pak Bara.Aku sudah bersama paman Udin." jawab Sarah dengan tatapan matanya beralih ke paman Udin.

__ADS_1


"Lagian, aku juga ada perlu dengan Bima dan keluarga nya. Jadi ini lah saat nya aku harus menyelesaikan urusan ku dengan Bima," jawab Bara dengan wajah serius.


__ADS_2