
"Kamu masih disini, sayang?," tanya mas Bima dari belakang ku.
"Iya, mas.Aku menunggu mu." jawabku sambil menatap wajah mas Bima.
"Ya sudah, yuk kita kedalam." ajak mas Bima. Aku berjalan berdampingan dengan mas Bima. Sedangkan mas Awan ada di belakang kami berdua.
Dan ternyata ibu, mbak Ambar dan mbak Veni sudah duduk di kursi meja makan. Mereka bertiga tengah menikmati kue-kue yang tadi aku bawa.
"Huh!!, katanya lagi mengurangi gula dan karbohidrat. Tapi nyatanya kue yang ku bawa ludes tak bersisa." gumamku dalam hati.
Bukan nya aku nggak ikhlas, kalau kue yang Ku bawa di makan dan di habiskan. Tapi cara menerima nya itu yang membuat hati ini kesal. Kenapa harus bilang ini itu mencela pemberian ku, tapi nyatanya masih doyan dengan apa yang ku bawa.
"Sini mas," mbak Veni menyeret kursi makan dan mempersilahkan mas Awan untuk duduk di samping nya.
Sedangkan mas Bima duduk di samping mas Awan dan aku duduk disebelah mas Bima.
"Putri mana, Bu? kok dari tadi Bima tak melihat keberadaan Putri?," tanya mas Bima sambil mata nya mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah untuk mencari keberadaan anak perempuan nya.
"Putri lagi nginap di kost'an bunda nya." jawab ibu mertua ku.
"Kok nggak ijin dulu?," tanya mas Bima.
"Ya sudah ijin ke aku." jawab ibu dengan ketus.
"Harusnya ijin nya ke aku atau pada Sarah." ucap mas Bima.
"Lah dia punya hak apa? kok harus minta ijin pada dia?!," lagi-lagi ucapan ibu sangat ketus padaku.
"Sarah itu nggak ada hak pada diri Putri, karena dia bukan anak kandung nya." lanjut ibu mass Bima.
"Ya sudahlah, ayo kita makan! Aku sudah lapar!," mas Bima sengaja mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia ada rasa tak enak padaku, atau memang sedang malas berdebat dengan ibu nya. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya, aku tak tahu.
Setelah aku menyendokkan nasi ke atas piring mas Bima, aku pun menyendokkan nasi untuk diriku sendiri.
"Sekalian sendokkan untuk ku, Sar!," ucap mas Awan sambil mendekatkan piring nya ke tempat nasi.
"Mmmm... ba..baik mas." jujur ada perasaan canggung dan tak enak hati kalau aku juga menyendokkan nasi untuk mas Awan. Karena disini posisi kita ada pasangan masing-masing.
Kenapa pikiran ini menjadi kemana-mana? Inikan hanya mengambilkan nasi saja, kurasa ini hal yang biasa aja.
Seharusnya yang mengambilkan nasi untuk mas Awan adalah istri nya yaitu mbak Veni. Namun saat aku melirik kearah mbak Veni, dia sedang sibuk dengan handphone nya.
Sepertinya ia tak punya tata Krama, seharusnya saat acara makan seperti ini, dia meninggalkan dan menyimpan handphone nya di dalam tas nya. Bukan sibuk sendiri dengan handphone nya seperti itu.
"Ini bau apa, sih?," tanya mas Awan dengan hidung nya mengendus-endus, mirip yang di lakukan oleh mbak Ambar tadi saat berpelukan dengan mbak Veni.
Namun mbak Veni tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Dia masih sibuk dengan handphone nya.
"Aroma itu sudah mulai tadi ada, Wan." jawab mbak Ambar.
"Dan sekarang pun aroma itu masih kuat." lanjutnya.
"Udahlah jangan bahas aroma yang tidak sedap, karena kita ini mau makan!," ucap ibu, yang dengan semangat menyendokkan nasi ke piring nya beberapa kali. Sehingga membuat tumpukan masi yang seperti gunung.
Kita semua mulai makan, kecuali mbak Veni. Ia sangat sibuk dengan handphone nya, sampai ia tak tahu kalau semua orang yang ada di meja makan ini tengah lahap memakan makanan yang sudah tersaji diatas meja makan.
"Ven?!!, kok sepertinya kamu sibuk banget dengan handphone mu? sampai kmu nggak makan. Memang ada apa dengan handphone mu?," tegur mbak Ambar.
"Oh.. apa mbak?, mbak Ambar bicara sama Veni?," tanya mbak Veni dengan gelagapan. Kelihatan nya mbak Veni kaget dengan suara mbak Ambar yang menegurnya.
"Kamu makan dulu, taruh handphone mu. Memang ada apa sih di dalam handphone mu itu?," tanya mbak Ambar.
__ADS_1
"Maaf mbak, iya Veni akan segera makan. Tapi ini lagi tanggung." jawab mbak Veni, yang berhasil membuat aku penasaran.
"Memang kamu lagi apa?," tanya mbak Ambar lagi.
"Ini loh, mbak. Veni lagi baca novel online." jawab mbak Veni. Rupanya ia juga suka membaca novel online.
"Ya, tapi kan bisa kamu baca nanti, Ven. Sekarang waktu nya makan bersama." tegur mas Awan.
"Tapi kan aku penasaran dengan jalan cerita nya, mas. Baru saja aku dapat notifikasi update dari novel online yang aku baca. Ini penulis favorit ku." jawab mbak Veni tak mau di disalahkan.
Jadi penasaran novel apa dan siapa penulis nya yang sedang ia baca. Namun aku malas sekali untuk bertanya itu padanya. Karena aku yakin dia akan nyinyir padaku.
"Memang mbak Veni sedang baca novel online milik siapa?," ku beranikan diri untuk bertanya pada mbak Veni, karena rasa penasaran yang begitu besar ini.
"Kamu itu kepo saja deh!!!, aku yakin walau aku kasih tau kamu siapa penulis novel online itu, kamu juga tak akan pernah ngerti. Mana mungkin orang-orang udik seperti kamu baca novel?, hahahaha." jawab mbak Veni dengan di ikuti tertawa lebar yang sangat jelas itu mengejekku.
Dan mbak Ambar juga tak mau kalah, ia juga tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan mbak Veni.
Tuh kan apa yang aku pikirkan terjadi, mereka tak akan pernah menjawab setiap pertanyaan ku dengan benar. Mereka akan selalu nyinyir padaku.
Belum tau saja mereka siapa aku. Jika suatu saat mereka tau kalau aku adalah seorang penulis novel online, aku harap mereka berdua tidak pingsan atau pura-pura kesurupan karena menahan malu telah menghina ku saat ini.
"Sudah-sudah kamu makan aja dulu, Ven!, baca novel nya dilanjutkan nanti!!," ucap mas Awan terlihat kesal dengan sikap mbak Veni yang terus membantah.
"Iya..iya, mas!," jawab mbak Veni dengan wajah manyun. Lalu ia kembali memasukkan hp kedalam tas nya.
Kini kami berenam tanpa suami mbak Ambar menikmati hidangan makan malam yang sudah disediakan oleh ibu mertua.
"Mas Teguh mana, mbak?," tanya mas Awan. Memang dari tadi aku juga tak melihat mas Teguh, suami mbak Ambar.
Mau tanya, tapi rasanya percuma. Karena setiap pertanyaan ku tidak akan disambut dan di jawab dengan baik oleh mereka.
"Mas Teguh lagi tugas ke luar kota, Wan. Jadi nggak bisa ikut kumpul malam ini." jawab mbak Ambar.
"Sudah dua hari ini mbak mu tidur disini, Wan. Dia takut dirumah nya sendirian." ucap ibu sambil mengunyah makanan yang ada di atas piring nya.
"Iya, mbak. Lebih baik mbak Ambar tidur di sini, kalau di tinggal mas Teguh keluar kota. Ya itung-itung sambil menemani ibu, jadi kalian sama-sama tak kesepian." mas Bima menyetujui apa yang dilakukan oleh mbak Ambar yang berinisiatif tidur dirumah ibu, saat suami nya pergi keluar kota.
Setelah selesai menikmati hidangan makan malam, semua orang yang ada di meja makan berpindah tempat ke ruang tamu.
Sedangkan aku membereskan piring-piring kotor sisa makanan yang masih ada diatas meja makan sendirian. Tak ada satu pun dari anak dan menantu kesayangan ibu mertua ku yang membantuku disini.
Setelah piring itu ku tumpuk di dalam wastafel dapur, segera ku tinggalkan tempat itu. Karena rasanya malas sekali aku mau mencuci piring-piring kotor bekas mereka.
Namun setelah kaki ini melangkah tiga langkah, aku berhenti dan berbalik ke belakang. Rasanya kasihan juga kalau piring itu tak ada yang membersihkan.
Akhirnya aku mencuci tumpukan piring kotor di dalam wastafel itu.
Setelah semua beres dan bersih, tak ada satu pun tersisa piring yang kotor. Aku berjalan keluar menuju ruang tamu, dimana semua orang sedang duduk santai di sana.
Terdengar suara tawa mbak Ambar, ibu dan mbak Veni yang renyah. Hangat sekali obrolan mereka, berbeda saat mereka berbicara padaku.
"Ambar, kamu lihat nggak? wajah Sarah makin mulus dan putih." bisik ibu tapi terdengar sangat jelas di telinga ku.
"Pasti dia perawatan mahal di salon. Kok dia banyak uang ya?." lanjut ibu terus nyinyir pada ku.
"Ehem... ," aku sengaja berdehem. Mereka bertiga salah tingkah dan kaget saat mendengar suara ku.
"Lagi bicara apa kalian? rupanya sangat asyik sekali. Boleh donk aku ikut?," ucapku sambil duduk di sofa yang saat ini sedang kosong.
"Silahkan!," jawab mbak Ambar dengan ketus.
__ADS_1
"Ven, lihat dong. Novel apa yang sedang kamu baca?, aku ingin membacanya juga untuk mengisi kekosongan waktu ku." mbak Ambar bertanya pada mbak Veni setelah menjawab pertanyaan ku dengan ketus dan sangat singkat.
"Ini mbak, penulis ini adalah penulis favorit ku. Nama pena nya bundake, semua novelnya menceritakan kehidupan berumah tangga."
Deg!
Jawaban mbak Veni membuat jantung ku seperti berhenti berdetak. Karena dia adalah salah satu penikmat tulisan ku juga.
Bagaimana kalau ia membaca bab terakhir yang aku unggah tadi?
Padahal disitu aku menceritakan tentang yang terjadi padanya tadi sore di salon Siska.
"Memang kamu membaca novel online di aplikasi apa, Ven?," tanya mbak Ambar.
"Di aplikasi noveltoon, mbak. Kalau mbak Ambar nggak punya, segera aja download." jawab mbak Veni.
Aku semakin yakin, bahwa novel yang ia baca adalah novel hasil tulisanku.
Mbak Ambar dan mbak Veni terlihat sedang asyik membicarakan novel-novel online yang aku tulis.
Berbeda dengan ibu mertua ku, daritadi aku lirik ke arah nya. Ibu mertuaku terus melihat ku seperti tak berkedip.
Apa yang ada di dalam pikiran nyam, sehingga ia menatap ku seperti itu?
"Sarah!!, kamu selalu perawatan di salon ya?! kok kulit wajah mu kelihatan halus dan putih?!," tanya ibu mertua dengan nada ketus.
Jadi karena ini, kenapa dari tadi ibu mertua ku terus melihat dan memandang wajah ku?
"Lagi ngobrol apa nih? kayak nya asyik banget?,"
Mau menjawab pertanyaan ibu mertua, tiba-tiba mas Bima masuk dan bertanya pada kami yang sedang duduk bersama di ruang tamu ini. Lalu ia duduk di sampingku.
Sepertinya ini kesempatan ku, untuk memberi pelajaran pada ibu dan mas Bima.
"Ini mas, ibu bertanya aku kok kulit wajah ku halus dan putih." ucapku pada mas Bima.
"Iya, sayang. Kamu memang kelihatan tambah cantik." jawab mas Bima.
"Ya aku begini dan seperti ini kan karena kamu, mas." ucap ku.
"Kalau kamu tak memberi aku uang yang cukup untuk perawatan disalon kecantikan. Mana mungkin aku bisa secantik ini." dengan sengaja aku berbohong disini. Padahal sepeserpun uang mas Bima tak keluar untuk perawatan ku.
"Aku perawatan di salon kecantikan yang cukup terkenal di kota ini, Bu. Dan asal ibu tahu, aku bisa secantik ini karena anak ibu yang sudah memperlakukan ku seperti seorang ratu." ucapku.
"Terimakasih ya sayang untuk semuanya, untuk perhatian mu selama ini dan terimakasih untuk hadiah mobil yang kamu berikan padaku." ucap ku pada mas Bima. Dan segera kupeluk erat lengan tangan mas Bima dan kepala ku sandarkan di bahu mas Bima.
"Sama-sama, sayang." seperti tak punya malu, mas Bima menjawab seperti itu. Padahal tak ada sepeserpun uang nya masuk kepada ku.
Lalu mas Bima mengecup keningku dan di saksikan tiga orang yang ada didepan ku saat ini. Karena mas Awan masih sibuk menghisap rokok di teras rumah.
Saat ku melihat wajah tiga orang yang ada di depan ku saat ini, ingin sekali aku tertawa terbahak-bahak.
Kali ini aku berhasil membuat mereka bertiga kesal, terlihat sekali wajah kesal dengan apa yang aku lakukan saat ini.
"Siap-siap kamu bangkrut, mas." gumamku dalam hati.
Sebenarnya aku tak tega pada mas Bima, tapi bagaimana lagi. Kelakuan nya sungguh menyebalkan, ia selalu menuruti semua permintaan ibu nya dan mengabaikan nafkah lahir untuk ku, yang sudah menjadi istri sah nya.
"Kamu itu jadi istri harus bisa berhemat dan menyimpan dengan baik uang suami mu. Bukan berfoya-foya tidak jelas seperti itu!!," hardik ibu pada ku
"Aku kan istrinya Bu, jadi aku juga punya hak menghabiskan uang suami ku. Dari pada harta dan uang suami ku di habiskan wanita lain, ya lebih baik dan lebih berhak aku yang menghabiskan." ucapku dengan sengaja menyindir ibu nya mas Bima. Dan semoga saja dia tersadar dengan omongan ku ini.
__ADS_1
"Kalau ibu mau perawatan juga, bisa kok Sarah antar. Biar wajah ibu lebih fresh dan kelihatan lebih mudah. Karena orang yang terlalu banyak pikiran dan selalu berburuk sangka pada orang lain, itu mempercepat tumbuhnya garis-garis halus pada wajah dan itu lah yang membuat wajah lebih tua dari umur kita." ucapku memberi penjelasan dan tentunya sindiran pada mereka bertiga yang saat ini sedang menatap kesal padaku.