DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Dihantui POV Linda


__ADS_3

Saat dokter yang menangani Lidya keluar, kami berdua berdiri tapi tidak untuk Bianca. Bianca hanya duduk dan menatap kami.


Dokter bilang, kalau sekarang Lidya sudah mendapatkan transfusi darah. Dan sekarang ia sudah melewati masa kritis nya. Namun dokter itu juga bilang kalau ada luka sobekan di rahim Lidya. Sehingga ia saat ini mengeluarkan darah yang sangat banyak.


Dan Lidya harus secepatnya dioperasi setelah ia sudah sadarkan diri.


Kaki yang menopang tubuh ini terasa sangat lemas, tenaga yang kuat terasa seperti hilang saat mendengar apa yang dijelaskan oleh dokter yang menangani Lidya itu.


Damar juga terlihat menatap ku begitu kecewa, mungkin ia saat ini mengira aku lah dalang dari semuanya.


Sebelum pergi dokter itu bilang, saat ini Lidya akan di pindah keruang perawatan, setelah sadarkan diri dan keadaan nya sudah memilih. Akan segera dilaksanakan operasi rahim. Kalau operasi itu gagal mau tak mau, rahim Lidya harus diangkat.


Aku langsung menangis namun tak keluar air mata, seperti nya air mata ku sudah habis.


Tak lama kemudian keluar lah suster mendorong brankar yang diatasnya terdapat Lidya sedang tidur.


Dari wajahnya ia sudah tak pucat seperti mayat lagi. Aku, Damar dan Bianca mengikuti suster itu menuju ruang perawatan.


Saat ini Lidya sudah di ruang perawatan, dan jujur hati iku sangat lega melihat putri ku sudah bisa melewati masa kritisnya.


Namun hati ini masih khawatir dengan tindakan yang akan di lakukan setelah ia sadarkan diri.


Ku lihat Damar, ia tak bicara sepatah kata pun. Ia hanya menatap Lidya dengan lekat. Seperti orang yang akan di tinggalkan untuk selamanya. Aku pun memegang tangan Damar.


"Kamu yang sabar ya, Mar. Pasti Lidya akan kembali sembuh." ucapku pada Damar yang terlihat sangat sedih.


"Mama bisa bilang begitu? Lidya kan anak mama juga, tapi kenapa mama yang terlihat lebih tenang?,"


Pertanyaan Damar membuat ku menjadi salah tingkah. Memang benar apa yang dikatakan Damar.


Aku lebih tenang menghadapi semua nya, dan dengan mudah nya menyuruh Lidya untuk menggugurkan kandungan nya pada nenek Peki.


Padahal waktu itu, Lidya sudah menangis meminta untuk di batalkan saja rencana itu. Namun aku terus membujuk nya. Karena selain uang kita sudah habis, lagi perjalanan yang kita tempuh saat itu buka lah jarak yang dekat.


Tak terasa air mata ini mengalir dengan sendirinya, lalu secepat nya ku menyekanya karena tak ingin Damar dan Bianca melihat nya.


Beberapa jam menunggu Lidya, Bianca pun pamit untuk pulang. Karena ia saat ini ada janji dengan kliennya.


Akhirnya disini hanya kita bertiga, aku, Damar dan Lidya. Ku lihat ketulusan Damar menyayangi Lidya. Dengan telaten ia mengusap keringat Lidya yang keluar di dahinya.


"Ma, Damar sudah tak punya uang. Apa yang dipakai untuk biaya rumah sakit, Lidya?," ucap Damar dengan memegang kepala nya.


"Masa sih Mar, kamu sudah tidak ada uang sama sekali?," tanya ku balik padanya, karena aku juga tak yakin kalau memang ia tak punya uang sekarang.


"Bukankah mama tau, kalau semua aset ku sudah disita oleh perusahaan?" jelasnya.


"Kamu sih, main nya kurang rapi. Seandainya kamu pintar dalam hal ini, mungkin kita tak akan bernasib seperti ini!!," ketus Ku.


Memang ini adalah salah Damar, karena ia bermain bodoh. Seperti orang tak berpengalaman aja.


Seharusnya ia bisa menutupi aksinya, agar ia tak ketahuan oleh team audit sialan itu.


"Coba kamu minta Bianca saja?!, bukan kah abis ini kamu akan menikahinya?," saran ku pada Damar.


Lalu terlihat ia mengeluarkan handphone nya, dan ia juga keluar dari ruangan ini. Mungkin pembicaraan nya takut aku dengarkan.


Namun rasa penasaran ku tak bisa dibendung, aku pun mengikuti nya. Aku berada didalam kamar samping jendela, dan Damar di luar kamar samping jendela.


Jadi sangat jelas apa yang Damar bicarakan. Tapi dari nada bicaranya, sepertinya ia sedang berdebat dengan Bianca.


Mungkin saja Bianca tak mau memberikan uang yang Damar minta. Kenapa sikap Bianca berubah seperti itu?


Bukankah dulu ia sangat royal?


Ada apa ini?


Apa mungkin karena Bianca masih belum dinikahi oleh Damar sampai saat ini?


Aku harus bisa membuat Damar dan Bianca segera menikah, agar Damar bisa menjadi pemilik perusahaan papa nya Bianca.


Aku lihat dari tatapan Damar pada Sarah, sepertinya ia masih ada rasa di hatinya.


Aku harus bisa menekan Sarah agar tak pernah mendekati anak ku. Bisa gagal semua tujuan ku!!


Namun sepertinya saat ini Sarah hidup nya sudah mulai maju.


Buktinya ia sudah punya mobil baru, tapi sejujurnya aku tak yakin sih, kalau mobil itu milik Sarah.


Kalau pun itu memang milik Sarah, itu tak sebanding dengan harta yang dimiliki oleh Bianca.


Mobilnya saja sudah jauh berbeda, dan Bianca juga punya perusahaan. Sedangkan Sarah? mungkin ia bisa membeli mobil rongsok itu hasil dari jual diri.

__ADS_1


Saat aku lagi asik melamun memikirkan rencana yang harus aku tempuh, tiba-tiba Damar masuk sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana nya.


"Kok mama ada disini?," aku kelimpungan karena takut ketahuan kalau aku sedang menguping pembicaraan nya dengan Bianca.


"Tadi ada kecoa, Mar." ucapku memberi alasan dengan pura-pura mencari keberadaan kecoa. Agar Damar percaya dengan alasan ku.


"Bagaimana, Mar?," tanya ku tentang saran ku tadi padanya.


Damar menggelengkan kepala dengan wajah kecewa.


"Bianca tidak bisa memberikan aku pinjaman uang, ma." ucap Damar dengan mengusap telapak tangan diwajahnya.


"Aku tau kenapa ia bersikap seperti itu. Cobalah segera nikahi dia. Perempuan itu butuh kepastian, Mar. Mungkin Bianca seperti itu karena ia kecewa padamu. Karena Sampai saat ini kamu belum menikahinya." Ucapku sangat manis, agar Damar mau melakukan apa yang aku pinta.


Damar rupanya menyetujui ide ku, terlihat saat ini sedang mengangguk-anggukan kepalanya.


Mungkin ia sedang mencerna kata-kata ku. Semoga saja ia secepatnya menikahi Bianca.


Tiba-tiba jari tangan kanan Lidya bergerak.


"Lidya?," aku mendekat di tubuh Lidya yang saat ini masih terlihat lemas.


Damar yang kaget dengan suaraku, ia langsung memandang kearah Lidya.


Ia pun juga segera lari kearah Lidya yang saat ini terbaring dia tas kasur pasien ini


Aku langsung memegang tangan Lidya, aku memberikan ucapan positif untuk nya agar ia segera sadar.


Terlihat ia meneteskan air matanya, walau mata itu masih terpejam.


Damar juga terus membisikkan kata-kata semangat untuk Lidya.


Dan beberapa menit kemudian, Lidya membuka matanya perlahan.


Ia mulai menatap ku dan bergantian menatap Damar.


"Ma......," ucap Lidya dengan suara sangat lemah.


"Sstttttttt," jangan bicara dulu, istirahat saja dulu." ucap Damar sambil mengelus rambut adiknya itu.


"Ma.... nenek itu..." ucap Lidya. Ada apa ini? kenapa Lidya menyebut nenek itu. Nenek siapa yang ia maksud?


Lidya sudah ditinggal nenek nya mulai ia masih belum dilahirkan, entah dimana nenek Lidya saat ini berada.


Karena ia harus menyelamatkan diri dari kepungan warga. Karena warga mengira ibu ku mempunyai ilmu hitam, padahal ia hanya seorang dukun beranak waktu itu.


Aku jadi kepikiran nasib ibu ku saat ini, masih hidup kah dia saat ini?


"Nenek siapa yang kamu maksud, Lid?," tanya ku.


"Nenek itu memintaku untuk datang kembali ke gubuk jelek nya, ma." Lidya menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti orang yang tak menyetujui ajakan seseorang.


"Istighfar, Lid. Istighfar....," ucap Damar sambil terus memegang tangan Lidya.


"Tapi nenek itu, seperti melotot pada ku dan meminta uang, ma,"


Deg!


Jantung ku seperti berhenti berdetak saat Lidya bilang kalau nenek itu meminta uang.


Apakah nenek yang dimaksud Lidya itu nenek Peki?


Ah... kenapa dengan dia.


Masak iya?


Ah mana mungkin? Ia juga tak akan tau aku ada disini, secara kan jarak desa yang ia tinggal sangat jauh dari kota ini.


Mungkin ini hanya halusinasi Lidya.


"Sabar ya, sayang. Sekarang kamu istirahat saja. Biar mama panggil perawat untuk memeriksa mu lagi." Aku mengecup kening Lidya, dan segera beranjak pergi ke tempat para perawat berjaga.


Lalu aku pergi keruangan perawat, dan memberitahu kalau Lidya sudah sadarkan diri.


Seorang suster langsung bergegas ke kamar tempat Lidya dirawat. Dan ia memeriksa keadaan Lidya.


"Ditunggu sampai besok, kalau keadaan pasien stabil. Maka besok akan dilakukan operasi di rahimnya," ucap suster itu.


Aku hanya menganggukkan kepala, yang tandanya aku mengerti dengan apa yang di katakan oleh suster muda ini.


Setelah suster itu pergi, terlihat Lidya terlelap kembali. Aku dan Damar bernafas lega, karena tak ada drama menjerit-jerit karena kesakitan.

__ADS_1


Kalau Lidya bisa tidur seperti ini, akupun juga bisa istirahat. Karena saat datang tadi, aku belum beristirahat sama sekali.


Tubuh terasa capek, setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.


Aku mengambil posisi untuk tidur diatas sofa. Sedangkan Damar berpamitan untuk keluar, pergi mencari warung kopi. Karena dirasa keadaan Lidya sudah cukup baik.


Berapa menit aku memejamkan mata, dan kira-kira Damar saat ini sudah berada di jalan depan rumah sakit ini.


Tiba-tiba Lidya teriak histeris, dan ia juga melotot seperti orang yang sedang ketakutan.


Aku pun kaget saat mendengar teriakkan Lidya. Dan segera berlari mendekati nya.


"Ada apa, Lid?," ini sudah hampir pagi. Kamu istirahat lagi ya?," bujuk ku.


"Nenek... nenek itu... nenek itu ma....," Lidya memejamkan mata nya setelah menunjuk-nunjuk kearah langit-langit kamar rumah sakit.


Aku mencoba untuk melihat keatas, tapi tak ada apapun disana.


Aku terus peluk Lidya, sampai ia tenang dan tertidur lagi.


Setelah ia tertidur, aku baringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Lalu aku tinggal lagi untuk merebahkan tubuh ku ini yang sangat benar-benar capek. Saat ini diri ini terasa capek badan dan capek pikiran.


Hampir saja aku memejamkan mata, terdengar Lidya berteriak-teriak lagi. Seperti mengusir sesuatu yang ada di kakinya.


Aku pun langsung terbangun, dan segera mendatangi nya lagi. Kali ini walau Lidya sudah terlelap akan aku biarkan di pelukan ku. Agar ia bisa istirahat dengan tenang.


Aku mencoba trus menenangkan Lidya yang saat ini sedang teriak histeris.


"Pergi kamu!!! pergi kamu!!, aku jijik sama kamu!!!!," ucap Lidya sambil mengebas-ngebaskan kaki nya.


Aku bingung, aku harus melakukan apa?


Sedangkan Damar tak kunjung datang, aku semakin bingung. Selain Lidya berteriak-teriak, tubuh nya seperti kejang-kejang.


Aku sangat kewalahan memegangi tubuhnya. Aku berteriak memanggil Damar, entah Damar mendengar atau tidak. Yang jelas akan ada orang yang mendengar ku dan segera memberi pertolongan pada kami. Karena mau meninggalkan Lidya rasanya tak tega.


Suara terasa hampir habis, akhirnya terdengar suara adzan subuh. Berarti ini sudah pagi, tapi kenapa Damar tak kunjung datang?


Sepertinya Lidya juga sudah tenang, dan kembali tertidur pulas. Kurasa karena ini masih subuh dan langit masih gelap, aku bermaksud untuk memejam kan mata sebentar saja.


Aku pun meletakkan tubuh ku di atas sofa, dan segera ku pejamkan mata ini. Tubuh ini terasa lelah.


Sayup-sayup suara terdengar, seperti dua orang sedang mengobrol. Saat aku buka mata, betapa kagetnya hati ku ini.


Kulihat nenek Peki dengan wajah seramnya sedang berbicara dengan sesuatu yang berbentuk gumpalan. Iya, seperti gumpalan daging yang ditumbuhi berambut dan di lumuri banyak darah.


Melihat banyak darah yang ada di gumpalan itu, membuat perutku seketika mual-mual. Dan gumpalan daging dan nenek Peki sepertinya mau mengejar ku dengan wajah yang sangat mengerikan.


Nenek Peki tertawa lebar dan menakutkan, aku berlari dan terus berteriak ketakutan. Mereka sudah semakin dekat, tapi tenaga dan nafasku serasa sudah habis.


Ku dengar suara yang memanggil ku,


Iya...itu suara Damar. Aku terus mencari keberadaan nya untuk segera meminta tolong agar ia bisa mengusir dua makhluk aneh yang saat ini sedang mengejar ku.


Aku edar kan pandangan namun aku tak melihat keberadaan nya, hanya suaranya saja yang aku dengar seperti sangat dekat.


Suara itu semakin keras, dan pipi ini terasa sangat sakit. Dengan tubuh meloncat betapa kagetnya aku, saat ku buka mata ternyata Damar dan Lidya berada di depan ku. Dan Mereka terlihat sangat panik.


"Kalian kenapa? kenapa wajah kalian panik seperti itu?," aku bingung memandang kedua anakku yang berada di depan ku.


"Mama yang kenapa? Mama mimpi apa? kenapa teriak-teriak?," Damar memegang tanganku.


Kulihat matahari sudah bersinar, berarti ini sudah siang. Jam dinding menunjukkan pukul 7. Berarti lumayan lama aku tertidur.


Dan kejadian tadi?? apa itu hanya mimpi??


Tapi kenapa terasa sangat nyata?


Aku bergidik ngeri saat mengingat wajah nenek Peki dan gumpalan daging yang berambut serta berdarah yang mengejar ku tadi.


Lidya segera mengambil gelas yang berisi air putih sambil menenteng cairan infus di tangan nya.


Setelah aku meminum air putih itu, aku pun bernafas lega.


Aku baru sadar, ternyata itu hanya mimpi. Dan aku melihat kearah Lidya, Lidya terlihat lebih ceria di banding semalam tadi.


"Kamu sudah baikan, Lid?," tanya ku dengan memegang kedua pipinya.


Lidya pun mengangguk kan kepalanya. Sedangkan Damar memberitahu ku bahwa siang ini, operasi Lidya akan dilakukan.

__ADS_1


Namun pihak rumah sakit meminta untuk membayar


__ADS_2