
Hari sudah malam, mas Awan dan mbak Veni pun sudah pulang. Sehingga dirumah hanya ada aku, ibu dan mbak Ambar.
Sudah beberapa Minggu mbak Ambar tidur dirumah ibu, karena suaminya sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan nya.
Ini suatu kebetulan sekali, dengan begitu ibu disini ada teman nya. Karena Putri sekarang sudah jarang sekali menginap dirumah ibu. Dia lebih sering menginap di kostan Areta bunda nya.
Seperti saat ini, sepulang dari rumah Sarah. Putri minta turun di kostan Areta.
Mungkin Putri lebih nyaman dengan bundanya, jadi aku biarkan saja. Toh saat ini hubungan ku dengan Areta sudah membaik.
Tubuh ini sudah terasa capek, dan mata ini pun sudah tak bisa menahan kantuk. Aku ingin segera masuk kedalam kamar, untuk beristirahat. Setelah seharian banyak sekali kejadian yang sangat menguras tenaga dan emosi.
"Kamu mau kemana, Bim?." tanya ibu yang sedang menonton televisi di temani mbak Ambar.
"Istirahat, buk." jawab ku, sambil menghentikan langkah ku.
"Ingat Bima, ibu tak mau kamu mempunyai pikiran untuk rujuk lagi dengan perempuan kurang ajar dan kampungan seperti Sarah itu!!," ucap ibu sambil matanya terus menatap ke layar televisi tanpa melihat ku.
"Bima tak ada pikiran untuk rujuk dengan Sarah, setelah apa yang Sarah lakukan pada Bima dan ibu." jawabku.
"Bagus lah kalau begitu, ibu pegang semua ucapan mu. Dan tugas mu adalah membuktikan ucapan itu." Seperti nya ibu saat ini benar-benar tidak menyukai Sarah.
"Kamu harus segera mengurus hak mu atas rumah yang kamu tempati dan rumah yang di tempati oleh kedua orang tua Sarah itu, Bim!!!." lanjut ibu.
"Enak saja Sarah menikmati hasil kerja mu, karena yang lebih berhak atas hasil kerjamu adalah aku, ibu kandung mu." ibu sangat emosi saat berbicara tentang Sarah dan keluarga nya.
Mungkin selama ini ibu benar-benar tersiksa saat aku masih bersama Sarah.
"Mungkin aku akan segera menceraikan Sarah secepatnya, Bu. Dan aku akan rujuk dengan Areta." ucapku.
"Itu ajan lebih baik, Bim." jawab ibu menyetujui rencana ku.
__ADS_1
"Kalau begitu, Bima ke kamar dulu. Bima capek ingin beristirahat." pamitku. Lalu aku meninggalkan ibu yang masih setia dengan layar televisi yang isi nya sinetron azab.
"Kamu akan mendapatkan karma seperti itu Sarah!!," ucap ibu sangat geram saat pemeran perempuan di sinetron yang ia tonton itu terkena azab karena kelakuan nya.
Aku tak mempedulikan apa yang diucapkan ibu, karena mata ini sudah tak bisa diajak kompromi. Aku segera masuk kedalam kamar.
Sebelum mata ku terpejam, aku melihat handphone ku yang ada diatas nakas. Takut saja ada pesan penting dari customer ku di toko.
Bukan pesan dari customer yang masuk kedalam handphone ku, tapi pesan singkat dari mbak Veni.
"Bim, aku tagih janji mu!!," aku tersenyum membaca pesan dari mbak Veni. Entah mengapa, tiba-tiba muncul rasa penasaran dan tertantang pada diri ini atas tawaran yang mbak Veni berikan padaku.
Lelaki mana yang menolak saat ada perempuan cantik yang menawarkan keindahan tubuhnya untuk dinikmati??. Mungkin hanya lelaki bodoh yang menolak nya.
"Terserah mbak Veni saja. Mau nya kapan dan dimana. Silahkan Mbak Veni yang mengatur." balas ku memberikan lampu hijau pada mbak Veni.
Lalu mbak Veni mengirimkan alamat hotel yang sudah ia pesan. Dan yang membuat ku terkejut, ia memintaku datang malam ini.
"Mbak Veni yakin malam ini?," tanya ku lewat balasan pesan singkat.
Sungguh mbak Veni perempuan yang berani mengambil keputusan. Sepertinya ia tak takut dengan resiko yang akan di hadapi kalau suatu saat hubungan ini terbongkar.
"Cepatlah datang kesini Bima. Sebelum aku berubah pikiran!!," mbak Veni mengirimkan pesan singkat lagi, sebelum aku membalas pesan yang sebelumnya. Sepertinya dia mengancam ku, dengan berkata akan berubah pikiran.
Aku lelaki normal yang tak bisa untuk menolak tawaran kenikmatan dunia seperti ini. Apalagi mbak Veni juga tak kalah cantik dengan Sarah dan Areta.
Biarkan saja hubungan ini berjalan secara diam-diam. Kalau tak ada dari kita yang berbicara, aku yakin hubungan ini tak akan terbongkar dan ketahuan oleh mas Awan.
Aku segera mengambil jaket dan kunci mobil. Setelah merapikan rambut dan memakai minyak wangi, aku segera keluar dari kamar.
Jam di di dinding ruang televisi menunjukkan pukul sebelas malam. Aku kira ibu sudah tidur, namun ternyata ia masih betah berada di depan layar televisi dengan sinetron kesayangan nya.
__ADS_1
"Mau kemana kamu, Bim?." aku sudah menduga sebelumnya, pasti ibu akan bertanya seperti itu.
"Bima ada urusan sebentar, Bu." jawabku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan ibu.
"Urusan apa?," tanyanya lagi dengan tangan nya tak segera menyambut tanganku yang sudah terulur di depan nya.
"Biasa lah Bu, teman-teman kuliah ku dulu ngajak nongkrong, setelah lama tak pernah bertemu." kali ini aku beralasan lain. Karena aku sangat tau sifat ibu, dia akan terus bertanya kalau alasan itu tidak jelas.
Dengan beralasan pergi nongkrong bersama teman-teman kuliah ku dulu. Aku yakin ibu percaya dan tak akan bertanya-tanya lagi.
"Kalau pulang jangan malam-malam." pesan nya pada ku sambil tangannya meraih tangan ku. Dan segera ku cium punggung tangan ibu untuk berpamitan.
Mesin mobil segera ku hidupkan, jam segini di komplek rumah ibu sudah sangat sepi. Karena rata-rata penghuni perumahan ini adalah para pekerja kantoran. Jadi mungkin saja saat ini mereka sedang beristirahat setelah seharian beraktivitas di kantor masing-masing.
Aku segera menuju alamat hotel yang sudah di kirim oleh mbak Veni. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di hotel itu, karena hotel itu lumayan dekat dengan rumah ibu.
Setelah memarkir mobil, aku berjalan melewati lobi hotel dan menyusuri lorong yang sedikit penerangan nya.
Kamar yang dimaksud Mak Veni, sudah ada di depan ku. Tanpa rasa takut, aku segera mengetuk pintunya.
Tok
Tok
Tok!!!
Suara pintu ku ketuk dengan sangat pelan. Karena aku takut suara ketukan pintu yang aku lakukan itu, akan mengganggu pengunjung lain.
"Masuk lah, Bim. Pintu tak di kunci." jawab mbak Veni dari dalam kamar. Memang pintu yang ada di hotel ini masih manual. Jadi mbak Veni tak perlu berdiri untuk membuka kunci pintu ini.
Cekleeek....!!
__ADS_1
Gagang pintu aku tarik, dan daun pintu pun terbuka.
Sungguh aku sangat terkejut melihat mbak Veni yang saat sedang duduk di sofa depan memakai lingerie yang sangat transparan. Sehingga dengan jelas, kulit mulus tubuhnya terlihat oleh mataku.