DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
338


__ADS_3

Di salon Siska, Awan kembali melakukan negosiasi waktu pembayaran uang tebusan untuk sertifikat rumah Laras.


Awan berjanji akan segera membayar uang itu, setelah uang yang ada di rekening Lola keluar.


Dan dengan senang hati, Siska menyetujui permintaan Awan.


Sepulang dari salon Siska, Awan menghubungi sekertaris nya. Awan menyuruh sekretaris nya untuk segera mentransfer sejumlah uang nya yang masuk ke rekening Lola sekertaris nya itu.


"Iya, pak. Tunggu, saya akan segera mentransfer semua uang bapak." jawab Lola dari sambungan telepon.


"Baik Lola, saya tunggu secepatnya. Karena saya sangat butuh uang itu. Dan terimakasih kamu sudah mau bekerjasama dengan ku. Sebagai imbalannya, aku akan segera menemui mu setelah semua urusan ku selesai." ucap Awan pada Lola yang saat ini masih berada di ruangan kerja nya. Dimana Veni saat itu juga ada di ruangan kerja Awan.


"Sama-sama, pak. Saya sangat senang bisa membantu bapak. Karena imbalan yang aku terima sangat luar biasa, pak. Aku menyukai itu." Jawab Lola dengan tersipu malu dari balik panggilan telepon dari Awan.


Panggilan telepon pun ditutup. Kini Lola langsung melakukan transaksi melalui smart phone nya.


Namun sayang nya, transaksi yang ia lakukan selalu gagal. Sudah dicoba beberapa kali pun tetap gagal.


Lola kebingungan, mau tidak mau ia harus pergi ke bank saat ini juga untuk melakukan transaksi disana. Lola tidak ingin Awan kecewa dengan hasil kerja nya. Karena Lola juga tak ingin kehilangan imbalan yang sangat ia inginkan selama ini.


Lola pun bersiap untuk pergi ke bank swasta terdekat dengan kantornya. Ia tak perlu ijin terlebih dulu pada Veni, karena memang yang saat ini menyuruhnya adalah Awan.


Lola berfikir Awan lah yang berkuasa di kantor ini, jadi ia tak perlu meminta ijin kepada Veni.


Sambil menenteng tas, Lola keluar dari ruangan kerjanya. Dan saat ia keluar dari ruangan nya, Lola tak melihat ada siapa-siapa disana.


"Aman." gumam Lola dalam hati, sambil mengelus dadanya. Ia lupa, bahwa di setiap sudut ruangan sudah terpasang kamera cctv.


Dan Lola tak menyadari, kalau saat ini diri nya ada dalam pantauan Veni dari dalam ruangan kerja Awan.


Setelah mengetahui uang perusahaan beralih ke rekening pribadi Lola, kini Veni fokus pada gerak gerik Lola. Karena Veni yakin, ada dalang dibalik ini semua. Dan sudah dipastikan dalang dari ini semua adalah Awan.


Namun Veni tak bisa menuduh begitu saja tanpa bukti yang kuat.


Sebelumnya, Veni sudah bekerja sama dengan pihak bank yang terkait. Awalnya pihak bank menolak bekerjasama untuk menangkap dan memblokir rekening Lola dan Awan. Namun setelah pihak perusahaan memberikan bukti penggelapan uang perusahaan, akhirnya bank itu pun mau membantu Veni.


Dengan lancar tanpa ada hambatan, Lola pun mentransfer sejumlah uang yang di minta Awan. Dan menyisakan seratus juta sebagai imbalannya. Sesuai perjanjian sebelumnya dengan Awan.


"Dengan sangat mudah aku bisa mendapatkan seratus juta rupiah dengan waktu sekejap." gumam Lola dalam hati sambil tersenyum bangga.

__ADS_1


Setelah transaksi transfer uang selesai, pihak bank langsung memblokir dua rekening yang bersangkutan. Yaitu rekening milik Awan dan rekening milik Lola, dan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Lola.


Kini Lola segera kembali ke kantor nya, karena ia tak ingin istri bos nya itu menelan nya mentah-mentah kalau Veni tau dirinya keluar kantor di jam kerja.


"Beres," gumam Lola sambil membuka pintu ruangan nya.


"Darimana saja kamu?," betapa kagetnya Lola, saat ia tau ada suara Veni diruangan nya.


"Bu.. Veni?!," ucap Lola dengan suara yang gemetar. Terlihat sekali wajah gugup dan ketakutan, saat Lola melihat Veni sudah duduk di atas meja kerja nya sambil melipat kedua tangannya.


"Maaf, Bu. Tadi Lola keluar untuk membeli obat pusing. Nggak tau kenapa, tiba-tiba kepala Lola terasa pusing." ucap Lola sambil mengambil kantong kresek didalam tas nya yang berisi obat-obatan. Yang kebetulan tadi pagi ia sudah membawa nya dari rumah.


"Kamu sakit?," tanya Veni dengan berjalan mendekat dan menempelkan punggung tangan nya ke kening Lola. Namun sebelum berdiri dari duduknya, dengan sengaja Veni menaruh kamera kecil di meja Lola, kamera itu tak akan terlihat oleh Lola, karena bentuknya yang sangat kecil.


"Kalau kamu sakit, harus nya kamu istirahat saja dirumah. Tunggu sampai kamu sehat baru kamu masuk lagi untuk kerja." ucap Veni.


Di luar dugaan Lola, ternyata Veni tak memarahinya. Malah ia memberi saran padanya untuk istirahat cukup dirumah. Dan mendengar ucapan yang baru saja Veni katakan, membuat hati Lola langsung tenang.


"Tapi, sakit Lola tak separah itu kok, Bu. Kalau Lola tidak masuk kerja, bisa-bisa pekerjaan Lola menumpuk." jawab Lola dengan senyum ramah pada Veni.


Veni yang melihat Lola tersenyum kepadanya pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis.


"Silahkan, kamu tersenyum dengan puas. Karena setelah ini kamu akan menangis." gumam Veni dalam hati.


"Benar, Bu?," tanya Lola dengan wajah senangnya.


"Iya, antarkan saja berkas yang belum kamu kerjakan keruangan ku sekarang. Biar bisa langsung aku kerjakan." ucap Veni, sambil berjalan menuju pintu ruangan Lola.


"Baik, Bu." jawab Lola sambil membungkukkan tubuhnya.


"Wahh... kapan lagi ngerjain istri bos yang killer itu," gumam Lola dengan suara pelan dan senyum mengembang di bibirnya.


"Ternyata dia bodoh juga, ya. Bisa di bohongi dengan mudah, cukup pura-pura sakit aja sudah terbebas dari pekerjaan yang menyiksaku ini." ucapnya lagi.


"Kalau gini kan aku bisa makan gaji dengan tidak harus bekerja. Mungkin ini yang dinamakan dengan kerja cerdas." Lola berbicara dengan dirinya sendiri. Ia tidak tau kalau Veni sudah memasang camera kecil di meja nya. Sehingga ia bisa melihat dan mendengar apa yang ia lakukan dan apa yang telah Lola ucapkan.


Seperti saat ini, Veni tengah memantau Lola dari handphone nya yang terhubung dengan kamera yang ada dimeja Lola.


Dengan membawa banyak berkas yang belum dikerjakan, Lola pergi keruangan Veni.

__ADS_1


Tok tok tok...


Pintu ruangan kerja Veni di ketuk oleh Lola.


"Masuk," sahut Veni dari dalam ruangan nya.


Cekleeek....pintu pun terbuka.


Lola masuk kedalam ruangan Veni, dan berjalan mendekati meja kerja Veni.


"Ini Bu, berkas-berkas yang belum saya kerjakan." Lola menaruh tumpukan berkas itu diatas meja kerja Veni.


Betapa kagetnya Veni saat melihat tumpukan berkas yang belum dikerjakan itu.


"Sebanyak ini?!," tanya Veni sambil matanya melotot pada tumpukan berkas yang tinggi nya sudah seperti gunung merapi itu.


"Iya, Bu " jawab Lola dengan memasang wajah lemah, sambil di iringi dengan batuk yang dibuat-buat.


"Ya sudah. Kamu keluar dari ruangan ku, dan beristirahat lah. Biar aku yang mengerjakan ini semua." ucap Veni dengan suara ketus.


Tanpa banyak kata, Lola pun pergi keluar dari ruangan Veni.


Sampai di ruangan kerjanya, Lola kembali tertawa terbahak-bahak.


"Dasar, orang bodoh!!!, mau saja di bohongi oleh bawahannya." ucap Lola sambil tertawa sinis.


"Kalau begini kan,aku bisa bebas dari belenggu pekerjaan yang membosankan itu." gumamnya lagi.


Lalu Lola mengambil handphone nya di dalam tas. Lola segera menghubungi Awan. Dengan kaki di naik kan keatas meja, dan handphone sudah ia letakkan di telinga.


"Hallo, pak." sapa Lola dari panggilan telepon, setelah Awan mengangkat nya.


"Iya, Lola. Bagaimana pekerjaan mu?, sudah bereskan?, karena saya butuh uang itu secepatnya." tanya Awan.


"Pekerjaan sudah beres, pak. Dan uang nya sudah saya transfer ke rekening bapak sesuai kesepakatan awal. Dan terimakasih juga untuk seratus juta nya ya, pak." jawab Lola dengan sangat bangga, karena bisa membantu bos nya.


"Kerja bagus, kamu memang sekertaris yang bisa diandalkan." ucap Awan.


Awan pun langsung membuka m-banking yang ada di handphone nya. Namun sayang nya m-banking itu tiba-tiba terblokir dengan sendirinya.

__ADS_1


"Huufftt,, kenapa dengan m-banking ku?," gumam Awan.


Lalu ia berencana untuk ke ATM untuk mengecek saldo rekeningnya, sekalian ia mau tarik tunai dulu untuk mengisi dompet nya.


__ADS_2