
Dari semalam sejak Veni berjanji untuk membuat video klarifikasi. Dan sampai pagi ini tak ada video klarifikasi satu pun yang di unggah nya.
Sarah beberapa kali mencoba membuka aplikasi Facebook nya. Namun hasilnya tetap nihil.
"Memang sepertinya, mbak Veni harus sedikit di beri shock terapi." gumam Sarah sambil tersenyum getir.
Sarah berniat memberi pelajaran yang sedikit lebih ekstrim pada Veni. Agar hal yang seperti ini tak terulang lagi dan lagi.
Menurut Sarah, mungkin dengan berurusan dengan kantor polisi, akan membuat Veni jerah.
Setelah persidangan perceraian Sarah nanti siang. Sarah akan langsung ke kantor polisi untuk membebaskan Bima dan melaporkan Veni. Dan Sarah pun berangkat ke pengadilan agama dengan taksi online.
Sedangkan pagi ini, Veni sudah bersiap-siap untuk pergi ke mall. Hatinya sangat bahagia, karena uang lima puluh juta yang menurutnya ia dapat secara cuma-cuma itu masih belum habis.
Sebelum ia membelanjakan uang yang sisa sebagian itu, Veni berencana untuk mengajak Laras dan Ambar juga ke mall.
Mobil pun sudah siap di garasi, dan Veni juga sudah siap setelah memoles tipis-tipis makeup di wajahnya.
"Sempurna!," gumam Veni di depan cermin meja riasnya yang terletak di dalam kamar.
Veni pun bergegas berjalan menuju garasi dengan. Tak lupa ia juga mengunci pintunya. Karena pagi ini tak ada siapapun di rumah ini. Hanya ada Kay dirumah sendirian yang saat ini sedang tidur, sedangkan Awan sudah berangkat kerja sejak pagi tadi.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, Veni ingin menikmati jalanan dengan hati yang riang. Bagaimana tidak?, saat ini Veni sedang memegang uang banyak hasil dari menggadaikan sertifikat rumah Laras mertua nya itu.
Sengaja Veni tak mengabari Laras dan Ambar terlebih dulu saat. Veni ingin memberi kejutan pada mertua dan kakak iparnya itu.
Beberapa menit, sampai lah Veni didepan rumah Laras. Rumah Laras terlihat sangat sepi dan pintu pun selalu ditutup. Setelah kejadian penangkapan Bima waktu itu, Laras lebih sering menutup pintunya.
Karena ia sangat malu dengan omongan tetangga, karena anak nya kini menjadi tahanan di kantor polisi.
Veni pun turun dari mobil dengan kaca mata yang masih melekat di wajahnya.
Sengaja Veni tak melepas nya, agar diri nya terlihat waah... dikalangan para tetangga Laras itu.
Dan benar saja, penampilan Veni saat ini menjadi sorotan para tetangga yang saat ini sedang berkumpul di warung sebelah rumah Laras.
Pakaian Veni terlihat sangat seksi, dengan memakai rok mini sepaha dan heels yang lumayan tinggi yang membuat kaki jenjangnya terlihat sangat cantik.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Cekleeek..
Suara gagang pintu ditarik dari dalam rumah. Dan daun pintu pun terbuka. Ternyata ada Ambar Yanga ada di balik pintu itu.
"Assalamualaikum, mbak." sapa Veni pada Ambar yang melihat aneh dengan dandanan Veni.
"Waalaikumsalam," jawab Ambar sambil terus memandang Veni yang kali ini berjalan masuk kedalam.
"Kamu mau kemana dengan dandanan seperti itu, Ven?," tanya Ambar yang tetap pandangan anehnya itu tertuju pada Veni.
"Ibu mana, mbak?," bukannya menjawab pertanyaan Ambar, malah Veni berbalik bertanya pada Ambar.
"Didalam," jawab Ambar singkat, lalu ia menutup lagi pintu depannya.
Veni pun berjalan kedalam untuk mencari keberadaan Laras. Namun diruang televisi tak ada Laras.
Dan benar saat ia memasuki ruangan makan, terlihat Laras sedang duduk di salah satu kursi meja makan sambil menikmati semangkok bubur ayam.
"Lagi apa Bu?," tanya Veni dengan basa-basi.
"Memang kamu tak melihat ibu sedang apa?!," ucap Laras dengan ketus dan tatapan jutek pada Veni.
"Hhmmm kalau bukan karena sertifikat rumah mu yang ku gadaikan. Aku tak akan mempedulikan mu Mak lampir." gumam Veni dalam hati.
"Bu, setelah selesai sarapan.Ibu bersiap-siap ya. Hari ini Veni pingin ajak ibu jalan-jalan." ucap. Veni dengan senyum sumringah. Berharap mendapat tanggapan baik dari Laras.
Namun kenyataannya, ekspresi Laras hanya datar-datar saja. Tak menunjukkan ekspresi wajah yang bahagia dengan ajakan menantu nya itu.
"Ibu mau kan?," tanya Veni lagi, karena Veni melihat wajah mertua nya itu tidak menanggapi ucapan nya.
"Kalau hanya jalan-jalan saja ibu malas, mending dirumah saja." jawab Laras dengan ketus dan kembali menyantap bubur ayam yang ada di atas meja makan itu.
__ADS_1
Bibir Veni langsung menyebik saat mendengar apa yang di ucapkan oleh Laras. Untuk saja Laras tak melihat ekspresi Veni saat itu. Bisa-bisa satu mangkok bubur ayam melayang ke muka Veni.
"Hmmm kalau bukan karena kamu mertua ku, pasti sudah aku tonjok muka mu perempuan tuaaa...," geram Veni dalam hati.
"Kita tidak hanya jalan-jalan Bu, Veni mau ajak ibu belanja ke mall bersama mbak Ambar." ucap Veni dengan suara yang sangat lembut dan wajah yang manis di lihat.
Padahal di dalam hati Veni saat ini, ingin sekali ia mencekram wajah Laras yang di hadapan nya saat ini
Veni memang sedikit mempunyai jiwa yang bar-bar. Ia tak peduli tua atau mudah dia berani tak ada takutnya. Namun beda sekali dengan kepada Laras, karena ia masih mau menjaga nama baik nya di depan mertuanya itu.
"Hah?, ke mall?, belanja?," tanya Laras dengan mata yang melotot dan berbinar-binar. Sudah seperti mendengar kabar kalau ia mendapatkan lotre saja.
Veni pun menganggukkan kepala nya, dengan bibir yang tersenyum sangat manis pada mertuanya itu.
"Kalau begitu, ibu makan dulu bubur ayam ini. Karena mubasir kalau nggak dimakan," ucap Laras sambil melanjutkan menyendok bubur itu ke mulutnya.
Veni pun tersenyum menyetujui ucapan Laras yang tak lain ibu mertua nya itu. Namun saat ibu mertuanya itu kembali membelakangi nya, Veni langsung mencincing naik bibir nya dan memutar kedua bola matanya.
"Kalau sudah selesai, ibu langsung siap-siap ya, Veni mau ke mbak Ambar dulu." ucap Veni sambil membalikkan badannya untuk berjalan ke kamar Ambar yang berada di depan.
"Jam segini tidur aja kerjaan si Ambar ini. Lagian kenapa dia betah banget sih di rumah ini?!!," Gerutu Veni dalam hati sambil kaki nya terus berjalan menuju kamar Ambar.
"Mbak, mbak Ambar." panggil Veni sambil mengetuk pintu kamar milik. Ambar yang sedang tertutup rapat itu.
"Ada apa sih?!!, bikin berisik ajah!!," ucap Ambar dengan membuka pintu kamar nya itu.
"Mbak Ambar siap-siap ya, sebentar lagi kita keluar jalan-jalan." ucap Veni pada Ambar, lagi-lagi Veni berbicara dengan senyum palsu nya yang merekah sangat renyah.
"Malas ah, kalau hanya jalan-jalan." jawab Ambar sambil memutar kedua bola matanya.
"Kita belanja ke mall, mbak." jawab Veni dengan bibir yang mencebik.
"Nah kalau belanja dan kamu yang bayari sih, aku mau." jawab Ambar sambil memainkan alisnya.
"Iya, mbak. Makanya aku ajak itu, ya karena aku mau bayarin." jawab Veni.
"Oke lah kalau begitu." ucap Ambar lalu masuk kedalam kamar nya dan menutup pintu kamar nya dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Dan suara pintu yang tertutup itu seketika membuat Veni kaget.
__ADS_1
"Dasar orang gila!!!," gerutu Veni sambil mengelus dadanya yang berdegup sangat kencang akibat suara keras dari pintu kamar Ambar.