
Setelah mobil ku parkir, aku bergegas masuk kedalam rumah. Sepertinya mas Bima sudah pulang dari toko, karena mobilnya sudah terparkir di garasi.
"Assalamualaikum," ku ucapkan salam sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab mas Bima yang sedang duduk santai sambil menonton televisi. Namun pakaian nya sudah rapi.
"Maaf mas, Sarah pulang nya telat." aku berjalan mendekat pada mas Bima yang sedang duduk, lalu aku mencium punggung tangannya.
"Memang kamu darimana, Sarah?," tanya mas Bima dengan tatapan mata yang penuh cinta.
"Tadi aku habis mengantarkan Sinta ke salon, mas." jawabku.
"Ya sudah kamu mandi dan bersiap-siap, setelah itu kita berangkat ke rumah ibu." ucap mas Bima.
Aku pun berjalan menuju kamar, untuk membersihkan tubuh dan bersiap-siap untuk pergi memenuhi undangan makan malam dari ibu nya mas Bima.
"Kean mana, mas?," tanya ku sambil berjalan menuju kamar. Karena terlihat di kamar nya Kean tak ada siapa-siapa.
"Bukankah tadi Sarah minta tolong pada mas Bima untuk menjemput Kean disekolah?," lanjut ku sambil ku hentikan langkah kaki ku, dan aku balik kan badanku untuk menghadap ke belakang, kearah dimana mas Bima sedang duduk santai.
"Iya, Sayang. Tadi mas jemput Kean di sekolah, tapi dia minta langsung ke rumah ibu." jawab mas Bima sambil menatap ku.
"Jadi aku antar aja ke rumah ibu." lanjutnya.
Semenjak ibu tinggal di sini, di kota yang sama dengan jarak tempuh yang dekat. Kean lebih sering berada di sana.
Sudah beberapa malam, Kean menginap di rumah Uti dan akung nya.
Aku bergegas untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
Sengaja kali ini aku memakai perhiasan emas yang agak mencolok. Ingin sesekali aku memberi pelajaran pada mertua dan para ipar-ipar ku yang julid dan suka nyinyir itu.
Dan yang membuat aku makin semangat datang ke undangan ibu nya mas Bima adalah ingin sekali melihat muka mbak Veni setelah kejadian tadi di salon nya Siska.
*Apa dia masih berani nyinyir dan julid padaku setelah kejadian tadi?," gumam ku dalam hati.
"Sarah...! Sarah...!," panggil mas Bima.
__ADS_1
"Sudah siap kah?, yuk buruan! Ibu sudah menelpon berkali-kali." mas Bima berjalan masuk kedalam kamar.
"Sarah sudah siap, mas." jawabku dengan membenarkan posisi jam tangan yang ada dipergelangan tangan.
"Kamu cantik sekali, sayang." bisik mas Bima di telinga ku. Untung saja saat ini Khimar panjang ku sudah terpasang.
Sehingga hembusan nafas hangat nya tak terlalu membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Makasih, mas." ucapku. Aku sedikit menjaga jarak dengan mas Bima, karena waktu nya sudah sangat mepet sekali. Namun sayang nya, dengan cepat tangan mas Bima menarik tangan ku. Sehingga tubuh ku jatuh di dalam pelukannya.
"Aroma tubuh mu sangat harum. Membuat diri ini berhasrat." lanjut nya sambil terus mencoba untuk menciumi ku.
Dewi "Tahan dulu, mas. Sekarang kita akan menghadiri undangan ibu, bukan kah ibu sudah menelpon mu?. Ditunda dulu ya hasratnya?," ucapku.
"Mas lupa Sar!, kenapa setiap melihat mu, mas selalu lupa diri." ucap nya lalu ia mengecup keningku.
"Kalau sudah siap, ayo kita berangkat." ajak mas Bima.
Aku dan mas Bima berjalan beriringan keluar rumah menuju garasi.
"Itu mobil siapa, sayang?," tanya mas Bima dengan tangan nya menunjuk ke arah mobilku yang terparkir di belakang mobilnya.
"Kita pakai mobil Sinta aja ya, mas? daripada susah-susah mengeluarkan mobilmu." ucapku.
Sengaja kali ini memakai mobilku, aku ingin tau bagaimana reaksi mertua dan ipar-ipar ku saat aku membawa mobil itu.
Sampai di depan rumah ibu mertua, mas Bima memarkir mobilnya dihalaman rumah. Disini tak terlihat mobil mas Awan.
"Apa mungkin mbak Veni belum datang?," gumamku dalam hati.
"Mobil baru, Bim?!," pertanyaan mbak Ambar berhasil mengagetkan ku. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan nya di lipat dan di taruh depan perut nya. Dan pastinya, tatapan sinis tertuju padaku.
"Eh mbak Ambar," jawab mas Bima sambil tersenyum pada mbak Ambar.
"Baru mobil mu?!," mbak Ambar masih memberikan pertanyaan yang sama, namun kali ini penuh penegasan.
"Iya mbak." jawab mas Bima sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Hah?, mas Bima dengan mudah mengakui kalau itu mobil baru yang ia beli?
Padahal dengan jelas tadi aku sudah bilang, kalau itu adalah mobilnya Sinta yang dititipkan padaku.
"Terus mobil mu yang lama, dijual?!," tanya mbak Ambar dengan sangat ketus.
"Enggak mbak, mobil ku yang lama masih ada." jawab mas Bima.
"Banyak uang ya kamu?!!!," ucap mbak Ambar dengan tatapan sinis dan beranjak masuk kedalam meninggalkan kami berdua yang masih berdiri di teras.
Tak ada basa basi dari mulut mbak Ambar mempersilahkan aku untuk masuk kedalam.
Namun tanpa disuruh mbak Ambar, aku dan mas Bima berjalan beriringan untuk masuk ke dalam rumah ibu mertua.
"Ini Bu, ada sedikit kue." ucapku, ku sodorkan satu kotak kue didalam paper bag pada ibu mertua yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Taruh situ!!!." ucap ibu nya mas Bima sambil matanya menunjuk ke arah meja.
"Halaaah, setiap datang pasti yang di bawa roti sisa kemarin. Jangan dimakan bu, bisa-bisa makan kue-kue itu ibu terkena diabet karena kelebihan karbo dan gula." celetuk mbak Ambar. Omongan nya sungguh menyakitkan.
"Ooo... maaf, bu. Sarah nggak tau kalau ibu sedang diet gula dan karbohidrat, kalau memang ibu menolak kue-kue yang Sarah bawa. Biar tas ini, sarah akan membawanya kembali pulang. " ancam ku secara halus. Sebenarnya aku tahu kalau mereka berdua sangat suka dengan semua jenis kue buatanku. Namun mereka gengsi untuk mengakui nya.
"Beli mobil baru aja mampu!!, sama iya ke rumah ibunya hanya membawa keu seperti itu!!, " Lagi-lagi omongan mbak Ambar memuat hati ini sakit.
"Oke lah mbak, maaf kan sarah yang tidak tau kalau saat ini ibu sedang diet gula dan karbohidrat. " ucap ku sambil tangan ini mengambil kembali paper bag yang berisi bermacam-macam kue buatanku.
"He!!! kamu nggak sopan ya!!, bukankah itu sudah kamu berikan padaku?? kenapa sekarang kamu maj ambil kembali?!," ucap ibu terlihat sangat marah dengan tindakan ku.
Sengaja memang aku buat ibu emosi seperti itu. Karena ada rasa sakit hati saat ibu dan mbak ambar selalu merendahkan kue-kue yang aku bawa.
"Loh?, bukankah kata mbak Ambar ibu sedang diet?, " ucapku sambil melirik kearah mbak Ambar.
"Kenapa lirikan mu sinis seperti itu padaku?!!!," ucap mbak Ambar sambil berkacak pinggang.
"Assalamu'alaikum." mbak Veni mengucapkan salam, saat berada didepan pintu.
" Belum selesai masalah satu, kini datang masalah berikutnya," gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," ibu dan mbak Ambar menjawab salam dari mbak Veni secara kompak.