DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bertemu Seperti Tak Kenal


__ADS_3

Aku langsung naik taksi online saat mobil mbak Veni telah hilang dari pandangan mata.


"Amma, kenapa Kay tidak boleh berteman dengan ku?," tanya Kean dengan wajah sedih.


"Padahal Kean tak pernah nakal kepada teman-teman, amma." ucap Kean dengan nada sedih.


"Kean, amma tau kalau Kean itu anak baik. Amma juga tau kalau Kean itu tak pernah nakal pada teman-temannya Kean. Kalau masalah Kay tidak boleh bermain dengan Kean, mungkin karena Kay itu anak perempuan, sedangkan Kean anak lelaki." jawabku mencoba memberi pengertian pada Kean dengan meminimalisir kebencian pada orang lain.


"Memang nya, kalau anak perempuan dan anak lelaki itu tidak boleh berteman, amma?,"


Memang dasarnya anak ku ini cerdas, jadi ia selalu ingin tahu tentang alasan dari setiap ucapan ku, yang menurutnya tidak masuk akal.


"Bukan tidak boleh, Kean. Boleh-boleh saja, tapi lebih baik tidak usah berteman." aku menjawab dengan penuh kehati-hatian.


"Memang nya kenapa?," tanya ya lagi.


"Ya, karena lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau anak lelaki kan main nya suka lari-lari kalau jatuh dia kuat, tapi kalau anak perempuan kan sukanya main boneka. Kalau anak laki dan perempuan main bareng, takut nya si anak perempuan ini jatuh trus dia nangis."


Aku memberi penjelasan yang ringan-ringan saja yang penting masuk akal dan bisa diterima oleh pemikiran Kean.


"Oo.. begitu ya, amma." Kean menganggukkan kepalanya, yang mengartikan bahwa ia mengerti dengan apa yang aku ucapkan.


Sungguh aku baru tahu kalau anak mbak Veni juga sekolah di sekolah yang sama dengan Kean.


" Amma, Kean mau telpon uti donk." rengek Kean.


"Iya, nanti kalau kita Uda sampai dirumah." ucapku.


"Sekarang ikut amma dulu." lanjutku dengan memeluk tubuh mungilnya.


"Kita mau kemana?," tanyanya sambil mendongakkan kepalanya kearah wajahku.


"Ada deh....," goda ku pada anak lelaki solehku.


"Pak, kita ke toko perhiasan yang di jalan pelita ya." ucapku pada sopir taksi.


"Baik, Bu." jawab bapak sopir taksi sambil terus konsentrasi menatap jalan.


Taksi pun terparkir tepat di depan toko perhiasan yang aku maksud.


Aku dan Kean turun, setelah taksi berhenti sempurna di depan toko perhiasan itu.


Kini taksi yang mengantar ku telah pergi setelah aku memberikan ongkos nya.


Aku dan Kean berjalan bergandengan masuk kedalam toko perhiasan.


"Loh bukankah itu mbak Veni?," gumamku dalam hati.


Sungguh aku tak jeli, saat di depan aku tak melihat kanan kiri sehingga aku tak tau kalau ada mobil mbak Veni terparkir di samping jalan.


Sebenarnya sih tak masalah dia ada disini, karena ini adalah tempat umum. Namun seandainya aku tau ada dia saat aku masih didalam taksi, mungkin aku tak jadi turun dari taksi.

__ADS_1


"Sudah dari tadi mbak?," sapaku dengan suara pelan serta senyum manis. Karena tak sengaja kita saling berpandangan.


Namun apa yang aku dapat?


Ia tak menjawab sapaan ku, dan memalingkan wajahnya dari wajahku. Seakan-akan ia tak kenal dengan ku.


Rasa kesal dan jengkel bersarang pada hati ini, kalau bukan karena dia kakak ipar suami ku, aku malas sekali menyapa nya.


"Mbak, lihat gelang yang ini. Yang paling besar itu mbak." ucap mbak Veni dengan suara keras, jarinya menunjuk model gelang rolex ya paling lebar dengan berat yang cukup lumayan. Mungkin tujuannya agar aku tahu kalau dia membeli gelang.


Aku hanya tersenyum menanggapi nya. Ia melirik ku dengan wajah juteknya.


"Mami, itu Kean temannya Kay." Kay memberi tahu mbak Veni.


Kay sama Kean masih belum pernah ketemu di rumah ibu mas Bima. Mereka hanya bertemu di sekolah aja.


"Kay, diam!!," bentak mbak Veni pelan dengan penuh penekanan pada Kay sambil menaruh jari telunjuk tangan di mulutnya dengan kedua matanya melotot.


"Kay, main sama Kean ya mam?," rengek Kay terdengar dari tempat aku berdiri yang memang tak begitu jauh dari mbak Veni dan Kayla.


"Kay, mami bilang apa tadi? Masak sih sudah lupa. Jadi sekarang kamu diam saja disini, jangan jauh-jauh dari mami" ucap mbak Veni sambil terus memilih gelang-gelang yang ada di dalam etalase.


Terlihat wajah Kayla cemberut dan kecewa oleh sikap mbk Veni maminya.


Lalu ia duduk di bangku yang memang disediakan untuk pengunjung oleh pemilik toko perhiasan ini.


"Bu Sarah?, sebentar ya Bu. Aku ambilkan pesanan nya." ucap karyawan toko perhiasan yang sudah menjadi langganan ku.


Mbak Veni terlihat melirik ku dengan wajah sinis. Lalu saat aku menatap nya, ia langsung membuang muka.


"Ini berapa uang nya mbak?," tanya mbak Veni pada karyawan toko dengan suaranya agak keras. Jadi dengan sangat jelas aku mendengar nya.


"Lima belas juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah, ibu." Jawab karyawan toko setelah memencet tombol kalkulator yang ada di tangan nya.


"Oo.... ini uang nya lima belas juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah?," mbak Veni mengulang apa yang di ucapkan karyawan toko perhiasan itu dengan suara yang sangat jelas aku dengar.


Dan aku yang mendengarnya, hanya tersenyum dalam hati dan menggelengkan kepala.


"Bu Sarah, ini totalnya seratus.....," sebelum selesai menyebutkan nominal harga emas yang aku beli. Tangan karyawan toko langsung aku pegang dan ku beri kode agar ia tak mengucapkan nya dengan suara keras.


"OOO...iya Bu. Ini semua total harganya Bu." karyawan toko itu langsung paham dengan apa yang aku maksud. Dan ia langsung menyodorkan kalkulator padaku agar aku bisa melihat digit angka yang tertera disitu.


"Aku transfer aja ya, mbak. Aku nggak ada cash." ucapku sambil mengeluarkan handphone.


"Baik, Bu. Seperti biasanya ya?," ucap karyawan yang saat ini melayani ku. Dia sudah hafal kebiasaan ku, karena aku sudah berlangganan di toko ini.


"Sudah ya mbak." ku tunjukkan layar handphone yang berisi notifikasi dari M-banking yang menunjukkan transaksi berhasil.


"Ok, Bu. Sekarang aku buatkan nota dulu ya." ucap karyawan sambil mengambil nota dan bulpen yang ada di depan nya.


"Bagaimana, Bu? jadi ambil yang ini?," tanya karyawan yang sedang melayani mbak Veni.

__ADS_1


"Bentar ya mbak, aku foto dulu. Trus aku kirim ke suami ku." ucap mbak Veni sambil mengeluarkan handphone nya.


"Aku tanya suami dulu, dia suka apa nggak dengan model nya." lanjut mbak Veni.


"Aku mau lihat yang ini juga, mbak." ucap mbak Veni menunjuk model gelang satunya.


"Baik Bu," karyawan itu mengeluarkan gelang yang ditunjuk oleh mbak Veni.


"Trus ambilkan yang itu!! aku mau lihat dan mencobanya!!," perintah mbak Veni.


"Yang ini saya simpan dulu ya, Bu?," ucap karyawan toko sambil mengambil gelang model pertama yang saat ini dipegang mbak Veni.


"Biarkan saja dulu disini!!, aku mau bandingkan modelnya!!," ketus mbak Veni.


"Tapi maksimal barang yang di coba hanya dua biji, Bu." ucap karyawan toko itu menjelaskan dengan suara lembut.


"Kamu nggak percaya dengan ku?!," Bentak mbak Veni pada karyawan toko yang sedang melayani nya.


"Bukan nggak percaya, ibu.Utu memang sudah menjadi peraturan toko." jelas karyawan itu dengan sabar.


"Kamu menuduhku mau nyuri?," ucap mbak Veni sambil berkacak pinggang dengan suara yang sangat lantang. Sehingga banyak mata pengunjung lain menuju padanya.


"Lihat!! Kamu telah mempermalukan aku, sampai semua orang yang datang memandangku seperti aku ini pencuri!!," lanjut mbak Veni dengan suara yang sangat keras.


"Aku akan melaporkan mu pada bos mu!!! Aku kenal dekat dengan nya, aku yakin setelah ini kamu akan di pecat!," ancam mbak Veni pada karyawan toko, sehingga karyawan toko yang melayani nya itu terlihat sangat ketakutan.


"Tapi, saya nggak ada maksud untuk mempermalukan ibu di tempat umum. Yang membuat orang melihat ibu, karena ibu bicara dengan nada tinggi dan sangat keras." ucap karyawan itu dengan fakta yang terjadi.


"Kamu berani ya menyalahkan aku?!, apa kamu lupa kalau aku adalah pelanggan tetap di toko ini!!," kembali mbak Veni berbicara dengan sangat emosional.


"Ingat, abis ini aku akan menelpon bos kamu, aku akan komplain dengan pelayanan yang buruk yang di lakukan oleh karyawan nya. Agar kamu dipecat dari tempat ini??," ancam mbak Veni.


Lalu mbak Veni mengedarkan pandangan nya, seperti ada yang ia cari.


"Huh dasar sok kaya!!!!, mau beli gelang lima belas juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah saja, heboh sekali. Aku yakin dia nggak akan jadi beli." gerutu karyawan yang melayani mbak Veni pada karyawan lain yang ada di samping nya.


"Nggak seperti Bu Sarah. Belanja habis seratus juta lebih, sikapnya biasa aja. Nggak sombong seperti dia?," karyawan itu melanjutkan ucapannya pada teman di samping nya.


Namun naas nya mbak Veni mendengar apa yang diucapkan oleh karyawan yang melayani nya itu.


"Heh?!, kamu bicara apa barusan?!," bentak mbak Veni pada karyawan itu sambil menunjuk-nunjuk kearah wajah karyawan toko itu.


"Aku mampu kok membeli semua yang ada disini!!!, Asal kamu tau, uang ku banyak!! Jangankan membeli semua perhiasan yang ada disini, aku membeli nyawa mu aja aku mampu!!," ucap mbak Veni dengan sangat sadis.


"Astaghfirullah..." gumam ku. Kali ini ucapan mbak Veni sangat keterlaluan.


"Astaghfirullah, Bu. Kenapa ibu sombong sekali?. Ingat bu, harta itu adalah titipan. Yang bisa diambil kembali sewaktu-waktu oleh Allah" ucap karyawan toko itu.


"Kamu jangan ceramah padaku, karena kamu hanya seorang karyawan toko. Jadi tak selevel dengan ku." ucap mbak Veni dengan sangat emosional.


Lalu ia dengan kasar mengembalikan dua gelang yang ia pegang dengan sangat kasar.

__ADS_1


"Kay...! Kay...!," mbak Veni memanggil Kayla yang sudah tak ada lagi disampingnya. Padahal tadi Kayla sudah di wanti-wanti agar ia tak jauh dari mami nya.


__ADS_2