DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Nasi Bungkus Untuk Sarah


__ADS_3

Akhirnya Kean di bawah ke ruang perawatan setelah mendapat transfusi darah. Damar yang melihat Kean saat di bawa keruang perawatan, hatinya sangat pilu.


Ingin sekali ia mendampingi anak nya itu, namun ia tak mau menentang orang tua dan Bianca. Damar takut kalau ia menentang Bianca, Bianca akan mencabut semua pembayaran rumah sakit Lidya.


Sarah yang melihat tingkah Damar yang tak punya perhatian sedikit pun untuk anaknya, membuat ia tersenyum getir.


Sarah pun akhirnya menemani Kean sendiri menuju ruang perawatan.


"Mar, aku lapar. Ayo kita keluar cari makan." ajak Bianca pada Damar yang saat ini masih menatap kepergian anak dan mantan istrinya itu.


Bianca yang melihat Damar tak menjawab ajakan nya menoleh kearah Damar. Bianca melihat Damar sedang menatap kepergian anak nya itu.


"Kamu masih kepikiran anak dan mantan istri mu?!," ucap Bianca dengan wajah penuh cemburu.


"Aku kepikiran Kean, Bi." jawab Damar masih dengan tatapan mata ke depan, dimana Sarah dan Kean berjalan dan menghilang.


"Ckkk,,,," Bianca berdecak.


"Udah, Mar. Mending kamu keluar cari makan. Mama juga sudah sangat lapar." Linda mencoba untuk mengalihkan perdebatan antara Damar dan Bianca agar tak semakin memanas.


Damar memang tak bisa menolak permintaan Linda, Damar pun beranjak dari duduknya. Dan mengajak Bianca keluar untuk makan.


Bianca pun mengikuti Damar dari belakang, lalu Damar memperlambat langkahnya untuk menunggu Bianca. Dan mereka jalan beriringan menuju parkiran mobil.


"Kita makan dimana, Bi?." tanya Damar sambil menghidupkan mesin mobil Bianca.


"Aku lagi pingin makan nasi Padang, Mar." Jawab Bianca dengan membetulkan rok mininya, yang saat dipakai duduk jadi sedikit naik keatas.


"Oke, kita cari warung nasi Padang sekarang." Damar melajukan mobil nya dengan pelan.


Sesampainya di rumah makan nasi Padang, Damar dan Bianca mulai makan beberapa menu kesukaan mereka yang sudah terhidang diatas meja yang terbuat dari papan kayu. Mereka berdua sangat lahap.


"Oya, Bi. Aku mau menikahi mu." ucap Damar saat melihat Bianca sudah selesai makan.


"Apa Mar?, kamu mau nikahin aku?," tanya Bianca dengan wajah tegang.


"Iya, Bi. Aku mau kamu menjadi istriku. Aku ingin menjalani rumah tangga bersama mu. Jadi kumohon, kamu menerima ku untuk menjadi suami mu," Damar memohon pada Bianca, karena selain ia cinta dengan Bianca. Damar juga menginginkan hidup yang layak tanpa harus bekerja keras.


"Tapi aku......," Bianca tak melanjutkan ucapannya.


"Ijin kan aku datang kerumah mu, Bi. Aku ingin meminta mu langsung pada papa mu. Selama kita bersama, aku tak pernah sekali pun kamu ajak kerumah mu untuk sekedar berkenalan dengan papa mama mu." ucap Damar sambil menghisap rokok nya.

__ADS_1


"Ya, itu karena......" Bianca bingung untuk mencari alasan. Alasan apa yang harus ia katakan pada Damar. Agar semua rahasia nya tak terbongkar.


Bianca sangat mencintai Damar namun ia juga tak mau hidup miskin. Bianca sendiri bingung untuk mengambil keputusan. Yang Bianca inginkan adalah ya seperti ini. Seperti yang dijalani saat ini.


Tak perlu ada pernikahan dengan Damar, jadi dia bisa mendapatkan dua-duanya.


Ia bisa melepaskan hasrat dengan Damar, dan juga bisa menikmati kemewahan yang diberi oleh suaminya yaitu pak Handoko.


"Karena apa, Bi?," tanya Damar ingin tau penjelasan dari Bianca.


"Sebenarnya, papa sudah tau hubungan kita. Dan Sebenarnya sebelum kamu minta untuk main kerumah, aku sudah bicara pada papa tentang hubungan kita ini. Tapi ........," Bianca diam sejenak.


"Papa tak setuju dengan hubungan kita ini," ucap Bianca dengan menundukkan kepalanya. Agar kebohongan yang ia ucap semakin menyakinkan Damar.


"Ijinkan aku ketemu dengan papa mu, biar aku bicara dengan papa mu. Aku yakin setelah aku bertemu dengan papa mu. Beliau akan menyetujui hubungan kita." ucap Damar sangat yakin pada dirinya sendiri.


"Aku nggak yakin, Mar. Lagian papa saat ini sedang sakit jantung. Aku nggak mau memberi kabar yang membuat penyakit nya kambuh." Bianca memberi alasan lagi pada Damar.


"Terus bagaimana dengan hubungan kita?, Sedangkan aku sudah menceraikan Sarah." Damar sedikit emosi dengan sikap Bianca yang sangat plin plan. Damar bingung dengan Bianca, kenapa ia tak mau di nikahi.


"Jadi kamu menyesal menceraikan, Sarah?!," tanya Bianca dengan emosi. Karena ada rasa cemburu di hati Bianca saat Damar menyebut nama Sarah.


"Bukan aku menyesal, Bi. Aku menceraikan Sarah itu demi kamu, demi aku ingin hidup bersama mu." ucap Damar pelan namun penuh penekanan.


Damar pun malas untuk berdebat, lalu ia berdiri dan memesan dua bungkus. Setelah ia membayar nya, mereka berdua menunju ke parkiran mobil.


Setelah sampai di rumah sakit, Damar dan Bianca berjalan bergandengan.


"Kamu pesen dua bungkus nasi, Mar?," tanya Bianca saat melihat dua kresek nasi Padang ditangan Damar.


"Iya, Bi." jawab Damar.


"Emang kamu masih lapar?, atau kmu belikan Lidya juga?," tanya Bianca penuh selidik, karena perasaan nya saat ini sedang tidak enak.


"Hmm... enggak kok. Aku sekalian belikan Sarah. Kasihan dia, pasti juga belum makan." ucap Damar dengan enteng nya.


"Hah??," Wajah Bianca berubah jadi masam saat mendengar penjelasan Damar.


"Memang kenapa, Bi? Apa aku salah berbuat baik pada ibu anak ku?. Lagian saat ini Sarah sendirian, jadi aku yakin pasti dia tidak sempat untuk membeli makanan." Damar merangkul pundak Bianca dan mengajak berjalan bersama.


Namun tetap saja wajah Bianca menunjukkan ketidak sukaan nya pada sikap Damar.

__ADS_1


Mereka berdua sampai di depan kamar rawat Kean. Lalu Damar menghentikan langkahnya.


"Bi, aku mengantarkan ini dulu ya untuk Sarah?," pamit Damar pada Bianca sambil mengangkat satu bungkus nasi Padang.


"Biar aku saja yang mengantar, kamu diam disini. Jangan pernah ikut masuk kedalam!!!," Bianca mengambil dengan paksa nasi yang ada didalam kresek itu.


Damar pun tak bisa berbuat apa-apa, karena takut Bianca akan marah lebih besar dan tak mau memberikan nasi itu pada Sarah.


Akhirnya Damar menuruti permintaan Bianca, untuk tidak masuk kedalam kamar rawat Kean. Kali ini Bianca sendiri yang memberikannya pada Sarah.


Klek!!!


Tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Bianca membuka pintu kamar itu. Dan Sarah yang sedang menyuapi Kean makan pun seketika kaget di buat nya.


"Bianca!!," ucap Sarah kaget saat melihat Bianca sudah ada di dalam ruangan yang sama dengan nya.


"Kenapa? Kamu kaget karena aku ada disini?! Ingat ya kalau bukan karena Damar, aku tak akan pernah Sudi bertemu dan berbicara dengan mu!!!!," ucap Bianca dengan menunjuk wajah Sarah yang natural tanpa polesan.


"Trus kamu kesini mau ngapain?," tanya Sarah dengan suara lembut nya.


"Ini nasi buat kamu!!! Damar membelikan nasi untuk mu!!! Tapi ingat ya!! Kamu jangan pernah berpikir kalau Damar masih mencintai mu. Dia melakukan ini karena dia kasihan padamu karena kamu ibu dari anak nya!!!. Dan ingat satu lagi, kamu jangan pernah tebar pesona pada Damar!!. Bianca sangat emosi, sehingga berbicara sangat lantang.


Kean yang tak pernah mendengar perkataan dengan nada tinggi pun, menangis histeris. Saat mendengar ucapan Bianca.


"Bi, aku minta kecilkan suara mu!!!," ucap Sarah pelan dengan penuh penekanan. Ia tak mau mempunyai citra buruk di depan Kean anaknya dengan berbicara penuh emosi dengan nada tinggi.


"Kamu jangan pernah memerintah ku!!, Karena kamu bukan level ku. Kamu jauuuuh dibawah ku!," Bianca menaruh nasi bungkus iku diatas nakas samping tempat tidur Kean dengan sedikit melempar nya. Dan ia berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar itu


"Oya,, aku ingatkan sekali lagi. Jangan pernah kamu tebar-tebar pesona pada Damar. Karena Damar milik ku seutuhnya!!!," Bianca membalikkan badannya untuk mengingat kan Sarah.


Sarah hanya tersenyum mendengar ucapan Bianca. Tak ada emosi sama sekali dihati nya. Karena memang saat ini sudah tidak ada nama Damar dihatinya.


"Kalau memang sudah saling cinta, kenapa kalian tak segera menikah?," Tanya Sarah dengan sangat tenang.


"Bukankah mas Damar sudah resmi bercerai dengan aku? Jadi sudah bisa kan dia menikah lagi dengan kamu," ucap Sarah dengan senyum manisnya dan berjalan mendekat ke tubuh Bianca yang sedang berdiri didekat pintu keluar.


"Atau memang kamu yang sedang bermasalah? Jadi kamu tak bisa menikah dengan mas Damar?," Bisik Sarah di dekat telinga kanan Bianca.


Sarah yang saat ini memegang kartu As Bianca, bisa sedikit menekan Bianca lewat sindiran.


Bianca yang mendengar ucapan Sarah pun, seketika hati nya sangat cemas. Ia berfikir Sarah mengetahui sesuatu tentang kehidupannya.

__ADS_1


Namun Bianca menepis pikiran itu. Karena menurut Bianca, Sarah itu gadis kampungan yang tak akan tau tentang kehidupan nya di kota ini.


Keyakinan Bianca sangat besar, karena Bianca yakin Sarah tak punya sanak saudara dan teman dikota ini. Sehingga tak ada informasi tentang kehidupan rumah tangganya dengan pak Handoko orang terkaya dikota ini.


__ADS_2