DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Sepatu Pemberian Celvin


__ADS_3

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Lidya sudah rapi dengan dandanan tidak seperti mau pergi ke kantor.


"Mau kemana, Lid?," tanya Sarah yang kebetulan lewat di diruang makan, saat Lidya mengambil dua lembar roti untuk sarapan.


"Kepo aja, mbk Sarah ini!!!," jawab Lidya karena risih ditanya oleh Sarah.


"Ya apa salahnya, mbak Sarah nanya." ucap Sarah sambil berlalu ke dapur untuk menyiapkan orderan makanan untuk hari ini.


"Uda lah mbak Sarah, nggak usah ikut campur dengan urusan Lidya," jawab Lidya dengan ketus.


Sarah pun enggan meneruskan perdebatan itu, karena hanya akan membuang waktu dan tenaga.


Dan Lidya pun langsung berangkat dengan menggigit roti yang sudah di oles dengan selai coklat.


Sarah bergegas keluar untuk melihat Lidya, karena menurut Sarah Lidya tak seperti biasa nya.


Setelah melihat Lidya, Sarah pun kembali ke dapur. Tak lupa iya melihat Kean yang sedang tidur di kamar dengan mas Damar.


Sarah pun melanjutkan semua aktivitas nya di dapur. Makanan untuk sarapan pun sudah terhidang, Damar keluar kamar sudah rapi dan wangi.


"Lidya sudah berangkat dulu, mas." Ucap sarah memberitahu Damar.


"Iya, hari ini dia tidak masuk kerja. Katanya dia mau ke rumah teman nya." Jawab Damar sambil menyendok nasi ditaruh ke piring nya.


"Oh... pantesan, dia terburu-buru. Dan dandanannya tidak seperti biasanya. Trus nanti kamu ke kantor naik apa mas? mobil nya kan dipakai Lidya?," Sarah menaruh secangkir kopi di samping tangan Damar.


"Biar nanti aku naik taksi online aja," jawab Damar.


"Harusnya kamu itu beli mobil lagi, Mar. Biar kalau mama ke mana-mana tidak bingung masalah kendaraan." Sahut mama Linda keluar dari kamarnya dan membetulkan ikatan rambutnya.


Sarah pun langsung ke dapur untuk mengambilkan piring untuk mama mertuanya. Karena dia sudah tahu kebiasaan mama mertua nya itu. Bangun tidur dia akan langsung makan tanpa membersihkan mukanya dulu.


"Uang dari mana, ma?," tanya Damar.


"Ya kamu kan kerja, Mar. Lagian mama malu sama teman-teman mama. Semua teman-teman mama bawa mobil sendiri. Masak mama sendiri yang selalu naik taksi online?,!" jawab Linda dengan sedikit merajuk.


"Kalau bukan kamu yang belikan mama mobil, terus siapa lagi? Kamu kan satu-satunya anak lelaki mama. Jadi kamu wajib menuruti semua kemauan mama," ucap Linda menekan Damar.


"Tapi mama kan tau sendiri, gaji Damar yang pegang kan mama. Trus nanti kalau beli mobil pake uang yang mana?. Kadang juga mama masih minta lagi sama Damar." jawab Damar.


"Jadi kamu mau nyalahin mama?! kamu mau bilang kalau mama yang menghabiskan uang mu?! kalau nggak karena mama yang sekolahin kamu, kamu nggak akan sampai seperti ini!!!." ucap mama Linda marah.


"Bukan begitu, ma. Damar bisa belikan mama mobil, tapi uang belanja mama juga harus dikurangi. Buat cicilan bulanannya." ucap Damar.


"Ini samua gara-gara kamu menikah dengan Sarah. Perempuan miskin yang tidak bisa apa-apa. Andaikan kamu nikah sama Bianca, mungkin kita sudah hidup bergelimang harta. Emang Sarah itu pembawa sial!!!, " ucap Linda lantang, sehingga Sarah pun mendengar nya.


Sarah hanya diam pasrah mendengar hinaan dari mertuanya itu, saat ini Sarah masih belum berani membalas semua hinaan yang dilontarkan oleh mertua nya.


"Sabar Sarah, suatu saat kamu akan bisa membuktikan kalau kamu bisa menjadi orang hebat, " ucap Sarah dalam hati mengsugesti dirinya sendiri.


"Pokoknya mama minta di belikan mobil, bagaimana pun cara nya Damar!!!, " Linda merajuk.


"Akan Damar usahakan, ma." Damar paling nggak bisa menolak keinginan mama nya.


Lalu Damar bergegas pergi ke kantor, karena taksi online ya dipesan Damar sudah datang.


Sesampainya di kantor, Damar masih terngiang-ngiang oleh permintaan mama nya.


"Bagaimana aku mendapatkan uang banyak, untuk membeli mobil buat mama," ucap Damar dalam hati.


"Apa aku gelapkan saja uang kantor? Kemarin aku gelapkan uang kantor sebesar lima juta tidak ada apa-apa kok, aman-aman saja," ucap Damar sendiri didalam ruang kerja nya.


Lalu ia mulai menjalankan aksi nya, dia menduplikasi berkas keuangan kantor. Lumayan besar nominal yang dia gelapkan saat ini. Setelah berkas dia kerjakan, Damar langsung membawa berkas itu ke ruangan pak Anton untuk meminta tanda tangan nya.


Saat Damar masuk ke ruangan pak Anton, pak Anton sedang menerima telepon entah telepon dari siapa. Dari cara ngomongnya sepertinya dari teman wanitanya.


Lalu pak Anton pun menandatangani berkas yang dibawah oleh Damar.


Damar pun keluar dengan wajah yang bahagia.


"Yes, akhirnya aku mendapatkan uang itu." ucap Damar pelan-pelan didepan pintu ruangan pak Anton.


Dan Damar pun segera kembali keruangan nya, untuk mengecek uang yang akan diterimanya. Tak perlu menunggu lama, handphone nya pun berbunyi, satu notifikasi dari salah satu bank swasta. Dia membukanya, dan benar saja uang sebesar seratus juta sudah masuk ke rekeningnya.


"Ternyata mudah saja untuk mendapatkan uang sebanyak ini," ucap Damar dengan lirih.


Di tempat lain, Lidya akhirnya sampai ke desa yang ia maksud. Dia berangkat sendiri dan menyetir mobil sendiri. Sesampainya di desa itu Lidya langsung mencari alamat Mayang.

__ADS_1


Tak menunggu lama akhirnya Lidya menemukan rumah Mayang, itu lah kehidupan di desa. Tak sama dengan kehidupan kota. kalau di desa mencari alamat itu sangat mudah, karena rasa sosial orang-orang masih tinggi. Beda dengan di kota, di kota orang hidup dengan kehidupan masing-masing. Sampai nama tetangga samping rumahnya pun kadang tak tahu.


Akhirnya Lidya memberanikan masuk ke halaman rumah Mayang yang begitu luas, halaman yang di penuhi dengan tumbuh-tumbuhan. Jadi terlihat rindang dan sejuk. Rumah yang begitu sederhana terlihat nyaman sekali dengan suasana desa yang masih begitu kental.


"Hmmm rumah nya seperti gubuk ini, soksokan kuliah S2 diluar negeri," ucap Lidya sinis.


Tok tok tok...


Pintu diketuk oleh Lidya.


Ceklek...


Tak menunggu lama pintu pun dibuka oleh wanita paruh baya.


"Apa benar ini rumah Mayang?, " tanya Lidya pada wanita itu tanpa basa basi dan tanpa salam. Dengan matanya melihat lihat kearah dalam rumah. Seperti orang tak punya sopan santun.


"Oh iya, benar. Ini rumah Mayang, nak." jawab wanita itu yang tak lain ibu Rina, ibu nya Mayang.


"Mayang ada?," tanya Lidya dengan gaya sombongnya.


"Ada nak, silakan masuk. Sebentar ibu panggilkan Mayang." ucap ibu nya Mayang mempersilahkan Lidya masuk. Setelah Lidya duduk, bu Rina masuk kedalam untuk memanggil Mayang.


Mayang pun penasaran, saat bu Rina bilang kalau ada temannya yang mencari. Karena Mayang merasa tak punya teman dengan ciri-ciri yang bu Rina ceritakan.


Akhirnya Mayang pun keluar, walaupun Mayang merasa tidak punya teman seperti yang ibu nya ceritakan.


Betapa kagetnya Mayang, saat ia tahu kalau yang datang adalah perempuan yang ia temui pertama kali di bandara saat ia pulang ke Indonesia bersama Celvin.


"Ada apa dia kesini?," tanya Mayang dalam hati.


"Assalamualaikum," sapa Mayang pada Lidya.


"Waalaikumsalam," jawab Lidya dengan mengangkat dagu nya. Dan kacamata hitamnya pun belum di copot.


"Maaf, kak. Kakak mencari saya?," tanya Mayang.


"Iya, aku kesini cuma mau bilang dan memperingatkan kamu. Jangan sekali-kali kamu mengganggu hubungan ku dengan Celvin. Kamu tau kan siapa aku? Aku Lidya pacarnya Celvin saat kita masih kuliah disini dulu. Dan kamu itu seharusnya tau diri donk. Kamu sama Celvin nggak pantas, beda jauh. Bagai langit dan bumi. Yang pantas dengan Celvin hanya aku, karena aku dari kalangan yang sepadan dengan nya!!!," tekan Lidya pada Mayang.


"Tapi, aku dan Celvin sama-sama suka kak. Dan Celvin sudah melamar ku pada orang tua ku." Jelas Mayang.


Deg.


Tapi bukan Lidya kalau harus kalah dengan Mayang yang kampungan menurut nya.


"Apa? Celvin sudah melamar mu?," tanya Lidya dengan mata melotot.


"Iya kak, walau kita belum resmi tunangan. Karena papi nya Celvin masih belum kesini," ucap Mayang menjelaskan.


"Hahaha kamu percaya dengan semua itu? kamu cuma di permainkan Mayang. Kamu itu terlalu lugu dan kampungan. Jadi jangan mudah percaya. lihat nih," Lidya mengambil handphone di tas dan melihatkan foto.


"Ini foto ku, Celvin, mamaku dan papi nya Celvin. Semalam aku dilamar sama Celvin bersama keluarganya. Dan ini buktinya," ucap Lidya sambil mengangkat jari manisnya menunjukkan cincin yang melingkar.


"Dan itu,' Lidya menunjuk paper bag yang ada diatas meja ruang tamu rumah Mayang.


"Itu sepatu seharusnya punyaku, tapi kamu merebut nya dariku. Sekarang mana sepatu itu?! Aku akan mengambilnya, karena aku yang berhak mendapatkan itu!!." ucap Lidya menekan Mayang.


"Tapi, itu Celvin yang memberikannya pada ku. Aku tak pernah meminta nya." Jelas Mayang.


"Alah... itu cuma alasan mu aja. Lagian kamu tak pantas memakai sepatu mahal seperti itu!!," hina Lidya sambil melihat kaki Mayang dengan ekspresi jijik.


"Sekarang mana sepatu itu!!!," tekan Lidya dengan bentakan.


Mayang pun mengambil sepatu itu, dan memberikan nya pada Lidya.


"Enak saja kamu mau mengambil sepatu yang seharusnya untuk ku," ucap Lidya mengambil sepatu itu dengan kasar.


"Dan ingat, kamu jangan pernah mengganggu Celvin lagi!!! Karena aku sama Celvin sudah tunangan!!!! mau kamu disebut pelakor?!," tegas Lidya.


Mayang pun hanya terdiam, karena ia tak bisa apa-apa. Setelah melihat foto-foto yang di tunjukkan Lidya padanya.


Lidya pun pergi tanpa pamit, hatinya sangat puas. Karena merasa berhasil mengambil Celvin dari Mayang. Dan satu lagi, akhirnya Lidya mempunyai sepatu yang ia impikan dari dulu.


Karena untuk membelinya, dia harus berpikir pikir dulu. Dia harus mengumpulkan beberapa bulan gajinya hanya untuk sepatu itu.


Lidya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar tidak kemalaman dijalan. Setelah melewati jalan yang sangat sepi, hanya ada sawah dan ladang di samping jalan. Akhirnya Lidya sampai dengan selamat dikota tempat ia tinggal.


Dirumah, Mayang masih termenung dengan apa yang ia lihat. Mayang tak habis pikir kalau Celvin akan mengkhianati nya. Mau tidak percaya, tapi foto itu membuktikan.

__ADS_1


"Difoto itu terlihat mereka sangat bahagia. Dan terlihat serasi karena sama-sama dari keluarga dengan latarbelakang yang sama", batin Mayang.


"Loh, tamu nya mana May?," tanya Bu Rina saat keluar dengan membawa segelas teh hangat dan singkong goreng.


"Sudah pulang, Bu." Jawab Mayang dengan lesu.


"Kok cepet pulang? ini ibu uda buatkan teh dan singkong goreng." ucap bu Rina heran.


"Iya, Bu. Dia terburu-buru," jelas Mayang.


Drrrttttt


Drrrttttt


Tiba-tiba handphone Mayang berbunyi, dilihat ternyata Celvin yang memanggil.


Mayang enggan mengangkat nya, karena ia merasa di bohongi oleh Celvin dan keluarga nya.


Namun handphone itu terus berbunyi, tapi tetap saja Mayang membiarkan nya.


Lalu ada notifikasi pesan masuk, dibukanya pesan itu oleh Mayang. Ternyata pesan dari Celvin. Menanyakan sepatu yang ia kirim semalam. Namun lagi dan lagi Mayang tak membalas nya.


Celvin pun menghubungi nya lagi, karena melihat pesan yang sudah di baca tapi tak kunjung di balas.


Lama kelamaan Mayang pun risih dengan itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat telepon dari Celvin.


"Assalamualaikum, may." ucap salam Celvin dari sebrang telepon.


"Waalaikumsalam," jawab Mayang dengan ekspresi wajah datar.


"Gimana sepatu yang aku kirim buat kamu? kamu suka?," tanya Celvin lagi.


"Bagus, dan aku suka. Dan yang pasti sudah diterima oleh yang seharusnya menerima," jawab Mayang.


"Maksudnya May?," tanya Celvin bingung, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Mayang.


"Uda, Vin. Nggak ada maksud apa-apa kok. Terimakasih ya buat sepatunya." Jawab Mayang lalu ia mengakhiri sambungan teleponnya setelah mengucap salam.


Handphone Mayang berbunyi lagi, di lihatnya ada satu pesan dari nomor yang tak dikenal nya.


Dan Mayang pun membuka pesan itu, ternyata pesan itu dari Lidya.


"Jangan pernah ngomong sama Celvin kalau aku dari rumahmu dan mengambil sepatu itu. Dan ingat sekali lagi, jangan pernah mengganggu hubungan ku dengan Celvin kalau kamu tidak mau dipanggil dengan sebutan PELAKOR. Karena Celvin itu sudah bertunangan dengan ku".


Mayang pun hanya membaca pesan itu dan ia tak membalas nya. Lalu ia pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri, karena kamar lah tempat ternyaman dan teraman untuk menyembunyikan kesedihan dari kedua orangtuanya.


Mayang tak ingin ibu bapak nya tau masalah ini, takut mereka kecewa karena telah dipermainkan Celvin.


"Kalau memang kamu tak cinta aku, kenapa kamu melamar ku di depan ibu, bapak dan mbak Sarah, Vin?," ucap Mayang lirih. Tak terasa butiran bening menetes di pipi Mayang.


"Tapi memang dari awal aku dan kamu sudah berbeda, Vin. Berbeda dari semua hal, kalau aku mencintaimu, aku harus siap kecewa dan sakit hati seperti ini," ucapnya lagi.


Akhirnya Mayang tertidur, ia tidur dengan mata sembab.


Setelah perjalanan kurang lebih tiga jam, Lidya pun sampai dirumah dengan selamat. Lalu dia masuk rumah dengan aura yang bahagia.


Dengan bangga nya ia menenteng satu paper bag yang berisi sepatu brand mahal dan terkenal itu.


Lalu iya segera membawanya ke mama Linda, ia memamerkan nya ke mama Linda.


Dengan sengaja Lidya memamerkan sepatu itu waktu ada Sarah didekat nya.


"Ma, lihat. Apa yang Lidya bawa?," tanya Lidya memberi tebakan pada mama Linda dengan mengangkat paper bag yang ia bawa.


"Loh, itu bukannya sepatu yang di beli Celvin semalam?," tanya mama Linda sambil menunjuk tas itu.


"Yap betul sekali, ternyata sepatu itu untuk aku ma." ucap Lidya dengan wajah bahagia.


"Oh ya??? wah Celvin emang benar-benar suka sama kamu Lid. Coba buka sekarang sepatu nya!," suruh mama Linda dengan wajah penasaran.


Lidya pun membuka nya, betapa senangnya hati Lidya akhirnya ia memiliki sepatu yang selama ini ia impikan.


Sarah pun hanya melihat saja, tak ikut campur urusan mereka. Namun bukan mama Linda dan Lidya kalau tidak julid sama Sarah.


"Kenapa kamu melihat aku seperti itu, mbak?!," tanya Lidya dengan wajah jutek.


"Kamu pasti pingin ya, punya sepatu seperti ini?? hahahaha jangan mimpi deh kamu. Kamu nggak akan mampu membeli ini. Karena kamu cuma Upik abu bukan ratu. hahahaha," hina mama Linda dan mereka berdua menertawakan Sarah.

__ADS_1


"Lagian ya ma, mana cocok kaki mbak Sarah pakai sepatu mahal ini. Yang ada sepatunya berkarat karena terkena kakinya mbk Sarah. Hahahaha," lagi Lidya menghina Sarah. Dan tanpa di komando mereka berdua kompak menertawakan Sarah.


Namun Sarah hanya diam saja, dan beranjak pergi ke dalam kamarnya untuk menemani Kean yang sedang tidur.


__ADS_2