DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Foto Areta


__ADS_3

Aku pun langsung pergi dari rumah perempuan berhati iblis itu.


Aku berjalan menuju mobil dengan menahan air mata. Namun aku tak bisa menahan nya, sehingga tanpa seijin ku air mata itu keluar dan menetes di pipiku.


Sedih sekali saat melihat suami jalan dalam satu mobil bersama dengan mantan istrinya.


"Menangislah disini, puaskan hatimu untuk menangis di sini Sarah!! Tapi ingat!!!! Jangan pernah kamu menangis di depan Bima!!!!, jangan sampai Bima tahu tentang air mata ini!!," gumamku dalam hati menguatkan diriku sendiri.


Mobil ku lajukan dengan kecepatan tinggi, karena ingin sekali secepatnya aku sampai di rumah.


Namun ku hentikan mobil ku, saat aku melihat ada swalayan. Aku berbelanja terlebih dahulu, membeli semua kebutuhan rumah dan tak lupa berbagai cemilan untuk temanku mengetik novel.


Kini mobilku sudah terparkir di depan rumah, lebih tepatnya di sebelah mobil mas Bima.


"Kamu bisa, kamu kuat, kamu hebat, Sarah!! Kamu pasti bisa menghadapi ini semua!!," ucap mensugesti diriku sendiri.


Aku menata hati dan mental sebelum masuk rumah dan bertemu dengan mas Bima.


Setelah turun dari mobil, aku berjalan menuju pintu rumah, kali ini dengan sengaja aku tak mengetuk pintu. Karena aku membawa kunci cadangan pintu rumah ini.


cekleeek...


Pintu terbuka setelah handle pintu aku tarik.


"Sarah!!, kamu darimana saja?!," ternyata mas Bima sudah duduk di kursi ruang tamu.


"Mas?!, kamu sudah pulang?," tanya ku pura-pura.


"Sudah dari tadi kamu dirumah, mas?," tanyaku lagi.


"Aku sudah dari tadi dirumah. Kamu kemana saja? Kok baru datang?!," tanya mas Bima dengan tatapan mata yang berbeda.


"Iya, mas. Sarah tadi mampir dulu ke swalayan, karena bahan makanan kita sudah habis." ucapku sambil berjalan kebelakang, dan memang sudah aku rencanakan. Sebelum sampai rumah aku mampir ke swalayan terlebih dahulu.


"Tapi kamu kan bisa telpon aku terlebih dahulu kalau kamu mau mampir-mampir, Sarah!," ucap mas Bima dengan sedikit emosi.


"Iya, maafkan aku mas." ucapku datar tanpa ekspresi.


Aku menata semua bahan makanan yang ku beli tadi di dalam lemari es.


Setelah selesai menata semua bahan-bahan makanan di dalam lemari es. Aku bergegas berjalan menuju kamar, untuk segera membersihkan tubuh ku.


"Sarah?!, ada apa dengan kamu?," tanya mas Bima yang masuk kedalam kamar seperti nya ia mengikuti ku.


"Memang kenapa dengan Sarah, mas?," tanya ku.


"Kamu tak seperti biasanya, kamu dingin sekali padaku. Apa aku punya salah padamu, Sarah?!," tanya mas Bima, seperti nya ia sudah mulai curiga dengan sikapku padanya.


"Mungkin itu hanya perasaan mu saja, mas." ucapku dengan enteng sambil berjalan kekamar mandi.


"Sarah?!, tunggu!! Aku belum selesai berbicara dengan mu." panggil mas Bima.


"Maaf mas!, Sarah mandi dulu, tubuh Sarah sudah gerah dan sangat capek!!." ucapku tak memperdulikan perintah mas Bima.


Aku segera masuk kedalam kamar mandi, agar tak mendengar ucapan mas Bima.


Sengaja aku berlama-lama di dalam kamar mandi. Tujuan ku agar setelah aku keluar dari kamar mandi mas Bima sudah tertidur.


Namun sayangnya, rencana ku gagal. Saat aku keluar dari kamar mandi, ternyata mas Bima masih setia duduk di atas ranjang menunggu ku.

__ADS_1


"Kamu belum tidur, mas?," tanya ku saat melihat mas Bima masih duduk di atas kasur.


"Aku belum ngantuk, Sar." jawab mas Bima.


"Apa kamu lapar?," tanya ku.


"Kalau kamu lapar, tunggu sebentar. Aku akan masak untuk makan malam." lanjut ku.


"Iya, sayang. Aku sangat lapar." jawabnya dengan mata nya menatap mata ku. Dan kami pun saling bertatapan.


"Oh ya mas?!, siapa yang meminjam mobil mu?," tanya ku.


"Teman ku." jawab mas Bima dengan singkat. Dan dia tidak menatap mataku saat berbicara.


"Teman yang mana, mas?, kenapa aku tak pernah kamu kenalkan dengan teman-teman mu, mas?," tanyaku.


"Untuk apa aku harus mengenalkan teman-teman ku padamu?," tanya mas Bima. Kali ini ia berbicara dengan kontak mata dengan ku.


"Agar aku tau dan kenal dengan teman-teman mu. Lagian apa salahnya kalau seorang istri kenal dengan teman-teman suaminya?," tanya ku sambil menatap nya dan menghentikan aktivitas ku yang sedang memakai krim wajah.


"Ah .. Itu nggak perlu!." ucap nya singkat tapi terlihat ia tak nyaman dengan apa yang aku bicarakan.


"Kenapa nggak perlu, mas?, apa teman-teman mu itu perempuan?," tanya ku lagi, sengaja aku memancing emosi nya.


"Kok kamu menuduh ku sih?!," ucapnya dengan emosi.


"Memang siapa yang menuduh, mas?!, Sarah hanya bertanya kok." ucapku dengan santai.


"Apa salah seorang istri bertanya tentang teman-teman suaminya?, aku bertanya seperti ini bukan karena aku cemburu, tapi karena aku ini perhatian dengan kamu mas. Aku tak mau kamu salah dalam mencari teman." ucap ku pada mas Bima.


"Kalau memang kamu tak mau di perhatikan, ya sudah!!," ucapku lalu dengan sengaja aku merebahkan tubuhku diatas kasur dan membelakangi mas Bima yang masih duduk di bibir ranjang.


"Kenapa kamu tidur, Sarah?. Bukankah kamu mau memasakkan ku?," tanya mas Bima.


"Aku yang lapar, Sarah!!, kenapa kamu tak perhatian sama suami sih?!," ucap mas Bima dengan tangan nya memegang bahu ku dan menariknya. Sehingga tubuh ku yang awalnya miring, karena mas Bima menarik nya, kini tubuhku terlentang di atas kasur. Sedangkan tangan mas Bima dengan kuat mencengkram bahu ku.


"Auw...!, sakit mas!!!," jerit ku, segera ku mencoba melepaskan tangan mas Bima dari bahu ku. Dan akhirnya ia melepaskan tangan nya dari bahu ku.


"Kenapa kamu marah seperti ini sih, mas?!. Bukankah kamu sendiri yang tamu di perhatikan oleh aku?!," jawab dengan suara sedikit nyaring. Tapi aku yakin kalau pak Bram tetangga samping rumah tak akan mendengar suara jeritan ku ini.


"Kenapa sekarang kamu menjadi istri pembangkang, Sarah?! Siapa yang mengajari mu?!," ucap mas Bima.


Sebulan menikah dengan mas Bima, baru kali ini aku mendengar ia berucap kasar dan bertindak kasar pula pada ku.


"Asal kamu tau, mas!!, Kamu lah yang membuat dan mengajari ku untuk kurang ajar seperti ini." ucapku.


Lalu aku kembali mengembalikan posisi tidur ku yang membelakangi mas Bima lagi.


"Maksud mu apa, Sarah? dengan kamu bilang kalau semua itu aku yang mengajarkan?," tanya mas Bima. Kali ini mas Bima berjalan dan berdiri tepat di depan wajahku ku dengan tangan nya berkacak pinggang.


"Karena kebohongan mu, aku menjadi seperti ini, mas?!!," suara ku lantang karena aku tak mau kalah dengan nya. Toh aku ini benar kok, memang mas Bima bohong padaku.


"Kebohongan apa Sarah?!, aku tak pernah membohongi mu sama sekali!," tanya mas Bima.


"Kamu yakin tak membohongi ku, mas?, sekarang coba kamu ingat-ingat lagi!," ucapku. Kali ini posisi ku sudah duduk diatas kasur.


"itu hanya kecurigaan mu saja Sarah, jujur aku tak pernah membohongimu. Aku sayang sama kamu." ucap mas Bima masih menutupi kebohongannya.


"Aku mohon kamu jangan marah seperti ini Sarah. Aku sangat takut kehilanganmu. Aku sangat sangat mencintaimu." rayu mas Bima.

__ADS_1


"Kalau memang kamu mencintaiku, Mas?!. sekarang katakan Siapa teman yang meminjam mobilmu tadi sore?," tanyaku lagi untuk memastikan ia masih berbohong atau tidak.


"Memang tadi yang meminjam mobil ku itu benar-benar temanku, Sarah. Kamu tak perlu curiga. Aku tak akan mengkhianati pernikahan kita" jawab mas Bima masih kekeh menutupi kebohongannya.


"Temen kamu laki-laki atau perempuan, mss?," tanyaku.


"Kamu ini kenapa sih, Sarah? Kenapa pertanyaan kamu sedetail itu mempertanyakan masalah mobil?. Ini hanya masalah sepele, kenapa haru di besar-besarkan? Ini itu hanya temanku meminjam mobilku dan itu sudah dikembalikan. Trus masalahnya apa?," Tanya mas Bima masih belum mengakui kebohongan nya.


"Aku hanya bertanya teman yang meminjam mobil mu itu, lelaki atau perempuan, mas?!, aku tak memerlukan jawaban panjang lebar, yang aku ingin tahu hanyalah teman kamu ini perempuan atau laki-laki itu saja mas!!," ucapku pelan namun penuh penekanan.


"Temanku ya laki-laki lah!!, Mana ada aku punya teman perempuan!!," jawab Mas Bima dengan sedikit emosi matanya tak berani menatap mataku, dari situ aku bisa mengambil kesimpulan kalau memang benar Mas Bima itu membohongiku.


Lagian sebelum ia menjawabnya aku juga sudah tahu siapa teman yang meminjam mobil yang ia maksud.


"Sungguh pintar sekali kamu menyembunyikan kebohonganmu Mas?," gumamku dalam hati.


"Sudah lah, Sar!! aku sudah tak mau membahas tentang mobil ini dan aku ingatkan padamu jangan pernah membesar-besarkan masalah. Aku tak mau kita seperti ini. Bertengkar hanya karena hal kecil. Aku sangat sayang padamu. Mana mungkin aku membohongi mu." ucapan mas Bima berhasil membuat hati ku meleleh kalau aku tak mengetahui kenyataannya.


Namun sayang nya, aku mengetahui semuanya. Bukan hati ini makin lumer yang ada hati ini semakin mengeras seperti batu.


Aku pun berdiri dan berjalan menuju meja rias ku, karena tas ku ada diatas meja itu. Aku mengambil handphone yang ada dalam tas itu.


"Ini apa mas?," aku menyodorkan handphone ku, yang layarnya berisi foto Areta dengan mobilnya.


Mas Bima mengambil handphone ku. Dan ia melihat foto itu. Sungguh terlihat jelas kegelisahan di wajahnya setelah melihat foto itu.


"Kamu masih mau membantah semua kebohongan mu, mas?," tanyaku.


"Ini semua tidak seperti yang kamu lihat, Sarah. Kamu jangan percaya dengan foto ini tanpa kamu melihat nya langsung. Kamu dapat darimana foto-foto ini, Sarah?," mas Bima masih terus menyangkal tentang foto yang ada di genggaman tangan nya.


"Kamu tak perlu tau, aku dapat foto itu darimana, mas!!, yang jelas foto itu sudah sangat valid." ucapku tanpa menatap kearah mas Bima.


"Aku yakin ini pasti ada orang yang ingin merusak rumah tangga kita, Sarah. Dengan cara mengirim foto-foto ini padamu. Kamu jangan terlalu percaya dengan mereka, dan aku sangat yakin foto ini editan."


Bisa-bisanya mas Bima bilang kalau itu foto editan, padahal itu hasil foto ku sendiri. Dan aku juga melihat nya dengan mata kepala ku sendiri, kalau yang membawa mobil mas Bima itu adalah mantan istrinya.


"Kalau kamu memang masih mencintai mantan istri mu yang tak lain ibu dari anak mu, mas. Kamu bisa meninggalkan aku sekarang juga!, silahkan kamu pergi dari sini!!," ucapku sudah tidak tahan dengan omongan mas Bima yang tak mau mengakui kebohongan nya.


"Kamu mengusir ku, Sarah?!, punya hak apa kamu mengusir ku?, sedang kan aku adalah suami mu kepala rumah tangga disini." ucap mas Bima.


"Aku punya hak untuk mengusir siapa saja dari rumah ku, termasuk kamu yang sudah membohongi ku, mas?!," ucapku.


"Sombong sekali ucapan mu, Sarah. Aku yakin kamu tak akan bisa hidup tanpa ku." ucap mas Bima dengan tatapan menghina ku.


"Kenapa kamu seyakin itu, mas?," tanyaku.


"Ya sangat yakin lah, mana mungkin kamu bisa hidup dari hasil kerja mu yang hanya seorang pelayan toko roti dengan menghidupi satu anak." ucapan mas Bima kali ini terdengar sangat menghina profesi ku.


"Kamu salah besar, mas!. Dari hasil menjadi pelayan toko roti, buktinya aku bisa menghidupi mu disini!!. Apa kamu lupa, kalau selama menikah dengan ku. Tak ada sepeserpun uang yang ku terima dari mu mas!!!. Kamu pikir yang kami makan setiap hari, uang dari mana? Itu uang dari aku menjadi pelayan di toko roti itu." jujur aku tak ingin mengungkit sesuatu yang sudah di makan.


Tapi saat mendengar hinaan dari mas Bima membuat hati ku sangat sakit. Sehingga dengan mudah dari mulutku keluar kata-kata seperti itu.


"Kamu jangan pernah menjelek-jelekkan aku dengan bicara kalau aku tak pernah memberi mu nafkah lahir, Sarah?!. Apa kamu lupa, sehari setelah kita menikah kamu sudah aku beri uang sebesar empat juta rupiah di tanganmu. Jadi jangan seenaknya kamu menuduhku seperti itu!!! Ingat dosa Sarah, karena tuduhan mu bisa jadi fitnah." ucap mas Bima sangat emosi dengan mata nya yang melotot membulat sempurna di wajah nya. Sungguh wajah mas Bima sangat menyeramkan saat ia sedang marah seperti sekarang ini.


Ternyata selama ini aku salah menilai mas Bima yang ku anggap dia lelaki penyabar dan penyayang karena sikap nya yang lembut dan penuh cinta padaku.


Namun kenyataannya, mas Bima sangat menakutkan kalau ia sedang marah. Dan satu lagi, ternyata mas Bima pria yang suka berbohong. Jadi menurut ku di dunia ini tak ada yang namanya Lelaki yang jujur pada istrinya.


"Apa kamu juga lupa, mas?, kalau uang yang kamu beri padaku waktu itu sudah kamu ambil lagi untuk membayar hutang mu pada mbak Ambar? Yang kamu bilang kamu meminjam uang mbak Ambar untuk membelikan handphone Putri?,"

__ADS_1


"Bukankah itu aku meminjam padamu? Aku tak mengambil uang yang aku berikan padamu. Tapi aku meminjam uang mu, Sarah."


"Dan asal kamu tau, uang yang ku berikan padamu adalah uang yang kamu berikan padaku, mas." jawabku.


__ADS_2