DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Awal Hari Yang Buruk


__ADS_3

"Aku mengancammu?, apa kamu takut dengan apa yang aku katakan tadi, mbak?!," ucapku dengan tersenyum sengit padanya.


"Kenapa aku harus takut?, karena yang kamu tuduhkan pada ku itu semua tidak benar!!," ucap nya dengan wajah yang sangat meyakinkan.


"Sekarang kamu sudah ketahuan berdua-duaan dengan suamiku, terus kamu mengancam dengan tuduhan yang tak pernah aku lakukan?!, hebat kamu Sarah!!!." ucapnya dengan menarik rambutku yang terbalut oleh Khimar panjang ku.


"Veni!!, lepaskan!!. Jangan kamu sakiti Sarah, walau hanya seujung kuku!!." ucap mas Awan mencoba melepas tangan mbak Veni yang masih mencekram kuat rambut dan Khimar ku.


"Kamu membela perempuan ini, mas?!. Demi perempuan selingkuhan mu ini, kamu berani membentak ku dan kasar padaku, mas?!!." teriak mbak Veni dengan matanya melotot pada mas Awan.


"Kecilkan suara mu!!!, apa kamu tidak malu dilihat semua orang disini!!!." ucap mas Awan dengan penuh penekanan.


"Kenapa aku harus malu?, sedangkan kamu saja tidak malu selingkuh dengan perempuan jal*Ng ini disini!!." mbak Veni terlihat sangat emosi. Dia menunjukku di akhir kalimat nya.


Plaaakkk!!!


Tamparan mas Awan mendarat di pipi kiri mbak Veni.


"Jaga ucapan mu, Ven!!. Aku dan Sarah tak pernah selingkuh!!." kali ini mas Awan angkat bicara, tidak membenarkan tuduhan mbak Veni yang menuduh aku dan mas Awan selingkuh.


"Aku kira aku percaya dengan ucapan mu, mas?!, Aku tak percaya sama sekali dengan semua yang kamu katakan!!, Karena sudah sangat jelas aku menangkap basah kamu dan dia sedang berduaan disini!!. Kalau bukan selingkuh lantas apa aku harus menyebutnya?!," mbak Veni semakin tak terkendali.


"Asal kamu tau, aku hanya membantu Sarah memasang ban mobilnya yang kempes!!." jawab mas Awan dengan jujur.


"Kenapa harus kamu yang repot untuk membantu dia?!, bukan kah disini banyak orang?," ucap mbak Veni seperti tak punya rasa sosial sama sekali.


"Sebenarnya aku juga tak ingin mas Awan yang membantuku, karena aku tahu akibatnya nanti seperti apa. Tapi tadi mas Awan sendiri yang tiba-tiba membantu ku." jawabku.


"Kalau begitu selesai kan masalah kalian berdua, karena aku sama sekali tak merasa punya masalah di rumah tangga kalian." ucap ku sambil membuka pintu mobil bagian depan.


"Oh ya, aku hampir lupa." ucapku sambil menghentikan gerakan tangan ku yang saat ini memegang handle pintu mobil. Dan menoleh kearah mereka berdua.

__ADS_1


"Terimakasih mas Awan, karena sudah membantu ku mengganti ban mobil ku yang bocor." lanjutku.


Lalu segera aku masuk kedalam mobil dan dengan cepat aku menutup pintu mobil.


"Sarah!!!, tunggu!!!." suara teriakan mbak Veni sangat terdengar dengan jelas dari dalam mobil, walau kaca mobil sudah di tutup sekali pun.


"Kamu mau kemana?!, jangan pergi begitu saja!!!, ingat ya aku akan membuat perhitungan dengan mu!!," ancam mbak Veni dengan menggedor pintu mobilku.


Dan aku tak mempedulikan nya, mesin mobilku segera aku hidupkan dan pedal gas pun aku injak. Sehingga aku meninggalkan mas Awan dan mbak Veni yang masih memaki-maki ku.


Ini lah cara satu-satunya agar aku terhindar dari mereka berdua.


Percuma rasanya aku menjelaskan semua kebenaran yang terjadi pada ku dan mas Awan, karena mbak Veni tak akan mendengar kan omongan ku dan dia pun tak akan percaya dengan ucapan ku.


Kali ini aku menunju toko, sebenarnya rencana hari ini aku ingin kerumah Sinta. Namun aku masih belum membuat janji dengan nya. Takut saja kalau seandainya aku kesana tapi Sinta tak ada di rumah.


Jadi ku putuskan untuk ke toko terlebih dulu. Setelah sampai toko, aku akan menelpon Sinta untuk menanyakan keberadaan nya saat ini.


Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju kedalam toko.


"Sarah, tunggu!!!," tangan ku di tarik dengan sangat kencang, untung saja aku masih bisa menahan tubuh sehingga aku tak terjatuh.


Saat aku menoleh kearah orang yang menarik ku, ternyata mas Bima lah yang saat ini memegang tangan ku.


"Lepaskan, mas!." sentakku padaad Bima sambil menghempas kasar tangan mas Bima.


Kini tangan ku pun terlepas dari genggaman tangan mas Bima.


"Mau apa kamu datang kesini, mas?!, aku rasa kalau untuk meminta tanda tanganku untuk surat perceraian, kamu tak perlu repot-repot datang menemui ku sendiri." ucap ku Ketus pada mas Bima.


Entah mimpi apa aku semalam, kenapa hari ku diawali dengan masalah bersama keluarga yang sudah menjadi mantan?!

__ADS_1


"Aku akan menceraikan mu secepatnya, Sarah. Tapi dengan satu syarat." ucap mas Bima dengan tatapan mata yang menakutkan padaku.


"Aku rasa tak perlu ada syarat untuk menceraikan ku, mas. Karena semuanya akan ku permudah."jawab ku.


"Aku tak akan menceraikan mu, kalau kamu tak memenuhi satu persyaratan ku ini." ucap nya lagi.


"Sebenarnya apa sih yang kamu mau, mas?!. Bukan kah dengan kamu menceraikan aku dengan cepat, maka dengan cepat pula kamu akan menikahi mantan istri mu itu?." ucapku pada mas Bima.


"Aku tidak rela kamu bisa bebas dengan lelaki lain, Sarah!! Aku tidak terima itu?!!," sekali lagi tatapan mata mas Bima sangat menakutkan.


"Lalu bagaimana dengan kamu?, kenapa kamu sebebas itu dengan mantan istri mu disaat kamu masih sah menjadi suami ku, mas?!," tanyaku. Tatapan ku pun tak kalah menyeramkan dengan mas Bima. Sudah seperti singa betina yang siap menerkam mangsanya.


"Itu beda lagi Sarah!!!, Areta itu mantan istri ku dan ibu dari anakku." jelas mas Bima.


"Oh...karena dia mantan istri mu dan ibu dari anak mu, jadi kamu boleh bermesraan dengan dia walau sudah menjadi mantan?!." tanyaku dengan sangat tegas.


"Maaf mas, aku rasa ajaran agama ada penyimpangan." lanjut ku.


Lalu aku berjalan meninggalkan mas Bima menuju toko.


"Tunggu!!!, aku belum selesai bicara dengan mu, Sarah!!!." lagi mas Bima menarik tangan ku dan mencengkram nya dengan sangat kuat. Sehingga langkah kaki pun terhenti karena rasa sakit yang teramat di pergelangan tangan ku.


"Lepaskan!!,"


Dan aku pun segera menghempaskan lagi tangannya mas Bima dengan sangat kasar.


"Apalagi yang kamu mau, mas?!," tanya ku dengan sangat emosi pada mas Bima.


"Aku hanya ingin kan satu hal Sarah, setelah itu aku akan segera menceraikan mu." ucap mas Bima dengan mengangkat jari telunjuk nya saat mengucapkan kata satu.


"Apa satu hal yang kamu mau dari ku, mas?!. Kata kan!!!!," ucap dengan sangat kasar. Aku ingin segera terlepas dari lingkaran keluarga yang selalu membuat masalah di hidup ku.

__ADS_1


__ADS_2