
"Silahkan masuk." Natasya mempersilahkan Anita untuk masuk.
"Kenapa kamu diam saja, Rama? Ada taman nya datang kok wajah jutek gitu." bisik Natasya pada Rama saat Anita berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Senyum donk. Dia cantik mama suka." Natasya kembali berbisik pada Rama sambil tersenyum menggoda.
"Anita, mau minum apa?," tanya Natasya sangat ramah.
"Tidak usah repot-repot Tante, Anita tidak lama kok disini." jawab Anita dengan malu-malu. Padahal dia sangat senang sekali datang kesini, dia berharap bisa kenal dekat dengan Natasya mamanya Rama.
"Nggak repot kok, kamu tunggu disini ya. Biar Tante masuk kedalam buatkan kalian minum." pamit Natasya.
"Ram, temani dia." bisik Natasya, dan Anita yang mendengar itu pun tersenyum bahagia.
"Sepertinya ini awal yang bagus untuk mendekati mama nya Rama." ujar Anita di dalam hati.
Natasya pun segera pergi kebelakang untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk Anita.
"Ada apa kamu kesini?," tanya Rama dengan wajah jutek.
"Saya mau mengantarkan berkas ini, pak." jawab Anita dengan menyodorkan beberapa kertas yang ada di dalam map.
"Aku kan sudah bilang, kalau urusan pekerjaan jangan di bawa ke rumah. Karena di rumah itu tempat istirahat, bukan tempat bekerja!!," ucap Rama sangat kesal pada Anita, yang seperti tidak mengerti saja.
Padahal berkali-kali ia sudah di beritahu oleh Rama, untuk tak membawa pekerjaan nya kerumah. Namun tetap saja, Anita melakukan nya.
"Maaf pak Rama, berkas ini sangat penting. Jadi besok harus sudah di tandatangani." Anita masih terus beralasan pada Rama.
"Ada apa sih?, kalau memang Anita mengantarkan berkas itu kesini, itu tandanya ia bertanggung jawab dengan pekerjaan nya, Ram." sahut Natasya dari belakang dengan tangan nya sedang membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa camilan di dalam toples.
"Harus nya kamu menghargai kerja keras nya." lanjut Natasya sambil menaruh cangkir teh hangat tepat di hadapan Anita.
"Terimakasih, Tante." ucap Anita pada Natasya, saat Natasya menaruh teh dan beberapa Snack yang ada di dalam toples.
"Yuk di minum. Jangan masukan hati omonganya Rama, dia memang begitu. Tapi aslinya anak Tante ini sangat baik." ucap Natasya menyanjung Rama anaknya.
Anita membalas ucapan Natasya dengan senyum sangat manis. Anita sangat bahagia, karena seperti nya ia mendapatkan lampu hijau dari orang tuan nya Rama.
"Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini." ucap Anita dalam hati.
__ADS_1
"Berkas sudah ada di tangan ku, jadi sekarang kamu sudah bisa pulang." ucap Rama sangat dingin.
"Rama!!, bicara seperti itu sungguh tidak sopan. Dan mama tak pernah mengajarkan itu pada kamu loh."
Natasya tidak terima dengan apa yang di ucapkan Rama pada sekertaris nya itu.
"Ya sudah, Rama mau mempelajari isi dari berkas ini. Jadi silakan kalian ngobrol." Rama beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar dengan membawa berkas yang telah di berikan Anita tadi.
"Rama..!!," panggil Natasya.
Namun sama sekali Rama tak menggubris nya. Ia terus berjalan menuju kamarnya, dan menutup pintu kamar itu dengan sangat keras.
Sehingga dua perempuan yang saat ini duduk di sofa ruang tamu itu terjengkat karena kaget.
"Rama...," panggil Natasya. Dan lagi panggilan nya tak pernah di hiraukan oleh Rama.
"Maafkan anak Tante ya, Anita. Rama memang begitu ." ucap Natasya.
"Nggak apa-apa Tante, Anita sudah hafal kok dengan sikap rama." jawab Anita dengan sangat lembut.
"Tante, ini sudah malam. Anita pamit pulang dulu." ucap Anita sambil menaruh cangkir yang berisi teh yang sudah tak hangat lagi.
Natasya merasa cocok dengan perempuan yang berparas cantik dan manis, khas perempuan Indonesia ini.
"Tapi ini sudah malam Tante, takut mama khawatir karena Anita nggak pulang-pulang."
Lalu Anita berdiri dan mengambil tangan Natasya dan mencium punggung tangan nya.
Natasya sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Anita kepadanya.
"Sopan sekali." ujar Natasya dalam hati.
"Sungguh menantu idaman, sudah cantik, pintar dan sangat sopan." lanjut nya bergumam dalam hati.
Lalu Anita pun keluar rumah, dan Natasya mengikuti dengan berjalan di belakang nya.
"Kamu naik apa, Anita?," tanya Natasya dengan matanya mengedarkan pandangan nya ke arah depan rumah. Untuk melihat kendaraan yang di parkir oleh Anita.
"Anita naik taksi online, Tante. Ini Anita mau pesan." jawab Anita sambil mengangkat handphone untuk memberitahu Natasya.
__ADS_1
"Hah?, naik taksi online?, ini kan sudah malam?. Bahaya wanita cantik naik taksi online malam-malam." ucap Natasya.
"Sekarang kamu tunggu di sini, dan batalkan pemesanan taksi online mu. Biar Rama yang mengantarkan mu pulang." lanjut Natasya, lalu ia berjalan kembali kedalam rumah untuk memanggil Rama.
"Yesss!!!, akhirnya semua rencana ku berjalan dengan lancar. Restu orang tua nya Rama sudah hampir aku dapat kan, hanya tinggal beberapa saja. Dan aku sangat yakin, mama nya Rama akan mendukung ku." ucap Anita dalam hati sambil tersenyum licik menghiasi bibir dan wajahnya.
Sedangkan didalam rumah, Natasya terus memaksa Rama, agar ia mengantarkan Anita pulang.
Namun, Rama menolak nya. Ia tidak mau, karena Rama tak merasa menyuruh nya kesini.
"Kamu jangan seperti itu, Rama. Dia itu perempuan, kasihan dia. Apa kamu tidak takut terjadi apa-apa pada Anita?," tanya Natasya yang terus saja memaksa Rama untuk mengantarkan Anita pulang.
"Siapa suruh dia datang kesini, ma. Kalau dia datang kesini dengan kemauan nya sendiri, ya harus nya di terima konsekuensinya harus pulang sendiri, walau pun itu sudah malam." Rama mengeluarkan argumentasinya.
"Rama!!, mama tak pernah ajarkan kamu seperti itu pada wanita!!. Kamu harus bisa menghormati wanita. Bukankah mama mu ini juga wanita?," Natasya membentak Rama, karena Rama terus membantah kemauan nya.
Dengan terpaksa, akhirnya Rama melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Natasya. Dia keluar dengan wajah kesal, dengan kedua alis yang bertaut dan tatapan tajam penuh kebencian pada Anita, yang saat ini masi berdiri di teras depan rumah.
Anita dengan setia menunggu Rama untuk mengantarkan nya. Dan inilah tujuan nya datang kesini selain untuk mengambil hati Natasya yang tak lain adalah ibu nya Rama.
"Hati-hati ya Anita, nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabari Tante." ucap Natasya sambil melambaikan tangan nya.
"Makasih untuk semua nya ya Tante," Anita pun membalas lambaian tangan Natasya dengan lambaian tangan juga. Dengan tersenyum sangat manis pada Natasya.
"Buruan naik!!," ucap Rama dengan nada bicara yang sangat ketus.
"Rama, pelan-pelan ya. Jangan ngebut." Tak lupa Natasya juga mengingatkan Rama.
Hati Anita kali ini sangatlah bahagia, dia seperti sudah menjadi kekasih Rama.
Sepanjang perjalanan senyum di bibir mungil Anita mengembang menghiasi wajah yang ayu dan manis itu.
Berbeda dengan Rama, sepanjang perjalanan hanya diam dengan kedua alis bertaut. Ia sangat malas bicara dengan Anita. Karena sikapnya yang sangat jelas ingin merebut hati mamanya.
Sampai di depan rumah Anita, mobil di hentikan. Lalu Anita pun turun dari mobil.
"Pak Rama nggak mampir dulu?," tawar Anita.
Tanpa menjawab tawaran Anita, dengan sengaja Rana menginjak pedal gas nya, dan melaju dengan kencang meninggalkan Anita yang masih berdiri di bibir jalan.
__ADS_1
Namun Anita tak mempermasalahkan hal itu, yang terpenting saat ini buat Anita, Rama sudah mau mengantarkan nya pulang.